CERPEN - Persimpangan CInta



PERSIMPANGAN CINTA


Ini adalah sepenggal titik perjalanan cintaku yang mampu keceritakan kepadamu. Dalam keheningan malam, aku menghabiskan waktu untuk berpikir. Berpikir tentang hubungan kita. Iya, kau dan aku, sambil menatap langit hitam tanpa bintang aku terus membayangkan bagaimanakah jalan cerita cinta kita berlanjut. Akankah cintaku kau terima, ataukah ini hanya cinta dalam diamku saja. Entahlah, karena kita jarang bertemu. Usia, membuat kita semakin jauh.
Aku terus berdiri di persimpangan dua arah, menunggumu atau melepaskanmu. Sejujurnya aku berharap kau berkata kepadaku untuk menunggumu. Tetapi kau bahkan tak menyapaku. Tetapi, jika aku memilih jalan untuk melepaskanmu, hatiku terus meronta. Ia menolak dengan keras keputusanku. Karena itulah aku terus berdiri di persimpangan jalan. 


Menatapmu setiap hari saja sudah merupakan kebahagiaan bagiku, hadirmu dalam masa kecilku takkan pernah kulupa. Tetapi, akankah kau juga mengingatnya seperti aku mengingatmu? Akankah kau mengenangnya seperti ku mengenangmu di setiap jalan hidupku. Selalu kuingat janji manismu saat kita masih begitu dekat,
“ Aku bahagia bisa menjadi sahabatmu, jika kita sudah dewasa kelak. Aku ingin kau mendampingiku ”, katamu dulu.
Entah itu hanya guyonanmu atau harapan semumu, tapi aku telah terbuai oleh untaian kata-katamu. Lalu apa yang harus kulakukan?
“ Apakah kau mencintaiku? ”, pertanyaan yang sampai saat ini hanya kuucapkan dalam hatiku. Aku bahkan malu untuk mengucapkannya padamu.
Aku bertanya pada bulan, akankah sinar cintaku menembus kegelapannya? Apakah sinar cintaku mampu menerangi dan menemani malamnya? Apakah sinar cintaku terhapuskan oleh cahaya bintang milik orang lain? Ataukah sinar cintaku terhalang kabut yang membuatku hilang dari peraduannya. Entahlah.
“ Hai! Apa kabar? Aku rindu sekali kepadamu ”, sapaan yang tak bisa kusampaikan kepadamu walau lewat tulisan atau ketikkan kata.
Aku begitu malu menatapmu. Aku begitu gugup jika harus bertemu denganmu. Melihat orang tuamu saja, sudah terbayang dirimu jika masa tua nanti. Melewati rumahmu setiap ku akan pergi selalu membawa pikiranku melayang, apakah kau sudah pulang? Akankah kau memikirkanku jika kau melewati rumahku? Aku hanya berharap perasaanku sampai kepadamu.
Wahai angin, hembuskanlah kerinduanku dari hatiku. Aku hanya ingin melewati hariku tanpa bayanganmu yang selalu menghantuiku. Tentang perkataanku yang selalu terdengar di telinga, terngiang di kepalaku.
“ Aku akan mengejar mimpiku sampai ke bintang ”, katamu dulu ketika kita duduk di bawah pohon. Kau berkata dengan menatap hamparan langit biru yang luas. Matamu yang tajam bahkan menembus cakrawala. Aku menaruh harapan besar padamu. Aku akan terus memercayai mimpimu walau yang lain menganggapnya lelucon.
Tetapi hingga kau sukses seperti sekarang ini kau bahkan tidak lagi menatapku, berbicara denganku, atau sekedar melakukan chitchat menggunakan media sosial. Aku tahu kau telah menemukan duniamu, tetapi sadarkah kamu kalau separuh duniaku adalah duniamu juga. Setiap harinya aku selalu memandangi foto kita dulu. Saat kita masih begitu percaya tentang arti persahabatan sejati. Kau lah yang mengajarkanku tetapi kau pula yang meninggalkanku dan membuatku membenci “persahabatan”
“ Wahai Sahabatku, tidak tidak, teman masa kecilku. Tanpa kita sadari waktu telah berlalu lebih dari satu dekade. Tanpa kau ketahui selama itu pula aku selalu menunggu. Menunggu akan kepastian yang mungkin tak kunjung usai. Aku terus berharap kau datang kembali dan menepati janjimu. ”


Semoga menikmati dan bermanfaat :D
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata-kata_Puisi_OPINI

Puisi - Kegelapan Hati