CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 6 April Merah


CHAPTER 6
APRIL MERAH 


Disuatu pagi, ketika aku dan Abi pergi melihat pentas seni bertema APRIL MERAH di gedung budaya milik dinas kebudayaan,
“ Bi, Apa Mira itu berarti untukmu ? “, tanyaku penasaran.
“ Kenapa kamu membahas hal itu lagi sih, Sof? Sudah kubilang kan, dia itu adalah temanku dulu, kami hanya berteman, aku menyayanginya sebagai teman. Kamu gak percaya sama aku? ”, kata Abi, sepertinya dia agak kesal.
“ Apa kamu yakin ? “
“ Kamu itu kenapa sih, Sof? Terserah kamu deh. “
“ Kamu marah ya? “, kataku

“ Sudahlah, Yuk balik “, katanya ketus. Saat dia mulai berjalan, kutarik bagian bawah bajunya. Kupegang erat, dan tak kulepas. Air mataku mengalir dengan sendirinya.
“ Aku takut, Bi. Demi Allah aku takut “, meremas bajunya
“ Sofia, lihat aku! aku berjanji, akan menjagamu. Kamu itu adalah orang yang berarti dalam hidupku “, sambil memelukku.
Kami berjalan, menyusuri jalanan disekeliling taman, disepanjang jalan aku hanya memegangi erat tangannya. Berharap sang pemutar waktu menghentikan waktu saat ini, sebentarr saja. Biar aku bisa menikmati masa ini lebih lama. Ya Tuhan, hanya kepadamu aku memohon pertolongan, dalam setiap sujudku kupanjatkan doa-doa untuk mereka yang kusayang, diatas sajadah cinta, aku bertasbih merindukan rahmatMu dan cinta Rassullullah.
Setibanya dirumah,
“ Kamu istirahat ya, Sof  “, kata Abi berpamitan. Aku melambaikan tangan, kulihat dia tersenyum simpul.
“ Sofia, kamu sudah datang? “, sambut mama
“ Iya “, kataku bahagia, aku langsung berlari, memeluk mama dari belakang. Beliau yang sedang menyiapkan makan malam langsung terkejut.
“ Kamu kenapa, Sof? “
“ Nggak apa-apa. Aku merasa bahagia, bisa hidup dan lahir dari rahim mama. Tinggal disini bersama papa dan kakak. Allah telah sangat baik dengan mengirimku kesini, Ma “. Aku merasa sentuhan hangat dari tangannya yang lembut, aku menangis dalam diam, kudengar isak tangisnya yang lirih. Kudekap erat mama yang kusayang ini.
“Hayo, ada apa ini?”, kata papa tiba-tiba, papa langsung memelukku dan mama. Aku langsung mengajak papa duduk di ruang tamu.
“ Kamu tadi ngomong apa sama mama? “, papa penasaran.
“ Nggak apa-apa kok ”, kataku, sambil memeluknya.
“ Aku sayang sama papa, terima kasih papa sudah jadi papa yang hebat buat aku dan kakak. Aku merasa bahagia, bisa jadi anak papa dan mama ”. aku merasakan kehangatannya dari belaiannya, beliau membelai rambutku, mengecup pipiku. Kupeluk beliau erat. Setelah itu kami makan bersama, aku, papa, mama, dan kak Dido. Suasana saat itu begitu hangat dan haru. Aku melihat wajah mereka satu persatu, aku ingin lebih lama hidup bersama mereka.
Setelah itu, aku duduk di teras rumah, malam bertabur bintang, begitu bersih hingga aku bisa melihat semua bintang berkilauan. Allahu Akbar, MahaBesar Allah yang telah menciptakan segalanya begitu indah. Tak kuasa ku menahan tangis. Air mataku terus mengalir, mataku buram, kepalaku mulai berputar.
“ Sof! “, panggil kak Dido mengagetkanku.
“ Ah.. Ya? “, kataku terkejut.
“Kamu kenapa?”. Kata kak Dido heran.
“ Ah, aku baik-baik saja.”. kataku.
Kulihat kak Dido duduk disampingku, memegang pundakku. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya, kulihat lekat matanya yang tajam. Dia mengusap air mataku, memelukku. Tiba-tiba kak Dido menangis,
“ Maafkan aku, Dek. Maafkan aku, maafkan aku.. maaf... “, kak Dido terisak.
“Kenapa kakak harus meminta maaf ?”, tanyaku.
“Aku gagal menjagamu, aku tidak bisa membuatmu bahagia, maafkan aku”.
“Kak, dengan adanya kakak disampingku, itu sudah merupakan kado teristimewa dari Allah untukku. Aku beruntung menjadi adikmu, kak”. Kudekap kak Dido dengan erat, aku tak ingin air matanya terus mengalir, aku ingin kakak tersenyum lagi seperti dulu.
Tiga hari kemudian, ketika aku akan bangun dari tempat tidurku, rasanya begitu berat, tangan kananku sulit bergerak, rasa sakit menyelimuti sekujur tubuhku, ya Allah ada apa ini, aku menangis menahan sakit, terlalu menyakitkan. Ya Allah aku memohon perlindunganmu.
“ Ma! Pa! sakit. Kak Dido! Tolong kak! “, aku meronta kesakitan, tubuhku kaku, tiba-tiba kepalaku sakit, aku sulit bergerak.
“ Ma! Sakit, Ma. “, rintihku. Kudengar derapan kaki yang begitu kencang, aku melihat mama dan papa berlari ke arahku. Wajah mereka begitu panik, mungkin sama paniknya denganku. Kulihat kak Dido baru masuk kamarku, mama memegang tanganku yang basah, papa mendekati kak Dido, dan berlari ke bawah. Kak Dido mendekatiku, dan menggendong tubuhku. Sakit. Aku merasa ribuan jarum menusuk kulit dan tulangku, kepalaku berputar-putar dan terus berputar, aku sudah tidak tahan lagi. Mama terus mendampingiku.
“ Sabar ya, sayang. Kamu kuat, kamu kuat. Jangan kalah sama sakit, Nak. Tetaplah sadar. Tetaplah bersama kami “, mama menyemangatiku. Aku sudah hampir pingsan, namun karena kata mama barusan, aku berusaha untuk memaksa diriku untuk tetap sadar. Kakak membawaku ke dalam mobil, kepalaku dibaringkan dipangkuan mama. Mama terus mendekapku erat, mengusap tanganku yang dingin. Kakak duduk disebelah papa yang sedang menyetir. Aku menangis, tanpa sadar aku terus merintih kesakitan, seakan dikepalaku bersarang ribuan duri, aku merasa kepalaku akan meledak. Mama memelukku, menangis, dan memintaku untuk tetap sadar. Tiba-tiba semua menjadi gelap, aku tidak mengingat apapun lagi setelah itu.

@@@
“ Abi? ”, kataku.
“ kamu sudah bangun? “, matanya lembab, pipinya basah. Jangan menangis, Bi.
“ Sudah berapa lama aku tertidur? ”, kugerakkan kedua mataku, mengamati sekeliling. Aroma infus begitu menyengat, kudengar bunyi detektor jantung dari arah kananku.
“ kamu koma tiga hari, Sof. Aku begitu takut, maafkan aku, Sofia. Kamu begini karena kelelahan hebat, kamu kupaksa berlari. Maafkan aku, Sofia “, Abi berlutut dihadapanku, kulihat dia menunduk, memegang tangaku. Aku merasakan getaran yang hebat dari tubuhnya, kupaksa tanganku bergerak, kupegang kepalanya. Kuusap rambutnya,
“Ini bukan salah siapa-siapa, Bi. Jangan kamu menyalahkan dirimu, aku merasa bahagia karena kamu mengajakku ketempat spesial itu, aku akhirnya bisa jujur dengan isi hatiku”. Aku tersenyum, Abi terus mendekap tanganku.

“Oh, Sofia! Kamu sudah bangun, sayang. Mama panggilkan dokter, ya”, mama mengecup keningku. Papa juga.
“Aku rindu papa dan mama”, kataku lirih. Tak butuh waktu lama, dokter Rendra langsung menghampiriku, dia tersenyum. Kemudian memeriksa detak jantung dan tekanan darahku. Lalu mengajak orang tuaku untuk berdiskusi di ruangannya. Kulihat mereka bertiga meninggalkanku dengan Abi. Kami bersama dalam diam, sesekali Abi merapikan selimutku, kemudian duduk di sofa panjang yang terletak di sebelah kiriku. Lalu dokter masuk dan tersenyum padaku.
“Kamu bisa mendapat jawabanmu sekarang, Sof. Jawabannya adalah iya, kita berdoa meminta pertolongan Allah ya, Sofia”, kata dokter seraya menghela napas panjang. Kemudian dokter menjabat tanganku, dan menyemangatiku. Lalu dokter meninggalkan ruangan. Mama dan papa menghampiriku, mengecup keningku, kuusap pipi mama yang basah air mata.
“Apakah kamu yakin dengan keputusanmu?”, papa berbisik lembut.
“Iya, Pa. Aku ingin sembuh, aku ingin bermain basket lagi. Aku ingin bersama kalian lagi, lebih lama. Aku akan berjuang untuk bertahan”, kataku lirih. Papa langsung membelaiku, kulihat beliau berlari keluar ruangan, disusul Abi. Mama duduk menemaniku dengan tegarnya, mengatakan bahwa Kak Dido mungkin akan kesini waktu malam hari, karena siang ini kak Dido masih ada pengajuan proposal untuk kegiatan bakti sosial di kampus. Aku jadi teringat dengan jadwal kuliahku, mama telah mengajukan permohonan cuti, karena beliau ingin aku dan keluarga fokus dulu untuk kesembuhanku. Lalu aku merasakan sakit kepala yang luar biasa, aku menutup mataku dan semuanya gelap.
“Sof! Sofia! Sofiaa!”, kudengar seseorang berteriak memanggil namaku. Kulihat sekeliling, tidak ada siapapun disini, semuanya putih, aku kaget ketika melihat baju yang kupakai. Ini bukan baju rumah sakit, kan? Baju siapa ini?. Baju yang kukenankan ini adalah baju yang sangat cantik, dengan tinggi selutut, bewarna putih dengan renda di bagian bawah. Aku berjalan tanpa arah, aku berteriak memanggil semuanya. Mama! Papa! Kak Dido! Abi! Rani! Dimana aku? kalian dimana? Aku tidak tahu harus kemana? Tolong aku!. aku berlari, terkatung-katung di ruang kosong itu, berharap seseorang bisa menolongku. Kemudian, aku melihat ada titik kecil di depan sana. Aku berlari kearah titik itu, terus berlari, titik itu semakin besar, semakin besar, dan terus membesar. Titik itu telah berubah menjadi lubang. Aku terus berlari, aku yakin itulah jalan keluarnya. Aku menembus masuk, dan aku terkejut dengan apa yang kulihat.
“Kak! Kenapa kakak menangis?, Ma! Mama! Pa! Ada apa ini, Pa? Kenapa kalian begitu bersedih.”, aku mendekati mereka bertiga yang berpelukan, kenapa ini? Ada apa?. Aku melihat Abi meringkuk di sudut ruangan, aku berlari kearahnya. Kenapa Bi? Ada apa? Aku disini, kamu kenapa? Jawab aku!. Abi seperti tidak mendengarkanku, ada apa ini. Kulihat Rani duduk di sofa, menangis tersedu-sedu. Ketika akan menghampiri Rani, aku melewati kasur, kuputuskan untuk mendekat, kupandangi tubuh yang sudah terbujur kaku, kupegang kakinya, dingin. Aku bergetar, siapa dia? Kupandangi lekat-lekat wajahnya, begitu manis, dia tertidur bagai seorang bayi, putih dan ada senyum di bibirnya.
Tidak mungkin! Ini tidak mungkin kan? Aku ada disini, kenapa ada aku yang lain yang terbujur kaku? Aku masih hidup, aku disini! Hei, Kamu! Kamu bangun! Sofia! Dengarkan aku, kamu harus bangun! Bangun, Sof! Bangun! Ini tidak mungkin, aku ada disini. Lalu siapa dia? Aku pasti sedang bermimpi, mana mungkin aku pergi tanpa berpamitan? Aku tidak ingin begini, Tuhan. Aku tidak ingin meninggalkan semuanya dengan cara begini, tolong aku. Siapapun, tolong aku! Tolong aku!

@@@

“Tolong aku! Tolong aku!”, kataku lirih.
“Sof! Bangun Sof! Sofia! ”, kak Dido menghampiriku.
Aku terkejut, kutatap mata kak Dido. Kulihat kedua tanganku, kupegang wajah kak Dido. Alhamdulillah itu hanyalah sebuah mimpi. Aku menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisanku yang kencang, mama dan papa langsung berlari menghampiriku. Aku takut, Ma, Pa, Kak Dido.
“Aku takut, aku melihat semuanya menangis, semuanya memakai baju hitam. Hanya aku yang memakai baju putih. Aku takut. Semua sudah tidak bisa melihatku, semua sudah tidak bisa mendengar suaraku. Aku sendirian disana. Aku sendirian ”, aku panik, aku gelisah. Ya Allah apakah waktuku akan tiba sebentar lagi? Aku takut ya Allah, kemana aku selanjutnya akan pergi.
Mama mengecupku, kurasakan air matanya mengalir di keningku.
“Kamu akan baik-baik saja, Papa yakin kamu pasti sembuh setelah operasi itu dilakukan. Papa akan tunjuk dokter-dokter terbaik yang akan menangani penyakitmu. Kamu harus percaya, Allah bersama kita, Nak ”. papa memberiku motivasi, aku merasa agak tenang.
“ Kamu gak akan kemana-mana, Dek. Kakak akan menjagamu, kamu harus janji, tetaplah bersama kami ”.


Penasaran lanjutan kisahnya? nantikan di kamis depan ya happy reader :)
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CEPSI ( Cerita Pendek Puisi )

Aku dan anak-anak yang digusur - true story

Puisi - curahan hati