CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 4 Aku Tidak Sehat



 CHAPTER 4
AKU TIDAK SEHAT


Mama, dan Papa berkonsultasi dengan dokter Hendra, aku juga melakukan serangkaian check yang cukup panjang dan melelahkan, padahal tes sebelumnya yang kuingat tak selama ini, ya sudahlah. Setelah itu, aku kembali ke kamarku, dan aku melihat seseorang yang selama ini kunantikan kehadirannya.
“ Abi, kenapa kamu ada disini? “, aku benar-benar terkejut, bagaimana Abi tahu kalau aku ada di rumah sakit. Lalu, kenapa aku tak melihat Mira, Aneh....
“ Kenapa kamu tak memberitahuku kalau kamu sakit? Kenapa Sof? Apa aku bukan lagi sahabatmu ?“, Abi tiba-tiba marah dan bertubi-tubi memberiku pertanyaan yang sulit untuk kujawab.

“ Bukan begitu, Bi. Aku hanya tak ingin membuatmu khawatir. Lagipula kau sekarang tidak lagi sendiri, ada Mira. “, jawabku lesu seraya berjalan menuju tempat tidur, kubaringkan lagi tubuhku dibantu Abi.
“ Hah? Apa maksudmu? Kamu pikir aku pacaran sama Mira? “, Abi nampak terkejut.
“ Memang seperti itu, kan? Soalnya kalian selalu bersama, ke kantin bersama, bahkan kalian sampai pulang malam dari kampus. “,
“ Gak seperti itu, Sof. Mira hanya meminta bantuanku untuk menyelesaikan codingan web-nya. Makanya kita bolak-balik ke perpustakaan buat lihat referensi tambahan “, Abi menjelaskan.
“ Iya, terus kenapa kamu tahu aku ada disini? “,
“ Rani yang memberitahuku, katanya kamu pingsan, makanya Aku jadi.... “, belum sempat Abi menyelesaikan bicaranya. Dokter Hendra masuk ke kamarku, beliau ingin memeriksaku sekali lagi, dan memohon kepada Abi untuk keluar sebentar, tidak seperti biasanya dokter Hendra bersikap seperti ini. Aneh...
“ Bagaimana kondisimu, Sof? “, tanya dokter.
“ Baik kok dok, walaupun kepalaku masih pusing, tapi aku sudah merasa lebih baik. “, tuturku.
Dokter Hendra langsung duduk disebelahku, dia menatapku dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya, sepertinya ada yang membuatnya begitu takut dan sedih.
“ Sofia, hasil tesmu sudah keluar, sebagai doktermu selama ini, saya berfikir kamu berhak tahu terlebih dahulu. Tapi, saya harap kamu mampu bertahan menerima hal ini. “, tiba-tiba dokter Hendra berbicara seperti itu, membuatku merinding, ketidaktahuanku memberi rasa takut yang tak mampu kuutarakan. Namun, aku harus bisa menerima apapun yang disampaikan dokter padaku. Kudengarkan baik-baik setiap perkataanya.
“ Sofia, dari serangkaian tes yang kamu jalani, kami menemukan adanya benjolan di otak bagian tengah, kami rasa benjolan ini akan terus berkembang, dan saat ini telah mencapai stadium IIB,  kami baru menyadari jika selama ini bejolan itu bersarang dikepala Sofia, harusnya ketika pertama kali Sofi mengeluhkan sakit dikepala, saya sebagai dokter meminta kamu untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Maafkan saya Sofia “, tiba-tiba suara Dokter Hendra menjadi lirih, kulihat tubuhnya bergetar.
Namun, apa dayaku, aku juga sangat terkejut mendengar kabar ini, benjolan apa itu? Kenapa dia bisa ada di kepalaku? Padahal, aku selalu menerapkan pola hidup sehat dalam keseharianku, olahraga adalah hobiku. Yang aku tahu, kanker ataupun tumor akan menyerang kita jika kita tak menjaga pola asupan makanan dan pola hidup. Tapi, kenapa dia malah memilih hidup di otakku? Kenapa tuhan?

Duniaku yang indah telah hilang
Laksana angin yang berhembus
Tak ada sisa
Tak ada rasa
Saat ini kesakitan adalah sahabatku
Asa yang senantiasa kubangun
Kini porak poranda
Jiwaku bergetar, tubuhku menggigil
Dibayang-bayang kematian
Setiap hari

“ Dokter, apa yang akan terjadi kedepannya padaku? Aku gak mau seperti ini, Dok. Aku mau hidup normal seperti yang lain, aku... Aku.... Kenapa dok? Kenapa harus aku? Apa salahku, Dok? “, aku meraung-raung dihadapan dokter, tak bisa lagi kutahan gejolak dalam batinku. Aku benar-benar telah masuk dalam lubang hitam kehidupanku. Mimpiku, duniaku, cintaku, kebahagiaanku.......
“ Tenang, Sof, tenanglah. Aku tahu ini sangat sulit bagimu, saya juga selalu menyesali akan hal ini. Saya berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyembuhkanmu, tapi untuk itu, saya juga perlu semangat kamu dan do’a dari semuanya, saya yakin Allah telah memilihkan jalan ini karena Allah sayang sama kita, Sofia. “,
“ Tapi,,, Tapi,,,, bagaimana dengan yang lainnya, dok? Kenapa harus aku, kenapa? Kenapa? “, aku masih saja tak bisa mengikhlasskan apa yang telah terjadi. Semua hal beradu dalam benakku, padahal di luar sana masih banyak orang jahat, tapi kenapa mereka tidak dihukum oleh Allah? Kenapa Allah malah menghukum diriku dengan kejamnya? Dosa apakah yang telah kubuat hingga aku harus menerima hal ini? Mama, papa, Kaak Dido, Rani, dan Abi. Bagaimana dengan mereka jika mereka tahu akan kondisiku?
“ Ikhlas, Sofi “, dokter Hendra memelukku.
“ Bagaimana dengan mama, papa dan semuanya. Jangan beritahukan mereka ya, Dok. Aku tidak ingin melihat air mata mereka jatuh karenaku “, pintaku.
Dokter Hendra terdiam. Terdiam cukup lama, sepertinya beliau melamun.
“ Dok!”, panggilku. Dokter Hendra terlihat begitu terkejut, sepertinya aku telah membuyarkan lamunannya.
“ Maaf, Sof. Ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi, mereka berhak tahu. Mereka akan membantumu secara moral, aku yakin mereka akan sedih sama halnya denganmu. Tetapi, mereka akan memiliki rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam apabila mereka telat mengetahui kondisimu. Maukah kau membuat mereka menerima penyesalan yang abadi dalam kehidupan mereka? “, papar Dokter Hendra.
Kemudian aku diam, banyak hal yang terbayang di pikiranku. Baik itu kejadian manis bahkan hal terburuk, aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Tapi, jika papa, mama, Kak Dido, Rani, bahkan Abi, semuanya akan sedih. Tapi, kalau kupikir-pikir seperti halnya tadi, Abi benar-benar marah karena aku tak memberitahukannya bahwa aku sakit. Akankah terjadi hal yang sama jika kulakukan hal itu lagi, menutup rapat tentang penyakitku, Tapi,,,,
“ Iya, Dok. Maafkan keegoisanku, aku yakin mereka juga akan ikhlas sama seperti yang kucoba lakukan “,kupeluk dokter tampan ini sekali lagi.
Kemudian dokter keluar kamar, kebetulan saat itu seluruh keluargaku ada disana, bahkan Rani dan Abi. Dokter mengajak mereka semua keruangannya. Lalu dokter menceritakan semua apa adanya tentang kondisiku.
“ Ini tidak mungkin, Dok. Dokter pasti salah mendiagnosis. Atau mungkin ada kesalahan ketika pemeriksaan. Mungkin tertukar dengan orang lain. Itu bukan penyakit putri kami, Dok. Dokter pasti salah “,  Bentak pak Joni, papaku. Pak Joni Benar-benar terpukul akan apa yang terjadi pada princess-nya. Bagaimana mungkin anak seaktif dan semuda dia harus mengidap penyakit parah seperti ini.
“ Apakah dokter sudah yakin dengan hasilnya? Saya tidak percaya kalau Sofia sakit, Dok. Dia anak yang periang, pola hidupnya sehat, bagaimana mungkin, Dok? “, tanya mama berusaha tegar.
Kak Dido, Rani, dan Abi hanya bisa melihat dan mendengar apa yang barusan mereka bertiga bicarakan. Hati ketiganya pun sakit, mereka terpukul atas apa yang terjadi, Abi bahkan sudah tak sanggup untuk menerruskan percakapan ini, tetapi dia harus tahu secara pasti apa yang terjadi pada Sofia.
“ Terkadang, kanker ataupun tumor memang tidak mengenal seseorang, Pak,Bu. Memang benar Sofia adalah anak yang hidup dengan pola yang sehat, Namun itu bukanlah suatu jaminan. Saya sudah meelakukan pengecekan secara berkala pada kondisi Sofia, dan Saya sudah berdiskusi dengan Dokter Robert yang ahli saraf serta Dokter Tomi yang spesialis kanker. Jadi, saya yakin bahwa hasil ini tidak mungkin salah. Jika bapak ibu, ingin melakukan pengecekan ulang di beberapa rumah sakit pun tak apa, tetapi Sofia akan melewati masa-masa panjang dan saya yakin itu tidak nyaman untuknya. Dan saya rasa, hasilnya pun akan tetap sama “, terang dokter Hendra.
“ Ini semua gila, Kenapa? Kenapa ini harus terjadi pada Putri kita, Ma? Apa salah kita, Ma? Apa, Ma? “, Pak Joni sudah benar-benar tak terkendali, dan Bu Siska, mamaku. Sudah tak kuasa membendung air matanya. Saat ini yang ada dipikirannya adalah bagaimaana anaknya mampu melewati masa berat ini, bagaimana akan masa depan dan mimpi-mimpinya. Bu Siska menyadari, Sofia tidak akan hidup normal lagi seperti sebelumnya, akankah mereka sanggup melewatinya bersama sebagai sebuah keluarga? Kenapa hal ini harus terjadi. Pikirnya.
“ Pa, Papa yang sabar, Pa. Kita juga kaget mendengar hal ini, Pa. Papa harus tenang, dengarkanlah dulu penjelasan dari Dokter “, Kak Dido berusaha menenangkan papa. Rani menangis, Abi berusaha menenangkannya walaupun dia sendiri terpuruk.
“ Apa tidak ada suatu cara untuk menyenbuhkan, putri saya, Dok? “, tanya Bu Siska.
“ Pasti ada, kami telah melakukan beberapa analisis, dilihat dari benjolan yang ada di kepala Sofia saat ini, kami bisa melakukan beberapa operasi untuk mengambilnya kemudian ada proses kemoterapi dan rehabilitasi hingga akhirnya bisa dinyatakan sembuh total, namun kami tak menjamin Sofia akan bertahan dengan kondisi seperti ini, pertaruhannya adalah 40 persen, jikalau Sofia bertahan, dia tak akan kembali normal. Karena benjolan dikepala Sofia bisa dikategorikan kanker ganas“, papar dokter. 
Semua sontak kaget, mereka mengetahui bahwa Sofiea harus bertarung dengan kanker ganas ini sendirian.
“ Memangnya apa yang akan terjadi, Dok. Jika kita tetap melakukan operasi ini ? “, tanya pak Joni yang sudah mulai tenang.
“ Sofia telah melewati fase gejala awal, yaitu Pusing, Mual, Muntah, dan sesekali pandangannya kabur bahkan terkadang tidak dapat melihat apapun juga tubuhnya akan sulit digerakkan walaupun dia ingin menggerakkannya. Benjolan di kepala Sofiea berhimpit dengan saraf optiknya, walaupun kita berhasil mengangkatnya, saraf optik Sofia tidak akan berfungsi seperti dulu bahkan bisa juga tidak berfungsi sama sekali, bisa dikatakan Sofia akan mengalami kebutaan permanen. Tetapi jika kita tak melakukan operasi, Secara perlahan Sofia akan lumpuh dan akhirnya jantung dan seluruh tubuhnya akan mati total, inilah yang berusaha saya hindari“, papar dokter.
 “ Ini semua gila, Dok! Tidak mungkin hal sekejam ini akan terjadi pada putri kami “, papa masih saja tidak bisa menerima apa yang terjadi pada Sofia.
“ Kira-kira Apa penyebab benjolan di kepala Sofia, Dok? Saya yakin kalau itu bukanlah tentang asupan gizi atau pola hidup, Dok “, tanya bu Siska.
“ Beragam, bisa jadi karna trauma yang hebat, atau karena benturan-benturan keras yang beberapa kali terjadi. Apalagi saya dengar Sofia adalah pemain basket dari SMP “, terang dokter.
Kemudian Abi mengingat beberapa kejadian dimana Sofia memang pernah terkena lemparan bola basket hingga dia terjatuh dan mimisan. Ketika itu Awal Juni, dimana Turnamen Basket Nasional diselenggarakan, Sofia, Rani, dan Abi yang saat itu masih kelas XI SMA di SMADA sudah menjadi pemain inti (starter). Setiap hari kami berlatih sepulang sekolah, tanpa lelah kami terus - menerus memperbaiki gaya permainanku. Bahkan setiap minggunya, Aku, Sofia dan Rani selalu berlatih tanding agar kami tahu kelemahan kami dan terus memperbaikinya.
“ Sof, sepertinya Shoot yang kamu lakukan agak berbeeda dari biasanya, dari 10 tembakan kenapa hanya masuk 5? Biasanya kamu bisa memasukkan 7 atau 8 bahkan pernah sekali kulihat kamu mampu memasukkan semuanya dalam waktu cepat. Ada apa? “ tanya Abi.
“ Ah tidak apa-apa, hanya saja tanganku masih agak terasa sakit, kamu ingat ketika babak perempat final seminggu yang lalu saat melawan SMA Gloria? aku begitu ceroboh ketika men-deffense9 Jessi sang kapten, ketika quarter tiga dimulai aku dengan cerobohnya tidak memperhatikan langkahku hingga aku menabrak Dee, lalu karena aku berusaha menahan diriku agar tidak terjatuh, aku malah melukai tanganku. Hahahahaha. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok, aku yakin lusa aku sudah siap bertanding “, paparku.
“ Kamu itu, pokoknya sebelum final besok, kamu tidak boleh bermain dulu. Istirahatkan tanganmu “, perintah Abi.
“ Siap Pelatih “, kataku sambil memberinya hormat, lalu aku berlari masuk ke dalam kelas. Tak kutahu bahwa saat itu Abi sedang tersenyum melihat tingkahku yang gila. Besok adalah pertandingan final basket putri antara SMA Dharmawangsa dan SMA Negeri 2 .
“ Dia itu, Unik “, kata Abi.
Lalu hari yang dituggu-tunggu tiba, sore ini kami berkumpul di ruang pemain, Aku, Rani, Yosi,Sinta, Abel sang Kapten, dan beberapa pemain cadangan lain sedang bersiap menuju lapangan. Kemudian kami berdoa bersama, Pak Hage juga memberikan kami beberapa saran dan mengingatkan lagi tentang strategi permainan yang akan kami gunakan.
Kami melakukan pemanasan di lapangan, kudengar teriakan-teriakan teman-teman yang saling meemberikan support mereka untuk kami, hal yang sama terjadi pada area tim lawan. Memang berbeda rasanya ketika bertanding di laga Final.
Wasit telah meniupkan peluitnya, kami berbaris. Bola pertama dilempar, dan....... START. Bola pertama berhasil direbut Abel, lalu di-dribble oleh Rani, kemudian dioper padaku, aku berlari mendekati ring, dan shoot. Yeah! Masuk. Two points. Setelah itu permainan menjadi sengit, kami saling berkejar-kejaran skor, tidak ada yang menyerah, sampai babak ketiga ini belum dapat dipastikan siapa yang akan memenangkannya. Lalu pada menit ke-2 babak ke-4, ketika Putri, kapten basket putri SMAN2 mem-block tembakan yang dilakukan oleh Yosi, bola terpental keras ke arahku dan mengenai kepalaku, saat itu aku merassakan ada yang keluar dari hidungku. Kemudian semua menjadi gelap, aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Abi mengingat kejadian itu, ketika Sofia pingsan, mereka langsung membawanya ke rumah sakit dengan ambulans, aku menyusul dan mengikutinya, aku tak peduli dengan hasil pertandingannya. Saat ini, pikiranku sedang berpusat pada keadaan Sofi, semoga dia tak apa. Pikir Abi.

Namun, itu hanyalah perkiraaaku saja, tidak ada yang tahu apa yang menjadi penyebab munculnya benjolan itu dikepala Sofia, satu hal yang pasti, aku tak ingin kehilangan Sofia, Tuhan. Pikir Abi.

Setelah itu, kulihat semuanya memasuki kamar dengan senyuman. Jujur, aku kaget. Kukira mereka akan sedih dan menangis dihadapanku, ternyata mereka lebih tegar dari diriku. Aku juga tak boleh menunjukkan kesedihanku.
“ Kamu sekarang bagaimana keadaanya, masih ada yang sakit? “, tanya mama seraya memijat kakiku lembut.
“ Alhamdulillah, Ma, sudah sehat. Oia, aku sudah bosan di rumah sakit. Sudah dua minggu ini aku terus-menerus menghirup aroma obat-obatan. Aku ingin pulang dan bermain basket lagi dengan Abi dan Rani “, kataku sambil melihat mereka berdua.
“ Oh, Sofia “, kata Rani
Abi hanya memandangiku saja, dia bahkan tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba dia berlari keluar tanpa berpamitan. Kenapa dia?
“Abi”, panggilku.

@@@

Keesokan harinya, dokter Hendra telah mengijinkanku pulang, senangnya bisa keluar dari penjara itu, heehehehehehe.....
Mama menyuruhku untuk beristirahat, padahal aku sudah tidak sabar ingin bermain di lapangan, kesal!. Kak Dido menemaniku dikamar, dia menyuruhku duduk di kasur, lalu dia membawakanku majalah-majalah dan komik Kuroko no Basuke episode terbaru, Yeay, Love you Kak.
Kak Dido mengajakku bicara, dia berkata bahwa awalanya dia sangat kaget begitu mengetahui apa yang sedang kualami. Kak dido menyuruhku untuk tetap semangat, dan tetap bersyukur. Apapun yang terjadi itu sudah jalan dari Allah. Aku melihat kak Dido berusaha tegar juga demi aku. Aku juga tak ingin dari penyakit ini. Aku tak ingin penyakit ini merenggut semua senyuman orang-orang yang kusayangi. Aku tak ingin pergi meninggalkan mereka yang terus-menerus bersedih.
“Hei kamu, benjolan yang bersarang dikepalaku. Mengecillah, aku percaya kamu cuma mampir dikepalaku. Aku akan membuatmu pergi dari kepalaku”, kataku
Aku benar-benar tidak sabar untuk bermain basket sekali lagi, waktu sudah meenunjukkan pukul 19.00, kulihat keadaan rumah, untunglah mama dan Kak Dido lagi gak dirumah, aku langsung keluar meenuju lapangan basket. Dan....
“ Abi “, aku begitu kaget, kulihat dia sedang duduk di wilayah keyhole10  sedang memandang ring.
“ Kamu kenapa ada disini? “, tanyaku heran.
“Lagi nungguin kamu, habisnya tadi kamu bilang kalau kamu sudah tidak sabar untuk main basket lagi. Jadinya, aku ingin menemanimu. Seperti kataku sebelumnya, gak seru kalau main basket sendirian”, Kata Abi sambil tersenyum lebar kepadaku.
Anak ini gak sakit kan? Kemarin dia marah-marah, terus tiba-tiba keluar, terus sekarang dia senyum-senyum. Mungkin dia salah makan.
“ Okedeh “, kataku senang. Tapi jujur aku bahagia, akhirnya bisa bersamanya lagi, bermain basket dengannya.
Aku yang sudah merasa lelah memutuskan untuk duduk di bawah ring basket,
“ Oia, Bi, Aku mau tanya sesuatu padamu, boleh ? “, kataku.
“ Tentu saja, ”, kata Abi.
“ Apakah Mira itu berarti bagimu ? “.selama ini kupendam dalam-dalam tentang ini. Aku takut menanyakan hal ini padanya. Bagaimana jika Mira memang orang yang penting dalam hidup Abi? Bagaimana jika Abi mencintainya ? Aku takut. Tetapi, aku merasa harus mengetahui semua itu. Aku tidak ingin mengalah pada takdir, aku ingin kegelisahan hatiku reda.
“ Mira ya, dia adalah sahabatku, Sof. Dia adalah teman dan cinta pertamaku. Aku beruntung bisa mengenalnya. Karenanyalah Aku bisa melihat dunia lebih luas, karena bertemu dengannya aku lebih bisa memahami “, tuturnya.
“ Jadi, dia penting bagimu? “, tanyaku dengan mata berkaca-kaca, hatiku bergetar, tangannku kaku, mataku mulai basah. Kenapa ini
“ Dia penting bagiku seperti halnya kamu “, ucapnya seraya memegang tanganku.
Kutatap matanya yang bening, kupegang erat tangannya. Abi, kaulah penyemangat hidupku. Rivalku dalam basket, sahabatku yang baik, dan ... Air mata ini terus saja mengalir, tak henti-hentinya aku mengucap rasa syukur. Aku merasa hidup kembali, terima kasih, Tuhan.
Keesokan harinya, aku masuk kuliah, teman-teman menanyakan kabarku. Aku senang bisa bertemu dengan mereka lagi.
Ran tiba-tiba datang ke kampus dan langsung memelukku. Dia menarik tanganku, mengajakku duduk di kursi di pinggir danau. Dia memberiku banyak nasihat, aku tahu dia mengkhawatirkan kondisiku.
“ Ran, terima kasih ya, sudah mau jadi sahabatku “, katakku seraya memeluknya. Kami berpelukan dalam tangis, aku tahu Ran juga menangis, kudekap dia, kubelai rambutnya yang panjang. Aku tak ingin dia bersedih lagi. Lalu kami berpisah. Ran harus segera ke kampusnya dan aku akan kembali ke kelas, diperjalanan kami melewati lapangan basket. Kupandangi lapangan yang begitu kucintai, sepi, seolah waktu disana telah berhenti. Aku tak kuasa menahannya, aku berlari ke bawah ring, mengambil bola dan meng-shot nya, kupantulkan lagi bola itu mengelilingi lapangan.



Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CEPSI ( Cerita Pendek Puisi )

Aku dan anak-anak yang digusur - true story

Puisi - curahan hati