CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 11 Keputusanku
CHAPTER 11
KEPUTUSANKU
Begitu aku bangun, aku berada di kamar yang tidak terasa asing bagiku, tercium aroma etanol, sudah kutebak ini pasti di rumah sakit. Aku bangun dan melihat sekeliling namun tidak ada siapapun. Kepalaku masih terasa sakit, aku turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan. Aku ingin menghubungi Kak Dido dan Rani, mereka pasti masih menungguku di mall. Ketika aku mendekati pintu, kenangan itu, suara itu kembali lagi. Aku memegang kepalaku yang terus berputar. Sakit! Tolong! Sakit sekali! Ya Allah, sakit! Aku merintih kesakitan. Aku tak kuasa berdiri, badanku semakin roboh. Aku duduk berlutut, aku menahan diriku untuk tidak pingsan lagi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar. Aku menangis, aku tak kuat lagi menahan sakitnya kepalaku.
“ Sofia! ”, pekik papa ketika membuka pintu.
“ Uh... hik.. Uh! Sakit! Sakit! Tolong! ”, rintihku.
Papa menghampiriku, mama dan yang lain pun ikut terkejut melihatku ada di lantai.
“ Sofia! Kamu kenapa, nak ? Kak! Panggil dokter Hendra sekarang. Cepat, kak! ”, pinta mama.
Abi membantu papa mengangkatku. Aku terus memegang kepalaku. Aku tak tahan lagi. Aku mengeluh kesakitan, saking sakitnya aku berteriak. Aku meronta-ronta. Kenapa sakit ini tidak mau pergi dari kepalaku ? kata dokter aku sudah operasi, tetapi mengapa sakit ini tidak hilang ? aku sudah tidak tahan lagi! Aku benci! Aku benci!
“ Sofia! Sofia sayang, tenanglah! Tenanglah! ”, kata mama yang terus memelukku yang sedang kesakitan.
“ Sakit, ma! Sakit! Sakit, ma! ”, rintihku.
“ Bertahanlah, sayang! Bertahanlah, nak! ”, kata papa yang memegangi kakiku yang terus bergerak.
“ Aku capek, ma! Aku capek! .... Sakit, ma! Sakit! ”, kataku perlahan kemudian aku kembali tak sadarkan diri.
“ Sofia! Sofia! Bangun, nak! Sofia! ”, panggil mama sambil mengusap keningku yang penuh keringat.
Setelah itu dokter Hendra datang dan meminta semuanya menunggu di luar. Ia memeriksa denyut nadiku dan detak jantungku. Kemudian dokter terus memanggil namaku. Hingga akhirnya aku terbangun karenanya,
“ Dokter? ”, tanyaku yang kaget melihatnya.
“ Hai, Sofia! Bagaimana? Masih sakit kepalanya? ”, tanya dokter Hendra.
“ Dokter sudah memberimu pain killer ( Penghilang rasa sakit ), jadi kamu akan baik-baik saja sekarang. Mereka semua begitu cemas padamu, Sofia ”, kata dokter Hendra yang melihatku dan tersenyum.
“ Maafkan aku dokter! Aku.. aku.. aku.. aku hanya ingin mengingat semua hal dan kembali menjadi Sofia mereka ”, kataku pelan.
“ Sofia mereka? Kamu memang Sofia mereka, cantik. Kamu juga Sofia yang sama bagiku. Tidak ada yang berubah ”, kata dokter sembari duduk disampingku.
“ Dokter Hendra bohong! Aku bukan Sofia, dokter! Aku bukan Sofia yang mereka tunggu. Aku Sofia yang berbeda dokter, aku bukan Sofia! Aku... aku... aku tidak mampu mengingat banyak hal dokter, aku melupakan mereka ”, kataku dalam tangis. Aku benar-benar putus asa. Aku begitu sedih melihat mama dan papa yang selalu tersenyum namun terkadang tak sengaja menangis ketika menatapku. Melihat Kak Dido yang begitu baik padahal aku lupa akannya. Melihat Rani dan Abi yang tetap mau berteman denganku bahkan aku tak bisa mengingat mereka.
“ Kata siapa kamu bukan Sofia? Kata siapa mereka menunggu Sofia yang dulu? Bagaimanapun dirimu, kamu tetaplah Sofia. Kamu tidak perlu berubah dan terus mencari Sofia di masa lalu. Kamu yang sekarang bisa terus maju ke depan. Jadilah Sofia saat ini. Hiduplah dengan baik dan selalu penuh semangat. Jika memang mereka bercerita tentangmu, terimalah! Karena mereka semua tetaplah dirimu, Sofia. Jika kamu sedih karena tidak lagi bisa bermain basket, maka teruslah bermain! Teruslah bermain hingga kau bisa. Jika kau tak bisa mengingat kakakmu atau bahkan teman-temanmu, buatlah pengalaman-pengalaman baru dengan mereka sehingga kau akan mampu mengingat mereka lagi saat ini ”, kata doker menasihatiku.
Kata-kata dokter telah membuatku tersadar, aku terlalu takut menatap ke depan dengan kondisiku yang melupakan masa lalu. Aku terlalu takut bertanya kepada mereka apakah mereka masih menerimaku sebagai Sofia yang mereka kenal dan sayangi. Aku terlalu takut untuk menyadari bahwa memang aku bukan lagi Sofia yang dulu. Aku yang sekarang masih perlu waktu lagi untuk sembuh dan mengingat semua hal.
Dokter benar, aku harus sabar dan tidak bertindak gegabah. Aku harus ikhlas. Aku harus menerima diriku sendiri terlebih dahulu. Aku menangis dan terus menangis. Dokter menepuk-nepuk bahuku. Dia terus memberiku dorongan untuk terus semangat. Dokter memintaku untuk melepaskan belengggu masa lalu dan menikmati saat-saat seperti sekarang ini.
Kemudian dokter keluar, aku berniat setelah ini akan bercerita dan bertanya kepada mereka semua tentang kegundahanku selama ini. Aku harus berani, dengan demikian aku bisa menjalani masa depanku lebih baik lagi. Setelah itu mereka semua masuk dan memelukku bergantian. Setelah itu mereka menanyakan kondisiku, aku meminta maaf karena sudah membuat mereka khawatir.
“ Alhamdulillah, sakit kepalanya sudah hilang ”, kataku tersenyum.
“ Kak Dido! Rani! Maaf sudah membuat kalian kerepotan di mall ”,
“ Pa! Ma! Maafin Sofia! Nggak seharusnya Sofia ngomong seperti tadi. Sofia pasti sudah membuat kalian sedih ”,
“ Bi! Terima kasih sudah menolongku tadi, aku sempat melihatmu sebelum aku pingsan, terima kasih banyak ”,
Mereka semua tersenyum lega. Mama membelaiku dan mengecupku. Setelah itu papa memelukku. Kemudian kakak memegang tanganku dan menangis. Ia meminta maaf karena teledor menjagaku. Ia begitu menyesal membuatku seperti ini lagi. Aku menggelengkan kepala dan memeluknya. Kupeluk tubuhnya yang terus bergetar itu.
“ Aku tidak pernah menyalahkan kakak! Ini bukan salah kakak! Kakak jangan nangis lagi, ya! Sofia tidak apa-apa, kok ”, kataku yang terus menepuk punggungnya lembut.
Kemudian Rani memelukku. Ia mengucap syukur dan berterima kasih karena aku masih ada disini bersama mereka. Lalu Abi, tiba-tiba kami begitu canggung. Aku begitu gugup ingin berbicara kepadanya. Kemudian aku hanya tersenyum kepadanya.
Kami pun larut dalam keceriaan itu. Kak Dido kembali menjahili Abi, dan Rani membelanya. Kemudian Kak Dido semakin menjahilinya. Aku tertawa melihat tingkah mereka. Kemudian aku berpikir ini adalah saat yang tepat aku memberi tahu mereka.
“ Apakah aku boleh bertanya sesuatu ? pertanyaan ini terus menggangguku, aku sebenarnya juga takut menanyakan ini. Tetapi aku ingin terus maju dan hidup lebih baik lagi ”, kataku memberanikan diri.
“ Tentu saja! Tetapi apakah kau tidak apa menanyakan semua ini? mama khawatir dengan kondisimu, Nak! ”,
“ Tenang saja, ma. Aku yakin aku bisa. Mama percaya padaku kalau aku anak yang kuat kan? ”, kataku tersenyum. Mama membelai wajahku lembut dan tersenyum.
“ Aku tahu bahwa sampai saat ini aku belum bisa mengingat sepenuhnya, terkadang ingatan-ingatan itu datang tiba-tiba bahkan menghatuiku. Awalnya aku takut. Ketika kucoba mengingat, kepalaku selalu pusing. Terdengar samar-samar ingatan itu menjerit kepadaku. Aku tahu kalau aku ini Sofia. Putri dari Ananda Dewi dan Muhammad Sofyan. Tetapi aku tidak tahu tentang diriku sendiri. Apa makanan kesukaanku, hobiku, bahkan tentang ketakutanku. Aku tidak mampu mengingat teman-temanku, aku bahkan tidak mengingat apakah aku ini masih anak kuliahan, ataukah anak SMA, atau bahkan sudah berkeluarga. Aku hanya tau lewat cerita-cerita kalian ”, kataku seraya memandangi mereka.
“ Jujur, sampai saat ini setengah percaya dengan cerita kalian. Aku tidak meragukannya, hanya saja aku butuh untuk benar-benar memastikannya dengan ingatanku sendiri. Aku butuh tahu sendiri dari ingatanku. Tetapi mereka seakan tidak mendengarku. Mereka milikku tetapi bukan milikku. Aku begitu marah, aku sedih. Aku memang Sofia, tetapi aku bukanlah Sofia yang kalian kenal dulu. Aku tidak tahu caranya bermain basket, aku tidak lagi senang menulis, bahkan aku sudah lupa tentang kakakku sendiri. Aku adik yang bodoh, Kak! Aku masih meragukanmu. Padahal aku sudah tahu kebenarannya. Aku teman yang jahat. Kalian selalu ada untukku, tetapi aku bahkan tidak bisa membalas apapun bahkan untuk kenangan yang telah kita lewati ”, Kataku parau, aku berusaha untuk tegar.
“ Itu tidak benar, dek! Kamu tidak bodoh, kakak tidak masalah dengan itu. Yang perlu kamu tau kakak menyayangimu ”, kata Kak Dido.
“ Justru aku sedih karena itu, Kak! Kau begitu tulus. Aku tau, kau sangat menyayangiku. Tetapi aku bahkan tidak ingat tentang kita, kak! Aku tidak bisa menjadi seperti adikmu Sofia yang dulu. Putri keluarga ini. Aku sudah berbeda, kak. Aku Sofia yang berbeda, Kak! ”,
“ Itu tidak benar Sofia, kamu juga bukanlah teman yang jahat. Kamu tetap Sofia yang kita kenal. Kami berteman denganmu bukan karena paksaann, kami sayang padamu, Sofia ”, kata Rani sedikit terisak.
“ Kalian terus saja menceritakan padaku tentang Sofia yang dulu, kegiatannya, kebiasaannya, bahkan sikapnya. Aku menyadarinya, aku memang bukan Sofia yang kalian kenal. Aku adalah Ananda Sofia yang terlahir kembali menjadi pribadi yang baru. Aku takut untuk menceritakan ini semua pada kalian. Aku terus tersenyum menjalani hari-hari dengan ceria namun hatiku terus bersedih, aku dihantui masa lalu ”, lanjutku.
Aku sudah benar-benar menangis. Aku sampai tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Kalau bukan karena dukungan mama dan papa aku tidak akan melanjutkannya.
“ Terima kasih, sudah menerimaku. Menerima Sofia yang terlahir kembali. Akan tetapi apabila Sofia ini tidak bisa lagi menjadi Sofia yang kalian tunggu. Masihkah kalian bersedia untuk menyayangiku? ”, tanyaku akhirnya.
“ Oh, Putriku yang malang! Benar, Nak. Kau memang Sofiaku. Tidak akan berubah. Jika memang kau terlahir kembali maka kau memang terlahir kembali karena aku yakin kau tak ingin kami sedih karena kehilangan dirimu. Kau tahu mama mendengarmu ketika kau di ruang operasi waktu itu. Mama percaya kau akan kembali kepada kami. Bagaimanapun kamu, mama tetap menyayangimu. Kamu anak mama dan papa. Kamu putri keluarga ini. Tetaplah menjadi Sofia yang kamu yakini. Hiduplah dengan pengalaman-pengalaman saat ini. mama dan papa akan selalu mendoakan kebahagiaanmu ”, jawab mama.
“ Ananda Sofia! Papa tidak mempermasalahkan dirimu yang sekarang atau di masa lalu. Papa minta maaf jika memang pernah menyinggung Sofia jika papa bercerita tentang Sofia dulu. Papa tidak ada maksud untuk membandingkan kalian. Papa minta maaf ”, kata papa yang menangis dihadapanku.
“ Papa tidak perlu minta maaf. Aku tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan papa. Aku hanya ingin tahu perasaaan papa, mama, dan semuanya tentang diriku yang saat ini ”, kataku seraya tersenyum.
“ Papa menyayangimu Sofia! Papa menyayangimu, Nak! ”, kata papa yang kemudian memelukku.
“ Dek! Kau adalah adikku. Aku tidak peduli jika kau tidak mengingatku. Kalau kau mau, mulai saat ini ayo kita buat lagi ingatan-ingatan sehingga kau bisa mengingatnya. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu setiap saat. Kau kembali kepada kami semua sudah merupakan berkah luar biasa yang Allah berikan. Kau tahu, Eyang Uti juga sangat merindukanmu. Ayo kita mengunjunginya ketika kau sudah merasa baikan, akan kuperkenalkan kau dengan keluarga kita yang lain. Apakah kau keberatan ? ”, kata kak Dido yang mengajakku mengunjungi Eyang Uti. Aku pun tersenyum dan menyetujuinya.
“ Ananda Sofia dan Rani Kartika adalah sahabat sejak SMA sampai saat ini pun baik Sofia yang dulu maupun kau, tetaplah sahabatku. Kita sudah menghabiskan waktu bersama bukan? Aku yakin kau menyayangiku seperti aku menyayangimu. Aku tidak peduli jika kau tidak ingat padaku yang dulu. Karena buatku yang terpenting adalah kau mengingat hal-hal yang telah kita jalani bersama setelah kau bangun. Aku tidak menyesal bertemu, berteman, bahkan bersahabat dengamu ”, kata Rani.
“ Terima kasih, Rani. Aku ingin terus bersahabat denganmu “. Kataku yang kemudian merangkulnya.
“ Aku berharap suatu saat kau menjadi kakak iparku juga ”, bisikku menggoda Rani. Sebenarnya aku menyadari kalau Rani dan kak Dido saling mencintai. Aku ingin mereka terus bersama, semoga mereka berjodoh dan hidup hingga maut memisahkan.
Ran menjadi begitu kikuk. Ia tersenyum, tersipu malu. Kemudian ia mencubit pipiku. Setelah itu, aku memandangi Abi. Aku meminta semua orang untuk keluar sebentar. Ia ingin berbicara dengan Abi, berdua saja. Mereka memahaminya, lalu mereka keluar.
“ Bi! Ada hal yang dari dulu ingin kutanyakan ”, kataku.
“ Tanyakan saja, Sofia ”, kata Abi meyakinkanku. Ia duduk di sebelahku.
“ Bagaimana kau memandang Sofia yang dulu ? ”, tanyaku.
“ Dia adalah kado dari Allah yang diberikan kepadaku disaat yang tepat. Dia adalah orang pertama yang membuat basketku lebih bewarna. Coba kau lihat liontin yang sedang kau pakai itu ”, katanya
“ Ini? ”, kataku sambil memegang liontin yang menggantung di leherku.
“ Liontin itu kuberikan padamu tepat sebelum kau operasi dan lihat gelang yang selalu kupakai ini. Ini adalah gelang pemberianmu juga tepat sebelum kau operasi. Kau adalah yang terpenting dalam hidupku, Sofia ”, kata Abi.
“ Tapi, aku bukanlah Sofia yang dulu kau cintai. Aku bukan lagi Sofia yang bisa membuat basketmu bewarna. Aku bukan lagi Sofia yang kau ... ”, Abi menghentikan ucapanku dengan jarinya yang sudah menyentuh bibirku lembut.
“ Akan kuceritakan suatu hal, sebelum operasimu dilakukan dokter Hendra sudah memberi tahu kami tentang kemungkinan-kemungkinan, salah satunya tentang hilangnya ingatanmu. Awalnya aku juga takut. Aku takut kau melupakanku. Aku takut kalau aku tidak bisa mencintaimu lagi. Tetapi aku tidak meragukan perasaanku padamu begitupun sebaliknya. Aku mencintai Sofia, Sofia yang dulu maupun sekarang. Kalian adalah orang yang paling beharga dalam hidupku ”,
“ Lalu Mira itu siapa, Bi? Entah mengapa aku selalu mendengar suaramu yang mengatakan kalau Mira adalah cinta pertamamu. Aku begitu sedih, apalagi ketika memori itu datang, kepalaku sakit dan rasanya mau pecah. Hatiku tidak mampu menahannya. Aku telah jatuh cinta kepadamu, Bi. Aku tidak ingin kehilangan dirimu ”,kataku yang kemudian air mataku telah mengalir deras.
“ Ya, kamu benar! Mira memang cinta pertamaku. Tetapi itu kisah masa lalu, kini aku dan dia hanyalah teman biasa. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Kau tahu, justru aku berterima kasih kepada Sofia karenanyalah aku bisa belajar tentang makna cinta yang sesungguhnya. Aku juga berterima kasih kepadamu, berkat kembalinya kau kepada kami semua aku belajar lagi untuk mencintai. Jika aku bisa mencintai Sofia yang dulu maka aku juga akan jatuh cinta lagi kepada Sofia saat ini, yaitu kamu. Karena kalian memiliki hati yang sama. Tidak ada yang berbeda dengan hati kalian. Karena itulah aku juga telah jatuh cinta kepadamu sekali lagi. Aku tidak lagi memandangmu sebagai Sofia yang dulu. Aku melihatmu sebagai Sofia. Ananda Sofia ”, kata Abi yang kemudian memegang tanganku.
“ Bolehkah aku bertanya sesuatu, Sofia? ”, tanya Abi.
“ Tentu saja boleh ”, kata Sofia tersenyum.
“ Ananda Sofia! Maukah kau menjadi pendamping hidupku? Aku akan belajar dengan giat, setelah aku lulus aku akan datang ke rumah orang tuamu sekali lagi untuk meminangmu. Maukah kau menerima dan menungguku sampai saat itu? ”, kata Abi yang kemudian mengeluarkan jam tangan yang sepertinya Sofia ingat jika ia melihat Abi membeli jam itu di mall.
“ Benarkah? Aku tidak percaya ini, Bi. Aku menjadi wanita paling merugi jka menolak pria sebaik dan setulus dirimu, Bi. Aku akan menunggumu dan selalu memercayaimu. Tetapi kita tetap bersahabat kan? Maksudku kau tidak akan benar-benar menghilang saat ini kan? ”, tanyaku.
“ Hahaha... Tentu saja tidak. Aku akan terus mengunjungimu jika ada kesempatan. Aku akan memasangkan jam ini sebagai pengingat bahwa waktu kita dulu, saat ini, dan di masa yang akan datang adalah hal yang penting dan tidak ada yang perlu disesali ”.
“ Bi! Bolehkah aku meminta satu hal lagi kepadamu? ”, tanyaku.
“ Tentu saja boleh”, kata Abi tersenyum.
“ Aku ingin bermain basket denganmu sekali lagi. Aku akan berlatih dan terus berlatih agar aku bisa mengimbangimu. Ayo kita bertanding. Aku yakin bisa mengalahkanmu. Karena aku adalah Sofia ”, kataku yakin.
“ Aku akan senang jika aku bisa bermain lagi denganmu ”, kata Abi yang kemudian memegang tanganku. Kemudian kami berpelukan.
Tak lama kemudian aku meminta yang lain untuk masuk kembali. Kak Dido menggodaku, ia bahkan menuduh Abi telah melakukan hal yang tidak-tidak. Aku melongos kesal. Abi mempertegas bahwa ia tidak akan melakukan hal seperti itu sebelum waktunya. Ia berjanji akan bertanggung jawab menjagaku. Ia bahkan meminta restu orang tuaku tiba-tiba. Ia mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan kepadaku. Aku dan Rani hanya bisa menahan tawa. Kak Dido banyak bertanya tentang keseriusan Abi. Papa dan mama berkata akan menunggu Abi sampai ia lulus. Baru saat itu jawaban akan diberikan. Namun mereka tetap merestui jika saat ini kami bersahabat. Tentu saja aku senang mendengarnya. Rani pun ikut bahagia karenanya.
TO BE CONTINUED~~~
2 chapter again till last ~~~~
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar