CERPEN_SERIES



MY LITLE ENEMY
Oleh : Febrina Rach

            “ Bantet! ”,
            “ Gendut! ”,
“ Super mini! ”,
“ Super jumbo! ”,
“ Mini mouse !”, teriakku kepada musuh didepanku ini. Dia ini adalah cewek yang paling nyebelin yang pernah aku temui. Tubuhnya super duper mini, lingkar pinggang kayak anak SD padahal sudah kuliah.
“ Tak gembosi lo! ”, teriaknya balik. Gak nyadar apa, kalau dia itu jumbo maximum. Untuk ukuran cewek dia itu kegedean banget deh, oveerr – mylitleenemy think.
“ Kalau ada banjir mungkin kamu hanyut duluan deh ”, ledekku.
“ CUKUP! ”, kata temanku, Via yang berusaha menghentikan kami berdua yang daritadi ribut terus.
“ Kita ini mau ada kelas rek, uda jam masuk. Masih aja ribut, heran deh ”, katanya lagi,
Aku melengos mandangin dia, dia juga melengos dan kami pun berjalan berlawanan arah. Tak lama kemudian, dosen kami datang dan pelajaran dimulai. Selama kuliah itu aku tidak bisa fokus, aku berusaha memikirkan cara untuk membalaskan dendamku padanya. Aku ingat betul awal permusuhan kita ini, saat itu aku, dia, dan beberapa temanku makan bersama di pendopo dekat foodcourt. Saat kami sedang asyik makan, aku merasa kehausan, kemudian aku mau mengambil minumku. Tiba-tiba ada botol melayang ke kepalaku.
PLETAK!
Botol itu tepat mengenai kepalaku, Nice!
“ Adaw! Siapa ini yang lempar botol, heh? Sakit tauk! ”, kataku kesal.
“ EH, salah alamat dah! Maaf Pep, gak sengaja ”, kata Mei yang kelabakan.
“ Hahaha, makanya ta, jangan banyak gerak, kamu ini kecil-kecil ”, kata temanku Nai yang sebenarnya dia ini yang mau dilempari botol sama Mei, tapi tu botol malah nyangkut di kepalaku duluan, lemparan yang bagus Mei!
Mei ini adalah mahasiswa paling mungil yang aku kenal, sudah gitu hobinya sliweran kayak laler, cerewet pula. Cocok! Karena itulah aku agak kesal padanya, pada dasarnya aku itu ndak bisa cocok dengan anak-anak tipe seperti ini. Tapi, gitu-gitu dia termasuk teman pertamaku di kampus, awalnya sih. Lalu menjadi teman sekelompok dalam kegiatan OSPEK Fakultas maupun Jurusan dan akhirnya menjadi teman sekelas. Malah sekarang jadi teman sekelas kursus bahasa Inggris juga. Entah bisa dibilang apes atau sudah sial dari orok.
Aku akan memberi tahu sesuatu tentang rahasia Mei, tapi jangan diberitahu siapa-siapa ya, janji? Ini rahasia kita saja, OK?
Mei ini adalah anak yang hobinya dibuli kadang juga dikerjain di kelas, temen sekelasku seneng banget jailin dia. Abis dia mungil banget, uda gitu gampang dikibulin, jadinya seru banget kalau godain dia. Tapi, jangan beranggapan negatif dulu, guys! Kita gak segitunya juga buat ngebully atau jahilin dia kayak yang diberita di tipi-tipi sampai dia depresi. Buktinya, saat kita kerjain dia, dia malah ketawa-ketawa gak jelas, kadang malah jahilin kita balik tapi zonk. Sudah gitu, suka banget ngasih kita bahan buat ngelucu tapi gayus a.k.a garing pol. Aku malah ketawa meringis demi dia aja. Teman yang baik, EH! Salah! Musuh yang baik.
“ Oh, gitu? ”, kataku menggodanya dengan mata melotot dan bibir menyong-menyong. Gak segitunya juga kalee...
“ Kamu sih, Nai, jahilin aku terus ”, kata Mei yang ketawa-ketawa panik plus kelabakan.
“ Enak aja, kan kamu yang lempar botol itu, lah aku yang salah ”, kata Nai yang masih berusaha tidak ketawa.
“ Udah! Ini kamu yang salah ya, Mei. Kamu ini ya, sama yang tua aja berani deh, hadeh! ”, kataku geleng-geleng seperti orang tua yang mengingatkan anaknya yang nakal.
“ Ampun kakak! ”, kata Mei cekikikan.
“ Lah dalah, ni bocah, situ yang salah situ yang ngakak ”, kataku kesal.
“ Maaf, Pep. Hihihi... gak sengaja, lah kepalamu sih ketengah duluan, jadi kepetok dek ”, kata Mei yang masih saja ketawa.
“ Oh, gitu? Jadi kamu menyalahkanku? Oke, cukup tahu! Mulai sekarang kita musuhan! Kamu akan jadi musuhku ”, kataku kesal.
Teman-temanku yang lain bukannya melerai, malah asyik melihat kami kayak lihat telenovela aja, untung aja mereka gak bawa popcorn sama minum.
“ Ya sudah, kita kan memang bukan teman ”, kata Mei mengiyakan perkataanku,
“ Kayak ada suara mendengung gak sih? Kamu denger ada suara gak sih? ”, ledekku seraya menanyakan ini kepada teman-temanku.
“ Iya, ya, kayak ada yang ngomong tapi gak jelas ”, kata Mei mengikuti kejailanku.
“ Nah, Nah, Nah, Suaranya semakin kentara, wuih. Berisik banget! ”, ledekku lagi.
Teman-teman ku masih asyik ketawa melihat kita yang lagi serius berantem. Mereka ini ya, kita bukan lagi drama, Ku bukan superstar~ . Lalalala, makin gak jelas.
...
“ Pep! Gimana nih?  ”, kata temenku AL,
“ Gimana apannya? ”, tanyaku.
“ Kan kita ada projekan bareng, buat mangaka. Gimana sih? Lupa ya, Bu? ”, tanya AL sedikit kesal. Pada dasarnya mah, dia baik anaknya, secara aku secara tiba-tiba melupakan jobdesku dalam projekan ini.
Ah iya, hehehe... Maaf AL, besok ya, lupa ane ”, Jawabku dengan wajah nanar bin melas bin tanpa dosa banget.
“ Ah, Kamu lupa mulu, Pep! Kan aku gak bakal bisa buat sketsa kalau kau belum  buat skripnya ”, kata Mei menggodaku. Entah mengapa dia selalu menghantui hari-hariku di kampus.
“ Kayak ada laler lewat deh tadi ”, jawabku.
“ Kamu looo, Pep! Ancene arek iki ”, kata maya meringis terus secara refleks memukul lenganku dengan tangan imutnya.
“ Arek iki, kecil-kecil pukulanmu antep maBro, serasa pijat refleksi ”, kataku dengan niatan tulus memujinya dari lubuk hatiku paling dalam.
Beberapa hari berlalu dengan pertengkaran-pertengkaran kami yang tiada ujung, temanku sekelas pun sudah tahu dengan pasti bahwa kami adalah musuh bebuyutan. Bahkan karena suatu hal sepele, Mei berusaha membuat guyonan ‘ngilokno’ diriku tanpa maksud apa-apa. aku memutuskan untuk memperpanjang masa permusuhan kita hingga hari kelulusan tiba. Insya Allah 2 tahun lagi.
Aku menyerahkan skripku kepada AL yang kemudian ia berikan kepada Mei, butuh waktu sekitar seminggu untuk dia menyelesaikan sketsa. AL menunjukkan kepadaku,
“ Gimana? Sudah sesuai sama bayanganmu waktu nulis skrip? ”, tanya AL.
Aku memandanginya penuh seksama, tiap potongan sketsa pada kertas itu. Dalam sketsa itu terdapat dua tokoh, dan entah mengapa penggambaran 2 tokoh itu terlalu mirip dengan bayanganku. Tak hanya itu saja, latar hingga ekspresi tokoh utama di adegan terakhir persis seperti bayanganku. Aku tak kuasa menahan tawa karena skrip dan gambar begitu padu dan lucu, sederhana tetapi keren deh. Hehehehe... maaf ya, memuji karya bersama adalah sebuah penguatan diri agar selalu berpikir positif. #keeppeace.
“ Mei! ”, panggilku setelah melihat sketsa itu.
“ Kok bisa pas sih sesuai bayanganku? Lu pake cenayang ya? Bisa baca pikiran ane ”, tanyaku penasaran.
“ Yaiyalah, kita kan musuh ”, jawabnya.
Hmm...
            “ Kita itu ya pep, musuh dalam ikatan benang merah tauk! ”, kata Mei.
“ Eh! Tapi bener lo pep! ”, kata temanku EL yang bergabung dalam pembicaraan kami.
“ Bener apanya ? ”, tanyaku tak mengerti.
“ Kalian ini kan musuh, tapi kemana-mana bareng, kalau kerja kelompok sering bareng, sudah gitu sekelas kursus, jadi tim mentor juga, terus projekan bareng. Apa-apa berdua, kayak tidak terpisahkan “, jawabnya dengan lugas dan secara tidak langsung nge-jleb juga. Aku sampai berpikir tentang kebenaran itu 2 kali.
“ Apesnnya aku mah kalau itu ”, kataku melirik Mei.
“ Enak aja kalalu ngomong, ya aku lah yang Apes. Kamu lo, ngeBully aku terus ”, kata Mei cengingisan.
“ Aku kalau gak ngebully kamu, pusing kepala ”, kataku.
“ Dasar! ”
...
Disuatu pagi yang cerah, aku sedang bersantai dibawah pepohonan rindang di pinggir danau, tiba-tiba pengganggu datang dengan wajah sedih,
“ Pep! ”, kata Mei.
“ Hm? ”, jawabku dengan rasa malas dan tanpa meliriknya.
“ Tolongin aku! “ pintanya.
“ Apaan? ”, tanyaku.
“ Mapku hilang, sertifikat-sertifikat seminarku ada disitu ”, katanya sedih tetapi masih bisa meringis dan ketawa tipis-tipis. Entah dia merasakan apa sehingga bisa mengeluarkan ekspresi itu.
“ Kok bisa sih? Hilang dimana? ”, tanyaku.
“ Gak tau, Pep. Bantuin nyari dong, ya ya ya? ”, pintanya dengan menunjukkan ekspresi anak kecil yang setengah merengek, seperempat memaksa, dan seperempat dengan tawa.
“ Mapmu itu ilang beneran apa bohongan sih? Ketawa lagi ! ”, tanyaku tidak percaya.
“ Hilang beneran, Pep ”,
Kemudian kami memutari dan memasuki kelas-kelas kuliah kami sebelumnya.  Setelah itu kami bertanya kepada petugas kebersihan berharap map itu ditemukan olehnya, namun sia-sia. Map itu hilang tanpa bekas.  Kami mengelilingi kampus sekitar dua jam. Langit semakin gelap, dengan kegagalan kami mengakhiri pencarian kami.
Keesokan harinya, Mei menanyakan tentang mapnya kepada teman sekelasku. Tetapi jawaban mereka sama, Mereka tidak melihat map itu. Aku juga kasihan sih melihatnya, tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur hilang. Dia berusaha mengikhlaskan kepergian mapnya, tetapi sertifikat itu berharga baginya, karena itu menjadi syarat penilaian kelulusan. Kemudian, aku mendatanginya, dan memberikannya sebungkus permen berharap dia  suka. Musuh kecilku yang malang.
“ Pep! ”, kata seorang temanku yang tiba-tiba menarik lengan bajuku.
“ Ada apa, Den? ”, tanyaku. Nama temanku ini aku samarkan ya, wkwkwkwk. #karenabukantokohutama
“ Anu,, sebenarnya,, ”, katanya gugup.
“ Apa? ”
“ Aduh, gimana ngomongnya, sulit banget! ”, katanya kesal.
“ AH! Lama! Aku duluan, ya! “, kataku cuek.
“ EH! Sabar dikit napa? Gak sabaran banget! ”, katanya mencegahku.
“ Yasudah, cepetan ”, kataku.
“ Ini, tolong kasih ke Mei ”, katanya sambil menyerahkan map bewarna pink dengan gambar panda kepadaku.
“ Ini? ”, tanyaku.
“ Iya, itu mapnya sih Mei, tidak sengaja ada di tasku. Aku juga tidak tahu kenapa? ”, katanya.
“ Lah, kok  gak ngomong daritadi? Kasian tuh anak nyariin dari kemarin ”,
“ Iya, Pep. Aku lupa mau ngasih tau. Aku nitip kamu, ya ”, pintanya.
“ Alasan deh! Yasudah, sini. Biar ku kembalikan ”,
“ Eh! Tapi jangan bilang kalau mapnya di aku ”,
“ Gampang! Percayain ke aku ”, setelah itu terjadi kongkalikong diantara kami berdua. Kemudian aku mengamati situasi kelas dan masuk.
Mei belum ada di kelas, bagai ketiban duit segepok, tas Mei sedang menganga kelaparan ditinggal majikannya. Aku celinguk ke kanan dan kiri berharap tidak ada saksi mata, kemudian aku memasukkan map itu dengan sangat hati-hati tanpa meninggalkan sidik jari karena jika diselidiki oleh kepolisian jadi repot urusannya.
...
“ Pep! ”, kata Mei memanggilku keesokannya ketika aku berjalan ke lorong.
“ Apa? ”, jawabku.
“ Mapku ketemu ”, katanya senang,
“ yeyeye... ketemu dimana ? ”, tanyaku.
“ Ditasku. Hehehe...  ”, katanya.
“ Kok bisa, ya ? padahal kemarin aku sudah ngecek lo ”, katanya penasaran.
“ Salah lihat mungkin ”,
“ Gak mungkin  ”.
“ Ah, paling map itu bosen sama kamu. Map aja bosen sama kamu ”,
“ Kamu ini, Ya! ”, katanya, kemudian aku berlari ke kelas dan dia mengejarku.




Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata-kata_Puisi_OPINI

Puisi - Kegelapan Hati