CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 13 LAST CHAPTER
--LAST CHAPTER--
AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI
“ Papa? Mama? ”,
Aku begitu bahagia bisa melihat mereka lagi,
memanggil nama mereka lagi, dan mereka bisa mendengar suaraku sekali lagi.
“ Oh, anakku! Kau sudah sadar, Nak ”, kata mama
bahagia. Mereka bergantian memelukku.
“ Aku rindu sekali kepada kalian berdua ”, kataku
yang memeluk mereka erat.
“ Kami juga merindukanmu, cantik. Setelah kemo itu
kamu tak sadarkan diri selama 2 hari. Mama dan papa begitu mengkhawatirkanmu.
Untunglah kau baik-baik saja, apakah masih ada yang masih sakit? ”, katanya
kagi.
“ Aku ingin pulang! Aku ingin bersama kalian dan
Kak Dido. Aku juga ingin bertemu dan Abi. Aku ingin pulang, Ma, Pa. Aku mohon”,
pintaku.
“ Kamu kenapa, sayang? Kok minta pulang? Ada apa?
”, kata papa.
“ Aku hanya ingin pulang, Pa. Aku ingin
menghabiskan seharian ini bersama kalian semua. Aku mohon. Aku mohon, Pa ”,
rengekku.
Melihatku yang kekeuh untuk pulang papa dan mama
pun berbicara kepada dokter Hendra. Ia awalanya melarangku karena aku baru
sadar, aku masih butuh pemeriksaan pasca kemo. Tetapi aku memaksa. Aku ingin di
rawat di rumah saja seharian ini. Aku memohon kepada dokter. Hanya untuk sehari
ini saja. Kemudian dokter mengijinkanku. Aku begitu senang. Aku sangat senang.
Ini
adalah kesempatan terakhirku bertemu mereka sebagai Sofia yang memiliki ingatan
masa lalu. Tetapi aku tidak boleh terlalu kentara, karena yang mereka tahu
Sofia tidak ingat apapun dengan masalalunya.
Sesampainya dirumah aku sudah disambut oleh Rani,
Abi, dan Kak Dido. Aku terharu, tiba-tiba air mataku mengalir sendiri. Aku
sesenggukan. Aku begitu bahagia bisa melihat mereka semua.
“ Hari ini kita akan makan-makan. Ayo ke ruang
makan, aku, Rani dan si kelinci imut itu sudah menyiapkan makanan spesial untukmu,
Fi ”, kata Kak Dido.
“ Kelinci imut? ”, tanyaku cekikikan.
Mereka semua terkejut melihat responku, namun
mereka hanya tersenyum. Kemudian mereka makan dengan nikmat. Mereka terus saja
mengajakku bercanda dan bergembira. Perutku sampai sakit karena terus tertawa
daritadi. Setelah itu, kami berkumpul di ruang keluarga. Kami melihat film
bersama dan sesekali bersenda gurau. Aku duduk diantara papa dan mama, Rani
duduk diantara Kak Dido dan Abi. Kami begitu menikmati hari itu.
Kemudian aku meminta ijin untuk kekamarku
sebentar. Aku ingin melihat kamarku untuk terakhir kalinya. Ketika aku masuk
kamar, dekorasinya tidak ada yang berubah. Aku terus memandanginya, melihat
foto-foto yang ada di dinding, foto ketika aku pertama kali berteman dengan
Rani, foto saat aku bermain basket dan foto saat Abi hadir dalam hidupku dan
Rani. Kemudian aku melihat sebuah diari bersampul kulit bewarna biru muda. Aku
membukanya, membaca tiap halamannya. Aku menuliskan sesuatu untuk diriku
sendiri disini. Aku mungkin tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbicara
kepadanya.
Setelah itu aku kembali ke ruang keluarga, aku
melihat papa dan mama, kemudian aku duduk kembali diantara mereka.
“ Terima kasih, Ma, Pa. Atas semuanya yang telah
kalian berikan padaku. Aku tidak akan melupakannya. Aku akan terus
mengenangnya. Aku... aku.. aku sudah cukup bahagia ”, kataku pelan kepada
mereka berdua.
“ Kami tahu, sayang. Kami tahu! Terima kasih
karena sudah kembali ke kami. Terima kasih sudah hadir menjadi anak papa dan
mama. Terima kasih karena kau senatiasa bersama kami, kami harap kau juga akan
selalu bahagia ”, kata mama dan papa.
Aku begitu terkejut mendengar perkataan mama dan
papa. Apa yang dimaksud oleh papa dan
mama? Apakah mama dan papa tahu kalau aku adalah Sofia mereka dulu?
“ Papa, mama dan mereka semua sudah tahu bahwa kau
akan datang, nak ”, kata papa.
“ Benarkah? Siapa yang memberitahukannya? Aku..
aku.. aku.. ”, kataku bingung. Bagaimana
ini? jika mereka sampai tahu kemudian aku pergi dan Sofia yang saat ini
kembali, aku takut perlakuan mereka berbeda kepadanya. Aku.. aku seharusnya
tidak memaksakan keegoisanku. Aku jahat kepada diriku saat ini.
“ Yang memberitahu mama adalah Sofia Ananda, kamu
sendiri. Sebelum kamu melakakukan kemo, kamu berpesan kepada kami bahwa mungkin
akan ada seseorang yang mengunjungi kami nanti. Mungkin dia adalah orang yang
selama ini kami tunggu. Awalnya kami bingung, lalu kami menyadarinya juga ”,
kata mama seraya membelaiku.
“ Aku memang Sofia, Ma, Pa! Aku adalah Sofia anak
mama dan papa ”, kataku panik.
“ Kami tahu, sayang. Kami tahu. Baik dirimu saat
ini maupun dirimu yang dulu, kalian tetap anak mama dan papa. Kamu tetap Sofia
putri keluarga ini “, kata papa.
“ Terima kasih, Pa, Ma ”, kataku yang kemudian
memeluk mereka sekali lagi.
Tuhan
Aku memang
hamba yang egois
Engkau
begitu menyayangiku, memberiku berkah dan rahmat
Aku
bahkan masih mengemis dihadapanmu
Memohon
untuk terus hidup dan terus hidup
Maafkan
keegoisanku, Tuhan.
Tuhan
Aku tidak
menyesali apa yang terjadi hari ini ataupun sebelumnya ataupun nanti
Aku
berterima kasih karena telah diberi kesempatan
Aku akan
hidup lagi dengan cara yang berbeda
Aku lahir
kembali
Sebagai
Ananda Sofia yang baru
Terima
kasih, Tuhan.
“ Kakak tidak dapat pelukannya, nih? ”, kata kak
Dido yang jelous.
Kemudian aku menghampirinya dan memeluknya,
“ Aku juga sangat merestui kakak dan Rani, semoga
kalian bahagia ya ”, bisikku kepadanya.
“ Kamu memang adikku yang nakal! Tentu saja, kau
akan melakukan itu ”, kata Kak Dido yang mencubit pipiku. Kulihat di pipinya ada
genangan air mata yang akan jatuh, aku menyekanya kemudian tersenyum kepadanya.
Lalu aku menggelengkan kepala, mungkin Kak Dido paham maksudku, kemudian ia
kembali tersenyum.
“ Aku harap kalian akan tetap menyayangiku, walau
aku tidak akan mengingat kalian di masa lalu. Aku harap kalian tidak
membedakanku dengan yang dulu, aku hanya ingin bisa terus hidup maju sehingga
aku bisa hidup dengan tenang dan tidak lagi dihantui masa lalu. Aku telah
berdamai dengan diriku sendiri ”, kataku seraya tersenyum kepada mereka.
“ Tentu saja kami akan selalu menyayangimu, Sofia.
Always ”, kata papa.
“ Oke, kalau begitu bolehkah aku minta satu
permintaan kepada kalian? ”, tanyaku.
“ Aku ingin bermain sekali lagi. Aku benar-benar
merindukan basket. Aku ingin bertanding dua lawan dua dengan Kak Dido dan Abi.
Aku akan berpartner dengan Rani. Papa dan mama juga bisa menontonnya.
Bagaimana? ”, pintaku.
“ Akan sangat menyenangkan. Kalau begitu ayo, kita
ke lapangan ! ”, kata Kak Dido yang kemudian bergegas keluar.
Kami semua mengikutinya, papa dan mama akan duduk
di bawah pohon dekat lapangan. Kami semua telah mengambil posisi untuk memulai
game ini.
“ Ladies First! ”, kata Kak Dido bergaya.
“ Okay! Come on, Rani! “, ajakku bersemangat.
Aku memulai game dengan melempar bola kepada Rani,
ia mendrible menuju ring lawan. Aku berlari mengikutinya. Rani sedang dihadang
oleh Kak Dido. Rani mengoper bola padaku. Aku terus mendrible nya, kali ini aku
dihadang oleh Abi. Aku terpaksa melakukan tembakan ke ring. Dan...
“ Yes! Two point! ”, teriakku.
“ Kebetulan yang sangat beruntung ”, kata Abi.
“ Yeay! ”, teriak Rani.
Kita melakukan restart,
Bola diambil oleh Kak Dido tetapi berhasil ku hadang, kemudian ia melempar
bolanya ke Abi, Rani berusaha menangkap bola itu namun luput. Aku berusaha menghadang
Abi, aku melihat sekitar. Aku merasa khawati karena aku ada di area three point, aku berusaha mendefense
tembakan Abi yang nekat itu, tapi aku gagal.
“ Yes! Three point! We will win ”, kata Abi
bangga.
“ Jangan senang dulu, tembakan terakhir bisa mengubah
semua keadaan ”, kataku yang kemudian bersama dengan Rani menyemangati diri
sendiri untuk mengejar skor.
Kita kembali melakukan restart, Bola saat ini ada ditanganku. Lalu kuoper kepada Rani,
kemudian ia mendrible bola dengan
kecepatan penuh, ketika ia akan mengoper bola kepadaku, Abi berhasil mensteal bola kami. Aku pun tidak menyerah,
aku tidak ingin jarak skor kita menjauh. Aku berusaha kembali mengambil bola,
namun Abi berhasil mengoper ke kak Dido. Aku meminta Ran untuk menjaga Abi, aku
terus mengejar Kak Dido dan mensteal bolanya. Aku berhasil!
Aku membawa bola mendekati ring lawan. Abi
berhasil mengelabui penjagaan Rani. Abi mengejarku, namun dia terlambat sekian
detik karena aku telah menshoot bola
dan yeay! Masuk! Berhasil! Aku membalikkan keadaan. Ketika aku akan memeluk
Rani, kepalaku berputar. Kepalaku terasa sakit sekali.
Aku berhenti. Kepalaku terus saja berputar. Aku
memegangi kepalaku. Rani, Abi, dan Kak Dido menghampiriku. Aku terus memegangi
kepalaku yang semakin sakit ini. Aku menangis karena rasa sakit yang luar biasa
ini. Badanku lemas, aku dibantu yang lain berjalan ke pinggi lapangan. Kulihat
mama dan papa menjemputku juga. Aku berjalan terhuyung. Aku merasa ini sudah
akhir dari batasku.
Ketika kami sudah ada di bawah pohon tempat mama
dan papa duduk tadi, aku terjatuh. Abi berhasil menangkap tubuhku yang hampir
terjerembab di tanah dari belakang. Aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.
Aku... Aku...
“ Sofia! Sofia! Bertahanlah! ”, kata Abi.
“ Aku.. Aku.. Aku baik-baik saja. Kalian tidak
usah khawatir ”, kataku.
Mereka duduk mengelilingiku.
“ Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap
disini bersama kalian ”, kataku lagi.
“ Aku hanya telah mencapai batasku. Aku akan pergi
sebentar dan akan kembali lagi bersama kalian. Tetapi... ”, sebelum aku
melanjutkan pembicaraanku papa menghentikannya.
“ Papa mengerti maksud Sofia. Sofia jangan
khawatir. Papa tahu kau akan kembali bersama kami. Papa ingin kau tahu bahwa
papa dan mama dan yang lainnya selalu mendoakanmu bahagia disana, Sofia. Terima
kasih sudah mengunjungi kami, Nak. Terima kasih ”, kata papa menangis
tersedu-sedu kemudian ia menciumku.
“ Terima kasih untuk semuanya, tetapi bolehkah aku
berbicara sebentar dengan Abi? Aku mohon. Sebentar saja ”, pintaku.
Aku sudah tidak punya lagi tenaga untuk berbicara
suaraku mulai melemah namun terus kupaksakan berbicara. Mereka pun pergi ke
sisi Barat meninggalkan kami berdua.
“ Bi! ”,
“ Iya, Sof? ”,
“ Aku mau berterima kasih kepadamu, aku berterima
kasih kepadamu sekali lagi. Bahkan sampai nanti pun aku takkan bisa membalasnya
”, kataku.
“ Untuk apa kau berterima kasih, Sofia? ”, tanya
Abi yang kulihat sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
“ Terima kasih karena telah mencintaiku dan
mencintai diriku yang lain. Terima kasih kau telah mencintai ku sepenuhnya. Aku
menjadi wanita paling beruntung. Bahagiakanlah Sofia, bahagiakanlah dia. Aku
tahu kau telah jatuh cinta kepadanya. Aku tahu kau telah peduli padanya.
Bahagiakan dia demi diriku dan dirimu sendiri ”, kataku tertatih-tatih.
“ Aku janji! Aku akan membuatnya menjadi ratu
dalam kehidupanku, seperti kamu yang telah membuat basketku bewarna. Maafkan
aku karena aku telah mencintaimu yang lain ”, kata Abi sesenggukan.
“ Tidak, Bi! Aku tidak marah, sungguh! Aku
bersyukur kau bisa menerima Sofia apa adanya seperti halnya aku yang dulu. Aku
sudah memahaminya, dia banyak bercerita tentangmu. Dia mengkhawatirkamu. Dia
juga merelakan dirinya agar aku bisa kembali bersama kalian. Dia lupa kalau aku
adalah hantu masa lalu ”, kataku yang sudah tidak bisa lagi membendung air
mata. Aku sudah tidak kuat lagi berbicara.
“ A.. A.. Ak..Aku ba..hagia bisa men..me.
mencintaimu ”, kataku yang hampir tak sadarkan diri.
Papa, mama, Kak Dido, dan Rani kembali
menghampiriku. Mama memegang telapak tangan kananku. Mengusapnya lembut dan
mengecupnya. Papa juga mengecup keningku. Aku melihat mereka untuk yang
terakhir kalinya. Wajah mereka semakin buram, aku tak bisa lagi melihat dengan
jelas. Aku memaksakan senyumanku dan semuanya menjadi gelap.
@@@
“ Sofia! Sofia! ”, teriak Abi.
“ Bangun, Nak! Bangun sayang! ”, kata mama yang
membelai lembut wajahku.
“ Dia masih bernafas tante, dia masih bernafas ”,
kata Rani yang memeriksa denyut nadiku.
Kemudian Abi dan yang lain membawaku ke rumah
sakit. Aku tertidur di pangkuan mama. Mama terus memanggil namaku. Memintaku
untuk bertahan. Mama terus memanggil namaku. Sesampainya di rumah sakit, kami
langsung membawanya ke UGD. Kak Dido berlari ke arah ruangan dokter Hendra.
Rani menemani Abi yang terlihat begitu pucat. Rani berusaha membesarkan
hatinya. Rani juga tidak ingin larut dalam kesedihan. Mereka harus terus hidup
dalam kebahagiaan.
Kemudian Kak Dido dan Dokter Hendra berlari
menghampiri kami. Ia memeriksa tubuhku dan meminta suster memasangkan
elektrodiagram di tubuhku. Kemudian Dokter Hendra meminta kami menunggu di
depan, suster mengantar mereka ke depan. Dokter Hendra memeriksa kedua mataku.
Setelah itu, setelah melihat tekanan darah dan mengamati hasil dari
elektrodiagram, ia meminta suster untuk melakukan beberapa tes.
Keluargaku menunggu di depan ruang UGD dengan
perasaan cemas. Mereka telah menyadari bahwa saat itu adalah aku, Ananda Sofia
mereka yang memiliki masa lalu dan hidup di masa lalu. Mereka telah
menyadarinya sejak kepulanganku. Mereka juga telah menerima Ananda Sofia yang
terlahir kembali. Mereka menyayangiku baik yang dulu maupun yang saat ini.
Setelah hampir dua jam menunggu, dokter Hendra
keluar dari ruang UGD kemudian berbincang kepada mereka tentang kondisiku. Dokter
Hendra menenangkan keluargaku. Ia menghela nafas panjang. Kemudian ia berbicara
tentang kondisiku.
“ Syukurlah kondisi Sofia sudah stabil. Ia
berhasil melewati masa kritisnya ”, kata dokter Hendra.
“ Saya tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi
saya rasa setelah ini saya bisa menyatakan bahwa Ananda Sofia sudah benar-benar
pulih dari penyakitnya. Saya merasa ini benar-benar keajaiban. Saya sudah tidak
perlu lagi melakukan rehabilitasi untuknya. Dia seperti terlahir kembali ”,
kata dokter Hendra tersenyum.
“ Benarkah itu, dokter? Terima kasih, Sofia.
Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah kembali ”, kata mama.
Mama dan papa saling berpelukan. Kemudian
bergantian memeluk kak Dido, Rani, dan Abi. Mereka begitu bahagia dengan kabar
ini. kemudian mereka menemuiku di ruang rawat inap.
@@@
Ketika aku bangun, aku tak
melihat siapapun. Kemudian Aku memegang pipiku.
Kenapa pipiku basah? Apakah aku menangis? Sofia!
Sofia! Sofia! Dimana kamu? Aku.. Aku...
“ Kamu saat ini sudah kembali kepada tubuhmu
sendiri. Aku akan terus hidup dalam ingatanmu mulai saat ini. Terima kasih
banyak, diriku. Hidup dan berbahagialah ”,
Aku mendengar suara itu. Suara diriku yang lain.
Aku menoleh kesana-kemari namun tak ada siapapun. Aku melepas infus dan
berjalan keluar. Aku tak peduli dengan rasa sakit di punggung tangan kananku. aku
juga tidak peduli sakit di kepalaku dan kakunya kakiku. Aku hanya ingin bertemu
dengannya.
Ketika aku berjalan di lorong, aku melihat keluargaku
dan aku memaksakan diriku untuk terus berjalan. Ketika aku hampir jatuh, kak
Dido menopang tubuhku. Aku memeluknya dan menangis begitu keras. Aku takkan
bisa bertemu dengannya lagi. Aku menangis dan terus menangis.
Apakah
kau sudah menikmati hari terakhirmu wahai diriku?
Apakah
kau sudah berbicara dengan mereka wahai diriku?
Apakah
kau telah benar-benar pergi dari sisiku?
Aku ingin
kita terus bersama, aku ingin kita hidup bersama
Aku belum
sempat membalas kebaikanmu
Karenamulah
aku bisa hidup sekali lagi
Karena
permohonanmu, aku bisa terlahir kembali
Bisa
kembali bersama dengan mereka
Setelah aku tenang, mereka mengantarku kembali ke
kamar. Aku kembali ke kasur. Mama mengecup keningku. Dan papa membelai lembut
kepalaku.
“ Terima kasih, Sofia. Terima kasih atas segalanya
”, kata mama dan papa.
“ Pa, Ma! Aku sayang kalian ”, kataku yang
kemudian memeluk mereka bergantian.
“ Sof! Aku akan membuatmu menjadi adek yang paling
bahagia karena memiliki kakak sepertiku ”,kata Kak Dido yang kemudian
memelukku.
“ Suatu saat ketika aku benar-benar menjadi kakak
iparmu, aku akan membuatmu bahagia, adekku sayang ”, goda Rani yang berbicara
berbisik kepadaku. Aku tertawa. Kemudian aku memeluknya.
Aku dan Abi saling memandang. Abi mengangguk dan
tersenyum. Aku pun demikian. Tidak ada lagi yang perlu kusampaikan padanya.
Karena aku percaya dia akan terus mencintaiku apa adanya. Aku juga menyadari
bahwa baik aku yang dulu maupun saat ini benar-benar mencintai pria bernama Abi
ini. Aku akan menunggu sampai dia datang kerumahku, meminangku dan menjadikan
yang halal baginya.
Setelah dua hari perawatan, dokter Hendra menyampaikan
ucapan selamat atas kesembuhanku. Aku tidak perlu lagi melakukan rehabilitasi.
Namun dokter tetap menyarankanku untuk kontrol, walaupun tidak perlu sesering
dulu. Aku pun tersenyum dan memeluk dokter Hendra tiba-tiba. Aku mengucapkan
banyak terima kasih atas bantuannya yang begitu besar.
Setelah pulang, mereka mengantarku ke kamar dan
memintaku untuk beristirahat dulu. Kemudian mereka berpamitan. Rani dan Abi pun
berjanji akan menghubunginya sesering mungkin. Aku melambaikan tangan kepada
mereka semua.
Ya! Aku adalah Ananda Sofia. Ini bukanlah akhir
melainkan awal dari perjuanganku. Aku akan menggapai mimpi-mimpiku saat ini.
Aku akan hidup dengan penuh kebahagiaan. Aku akan mengingat banyak hal mulai
saat ini agar aku bisa mencipatakan banyak kenangan sehingga diriku yang dulu
juga bisa hidup di dalam kenanganku. Karena aku adalah ANANDA SOFIA.
----SELESAI----
Semoga cerita ini bisa menghibur para pembaca yang setia dengan kisah ini :)
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar