CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 12 Ananda Sofia



 CHAPTER 12
ANANDA SOFIA
 
Setelah pulang dari rumah sakit, aku akan menuliskan rencana-rencanaku ke depan. Aku akan menulisnya karena aku takut melupakannya. Papa juga memberiku diary sebagai kado kepulanganku dari rumah sakit. Papa memintaku untuk menuliskan apapun yang ingin aku tulis. Aku benar-benar bahagia. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.

Selama sebulan penuh aku terus melakukan terapi dan rehabilitasi. Aku sudah merasa benar-benar sehat. Walaupun aku harus memakai kacamata dan tidak bisa mengingat seperti dulu. Tetapi aku tetap bahagia, aku benar-benar bersyukur. Dokter Hendra juga memintaku datang lagi untuk kontrol di hari Selasa depan.
Awalnya aku berpikir apakah aku dapat diterima oleh keluargaku, temanku, sahabatku bahkan lingkunganku. Aku begitu takut untu mengakui kebenaran bahwa aku telah melupakan sebagian besar dari mereka yang bahkan tidak melupakanku. Aku terus mengkhawatirkan kehidupanku, apakah aku berstatus pelajar? Ataukah aku sedang menjalani perkuliahan? Atau aku ini adalah wanita pekerja ?
Tetapi aku mulai belajar untuk menerima segalanya. Aku menerima bahwa aku belum sepenuhnya ingat. Aku menerima bahwa dulunya aku sedang berjuang dan sampai sekarang masih berjuang melawan sakit. Aku menerima kalau dulu aku adalah pemain basket yang handal. Aku menerima kalau dulu aku bisa mengingat segalanya. Aku telah berdamai dengan diriku sendiri sejak aku mengutarakan isi hatiku selama ini.
Mama sempat bercerita kalau aku saat ini berstatus sebagai mahasiswa. Sejujurnya aku ingin melanjutkan studiku, tetapi mama memintaku untuk fokus terhadap penyembuhanku. Lagipula, mama ingin aku mengambil kursus saja karena tidak menyita banyak waktu. Awalnya aku keberatan, tetapi ketika kupikir kembali, aku tidak lagi mengingat materi-materi kuliahku. Aku akan kesulitan jika akan meeneruskan studiku. Aku tidak ingin orang-orang disekitarku kerepotan karenanya. Oleh sebab itu, aku akan mengikuti beberapa kursus setelah aku sembuh. Aku juga akan membantu papa di kantornya setelah aku menyelesaikan kursus ku.
@@@
“ Sofia! Sofia! ”, panggil seseorang.
“ Siapa kamu? ” tanyaku.
Wanita itu hanya tersenyum kepadaku. Aku melihatnya namun aku tak dapat mengenalinya. Aku melihat sekeliling, hamparan tanah hijau yang begitu luas tanpa batas.
“ Dimana ini? ”, tanyaku lagi.
Wanita itu hanya tersenyum. Aku semakin bingung.
“ Siapa kamu? ”, tanyaku lagi.
Dia tetap saja tersenyum. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Tubuhku gemetaran. Aku takut. Aku berada di tempat yang tidak kuketahui.
“ Sofia! ”,
Aku langsung terbangun, “ Mama? ”
“ Kamu kenapa, sayang? ”, kata mama menyeka keringat di keningku.
“ Tidak ada apa-apa, kok ”, kataku. Syukurlah itu hanya mimpi.
“ Ya sudah, ayo siap-siap. Sore ini kita harus ke rumah sakit, bukankah dokter Hendra telah memintamu datang untuk kontrol ? ”, perintah mama.
“ Astagfirullah! Aku lupa, Ma. Terima kasih sudah diingatkan. Hehehe ”, kataku nyengir yang kemudian bersiap untuk mandi. Melihatku mama hanya bisa menggeleng-gelenkan kepalanya.
“ Kamu ini, ya! Mama tunggu di bawah ya, jangan kelamaan nanti keburu malam ”,
“ Oke ”
Setelah itu kami pun berangkat. Selama perjalanan mama menanyakan apakah setelah konsultasi dengan dokter aku ada kegiatan atau tidak. Mama ingin mengajakku jalan-jalan. Beliau berkata bahwa ia sangat merindukan untuk berjalan-jalan dengan putri kesayangannya ini. Aku sangat senang menerima ajakan mama. Aku juga tidak pernah keluar berdua dengan mama karena papa dan Kak Dido selalu saja ngikut. Hehehe.
Sesampainya di tumah sakit, aku bertemu dengan beberapa suster yang sering merawatku dulu. Aku menyalami mereka dan berbincang-bincang dengan mereka sebentar selagi menunggu panggilan.
“ Nona Sofia? ”, panggil seorang suster.
Aku dan mama menghampiri suster itu. Kemudian dia mengajak kami untuk masuk ke ruangan dokter Hendra.
“ Selamat sore, Bu, Sofia ”, sapa dokter.
“ Selamat sore, dokter ”, sapaku dan mama bebarengan.
“ Bagaimana Sofia? Apakah masih ada keluhan? ”, tanya dokter.
“ Belum sih, dokter. Alhamdulillah saya merasa lebih sehat dari yang sebelumnya. Hehehe ”, kataku sambil tertawa meringis.
“ Syukurlah kalau begitu. Tetapi kamu masih harus rutin minum obat dan kontrol. Oia, mengapa kamu meminta untuk menghentikan hypnoterapimu? ”, tanya dokter.
“ Saya tidak mau bergantung pada masa lalu, dokter. Jika memang saya belum ingat itu artinya memang saya belum boleh untuk mengingatnya. Saya hanya tidak ingin menjalani kehidupan saya saat ini dokter. Jika memang sudah saatnya saya mengingatnya maka saya pasti akan ingat ”, kataku mantap.
“ Saya senang dengan pemikiranmu, Sofia. Sebenarnya saya tetap ingin kamu melakukan hynoterapi ini. Tetapi jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka saya pun akan mendukungnya ”,
“ Terima kasih, dokter ”
“ Maaf menyela dokter, lalu apakah Sofia masih harus menjalani kemoterapi? Atau adakah tes yang harus dijalaninya? ”, tanya mama.
“ Sofia masih harus menjalani kemoterapi terakhir untuk mengantisipasi datangnya benjolan itu lagi. Untuk kemoterapi terakhir akan dilakukan dalam 3 minggu kedepan, sebelum itu Sofia harus menjaga kondisi tubuhnya agar terus stabil dan tidak boleh terlalu kecapekan ”, kata dokter Hendra.
“ Tapi dokter, saya ingin bermain basket, saya ingin berlatih agar saya bisa bermain dengan baik. Bolehkah ? ”, tanyaku dengan raut wajah sedih.
“ Tidak apa, Sofia. Tetapi jika kamu merasa sudah lelah jangan memaksakan diri. Oke ? ”, kata dokter Hendra.
“ Wuah! Terima kasih banyak, dokter ”, kataku senang.
Setelah itu kami berpamitan, aku begitu penasaran kemanakah mama akan membawaku. Namun aku tidak bertanya kepadanya, aku hanya akan mengikutinya karena aku sangat senang hari ini. Kemudian kami sampai di suatu cafe, mama mengajakku untuk menikmai choco lava cake dan choco frape with ice cream. Kata mama, rasanya sangat lezat. Hmmm.. nyam... aku sudah membayangkan bagaimana rasa coklatnya ketika dipotong, akan keluar lelehan coklat ditambah ice cream. Begitu menggoda.
Lalu mama mengajakku naik di lantai dua, cafe ini begitu bagus. Cafe dengan exterior dan interior serba coklat. Ketika masuk, kita disambut oleh boneka kayu manis yang membawa permen tongkat, hidung kita akan dimanjakan aroma coklat yang begitu semerbak. Lantainya diberi ornamen kayu dan dinding-dinding dihiasi oleh filosofi-filosofi coklat. Di lantai 2 ada sebuat perpustakaan kecil dan outdoor place. Aku rasa memang lebih nyaman di atas karena ada beberapa kursi sofa yang sangat cocok untuk bersantai. Kami begitu menikmati momen-momen ini. Mama bercerita tentang hal-hal yang terjadi hari ini. Aku juga bercerita tentang rencana-rencanaku ke depan. Kami larut dalam tawa saat itu.
Aku memulai hari-hariku sebagai Ananda Sofia. Aku mendaftarkan diri ke salah satu kursus akuntan. Aku memutuskan untuk mengambil kursus akuntansi. Aku mengambilnya karena aku berharap nantinya bisa membantu papa di kantor. Selain itu aku mengambil kursus memasak. Aku ingin bisa memasak macam-macam kue dan cookie, siapa tahu aku nantinya bisa memulai bisnis cafe yang tidak kalah nikmat dari cafe coklat yang aku kunjungi dengan mama J.
Aku begitu menikmati hari-hariku. Badanku juga sudah tidak selemah dulu. Aku lebih bisa menikmati hari-hariku. Seminggu sebelum kemoterapi aku menghabiskan waktu dengan bermain basket. Aku ingin bermain dan terus bermain. Entah mengapa ketika aku mendengar suara dentuman bola dan gemerincing ring ketika bola masuk membuatku bahagia. Aku merasakan nostalgia seakan aku benar-benar merindukan permainan ini.
“ Nice shoot! ”,
“ Abi? ”, kataku senang.
“ Hi! Boleh gabung? ”, tanyanya.
“ Tentu saja, tapi kamu harus bisa mengambil bola ini dari tanganku ”, kataku yang asyik mendribble bola.
Abi berlari mendekatiku dan berusaha mencuri bola. Aku berusaha untuk terus bertahan namun Abi lebih gesit dari yang aku duga. Aku hanya bisa tersenyum ketika Abi melempar bola ke ring.
“ Yeay! Two point! “, teriak Abi senang.
“ Hahaha... Kamu selalu seperti itu. Kayak anak kecil ”, kataku tertawa.
“ Biarin! Oia, gimana kondisimu? “, tanya Abi tiba-tiba.
“ Hm.. Sakit banget rasanya ”, kataku lemas.
“ Dimananya? Kamu masih sakit? ”, kata Abi panik.
“ Sakitnya disini, Bi “, kataku menunjuk ke dada.
“ Dadaku selalu berdebar melilhatmu dan hatiku sakit karena aku ingin sekali melihatmu, aku terus-menerus memikirkanmu “, godaku.
“ Haish! Kamu ini ya, aku nanya beneran, lo ”, kata Abi sedikit kesal.
“ Yee.. Aku juga beneran, kok ”, kataku tersenyum kepada Abi yang aku lihat sedang kesal karena guyonanku.
“ Aku juga terus memikirkanmu, Sofia ”, kata Abi tersenyum.
Kemudian kami melanjutkan permainan ini. Ketika aku akan melempar bola ke ring, aku seperti mendengar seseorang terus-menerus memanggil namaku. Seperti suara wanita yang terus datang di tiap mimpiku. Tiba-tiba kepalaku sedikit pusing namun aku memaksakan untuk melempar bola ini. Aku hampir kehilangan keseimbangan dan terjatuh, kalau bukan karena Abi yang menahan tubuhku mungkin aku sudah terjerembab di lapangan.
“ Kamu tidak apa-apa, Sof? “, tanya Abi khawatir.
“ Ah! Iya, aku hanya kurang fokus saja, terima kasih ”, kataku sedikit gugup.
Aku tidak boleh membiarkan dia khawatir lagi. Lagipula mungkin aku hanya kelelahan.
Abi membawaku ke pinggir lapangan dan memintaku duduk dengan meluruskan kedua kaki. Kemudian ia memberiku sebotol air dan ia meminum bagiannya sendiri. Tiba-tiba aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang tegap, kepalaku sedikit pusing. Aku ingin beristirahat sejenak. Abi menyamankan posisinya dan posisiku. Dia menyandarkan diri di pagar pinggir lapangan.
Abi bercerita bahwa saat ini di kampus mereka sedang diadakan acara tahunan yaitu Open Software House, mereka melakukan banyak persiapan. Abi juga bilang ia akan sedikit sibuk tetapi dia akan mengunjungiku seperti ini jika ada waktu. Aku hanya mendengarkan ceritanya tanpa merespon apapun. Dia juga bercerita teman-teman ingin bertemu denganku dan mengenalkan diri mereka sekali lagi. Walau aku sudah bukan lagi mahasiswa di Universitas Citahati, mereka masih ingin bertemu dan berteman denganku. Aku merasa begitu bahagia.
“ Aku jadi rindu dengan mereka. Aku jadi rindu dengan dosen-dosen yang mengajar kita. Aku jadi rindu laptop yang selama ini menjadi teman baikku di kampus ”, kataku tiba-tiba tanpa kusadari.
“ Sofia? ”, tanya Abi dengan heran.
“ Aku hanya ingin ke kelas kita yang dulu, bersamamu, Bi. Aku ingin berjalan-jalan di taman dekat perpustakaan seperti dulu, bersamamu ”, lanjutku.
“ Kamu sudah mengingatnya? ”, tanya Abi memastikan.
“ Aku tidak pernah melupakannya, Bi. Aku tidak akan pernah melupakannya ”, kataku seraya tersenyum kepadanya.
“ Tidak mungkin! Sofia tidak mengingatnya, ia bahkan tidak ingat kalau sedang kuliah. Siapa kamu? ”, tanya Abi heran.
Aku memandanginya. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya secara langsung. Aku benar-benar merindukannya. Aku bersyukur bisa melihatnya sekali lagi. Aku memegang pipinya, kemudian dadanya, lalu tangannya. Aku menitikkan air mata. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan tentang kondisiku saat ini. Aku terus memandanginya.
“ Sofia? “, tanyanya sekali lagi.
“ Iya? “, jawabku.
“ Apakah kamu Sofia yang sebelumnya? ”, tanyanya gugup.
“ Bagaimana aku menjelaskan ini padamu, Bi. Aku tetaplah Sofia, tapi kamu benar. Aku adalah Sofia yang memiliki ingatan masa lalu. Aku Sofia Ananda Putri dari Sofyan dan Dewi. Aku memiliki seorang kakak yang begitu tampan. Aku bahkan ingat ketika ia pertama kali masuk kuliah. Ia merasa begitu bahagia karena bisa mengikuti jejak karir papa ”, kenangku.
“ Masya Allah! Tetapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi? ”, tanyanya lagi tak percaya.
“ Sudah kubilang, aku tak bisa menjelaskannya padamu. Lagipula keberadaanku hanyalah sementara, karena Sofia yang sekarang sudah bisa menerimaku dan dirinya saat ini. Aku hanyalah kenangan baginya dan bagi dunia ini. Tetapi aku ingin bertemu dengan kalian semua sekali lagi. Mungkin ini adalah keegoisanku yang terakhir, aku telah menyusahkan Sofia karena terus-menerus datang di mimpinya dan menghantuinya. Aku hanya ingin bisa berbicara dengannya dan meminjam ingatannya sebentar ”, kataku sedih.
“ Aku tidak percaya ini. Aku.. Aku.. Aku.. aku bingung ”, kata Abi, tak bisa kubaca makna ekspresi wajahnya. Apakah dia sedang kebingungan? Apakah dia tidak bisa menerima ini semua? Atau dia hanya menganggap ini hanya bagian dari mimpinya?
“ Aku tidak mempermasalahkannya, Bi. Karena aku pun telah menerima keputusan ini ”, kataku.
“ Bukan begitu! Hanya saja, hanya saja. Aku tak tahu perasaanku sendiri. Aku tak tahu mana yang harus kupercaya, mana yang harus kucintai ”, kata Abi bingung.
“ Kau memang mencintaiku dulu, tapi aku tahu kau telah belajar mencintai dan mencintai diriku saat ini sekali lagi. Aku sudah cukup bahagia, aku tidak marah kepadamu sama sekali. Karena kau tetap memenuhi janjimu, kau tetap mencintaiku ”, kataku menahan tangis dihadapannya, aku berusaha untuk tersenyum.
“ Tapi.. tapi.. tapi... ”, sebelum Abi melanjutkan pembicaraannya, aku tak sadarkan diri. Abi berusaha membangunkanku, dia mengguncangkan tubuhku.
Kemudian aku membuka mata,
“ Abi? ”, kataku bingung.
“ Sofia? ”, tanyanya.
“ Kenapa kamu menangis? Maaf, aku ketiduran. Kamu pasti tadi khawatir ya? ”, tanyaku.
Aku melihat wajahnya yang bingung. Tetapi ia langsung tersenyum tiba-tiba. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. Tetapi aku tak menanyakannya, aku melihat wajahnya begitu bingung dan sedih. Apa yang sebenarnya terjadi?
Abi mengajakku untuk kembali, ia akan mengantarku pulang. Ia memintaku untuk beristirahat. Setelah itu ia berpamintan dan pulang. Aku ingin menghentikan langkahnya, tetapi ia terlihat begitu kacau. Aku mengurungkan niatku.
Di kamar, aku memandangi diriku sendiri di depan cermin. Aku melihat wajahku sendiri. Aku terus-menerus berpikir tentang diriku. Tiba-tiba aku mengingat mimpiku semalam, ketika wanita itu memanggil namaku dan terus memanggil namaku. Tiba-tiba, kepalaku pusing, kepalaku sakit sekali. Rasa sakit ini persis seperti ketika benjolan itu bersarang dikepalaku. Aku menahannya, namun kepalaku terus berputar. Apakah benjolan itu datang lagi? Apakah aku akan benar-benar pergi saat ini? Apakah aku akan membuat mereka sedih lagi? Semua berubah menjadi gelap.
“ Sofia! ”,
“ Sofia! ”, kata wanita itu.
Aku membuka mataku,
“ Sofia! Bangunlah! Ada suatu hal yang harus kusampaikan padamu ”, kata wanita itu tergesa-gesa.
“ Kamu bisa bicara? Selama ini aku terus menanyakan dirimu, namun kau hanya diam saja. Kau terus memanggil namaku ”, kataku yang pada akhirnya mengikutinya berjalan.
“ Karena aku adalah Sofia ”, kata wanita itu,
“ Apa? Tidak mungkin! Aku Sofia ”, kataku tidak percaya.
“ Iya, kamu memang Sofia, tetapi aku juga Sofia ”,katanya.
“ Berarti kebetulan saja nama kita sama? ”, tanyaku.
Wanita itu menarik diriku kemudian menyuruhku menghadap ke arah barat, disana terdapat sebuah cermin yang sangat besar, cermin itu bergerak mendekati kami. Lalu aku melihat bayangan diriku dan diriku yang lain. Kami begitu serupa tak ada perbedaan apapun selain pakaian yang kami kenakan. Wanita itu memakai gaun putih sedangkan aku memakai baju tidur yang tadi kukenakan.
“ Tunggu! Perkara macam apa ini? Kenapa kau bisa begitu mirip denganku? ”, tanyaku bingung.
“ Karena aku adalah kau dan kau adalah aku ”, katanya.
“ Aku tidak mengerti sama sekali dengan ucapanmu ”, kataku kesal. Aku pun pergi meninggalkannya. Kemudian dia menahanku.
“ Aku Sofia! Aku adalah dirimu yang dulu, aku adalah Sofia di masa lalu ”, katanya.
“ Aku benar-benar tidak mempercayai ini ”, kataku bingung.
“ Awalanya aku juga kaget, ada seorang wanita yang menghampiriku ketika aku diambang kematian dulu. Aku melihat seluruh keluargaku menangis. Aku belum bisa pergi dari mereka, aku terus berdoa agar aku bisa kembali. Wanita itu tersenyum dan bilang bahwa aku bisa kembali. Tetapi dia hanya mengambil sebagian diriku, yaitu kamu “, katanya.
“ Ini gila! Kamu pasti seorang pengarang cerita fantasi dengan imajinasi yang begitu hebat ”, kataku gusar.
“ Kalau kamu pikir imajinasi, mengapa kita begitu mirip? Mengapa kamu bisa ada di tempat tanpa batas ini. Kamu pikir semua ini hanya karangan dalam cerita? Lalu mengapa kamu merasakannya juga? Kamu melihatku dan mendengarku ”, katanya tidak terima.
“ Tapi... Tapi... Tapi... Ini benar-benar tidak masuk akal ”, kataku.
“ Kita hanya perlu percaya, Sofia. Kau adalah kehidupanku saat ini dan aku adalah kehidupan di masa lalu yang tidak akan kau ingat ”, katanya.
“ Kenapa aku tidak akan bisa mengingatnya? Kenapa seakan kita terpisah? ”, tanyaku sedih.
Dia hanya menggelengkan kepala,
“ Aku telah memaksakanmu untuk mengingat beberapa hal bukan? Seperti orang tua kita dan sekilas tentang masa lalu Abi. Aku sebenarnya ingin membagikan kenangan tentang kak Dido dan Rani namun ada tembok besar yang menghalanginya, karena itu kau tidak bisa mengingat apapun ”, katanya.
“ Aku takut, Sofia! Aku takut! Bagaimana aku bisa terus hidup tanpa mengingat masa laluku sendiri? ”, tanyaku sedih, aku bersimpuh dihadapannya. Dia memeluk erat tubuhku.
“ Kamu pasti bisa, Sofia. Kamu sudah menjalani hari-harimu dengan baik. Mereka juga sangat baik kepadamu, bukan? ”, katanya.
“ Aku... Aku masih takut, Sofia. Aku tahu mereka begitu merindukan dirimu, Ananda Sofia yang dulu. Mereka begitu menantimu ”, kataku.
“ Itu tidak benar, Sofia. Wajar kan, ketika seseorang mengenang orang lain? Aku tahu mereka merindukanku, tetapi aku juga tidak buta, Sofia. Aku bisa melihat mereka tulus menyayangimu. Ketika kamu sadar, kamu kembali ceria, kamu membuat hari-hari mereka kembali bewarna. Mereka ingin kau terus bersama mereka sampai akhir ”, kata wanita itu.
“ Lalu bagaimana dengan Abi? Bagaimana dengannya? Dia mencintaimu. Dia mencintaimu bukan aku. Dia hanya kasihan padaku, dia hanya memandangi wajahku yang sama denganmu. Dia... dia.. aku tahu dia menahan perasaannya padamu. Aku tahu yang ditunggunya adalah dirimu juga ”, kataku.
“ Dia memang mencintaiku, tapi dia juga belajar mencintaimu lebih. Karena pada dasarnya kita sama. Kita adalah orang yang sama. Kamu adalah aku. aku adalah kamu ”, katanya.
“ Kamu bohong! Kita orang yang berbeda! Buktinya, aku tidak mengingat apapun tentang diriku sendiri. Aku tidak lagi bisa bermain basket. Aku tidak tahu apa kesukaan atau apa yang kutakuti. Aku lupa semua itu! ”, kataku marah.
“ Terus kenapa? ”, teriaknya.
“ Terus kenapa kalau kau tidak ingat? Terus kenapa ? kalau kau memang ingin bisa bermain basket, kau pasti bisa. Kalau kau tidak tahu apa kesukaanmu, cari tahu, buatlah kesenangan-kesenanganmu sendiri. Kamu masih punya kesempatan. Kamu masih punya kehidupan. Sedangkan aku? aku hanya akan tinggal dalam masa lalumu, Sofia. Aku tidak punya kesempatan itu “. Lanjutnya.
Wanita itu begitu sedih, emosinya meluap-luap. Aku terlalu takut. Aku.. aku...

@@@
“ Sofia? ”,
“ Kak Dido? Mama? Papa? ”, tanyaku. Aku melihat sekeliling. Aku meraba wajahku. Ternyata itu hanya mimpi.
“ Kamu baik-baik saja? “, tanya mereka.
“ Iya, aku baik-baik saja ”, kataku.
“ Mama tadi melihatmu terkapar dilantai, mama panik dan memanggil kakak dan papamu. Kamu beneran tidak apa-apa? Apa masih ada yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya? ”, kata mama panik.
“ Tenang saja, Ma. Aku tidak apa-apa. mungkin tadi aku sedang membaca terus ketiduran di lantai. Hehehe... ”, aku berusaha membuat agar mereka tidak lagi khawatir padaku.
Mereka pun menyuruhku istirahat. Aku memejamkan mata. Setelah mereka keluar, aku kembali membuka mata. Aku tidak bisa tidur. Aku terlalu takut untuk tidur. Akhirnya aku menuju meja belajarku. Aku memutuskan untuk menuliskan semua ini di diariku.
Dua hari ini aku kurang tidur, padahal besok lusa aku akan melakukan kemoterapi terakhir. Badanku terasa pegal disana sini. Hari ini aku dan mama sedang memanggang kue karena hari ini, Selasa 17 Juni adalah hari ulang tahun kakakku. Kami berencana memberikannya kejutan kecil. Kebetulan sekali kakak sedang keluar bersama temannya. Kemudian Rani datang membawa beberapa snack, aku memang mengundangnya dan Abi. Karena aku yakin Kak Dido akan semakin bahagia melihat Rani ikut serta merayakan hari lahirnya.
Setelah itu, kami mendekorasi kue berbentuk lingkaran dengan dua tingkatan ini dengan krim vanila, coklat, dan taburan cookie. Ingin rasanya kucolek kue ini, namun mama menggagalkan kenakalanku. Kemudian ia meminta ku dan Rani menyiapkan makanan-makanan di ruang makan. Lalu papa dan Abi datang bersamaan. Aku merasa senang Abi bisa datang ke rumah.
Aku menghubungi kak Dido untuk cepat pulang. Aku berbohong ketika aku bilang kalau aku sakit. Aku memintanya segera pulang. Mama benar-benar kesal kepadaku melihatku begitu jahil dengan kak Dido apalgi membawa penyakitku. Aku meminta maaf dan mencari alasan agar Kak Dido segera pulang.
Kami mendengar suara mobil Kak Dido, kami semua diam. Lampu di rumah ini sengaja kumatikan biar lebih dramatis. Hehehe....
Kami mendengar derap langkah kaki yang cepat, aku pikir dia benar-benar khawatir denganku. Setelah dia membuka pintu kami mengejutkannya dengan terompet dan letupan kecil khas ulang tahun. Wajah Kak Dido yang panik menjadi bingung. Ia bahkan melihatku menggunakan topi untuk pesta ulang tahun dengan bingung.
“ Happy birthday, Kak! Maaf sudah bohong, hehehe ”, kataku tertawa.
“ Kamu ini ya! Bisa banget buat kakaknya jantungan! Dasar! Nakal banget sih kamu ”, katanya yang kemudian memukul keningku.
“ Hei, hei! ”,kata papa melerai.
“ Dia kan hanya menjahilimu. Tidak perlu sampai semarah itu, Do. Selamat ulang tahun, Nak. Semoga kuliahmu lancar, kamu bisa lulus dengan nilai terbaik dan mengejar mimpimu selanjutnya “, kata papa seraya memeluk Kak Dido.
“ Terima kasih, pa ”,
“ Selamat ulang tahun, tampan! Mama harap kamu segera membawa calon istrimu dan memperkenalkannya kepada mama, papa, dan tentu saja adikmu ini “, goda mama.
Kak Dido dan Rani menjadi salah tingkah mendengarnya. Aku menyikut Rani, menggodanya. Ia tersipu malu. Ia malah menjiwit pipiku karena aku terus menggodannya.
“ Selamat ulang tahun, Kak ”, kata Abi.
“ Hoo! Jadi kelinci imut ini datang juga, ya ”, kata Kak Dido yang masih saja menggoda Abi.
“ Selamat ulang tahun, kakakku yang paling baik sedunia! Semoga kakak terus bahagia. Maaf ya, tadi aku sudah buat kakak khawatir ”, kataku yang kemudian memeluknya.
“ Iya, adekku sayang. Kakak juga berdoa semoga kamu juga terus bahagia ”, kata Kak Dido.
“ Se... Selamat ulang tahun, Kak “, kata Rani gugup seraya membelikan kado kecil.
“ Cie cie cie.... ”, kataku dan Abi bersamaan, Rani dan Kak Dido tersipu malu.
Kemudian mama dan papa mengajak kami semua untuk makan. Di ruang makan, Kak Dido kembali terkejut melihat kue yang telah kita siapkan dan disebelahnya ada tumpukan kado dari kami. Kulihat dengan jelas ekspresi bahagianya yang lucu. Ia seperti anak kecil saja, menangis sesenggukan. Hehehe. Successfull !
Kami menikmati makan malam dan kue itu bersama-sama. Kami semua larut dalam tawa dan kebahagiaan. Aku akan selalu mengingat ini dan menyimpannya sebagai kenangan terindahku. J
Setelah Rani dan Abi pulang, Kak Dido membuka kado dariku. Ia begitu terkejut ketika melihat sepatu Adidas Supercolor bewarna abu-abu itu. Dia memelukku.
“ Terima kasih karena sudah mengingat ini ”, katanya.
Aku pun tersenyum lega, aku tidak menyangka kalau kak Dido benar-benar menginkan sepatu itu. Aku hanya mendapat firasat ketika mencari kado untuk kak Dido. Aku seperti mengingat sesuatu ketika melihat sepatu itu, lalu aku memutuskan untuk membelinya. Aku rasa ini adalah petunjuk darinya. Kataku dalam hati.
Hari kemo terapiku pun tiba, Aku masuk ke lab dan beberapa cairan mulai dimasukkan ketubuhku melalui selang infus. Aku sudah terbiasa dengan ini semua. Aku hanya berharap agar aku bisa segera sembuh. Tetapi tiba-tiba kepalaku pusing, aku mulai kedinginan. Aku kenapa? Tidak biasanya seperti ini saat kemoterapi. Aku merasa semakin kedinginan, kepalaku terlalu sakit. Lalu dokter menghampiriku dan semua menjadi gelap.
@@@
Aku membuka mata, aku melihat langit biru yang begitu indah, awan-awan bertebaran membuat langit semakin cantik. Aku bangun dan melihat sekeliling, hamparan tanah hijau tanpa batas menjadi pemandangan dimana-mana. Aku merasa tidak asing dengan tempat ini. Aku berdiri dan berjalan, aku terus berjalan, menikmati keindahan ini. Kemudian aku melihat seperti ada sebuah cermin besar. Aku berjalan menuju cermin itu.
“ Itu kan, aku? ”, kataku.
Aku melihat diriku bersimpuh di depan mama dan papa yang menangis di rumah sakit. Aku mendengar suaraku sendiri disana. Kemudian aku melihat Kak Dido menghampiriku dan menembus diriku. Aku sendiri pun terkejut melihat semua ini. Lalu aku melihat diriku mendekati Abi, aku bingung. Kenapa tidak ada yang bisa melihatku ya?
“ Itu karena aku hanya berupa roh ”, kataku dari masalalu.
“ Sofia? ”, kataku.
“ Hi! ”, katanya tersenyum.
“ Kenapa aku bisa melihat semua ini? ”, tanyaku.
“ Karena memang kamu harus melilhatnya, Sofia. Itulah awal kembalinya diriku. Itulah awal aku terlahir kembali ”, katanya.
“ Aku minta maaf karena aku lari waktu itu. Aku begitu takut ketika kamu teriak dan menangis. Aku.. aku.. aku.. Aku menyesal, Sofia ”, kataku.
“ Aku mengerti kok. Santai aja, jadi canggung disemangati sama diri sendiri. Hahaha ”, katanya yang tertawa.
“ Bener juga, aku juga kadang merasa aneh berbincang dengan diri sendiri ”, kataku kikuk.
“ Sofia! Bolehkah aku meminta sesuatu padamu? ”, kataku dari masalalu.
“ Selama aku bisa bantu ”, kataku.
“ Waktuku sudah tidak lama lagi, Sofia. Aku akan menghilang, tetapi aku ingin meminjam tubuhmu sehari saja. Aku ingin bertemu dan memeluk papa, mama, dan Kak Dido ”,
“ Kenapa kau menghilang? Aku baru saja mengenalmu, aku.. aku masih ingin berbincang denganmu, dekat denganmu. Aku ingin kita bersama lagi. Bersatu lagi, padahal aku baru saja merencanakan agar kita bisa terus bersama ”, kataku.
“ Aku adalah dirimu dimasa lalu. Artinya aku hanya boleh tinggal di masalalu bukan masa ini ”, katanya.
“ Tapi... Tapi. Bagaimana dengan mama dan papa? Kak Dido? Rani dan Abi pasti senang mendengarmu hidup dalam hidupku ”, kataku.
“ Karena itulah, kau harus tetap hidup. Karena itulah kau harus tetap bersama mereka, mendampingi mereka, dan berbahagia dengan mereka demi diriku dan dirimu ”, katanya.
“ Ini tidak adil, Sofia! Aku merenggut semuanya darimu, hidupmu, keluargamu, cintamu, bahkan masa depanmu juga. Aku jahat, Sofia! Aku jahat! ”, kataku seraya memukuli tubuhku sendiri.
“ Apa yang kau lakukan? Kau tidak hanya menyakiti dirimu tetapi diriku juga. Aku adalah kau, kau adalah aku. kita sama. Kita tidak berbeda. Kau harus tetap hidup demi diriku. Aku juga salah, aku egois. Aku terus berdoa dan meminta agar aku kembali kepada mereka. Hingga akhirnya terjadilah ini semua. Aku sudah menerimanya. Aku sudah ikhlas, Sofia. Sungguh aku tak menyesali permohonanku sendiri ”, katanya yang kemudian memelukku. Kami duduk bersimpuh. Dia membelai kepalaku.
“ Masuklah ke tubuhku sekarang, Sofia. Aku tidak keberatan. Aku berjanji akan terus hidup bahagia demi diriku dan dirimu. Terima kasih. Aku tidak akan melupakanmu. Aku akan mengingatmu sebagai kenanganku, sehingga kau akan terus hidup bersamaku. Boleh? ” tanyaku.
Dia hanya mengangguk pelan, kemudian aku merasakan ada kehangatan yang masuk ke dalam tubuhku.

To Be Continued~~~
Next Week is The Last Chapter for this Story, Don't miss it :)
Semoga bermanfaat :)

Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CEPSI ( Cerita Pendek Puisi )

Aku dan anak-anak yang digusur - true story

Puisi - curahan hati