CERBER - One Love - Awal
ONE LOVE
Berdiri
di persimpangan sekian lama
Terus
membuatku terpaku dalam diam
Di
tengah persimpangan, hanya ada kehampaan
Kaki
enggan melangkahkan langkah kecilnya
Hati
terus menjerit di dalam kotaknya
Musim
terus berganti, Bulan terus berputar silih berganti dengan matahari
Tak
berhasil memabangunkan diriku
Dari
harapan untuk memilikimu
Salju telah jatuh, awal pertanda masuknya musim
dingin di Jepang. Angin berhembus kencang mengiringi derap langkah kakiku yang
kupercepat menuju stasiun. Setelah membeli tiket menuju Nagaokakyo, kulihat jam tanganku, masih 10 menit lagi. Pikirku. Aku memutuskan untuk bersandar di
salah satu tiang stasiun, tiba-tiba aku teringat masa-masa itu. Senyumannya
yang hangat, sinar dari pancaran matanya begitu menerangi hatiku, menghancurkan
kegelapan yang bersarang dihadapanku. Tapi itu semua hanyalah fatamorgana,
kenapa aku mengingat nya lagi, tiga tahun tinggal Kyoto, tak membuatku
melupakannnya. Apa yang kamu harapkan?
Dia bahkan tak melihatmu. Kataku.
Aku melihat tangannya dengan jelas begitu menjaga
kakakku. Matanya yang hangat terus menatap kakakku. Senyumnya yang tulus terus
diberikan kepada kakakku. Melihatnya begitu memperhatikan Fera, hatiku bergejolak. Letupan-letupan
kecemburuan terus memanggil, hingga tak kuasa ku menahannya. Kumuntahkan
semuanya melalui air mata, tapi aku hanyalah bayangan baginya. Suara kereta dan
lonceng petugas membuyarkan lamunanku. Aku segera masuk ke dalam kereta.
Kupandangi salju terus berjatuhan, menghiasi jalanan kyoto, putih diatas
abu-abu, basah dan licin menciptakan hawa dingin membeku. Kupandangi refleksi
diriku, begitu lama waktu yang telah kugunakan untuk lari, namun mengapa aku
tetap berada dalam kegelapan ini. Aku terus berdiri dipersimpangan, Aku sudah
berhasil memperoleh mimpiku untuk berangkat
ke Jepang. Tapi saat ini, aku tak seperti tinggal disini, hari- hari yang
kulalui disini seperti hari dimana aku tidur, setiap pagi aku berangkat ke
Kyodai ( Kyoto University ), lalu pulang, besok ke Kyodai kemudian pulang,
terkadang aku pergi ke perpustakaan
terkadang ke toko buku.
Setibanya di apartemen, aku melemparkan badanku ke
atas kasur, air mataku tiba-tiba mengalir membasahi pipi, hatiku begitu
bergejolak, begitu kuat debarannya hingga ingin sekali ku berteriak. Aku
menenggelamkan diriku dalam kesedihan.
6
tahun yang lalu
Mau tahu lanjutannya? Komen yuk, :D
Silakan Beri Komentar agar penulis bisa belajar dan menulis lebih baik lagi :D

Komentar