CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 7 Kado Spesial
CHAPTER 7
KADO SPESIAL
Keesokan harinya, Abi datang
mengunjungiku. Aku memintanya untuk mengajakku berkeliling di taman rumah
sakit. Aku merassa begitu bersyukur masih bisa menghirup udara bebas disini.
Kulihat sekeliling, banyak orang berlalu lalang. Ada beberapa suster yang
berjalan melewati kami, mereka tersenyum kepada kami.
“ Bungkusan apa yang kamu bawa dari
tadi, Sof? ”, tanya Abi heran.
“ maksudmu ini? ”, kata Sofi
menunjukkan sebuah tas kertas bewarna biru.
“ Besok adalah hari dimana aku
dioperasi, aku ingin memberikan hadiah kepada mereka yang berarti untukku,
termasuk kamu, Bi ”, kataku seraya mengeluarkan kotak kecil yang dibungkus
kertas kado bewarna biru laut.
“ Wah! Aku tidak menyangka kalau aku
ini berarti dalam hidupmu, terima kasih banyak, Sof ”, kata Abi senang. Ia
membuka kado yang ia terima.
Aku memberikannya sebuah gelang karet
bewarna hitam yang ada gambar bola basketnya. Karena yang kutahu kami adalah
basket freak.
“ Oia, Bi. Sebelum terlambat, aku
ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Sudah sejak dulu aku simpan semuanya
sendiri. Aku rasa kamu harus tau, walau mungkin jawabannya tidak seperti
harapanku ”, kataku padanya.
“ Apa maksudmu sebelum terlambat? Kamu
tidak akan kenapa-kenapa. Kamu akan segera pulih setelah operasi. Jangan
menyerah, Sofia. Aku tahu kamu kuat ”, kata Abi kaget dengan pernyataanku
sebelumnya.
“ Usia dan kehidupan adalah rahasia
milik Allah, Bi. Awalnya aku akan menyerah, namun mellihat orangtuaku, kakakku,
Ran dan Kamu yang selalu mensupportku, aku bahkan malu jika harus menyerah
sekarang ”, kataku yang memandanginya.
Abi memelukku begitu hangat, kupegang
punggungnya yang lebar, begitu hangat.
“ Dari perjumpaan pertama kita di
lapangan basket SMADA, aku mencintaimu, Bi. Sampai detik ini pun perasaanku
padamu tidaklah berubah. Karena itulah aku sedih ketika kau menceritakan
tentang cinta pertamamu. Karena itulah aku menangis ketika melihatmu
terus-menerus bersama Mira. Tetapi saat ini, Aku hanya berharap kau terus
berbahagia dalam kehidupanmu. Walau mungkin bukan denganku, Bi. Terima kasih
sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih ”, kataku dalam peluknya. Air mataku
berlinangan, aku merasa lega sudah mengutarakan apa yang selama ini hanya bisa
kupendam.
Mendengar perkataanku ini, Abi
tertegun. Kami terus berpelukan. Kemudian Abi membelai kepalaku.
“ Kamu bodoh, Sof! Kamu bodoh telah
mencintaiku, kamu bodoh telah mencintai lelaki yang bahkan tidak bisa memahami
seseorang yang begitu berarti baginya. Bahkan aku lebih bodoh karena tidak
menyatakan padamu dulu ”, jawabnya.
Aku yang merasa heran, melepas pelukan
itu. Aku hanya bisa memandanginya. Melihat matanya yang tajam namun tampak
jelas kesedihan.
“ Aku hanya bercerita padamu sampai
cinta pertamaku. Aku juga sudah mengatakan padamu bahwa ada seseorang lagi yang
mampu membuatnku lupa akan cinta pertamaku. Karena dialah aku bisa benar-benar
belajar tentang arti kasih sayang dan kehidupan. Karena dialah hari-hariku di
SMA lebih bewarna. Karena dialah basketku bukanlah hal yang membosankan ”,
lanjutnya.
“ Maksud kamu? ”, tanyaku bingung.
“ Kamu adalah orang itu Sofia. Kamu
adalah orangnya. Maafkan kebodohanku yang takut untuk menyampaikan ini. aku
hanya takut persahabatan yang kita bangun selama ini rusak. Aku kira kamu tidak
memandangku sebagai seorang pria. Aku kira perhatianmu selama ini hanya karena
kita bersahabat ”, jawabnya tersenyum.
“ Aku beruntung bertemu denganmu, Bi.
Aku mencintaimu ”, kataku.
“ Aku lebih beruntung lagi darimu,
Sof. Karena itulah kamu harus sembuh. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Setelah
mengetahui dirimu yang sakit, setiap malam aku tidak bisa tidur. Aku begitu
takut. Aku takut, kau akan meninggalkanku sendirian. Aku.. aku.. ”, kata Abi
terisak.
Ia menangis, aku langsung memeluknya.
Mendekapnya dengan hangat. Menepuk punggungnya lembut untuk menenangkannya. Aku
hanya bisa tersenyum dalam dekapannya. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa
padanya.
“ Bolehkah aku memasangkan ini di
lehermu, Sof? ”, tanya Abi tiba-tiba seraya mengeluarkan kotak kecil dari
sakunya dan mengeluarkan sebuah liontin yang sangat cantik. Liontin itu
berbentuk hati bertaburkan berlian, begitu cantik.
“ Aku akan sangat senang menerimanya,
terima kasih, Bi ”, jawabku mengiyakan. Aku begitu terharu, ternyata lelaki
yang ada di sebelahku memiliki frekuensi yang sama tentang perasaan. Aku
bersyukur kita bisa saling jujur dan mengetahui perasaan kami satu sama lain.
“ Aku memberikanmu ini agar kau tak
lupa bahwa aku akan selalu ada untukmu, dan ketika kau buka, ada foto kita agar
kau terus mengingatnya. Semoga operasimu besok berjalan lancar, Sof ”, kata Abi
yang memelukku lagi. Aku begitu bahagia. Aku benar-benar bahagia.
Jika hari ini hari terakhirku
Aku ikhlas
Aku bahagia
KarenaMu lah, aku memiliki kesempatan untuk berbicara
Menyampaikan perasaan yang selama ini hanya kupendam
Aku bahagia,
Engkau telah mengirimkannya
Untukku
Aku bahagia,
Karena dia juga bahagia
Terima kasih atas kehidupan yang telah kau berikan selama ini
Sore harinya, semua keluargaku dan
sahabat-sahabatku datang mengunjungiku. Beberapa teman kuliah juga
mengunjungiku tadi siang. Mereka semua berdoa demi kesembuhanku. Papa dan mama
mengecup keningku dan memberikanku pakaian baru. Mereka memintaku untuk
memakainya sore ini, mereka berkata mengadakan acara kecil-kecilan untuk berdoa
bersama.
Tante
Ina, Om Toni, Tante Hani, bahkan Eyang uti datang untuk menjengukku. Mereka
memelukku dan menciumku penuh sayang. Mereka memintaku untuk terus bertahan.
Eyang uti memberiku cincinnya yang merupakan pemberian almarhum Eyang kakung.
Dia bilang sudah saatnya cincin itu menjadi milikku. Eyang uti memintaku untuk
menyimpannya. Aku memeluknya erat dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu,
kami mengadakan doa bersama dengan beberapa anak yatim dari yayasan kasih
bunda. Mereka semua mendoakan kesembuhanku, dan Ibu Mutia, pemilik yayasan menghampiriku
dan memelukku. Mendoakan keselamatanku dan senantiasa menegarkan hatiku.
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar