CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 3 Wanita Lain
CHAPTER 3
WANITA LAIN
“ Abi, siapa dia ? “, tanyaku memandang wanita disebelah Abi yang terasa
begitu dekat, kulihat dia menggandeng tangan Abi.
“ Maaf, Maaf, Aku lupa. Kenalin, ini Mira, dia temanku waktu SMP. Mira ini
Sofia “, Kata Abi memperkenalkan kita berdua.
“ Sofia “,
“ Almira “, kami pun berjabat tangan.
Perasaan apa ini? Terasa seperti ada yang menekan hatiku, sesak, hingga
membuat hatiku bergetar. Tiba-tiba timbul rasa takut, aku tak ingin dia pergi
dari sisiku. Kulihat mereka begitu akrab membicarakan banyak hal yang tak
kuketahui, serasi sekali, mereka seperti benar-benar tak terpisahkan. Aku takut
kehilanganmu, Bi.
Setibanya dirumah, aku langsung masuk kamar. Perasaanku benar-benar tak
karruan, aku duduk di beranda menatap lapangan basket. Ketakutanku selama ini,
akankah benar-benar terjadi? Siapa Almira? Kenapa Abi tak pernah menceritakan
padaku tentangnya ?, aku benar-benar bingung dengan semua ini, getaran yang
mengguncang hati membuatku tersiksa. Ketika ku pejamkan mata, aku melihat Abi
yang digandeng oleh Almira, aku bahkan takut untuk tidur. Makan pun terasa
begitu hambar, semua kenanganku bercampur menjadi melodi yang kacau, lebih baik
aku bermain basket. Pikirku.
Sudah lima hari ini aku menghabiskan waktuku hanya untuk berdiam diri di
kamar, pengumuman penerimaan mahasiswa baru pun tak membuatku bergairah, Mama
memberitahuku kalau Aku telah diterima sebagai salah satu mahasiswa baru
jurusan Informatika, UC, namun, berita ini tidak membuatku terkejut, melainkan
ketika aku tahu bahwa Abi dan Almira juga diterimadi jurusan yang sama
denganku.
Lompat, lompat lebih tinggi. Masih belum, belum. Kataku menyemangati. Aku
memberikan semangat kepada diriku yang bermain basket seorang diri, tak lama kemudian
aku melihat Abi, betapa senangnya, Abi, Aku merindukanmu.
“ Main basket kok sendirian, gak seru! “, celoteh Abi..
“ Makanya, Ayo main bersama! “, ajakku.
“ Maaf, Sof, hari ini aku hanya mampir, karena aku kesini bersama Mira, tak
mungkin dia kutinggal sendiri disana “, sambil menunjuk pinggir lapangan.
Hahaha..... Betapa bodohnya aku, dia pasti kesini bukan untuk bermain
denganku. Dia kan bukan siapa-siapanya Aku. Betapa naifnya diriku ini, bodoh.
“ Ya sudah, Pergi sana! “, ketusku.
“ Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu berubah, setiap bertemu tidak
pernah menyapa, kamu juga jarang terlihat, ada apa sih? kamu bukan Sofia yang
ku kenal “, ucap Abi menjauh dariku. Kupandangi punggungnya, dia tetap saja
terlihat gagah. Namun semua ini benar-benar menyakitkan, kulihat Mira
melambaikan tangan padaku, dan dia berjalan mengikuti Abi. Aku ingin mengikuti
mereka, namun kuurungkan, aku tak boleh seperti ini. Siapa aku hingga punya hak
untuk menguntit mereka?
@@@
Trrrt,,,trrrt,,,
“ Halo,
Fi. Bagaimana kuliah pertamamu dulu? Maaf ya, aku baru sempat menghubungi “,
Tanya Rani yang kebetulan menghubungiku setelah sekian lamanya. Rani tidak
sekampus denganku, dia memutuskan untuk mengikuti tes ke sekolah pramugari
terbaik di Jakarta.
“ Halo,
Ran, semua berjalan biasa saja “, kataku datar.
“ Kok
jawabnya gitu sih? Bukannya kamu lagi bergembira karena bisa sekelas lagi
dengan Abimanyu, sang pujangga hati “, goda Rani.
“ Apaan
Sih, gak lucu “, jawabku marah.
“ Kamu
kenapa sih, Fi? Aneh deh, kamu lagi sibuk gak? Ketemuan yuk! Ada yang ingin
kubicarakan “, ajak Rani.
“
Sekarang saja, Ran. Aku juga punya sesuatu yang harus aku ceritakan. Kita
bertemu di Cafe Melody saja ya, seperti biasa“,kataku.
Setibanya
di cafe, aku memilih tempat duduk yang dekat taman bunga di bagian belakang,
diisini kita bisa menikmati indahnya kebun anggur bercampur dengan beberapa
bunga, seperti mawar merah, ada juga yang bewarna pink, walau kecil tetapi
sangat rapi dan manis.
“ Hai,
Sof. Lama ya tak bertemu “, sapa Ran
“ Hai
“, sahutku datar.
“ Aku
heran sama kamu Sof. Ternyata benar kalau kamu berubah. Kamu terlihat lebih
kurus dan lesu, mamamu benar-benar mengkhawatirkan dirimu. Beliaulah yang
memintaku untuk berbicara dengamu, mungkin kau mau berbagi denganku? Ada apa
Fi? “, tanya Ran heran.
“
Berubah? Aku juga tidak tahu mengenai hal itu, hanya saja saat ini aku........
“, tiba-tiba aku jatuh dan gelap. Sekilas kudengar Ran memanggil namaku.
“ Ran,
“, kubuka kedua mataku. Kulihat sekeliling, ruangan dengan dominasi warna
hijau, kuangkat tangan kananku, ternyata itu infus. Pantas saja, aku merasa
gatal disana.
“
Sofia, kamu tidak apa-apa? “, Ran begitu tampak khawatir.
“
Sebenarnya yang tadi ingin kubicarakan adalah tentang Abi, Ran. Abi sepertinya
telah menemukan cintanya. Abi bahkan tak lagi bermain basket denganku. Aku
telah benar-benar kehilangannya “, tak kuasa ku menahan air mata ini.
“ Oh,
Sof. Kenapa tak kau ceritakan masalah ini padaku sebelumnya? Aku bisa
membantumu, paling tidak aku akan menyemangatimu bangkit. “, kata Ran sambil
memelukku.
“
Tidak, Tidak Ran, ini bukanlah suatu masalah. Almira, mungkin memang dia yang
terbaik untuk Abi. Semejak Abi memperkenalkannya padaku, Abi bercerita bahwa
dialah cinta pertamanya ketika SMP dan ada seseorang lagi yanng berhasil
membuatnya lupa akan cinta pertamanya itu, kata Abi gadis inilah yang membuat
Abi benar-benar paham makna cinta yang sebenarnya. Dan aku menyadari ketika Abi
bertemu dengan Mira, pandangan itu.... “, tak bisa kulanjutkan kisah yang
membuatku perih ini.
“
Mungkin memang Almira itu adalah cinta pertama Abi, tetapi bukannya dia sudah
mengatakan bahwa ada seseorang lagi yang membuatnya lupa akan hal itu? “, tanya
Ran.
“ Tapi
itu tidak merubah fakta bahwa dia bersama dengan cinta pertamanya lagi, bahwa
kami sekarang adalah teman sekelas, Aku... “, belum selesai aku berbicara, mama
dan papa langsung berlari menghampiriku. Kutatap lekat wajah mereka, tak
kusangka mereka sudah setua ini, ada keriput diujung mata mereka, pucat, namun
tetap memancarkan cahaya.
“ Sofi,
Nak, kamu kenapa? Kenapa kamu bisa pingsan? “, tanya mama panik seraya membelai
kepalaku.
“ Iya,
sayang. Rani tadi menelepon papa “, kata papa.
“
Sofia, baik-baik saja. Mama sama papa jangan khawatir ya, “, kataku tersenyum.
“ Mama
rasa akhir-akhir ini kamu semakin kurus, Sof. Wajahmu pucat sekali, kamu juga
sudah sering pingsan. Mama rasa ini bukan sekedar kelelahan. Kita lakukan
pemeriksaan ulang ya, Nak “. Bujuk mama.
“ Iya,
Ma. Sofi akan lakukan apapun asal mama, papa, dan Ran tidak khawatir lagi
kepadaku. Mungkin memang aku hanya kelelahan saja, “. Kataku. Jujur, aku
sendiri merasa ada yang aneh dengan tubuhku, badanku terlalu cepat lelah meski
aku melakukan aktivitas ringan, pandangku yang tiba-tiba buram, kepalaku yang
sakit luar biasa, bahkan pernah aku tak mampu mengendalikan kakiku hingga
menabrak kaleng biskuit di ruang makan. Tapi, ya.... Mungkin karena aku kurang
berhati-hati saja menjaga pola hidupku.
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar