CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 2 AKHIR SMA



Lanjutan CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI


 CHAPTER 2
AKHIR SMA

Tiga hari berikutnya aku ijin tidak masuk sekolah, aku merasa bosan sekali. Yang kulakukan hanya tidur di kamar, membaca majalah, nonton Kuroko no Basuke, favoritku. Bahkan mama tidak mengijinkanku main basket di lapangan depan rumahku. Padahal tanganku sudah tidak sabar untuk men-shoot bola ke ring. Sial!

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah, tetapi aku diantar sama Kak Dido, mama yang menyuruh kak Dido sih, biar sekalian. Lagipula mama masih saja mengkhawatirkanku.
“ Ayo, sudah sampai nih, Fi “, kata kak Dido sambil menghentikan sepeda motornya tepat di depan pagar sekolahku.
“ Iya, thanks ya, Kak. “, kataku seraya turun. ( kak Dido langsung meneruskan perjalannannya menuju kampus ).
“ Cie. Yang diantar sama pacarnya “, goda Jean.
“ Kamu punya pacar, Sof? “, tanya Abi terlihat kaget.
“ Apaaan sih! Aku masih berstatus happy single. Lagian aku tadi diantar sama kakakku bukan pacar. KAKAK ”, bantahku.
“ Enak ya, punya kakak yang jarak usianya berdekatan, serasa punya pacar. Kamu pasti beruntung punya pacar kayak dia “, kata Jean iri.
“ Kak Dido itu lebih keren daripada pacar, dia kakak terbaik yang tuhan kasih buat aku. Hehehehe. Hayo, Jean naksir ya, nanti aku bilangin lo.. “, balasku.
“ Kamu itu, kalau ngeles pinter banget “, Kata Jean.
“ Eh. Ngomong-ngomong bagaimana kondisimu ? “, sambung Abi, mimik wajahnya sudah berubah, seperti ada pancaran kelegaan tetapi aku juga tidak tahu pasti.
“ Aku sudah sehat kok. Kata dokter memang cuma kecapekan saja. Tetapi aku bosan sekali, kerjaanku hanya tidur, bahkan mama tidak mengijinkanku bermain basket “.
“ Dasar maniak! “, kata Abi.
“ Sofia! Kamu sudah sehat? “, peluk Rani tiba-tiba.
“ Alhamdulillah, Ran. “, jawabku tersenyum simpul.
Sepulang sekolah ada latih tanding basket dengan SMA GARUDA, jujur aku ingin sekali bermain, tetapi pak Joni melarangku. Beliau mengetahui kondisiku yang kemarin sempat drop, padahal aku sudah sehat. Akhirnya aku hanya duduk dibangku cadangan. Kulihat, Ran melakukan alley-loop. WOW! Baru pertama kali kulihat dia menggunakan teknik ini. Dia hebat. Akhirnya tim basket SMA Dharmawangsa menang dengan skor 68-69. Bukan hasil yang buruk, permainan basket tidak akan seru apabila jarak skor terlalu jauh karena sudah jelas siapa yang akan menang dan pertandingan seperti ini menurutku tidak enak untuk dilihat, justru jika skor nya saling kejar-kejaran akan sangat menarik dan begitu mendebarkan, bukan?. Setelah itu, Abi yang juga menonton latih tanding tersebut mengajakku ke taman prestasi, Surabaya.
“ Sofie, kamu mau duduk di pinggir danau di taman bersamaku ? “, ajak Abi serius.
Aneh, tidak biasanya Abi bersikap seserius ini.pikirku. “ Tentu saja. Kelihatannya asyik “, ( lalu kami duduk di pinggir danau sambil menenggelamkan kaki kami ).
Ketika kakiku masuk ke dalam air, ikan-ikan berwarna yang ada di danau menghampiriku dan Abi, mereka berputar dan mematuk kakiku, Geli.
“ Tadi, aku melihatmu duduk di bangku cadangan, Pak Joni tidak meemberimu kesempatan ? “, tanya Abi penasaran.
“ Iya, tadinya aku sempat kesal juga, padahal aku benar-benar ingin bermain. Tapi disatu sisi aku mengerti, jujur sampai saat ini aku merasa tubuhku lemas walau aku tidak merasa sakit apapun. Apa mungkin aku kecapekan yang berlebihan ? “,
“ Kecapekan yang berlebihan ? Bahasa apaan tuh. Aneh tau “, sindir Abi.
“ Terserah aku dong, mulut mulut aku juga, wuek “. Balasku ( sambil menjulurkan lidah ).
“ Dua minggu lagi kan kita ujian nasional, apakah kamu sudah yakin dengan pilihanmu untuk mengambil jurusan informatika Universitas Citahati ? “. Tanya Abi.
“ Yakin dong, itu kan uda mimpiku sejak SMP kelas tiga. Aku ingin punya Web khusus tentang kucing dan tentang semua tulisanku, entah puisi, sastra, dll “. Tuturku.
“ HA? Kalau kamu memang hobi menulis, kenapa kamu tidak mengambil sastra? “, heran Abi.
“ Gak tau juga, aku hanya senang saja dengan namanya, Informatika. Kedengaran canggih, hehehe. Lagipula disana kita juga belajar teknologi-teknologi maju kan? Sepertinya bakalan menarik “, semangatku.
“ Hem..... Kalau begitu aku memilih jurusan yang sama sepertimu saja “,
“ Hei, bukannya aku melarang. Tetapi kalau alasanmu bukan dari hatimu jangan diikuti. Terkadang kamu harus berpikir panjang sebelum mengambil keputusan, apalagi ini menyangkut masa depan “. Aku terkejut mendengar pernyataannya barusan.
“ Aku membuat keputusan itu secara sadar kok, dan ini bukanlah paksaan atau aku yang sekedar ikut-ikutan. Entah mengapa hatiku langsung bergetar begitu kamu menjelaskan tentang tujuanmu, jadi aku memutuskan untuk memilih jurusan yang sama denganmu. Aku akan berusaha sebaik-baiknya agar bisa lolos dan menjadi programmer hebat “, terang Abi bersemangat.

@@@

Tak terasa dua minggu berlalu dengan cepat, kami telah melakukan seluruh persiapan menjelang ujian. Belajar setiap harinya, doa yang tidak pernah lupa terus dipanjatkan, memohon bantuan Allah agar diberi kemudahan dan kelancaran sehingga kami bisa melanjutkan pendidikan ke Universitas yang sesuai dengan tujuan kami. Sebelum berangkat aku berpamitan kepada kedua orang tuaku dan kakakku. Kucium tangan dan pipi mereka, ku memohon doa dari mereka, lalu aku pergi ke medan tempur. Hehehe....
Setibanya di sekolah, aku langsung menghampiri kelas yang nantinya akan menjadi saksi perjuangan karirku. Kulihat pintu kelas masih tersegel dan sudah ada beberapa temanku yang duduk di depan kelas, Abi, Ran, Jean, dan yang lain juga sudah datang. Lima belas menit sebelum waktu ujian kami dipersilakan masuk untuk mengisi identitas diri di lembar jawaban, aku masuk ke dalam kelas. Bismillah...
Ujian pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia dan Biologi, setiap soal kubaca dengan teliti lalu kujawab sesuai yang aku tahu, aku hanya berharap jawabanku ini tidak salah. Satu jam berlalu, aku belum menyelesaikannya. Tenang, waktunya masih kuran satu jam lagi, jawab saja dengan hati-hati.. Pikirku. Ketika aku membaca soal Bahasa Indonesia ke-45, tulisan-tulisan di kertas ujian seperti bergerak, tiba-tiba kepalaku berputar, pandanganku agak kabur. Ah, mungkin ini hanya karena aku tegang, tenang, tenang, jangan takut. Kataku dalam hati. Ujian dua hari berikutnya pun kulalui dengan lancar pula, aku bersyukur Allah senatiasa membantuku, ketika aku tidak bisa menjawab beberapa soal, tiba-tiba ada suatu hal seolah membuka pikiranku, tiba-tiba aku mengerti apa yang dimaksud soal yang susah itu.
“ Bagaimana ujianmu, Sofi? “, kata mama setibanya aku dirumah.
“ Alhamdulillah, Ma. Hehehehe “, kataku sambil mengambil sekotak susu dari kulkas.
“ Alhamdulillah, Mama yakin Sofi pasti bisa “, yakin mama seraya membelai kepalaku.
Kemudian aku bergegas mengganti pakaian, lalu aku berlari menuruni tangga, kemudian segera memakai sepatu basketku. Yap. Apalagi kalau bukan untuk bermain basket, hehehehe.....
Ketika aku berlari kelapangan depan rumah, Abi dan Ran telah menungguku. Ternyata mereka juga ingin bermain basket setelah ujian. Wah! Semakin seru nih.
“ Hei, Ternyata kalian juga mau main? “, sapaku.
“ Iyalah, masa cuma kamu saja yang asyik bersenang-senang “, kata Ran yang langsung men-steal bola basketku.
“ Hei! “, kataku mengejar Ran. Abi pun ikut mengejar bola.
Kami larut dalam permainan ini, tidak peduli berapa kali kami berhasil memasukkan bola ke ring, tidak peduli beberapa kali kami harus tergelincir dan terjatuh. Kami benar-benar telah terhipnotis dengan basket ini. Begitu bahagianya ketika aku berlari men-driblle bola, lalu aku melakukan shoot, kemudian Abi berhasil mem-block tembakanku, lalu Ran mengambil bola yang tadi terpental dan melakukan jump shoot8. Three point. Teriakku tersenyum. Tak akan aku lupakan kenangan ini, aku berharap bisa bermain bersama mereka selamanya.
“ Sof, kak Dido ada di rumah? “, tanya Ran tiba-tiba, membuat kami menghentikan permainan.
“ Kak Dido pergi sama temannya tadi, katanya sih mau mengerjakan laporan. Kenapa? “, jawabku seraya duduk di bawah ring. Kuluruskan kakiku dan aku melakukan sedikit gerakan pendinginan.
“ Ah... Tidak apa-apa, Sof “, ekspresi wajah Ran langsung lesu.
“ Hm... Tenang saja, Ran. Tadi kakakku bareng Kak Soni, seratus persen pria. Hahahahaha “, godaku.
“ Apaan si, Sof  “,kata Rani malu-malu.
“ Hei, Ladies! Game-nya gimana nih, ayo main lagi “, teriak Abi dari arah barat, sebenarnya dia itu yang maniak basket, maniak banget. Kita sudah bermain selama satu jam penuh, tetapi dia masih saja meenggelora. Sejujurnya, semangatku bermain juga masih membara. Namun, entah mengapa badanku terasa lelah sekali. Tidak seperti biasanya deh.
“ Aku sudahan ya, kamu main saja sama Ran, aku lihat dari pinggir “, sahutku seraya pindah ke pinggir lapangan.
“ Sebenarnya aku juga sudah capek, Bi. Kamu main sendiri saja ya, kita yang akan jadi juri untuk menilai permainanmu, hehehehehe.... “, kata Rani, dasar. Dia pintar ngeles. Hahahahaha.....
“ Iya deh, sekarang aku akan bermain dengan sungguh-sungguh karena akan ada penilaian dari tim nasional putri, Ananda Sofia, dan Rani Kartika. “, balas Abi tersenyum.
Kutatap matanya yang memancarkan kebahagiaan ketika memegang bola itu, dapat kurasakan semangatnya saat bermain basket. Dia seperti anak kecil yang memiliki dunianya sendiri, permainannya begitu alami. Teknik dasarnya bermain, driblle, shoot, bahkan pass nya sudah sangat bagus. Karena aku tahu dia bermain dengan hatinya, karena dia mencintainya sepenuh hati. Oleh sebab itu, dia sangat bekerja keras dalam menguasai teknik dan strategi permainan basket.
           
            Kenangan pertama
Kuingat ketika pertama kali bertemu dengannya di lapangan SMADA, saat itu gerimis, di hari Senin pagi gerimis turun sehingga upacara ditiadakan. Karena ada waktu kosong satu jam aku langsung berlari menuju lapangan, tak kusangka aku melihat ada bola basket di salah satu sudut lapangan, segera kuambil dan aku pun bermain dengannya. Tak kusadari ternyata ada yang melihatku dari sisi lain di lapangan. Aku langsung menghentikan permainanku.
“ Hei, Kamu! Mau main juga? “, kataku sambil terus men-dribble bola.
“ Kalau diijinkan, aku akan senang sekali “,
“ Tentu saja, basket itu bebas. Siapapun boleh memainkannya “, kataku.
Lalu cowok itu berjalan menghampiriku dan menatapku, aku pun menatapnya, matanya begitu bening, dia keren.
“ Aku Abimanyu Prasetya, kamu bisa panggil aku Abi “, dia memperkenalkan diri.
“ Aku Ananda Sofiea, panggil saja aku Sofi “,
Tiba-tiba Abi langsung mengambil bola yang aku pegang kemudian berlari men-dribble bola. Tentu saja aku terkejut, aku bodoh karena tadi aku lengah. Itu semua karena dia terlalu manis. Gila. Aku langsung berusaha merebut bola itu lagi, walau gerimis masih saja turun namun tidak menyurutkan semangatku bermain. Dan Yes! Aku berhasil merebut bola, lalu aku langsung berlari ke arah ring kemudian aku melakukan gerakan favoritku, Alley loop, walau penguasaan teknikku belum seberapa, entah mengapa aku begitu menyukai gerakan ini. Hehehehehe...
“ Keren! Kamu hebat, Sof. Sudahan yuk! Hujannya tambah deras, terima kasih untuk hari ini, begitu menyenangkan. Beruntung aku bisa berkenalan denganmu “, kata Abi.
“ Hah... Iya juga, hujannya semakin deras. Aku juga senang bisa bermain denganmu. Kamu masuk kelas apa? “, aku dan Abi berjalan bersama menuju kelas.
“ 1 IPA 3, kamu? “, tanyanya balik.
“ Takdir memang tidak jauh-jauh, Yeah! Congrats, you are my classmate. Hehehehe “, dengan bertepuk tangan.
“ I’m so lucky “, kata Abi bahagia.
Aku yang bertemu dengannya di lapangan basket, memulai hubungan kami dari sebuah permainan sederhana ini, hingga sampai saat ini pertemanan yang terjalin diantara kami semakin erat karena basket. Aku merasa sangat beruntung bisa mengenal Abi ditambah dengan Ran yang dengan setia bersama denganku, tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaanku saat ini. Aku memiliki dua orang hebat dalam kehidupanku selain keluarga kecilku.
@@@
“ Pagi Pa, Ma. “, sapaku mencium pipi mereka.
“ Pagi Princess. Bagaimana ujian terakhir kemarin, Fi? “, tanya papa, meletakkan koran.
“ Alhamdulillah Pa, lancar. Semua sudah aku kerjakan dengan usaha maksimal, tinggal serahkan saja hasilnya pada sang kuasa “. Kataku sambil duduk dan mengambil roti.
“ Iya, Mama yakin kamu menjawab semua soalnya dengan baik. Mama banggga sama kamu “, sambil mencium pipiku.
“ Jadi Mama sama papa cuma bangga sama Sofia nih? “, sindir Kak Dido.
“ Ya nggak dong, To. Kamu juga jadi kebanggaan Papa dan Mama “, kata mama.
“ Kamu ini kayak anak kecil saja, To. Papa sama mama sudah pasti menyayangi kalian dengan sepenuh hati. “, Papa menggeleng.
“ Hehehehe.... Aku tau kok Pa, habisnya mama sama papa manjain Sofia terus “, cibir Kak Dido.
“ Cie yang mau dimanja “, godaku.
“ Apa? Kamu saja gak pernah manjain kakak “, ketus Kak Dido.
“ Jangan ngambek gitu dong Kak, Kakak kan spesial buat aku. Oia, bagaimana kalau nanti aku lulus kakak akan kutraktir. Kita jalan bareng seperti dulu. Bagamaina ? “, ajakku.
“ Janji ya, kamu yang bayarin lo. Selera kakak tinggi Loh “, Kak Dido balik menggodaku.
“ Ya jangan mahal-mahal, kantong siswa SMU kan minim “, terangku.
“ Hahahahaha.... Bercanda doang, jangan marah dong. Oia, Pa, Ma, Sof, aku pamit ya, uda mepet nih “, pamit Mas Dido seraya bangkit.
“ Hati-hati, Nak “, pesan mama sambil mencium kening Kak Dido.
“ Ma,Pa, Aku sekalian pamit mau jalan-jalan di danau belakang rumah “, kataku seraya bangkit.
“ Iya, hati-hati “, kata papa mama serentak.
Tak terasa masa SMA yang ku lalui kini tinggal menghitung hari, aku akan memasuki dunia baru, semua yang terjadi di SMA akan menjadi kenangan manis yang selamanya akan kukenang, Basket, Ran bahkan Abi. Aku merasa beruntung bisa bersama mereka, melewati masa-masa ini bersama hingga saat ini. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal hatiku. Jujur, sampai saat ini Abi belum tahu tentang peraasaanku begitupun Aku belum mengetahui tentang perassaannya. Selama ini yang kulakukan hanyalah mengaguminya, tanpa mampu kuucap walau sebuah kata. Aku tak ingin persahabatan yang kita bangun hancur berantakan ketika hal itu ternodai oleh yang namanya cinta.

Tak bisa kubayangkan walau sekejap
Ketika kubuka mataku, kau tak disisiku
Kau yang menetap dihatiku
Kau yang berhasil masuk ke ruang cintaku
Laksana Aliran air yang tenang
Laksana Samudra yang memegang ombak
Begitu kuatnya perasaanku padamu
Aku takut kita takkan bersama lagi
Aku takut Kau akan menemukan cahayamu dan itu bukan Aku

Aku berjalan menyusuri pinggiran danau, danau yang cantik dikelilingi pohon-pohon rindang, ada juga jenis sakura. Namun bukan seperti sakura yang ada di jepang, warna bunganya putih, kupandang sekelompok anak memancing, mereka tampak bersemangat saling melempar tawa betapa masa kecil adalah dunia mimpi. Setiap anak bebas berimajinasi, tak peduli kenyataan seperti apa yang mereka harus terima. lalu kulihat merpati berterbangan, membuatku takjub akan kecantikannya. Ah, kenapa ini? Pandangku tiba-tiba saja buram, walau sesaat. Kepalaku pusing, semuanya berputar-putar. Kulihat sekeliling, apa yang sebenarnya terjadi. Untungnya ada kursi panjang tak jauh dari tempatku berdiri, aku segera berjalan kesana dan duduk, mungkin aku hanya kelelahan saja, pikirku. Tak beberapa lama sakit di kepalaku sedikit berkurang, aku memutuskan untuk pulang..
Tiga hari kemudian hasil ujian keluar, Yeah! Aku lulus. Syukur selalu kuuucap, rasa haru dan bangga akan hasil yang kuperoleh benar-benar menjadi momen yang indah. Kusampaikan hal ini pada keluargaku, kutatap wajah mama, papa juga Kak Dido yang sangat senang akan keberhasilanku. Terima kasih semuanya, terima kasih ya Allah. Janji yang kuucap sebelumnya untuk Kak Dido kupenuhi, begitu kutanya apa yang diinginkan kakakku ini, dia ingin aku meembelikannya es krim dengan 3 variasi rasa. Hahahaha.... Lucu juga ya kakakku ini, kemudian kami pergi ke depot es krim yang ada di mall dekat rumahku.
 Setelah itu, aku langsung mendaftarkan diri sebagai salah satu calon mahasiswi Universitas Citahati, jurusan Teknik Informatika dan jurusan sastra Indonesia sebagai pilihan keduaku. Aku sudah ikhlas apapun yang terjadi, karena aku percaya Allah telah memberiku segala yang terbaik untukku. Di UC, Universitas Citahati, aku bertemu dengan Abi, betapa senangnya aku, Abi juga akan kuliah disini. Tapi, siapa dia?


Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata-kata_Puisi_OPINI

Puisi - Kegelapan Hati