CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 9 Putri Tidur yang Terbangun
CHAPTER 9
PUTRI TIDUR YANG TERBANGUN
Saat itu, Abi telah tertidur, ia terlalu lelah
karena kemarin ia lembur untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia memang berniat
menyelesaikan semua laporan praktikum metode numeriknya kemarin agar hari ini
bisa menjaga Sofia seharian. Tanpa disadarinya, Tangan Sofia bergerak pelan
namun ia belum membuka mata. Setelah itu, terdengar suara pintu yang terbuka, Rani
dan Kak Dido masuk ke dalam ruangan itu setelah sarapan. Melihat Abi yang
tertidur, Kak Dido dan Rani hanya bisa tersenyum.
“ Mereka serasi sekali ya, Rani ”, celetuk Kak
Dido.
“ Iya, kak. Mereka memang serasi. Wuah! Berarti
kakak sudah merestui hubungan mereka ya ? ”, goda Rani.
“ Enak aja! Aku gak akan memberikan putri
keluargaku semudah itu kepadanya. Aku akan terus menjahilinya, baru setelah aku
puas aku akan merestuinya. Hahahaha.... ”, kata Kak Dido yang ‘ tertawa jahat
’. Rani begitu senang melihat Kak Dido yang bersemangat seperti ini.
Tanpa sadar, Rani mencubit perut Kak Dido yang
jahil ini. Ia tidak akan membiarkan sahabatnya ‘teraniaya’ oleh kejahilannya.
Kak Dido meringis dan membalas Rani dengan menggelitiknya. Mereka larut dalam
keceriaan itu. Kak Dido pun memandangi Rani, begitupun sebaliknya. Abi
terbangun oleh keramaian yang Rani dan Kak Dido buat. Kemudian ia meletakkan
tangan Sofia dan menghampiri mereka berdua. Ia menanyakan bagaimana kelanjutan
kedekatan mereka. Kak Dido pun langsung mengempit kepalanya dan
menggosok-gosoknnya. Rani yang melihat pun hanya bisa tertawa.
Kemudian orang tua Sofia dan Kak Dido datang,
namun mereka masih saja tetap bercanda. Kali ini, Abi disuruh duduk bersimpuh
dihadapan Kak Dido dan memohon restu padanya. Mau tak mau Abi melakukan semua
yang diperintahkan kak Dido itu.
“ Kalau bukan karena kau adalah kakak Sofia, aku
akan melemparmu ke kolam di depan rumah sakit ”, gerutu Abi.
“ Hoi, Hoi! Aku dengar semua ucapanmu, Lo! Mau aku
bilang ke Sofia kalau kamu nakal kepada kakaknya yang sangat disayanginya ini ?
”, ancam kak Dido.
“ Kamu itu, Kak! Jangan jahili Abi terus, kasian
tau ”, bela Rani.
“ Rani bantu aku, dong. Apakah kau tak ingin
melihatku bersatu dengan Sofia ? ”, pinta Abi.
“ Hayo! Hayo! Drama apa ini? “, kata papa
tiba-tiba.
Mereka begitu terkejut melihat mama dan papa.
Mereka tak tahu kapan mereka datang. Abi begitu malu, ia sampai salah tingkah
begitu pun Kak Dido. Rani hanya bisa menahan tawanya yang sudah hampir keluar
itu.
“ Papa ini, kayak tidak pernah muda saja ”, kata
mama menggoda papa.
“ Tenang, Pa! Aku cuma ingin memberi pelajaran
kepada anak yang selalu menggoda Sofia. Enak saja dia, mengambil adik cantikku
dari pelukanku ”, kata Kak Dido.
...
“ Ja.. jangan jahili Abi, Kak ! ”, kataku
tiba-tiba yang langsung terbangun.
Mendengar suaraku mereka semua terkejut. Aku
melihat wajah mereka semua begitupun sebaliknya. Bantal yang dipegang mama pun
terjatuh. Mama berlari ke arahku, dan kulihat Kak Dido berlari keluar. Mama
memelukku dan menangis begitu kerasnya. Papa memegang tanganku dan membelainya
lembut. Kulihat Abi dan Rani begitu bahagia. Mereka semua tersenyum. Namun,
tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
@@@
Mimik wajah mereka langsung berubah ketika Sofia
kembali tak sadarkan diri. Abi membantu mama Sofia untuk merebahkan Sofia
kembali, papa Sofia terus memegangi tangan Sofia dan terus memanggil nama
Sofia. Mamanya yang paling terkejut. Baru saja ia memeluk anaknya, sekarang
Sofia kembali tak sadarkan diri. Mereka begitu panik.
Ketika Kak Dido dan dokter Hendra bersama beberapa
suster datang, Papa menjelaskan situasi yang terjadi. Kak Dido yang tak
tahu-menahu ikut bingung dan panik. Ia bahkan belum menyalami adik
kesayangannya itu. Dokter Hendra meminta mereka tenang dan meminta suster untuk
membawa mereka keluar. Mereka begitu cemas.
“ Apa yang terjadi dengan putriku ? Padahal...
Padahal... Dia baru saja bangun dari tidur panjangnya. Aku begitu takut, Pa.
Aku... aku baru saja memeluknya, mendekapnya di tubuhku ”, kata mama terisak.
Mama begitu bingung. Ia memandangi tangannya dan memegang tangannya yang terus
bergetar.
“ Tenang, Ma! Papa yakin putri kita baik-baik
saja. Mungkin saja itu efek pasca operasi. Kita berdoa semoga tidak terjadi
apapun ”, kata Papa.
Kak Dido menghampiri mamanya dan memegang tangannya
yang masih bergetar. Kak Dido mencium kedua tangan itu dan memeluknya dengan
begitu hangat. Abi yang sudah terlanjur senang hati, kembali digoncangkan
dengan kondisi Sofia barusan. Ia melihat sendiri Sofia menatap matanya karena
ia pun melakukan hal yang sama. Lalu ia kembali pingsan. Semua terjadi begitu
cepat.
Mereka menunggu dengan cemas, Rani pun begitu
gelisah, Kak Dido menghampirinya dan menenangkannya. Tak beberapa lama, dokter
Hendra dan para suster keluar dari kamar Sofia.
“ Bagaimana kondisinya, dokter ? ”, tanya papa.
“ Seperti yang saya duga, Sofia mengalami trauma
pasca operasi. Hal ini memang wajar terjadi mengingat operasi yang dilakukannya
adalah operasi besar. Mungkin nantinya Sofia akan lupa atau bahkan tidak
mengingat akan beberapa hal, kemudian tubuhnya akan kaku dan sulit digerakkan.
Yang saya takutkan adalah tentang penglihatannya. Seperti yang sudah saya
katakan sebelumnya, benjolan itu begitu dekat dengan saraf optiknya. Kita
berharap saja semoga tidak terjadi suatu apapun padanya ”, papar dokter Hendra.
Semua yang mendengar begitu terkejut. Mereka
seakan tidak percaya, masih teringat di benak mereka ketika Sofia bangun dan
berbicara. Bagaimana mungkin dia akan melupakan itu ?
“ Tidak mungkin, dokter. Tadi kami semua melihatnya
dia bangun dan berbicara di hadapan kami. Dia bahkan memanggil kakaknya dan
temannya ini. Lalu bagaimana mungkin dia lupa dengan mereka kalau dia bisa
memanggil mereka ? ”, tanya papa Sofia yang masih tidak percaya.
“ Hal seperti itu memang wajar terjadi, Pak.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, ini memang efek pasca operasi. Tentu kami
akan memberikan perawatan pasca operasi agar seluruh fungsi tubuhnya bisa
kembali normal dan perlahan ingatannya akan kembali. Kita akan mengerahkan
spesialis-spesialis terapis untuk membantunya selama rehabillitasi. Karena ia
masih harus menjalani kemo lanjutan untuk mematikan bibit-bibit kanker dan
sisa-sisa benjolan yang ada di kepalanya ”, Kata dokter Hendra.
“ Dokter! Dokter sudah pernah punya anak?
Bagaimana mungkin saya tega melihat anak saya, Putri saya harus berjuang bahkan
setelah operasi itu dilakukan. Tidak adakah cara yang tidak akan menyakitinya.
Saya.. saya.. Bagaimana mungkin saya bisa melihat ini semua dokter. Bagaimana
mungkin! ”, Kata Mama yang tiba-tiba menarik kerah baju dokter. Kak Dido yang
melihat situasi ini berusaha menenangkan mamanya dan meminta maaf kepada Dokter
Hendra.
“ Maafkan saya, Bu. Memang saya tidak merasakan
apa yang ibu atau bapak rasakan. Tetapi, saya tulus merawatnya. Saya mengambil keputusan
ini dari awal pun karena melihat semangat Sofia yang masih terus ingin hidup,
saya pun mengambil keputusan ini bukan dengan keegoisan saya sendiri ataupun
karena desakan. Tetapi murni dari hati saya. Saya juga ingin melihat pasien
saya sembuh. Sofia bahkan tidak lagi saya anggap pasien, saya sudah
menganggapnya seperti adik kecil saya. Saya akan mengupayakan yang terbaik agar
Sofia bisa terus melanjutkan hidupnya ”, kata dokter Hendra. Setelah itu, ia
berpamitan keluar.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan dimana aku
terbaring. Mereka melihatku yang kembali tertidur. Mama menghampiriku, mengecup
keningku, dan memegang tanganku. Papa juga datang menghampiriku dan mengecup
keningku. Kak Dido melihatku dan memegang kakiku. Abi dan Rani hanya bisa memandangi
dari kejauhan. Tak ada satupun kata yang keluar di dalam ruangan itu, hanya
sesekali suara sesenggukan dan isak tangis yang mengisi keheningan di ruangan
itu.
Sore harinya setelah mereka makan siang, mereka
berkumpul lagi di ruangan itu. Tak beberapa lama kemudian, mata Sofia bergerak,
jemarinya yang lentik pun bergerak lemah. Abi yang menyadari hal ini pun
langsung menghampirinya,
“ Sofia! Sofia! ”, panggil Abi.
Mendengarnya memanggil Sofia mereka menghampiri
Sofia. Mereka semua menunggunya untuk sadar. Lalu aku membuka kedua mataku.
Kupandangi semua wajah di hadapanku itu. Siapa
mereka ?
@@@
Mereka begitu bahagia, mereka semua tersenyum
kepadaku. Kenapa mereka tersenyum
kepadaku ? Aku ? Siapakah aku? Aku?
Aku tetap diam. Aku terus berpikir tapi aku tak
bisa mengingat apapun. Aku terus memandangi mereka berharap aku akan
mengingatny. Pandanganku tiba-tiba kabur lalu kembali lagi lalu kabur lagi.
Kenapa aku tak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Kemudian seorang wanita
yang berdiri di sebelahku memeluk tubuhku. Aku berusaha mengingat siapa wanita
ini, aku seperti tidak asing dengan sentuhannya. Terasa begitu hangat, tetapi
ketika aku berusaha mengingatnya, hanya ada kepingan-kepingan memori berantakan
yang terus berputar di kepalaku. Aku bingung, kepalaku begitu sakit.
Tak beberapa lama kemudian, seseorang dengan
menggunakan jas putih datang menghampiriku. Memeriksa tekanan darahku,
menyinari mataku dengan senter kecilnya itu, tetapi kenapa mereka begitu kabur.
Aku tak bisa melihat mereka dengan jelas.
“ Sofia! Sofia! Sofia! ”, kata dokter.
Sofia?
Siapa dia? Aku memerhatikannya,
aku memfokuskan pandanganku, semua menjadi agak terang. Dia begitu tampan.
Namun, aku terlalu bingung memahami semua ini. aku melihat kesana kemari, aku
merasa begitu asing disini.
“ Si.. Siapa Sofia? ”, tanyaku tiba-tiba. Mereka
begitu terkejut mendengar pertanyaanku.
“ Kamu Sofia ”, kata seorang wanita yang tadi
memelukku.
“ Aku? Sofia? ”, tanyaku bingung. Aku benar-benar
tidak memahami kejadian ini. kenapa dia
bilang aku Sofia, aku bahkan tidak bisa mengingat diriku sendiri.
“ Tentu saja, Ananda Sofia adalah namamu, sayang
”, kata seorang pria separuh baya yang berdiri bersebrangan dengan wanita tadi.
“ Maaf, aku tidak begitu mengingatnya ”, kataku.
Mereka semua begitu terkejut melihatku. Aku merasa mereka terlalu menatapku
tajam. Aku merasa agak tidak nyaman.
“ Apakah anda adalah mama saya ? ”, tanyaku lanjut
seraya melihat wanita yang tadi memelukku. Mama menganggukkan kepalanya dan
membelai kepalaku. Aku tahu ia sedang memaksakan senyumannya.
“ Berarti anda adalah papa saya ? ”, tanyaku lagi
sambil menunjuk pria yang ada disisi lainnya.
“ Benar, sayang. Kamu adalah anak papa dan mama.
Dia ini adalah kakakmu, Dido ”, kata pria itu menunjuk lelaki muda di
sebelahnya.
“ Hai, dek! ”, katanya canggung.
“ Benarkah ? “, tanyaku lagi. Aku benar-benar tak
percaya, aku memiliki keluarga yang utuh bahkan aku memiliki seorang kakak yang
tampan sepertinya ?
Benarkah
? Aku baru saja bangun dan tidak mengingat apapun. Benarkah apa yang mereka
katakan ? Aku terlalu bingung untuk percaya atau tidak dengan semua ucapan
mereka.
“ Oh, Sofia! Ingatkah kau dengan mereka berdua?
Mereka sahabatmu, Abi dan Rani ”, kata orang yang katanya kakakku itu.
“ Hai! Bukankah kalian Rubi dan Linda, kan ? ”,
kataku bingung.
“ Aku Abimanyu Prasetya. Aku Abi ”, kata seorang
pria yang tampak tidak asing bagiku.
“ Hai, Abi! ”, kataku tersipu.
“ Aku Rani ”, sapa wanita yang berdiri di sebelah
wanita yang katanya adalah mamaku.
“ Hai ! ”, kataku tersenyum. Aku merasa seperti
mengenal mereka.
Kenpa aku
tidak mengingat semua ini ? Kenapa terkadang aku melihat mereka jelas,
terkadang begitu sangat kabur ? Aku
begitu bingung memahami semua situasi ini. Ini membuatku pusing. Kemudian aku
meminta mereka keluar, aku butuh waktu sendiri. Aku terlalu bingung dengan
semua ini. Kenapa aku tidak bisa sepenuhnya mengingat mereka. Kemudian lelaki
yang menggunakan jas putih itu memeriksa detak jantungku. Ia memperkenalkan
diri sebagai Dokter Hendra. Dokter yang saat ini merawatku. Kemudian mereka
semua keluar.
Di luar ruangan
“ Ada apa ini, dokter ? Mengapa putriku begitu
linglung dan tidak mengingat siapapun bahkan dirinya sendiri ? ”, tanya mama
sedih.
“ Tenang, Bu. Mohon bersabarlah sebentar! Seperti
yang saya bilang sebelumnya, ini semua adalah trauma pasca operasi. Memang
tidak bisa langsung pulih, masih harus dilakukan beberapa terapi dan
rehabilitasi untuknya. Saya harap kita semua bisa lebih bersabar lagi, Sofia
pasti juga akan bingung. Jangan terlalu memaksanya untuk mengingat, aku juga
akan menghubungi hypnoterapis untuk membantunya mengingat. Paling tidak untuk
saat ini, kondisinya sudah stabil. Kita hanya harus terus berdoa demi
kesembuhannya ”, papar dokter.
“ Tentu saja, dokter. Selalu ”, kata mama sedih.
Mereka saat ini merasa bingung, entah apa yang
harus mereka rasakan, bahagia karena Sofia sudah bangun ataukah mereka harus
bersedih karena Sofia melupakan segala hal.
@@@
Beberapa hari telah berlalu, aku telah menjalani
beberapa terapi seperti terapi bergerak dan berjalan. Aku juga sempat di
hypnoterapis dua kali untuk membantuku mengingat sesuatu.Tadi, aku melakukan
terapi mata, aku memang merasa ada yang aneh dengan penglihatanku saat ini. Aku
merasa agak lelah, tetapi aku merasa senang. Paling tidak, saat ini Aku
benar-benar ingat bahwa Ibu Dewi dan Pak Sofyan adalah orang tuaku. Hanya saja,
aku masih belum mengingat betul apakah benar aku memiliki seorang kakak yang
bernama Dido dan sahabat yang bernama Rani dan Abi. Bahkan aku masih ragu
dengan namaku sendiri.
Ketika aku menjalani hypnoterapi, dokter memintaku
memejamkan mata dan merilekskan tubuhku. Setelah itu, aku melihat sebuah pintu
yang sangat besar, dokter memintaku untuk membukanya. Aku tak bisa membukanya. Dokter terus memintaku untuk membukanya. Tetap tidak terbuka. Dokter memintaku
untuk tidak menyerah, aku terus berusaha, aku ingin mengingat semuanya,
segalanya. Lalu, pintu besar itu terbuka perlahan. Aku melewatinya dan masuk.
Aku melihat sepasang suami istri yang sedang duduk
di kursi tunggu. Aku melihat kanan dan kiri, aku tidak tahu sekarang ini berada
dimana. Lalu aku membaca tulisan TK Harapan indah. Lalu ada anak kecil yang
wajahnya sepertiku berlari ke arah pasangan tersebut. Mereka bergantian
memeluknya hangat, aku tak mendengar ketika mereka memanggil namanya. Hanya
saja, aku tahu bahwa mereka adalah orang tuaku. Wajah mereka sama seperti wajah
orang tuaku disana. Jadi, mereka
benar-benar orang tuaku. Kataku tersenyum. Tetapi mengapa aku tidak bisa mendengar mereka memanggilku apa?
Lalu dokter memintaku kembali dan aku terbangun.
Dokter memang mengatakan aku akan bisa mengingat kembali tetapi dokter tidak
menyarankan aku terlalu stress dan tertekan karena itu akan berakibat lebih
buruk. Oleh sebab itu, mereka melakukan pemulihan secara bertahap. Setelah
terapi itu, aku langsung memeluk kedua orang tuaku. Aku merasa bersyukur karena
telah mengingat mereka sedikit demi sedikit. Aku juga meminta maaf karena telah
melupakannya.
Papa dan mama memelukku bergantian, mencium
keningku, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan untukku. Mereka menanyakanku apa
lagi yang aku ingat, namun aku hanya mampu mengingat mereka. Aku hanya yakin
mereka adalah orang tuaku. Aku bahkan belum mengingat tentang diriku sendiri.
Tiga minggu berlalu dengan
cepat, akhirnya dokter memperbolehkanku pulang. Namun, dokter tetap memintaku
untuk rutin terapi setiap minggunya. Oia, sudah seminggu ini aku memakai
kacamata. Dokter Hendra menyuruhku untuk memakainya. Kata beliau karena operasi
yang harus kujalani, fungsi mataku tidak lagi bisa optimal. Untungnya, operasi
itu tidak sampai membuatku benar-benar kehilangan penglihatan. Awalnya begitu
Risih, tetapi aku rasa dokter itu benar. Setelah memakai kacamata,
penglihatanku benar-benar jelas, aku begitu bersyukur.
Papa dan mama membantuku
berkemas, aku menengok kesana kemari, tetapi sepertinya Kak Dido tidak datang.
Aku bertanya kepada mereka tentang keberadaan kak Dido. Mereka menjawab bahwa
Kak Dido masih ada urusan, nanti dia akan menemuiku di rumah. Kemudian mama
memelukku dan menggandeng tanganku. Kami berjalan keluar, aku akan pulang J.
Dokter Hendra menyambutku di lobby bersama
beberapa terapis dan suster. Mereka mengucapkan selamat atas kesembuhanku.
Mereka juga memintaku untuk rutin terapi. Mereka bilang bahwa mereka akan
merindukanku.
“ Selamat ya, Sofia. Kamu memang wanita yang kuat.
Aku yakin kamu yang sekarang jauh lebih kuat dari kamu yang dulu. Teruslah
tersenyum menatap ke depan. Jangan lupa untuk tetap kontrol ya ”, kata Dokter
Hendra menjabat tangaku dan melemparkan senyuman yang begitu memesona siapapun
yang melihatnya.
“ Terima kasih, dokter. Terima kasih ”, kataku.
Sesampainya di rumah, mama memperlihatkan seluruh
bagian rumah yang tentu saja tak mampu kuingat. Aku terus melihat sekeliling
berharap aku mampu mengingat sekeping kenangan di tempat-tempat ini. Kemudian
mama dan papa membawaku ke kamarku. Aku menaiki tangga satu persatu. Aku begitu
gugup. Seperti apa aku dulu? Apakah
kamarku berantakan ? ataukah aku anak yang gila kebersihan ?
Aku sampai di sebuah pintu yang terdapat sebuah
gantungan nama. S-O-F-I-A. Jadi, Sofia
itu benar namaku, ya?, kataku dalam hati. Begitu aku membuka pintu, aku
dikejutkan oleh letupan kecil dan suara-suara terompet. Aku begitu terkejut.
Ternyata Kak Dido, Ran, dan Abi telah menyiapkan surprise kecil untukku. Aku
melihat sekeliling kamar, semua dihias dengan pita warna-warni. Dekorasi
kamarku sederhana, dinding wallpaper bewarna coklat pastel dan ada poster salah
satu pemain NBA yang tertempel di sebelah jam dinding berbentuk bola basket.
“ Ehm... Apakah aku yang dulu seorang pemain
basket? ”, tanyaku.
“ Bukan lagi pemain, Dek. Kamu itu basketball
freak! ”, kata kakakku tersenyum, dia adalah kakak yang sampai saat ini belum
mampu kuingat. Padahal dia sudah sangat baik padaku. Aku benar-benar sungkan
padanya.
“ Gimana, Sof? Seneng gak dengan kejutan kita? ”,
tanya Ran.
“ He’em! Aku menyukainya ”, jawabku.
“ I.. Ini buat kamu, Sof. Selamat ya atas
kepulanganmu ”, kata Abi yang memberiku sebuah kotak kecil bewarna biru
dongker.
“ Terima kasih banyak ”, kataku tersenyum. Aku
memang masih melupakan mereka, tapi aku merasa bahagia mereka dekat dan sayang
padaku. Aku ingin bisa mengingat mereka lagi. Aku ingin menjadi Sofia yang
mereka sayangi.
“ Sudah, Sudah! Sofia pasti capai, dia butuh
istirahat. Besok kalian masih bisa bertemu, kan? ”, kata mama.
“ Yah, kok bentar sih ma. Padahal aku ingin
mengajak dia main basket bareng mereka berdua ”, keluh kak Dido.
“ Besok pagi saja, udaranya juga masih fresh.
Lagipula Sofia masih belum boleh terlalu capek, kan, Kak? ”, kata mama
mengingatkan.
“ Ehm.. A.. aku mau bermain basket. Tetapi aku
tidak tahu caranya bermain ”, tukasku.
“ Tenang saja, Sof! Besok pagi kita akan memberimu
privat untuk bermain basket, ya kan Bi? “, kata Rani seraya merangkulku. Abi
pun hanya mengangguk. Aku membalas mereka semua dengan senyuman terbaikku. J
Keesokan harinya, Kak Dido membangunkanku. Aku masih
mengantuk. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul setengah lima pagi. Aku pun
memaksakan mataku untuk terbuka. Kemudian aku bersiap, aku membuka lemari dan
melihat pakaian apa yang cocok untukku. Ketika aku keluar, Kak Dido sudah
menungguku. Dia langsung tertawa begitu melihatku. Aku sangat terkejut. Apa yang dia tertawakan? Aku melihat
baju dan celanaku, aku rasa ini tidaklah aneh. Kemudian ia menarik lenganku dan
mengajakku masuk lagi ke dalam kamar.
Kak Dido membuka lemariku dan mengambil satu set
pakaian bewarna merah muda. Dia menyuruhku memakainya. Aku menolaknya, aku
merasa nyaman dengan pakaian yang aku pakai. Kemudian ia menjelaskan bahwa aku
memakai baju dan celana untuk bepergian. Bahkan aku memakai celana jeans.
Awalnya aku masih menolak karena kurasa tidak masalah kan dengan pakaianku.
Akhirnya aku mengganti pakaianku karena melihat Kak Dido yang terus
menertawaiku.
Apanya
yang kakak adik harmonis ? kami dekat ? tidak mungkin! Buktinya dia meledekku
terus. HUH!
Setelah itu kami turun dan minum segelas susu yang
sudah disiapkan mama. Kami pun berpamitan dan bersegera ke lapangan. Disana
sudah ada Abi dan Rani, mereka melambaikan tangan kepada kami.
Kak Dido meminta Abi untuk memimpin senam
pemanasan. Kami pun mengikutinya. Di tengah pemanasan, kak Dido menjahili Abi,
dia mengelitik leher Abi hingga membuatnya tertawa terpingkal dan jatuh. Aku
refleks menolongnya, aku mengulurkan tanganku padanya. Sebelum tangan Abi
meraih tanganku, Kak Dido menggeserku kemudian ia yang membantunya.
“ Jangan ambil kesempatan untuk menyentuh adikku
yang paling cantik ini dihadapanku, ya! ”, kata Kak Dido nyengir. Kulihat wajah
Abi begitu kesal. Kami pun tertawa.
Setelah pemanasan, Aku melihat Abi bertanding
dengan Kak Dido 1 lawan 1. Ketika
melihat mereka bermain, aku ingin melihat Abi yang memenangkaan pertandingan
ini. Kulihat sikapnya ketika memegang bola, begitu senangnya seperti anak kecil
yang mendapat mainan dari orang tuanya. Ketika akan melempar bola ke ring, Kak
Dido maupun Abi selalu melambaikan tangan kearahku dan Ran. Aku menyemangati
mereka. Aku tak menyangka permainan ini begitu mengasyikkan.
“ Sekarang giliranmu, Sof! ”, panggil Abi.
“ Apa? Aku? ”, kataku kaget.
“ Tentu saja, Come on! Aku akan mengajarimu, Sof!
Gini-gini kakakmu juga pemain waktu SMA ”, kata Kak Dido.
Aku merasa gugup. Jangankan bermain, memegang
bolanya saja tidak pernah. Ran menyemangatiku. Ia menepuk punggungku dan
mempersilakanku ke lapangan. Aku berjalan ke lapangan dengan kikuk. Aku begitu
gugup memasuki arena lapangan basket ini. Benarkah
aku dulu seorang pemain basket? Lalu mengapa aku merasa takut dengan semua ini
? Aku sangat gugup, bagaimana kalau aku tidak bisa melempar bola dengan benar?
Bagaimana kalau ....
“ Tenang saja, kita kan hanya bermain-main santai.
Tidak ada yang perlu ditakutkan ”, kata Abi tiba-tiba.
“ Iya, akan kucoba ”, kataku ragu-ragu.
“ Hush! Hush! Minggir kau kelinci imut! ”, kata
Kak Dido mengusir Abi.
“ Haa??? Kelinci? Imut? ”, kata Abi jengkel.
“ Memang kau seperti kelinci, udah gitu wajahmu
imut banget, bikin aku jijik ”, goda Kak Dido yang dengan senangnya mengejek
Abi.
“ Oh. Jadi aku ini lebih imut daripada kakak, ya?
”, kata Abi menantang Kak Dido.
“ Aku gak pernah bilang lo, kamu lebih imut
daripada aku. Semua orang juga tahu kalau aku ini lebih ganteng dari kamu,
kelinci imut ”, kata kak Dido.
Aku pun tertawa melihat perkelahian mereka seperti
anak kecil. Ledek-ledekan. Kakak selalu menjahili Abi. Sebenarnya aku kasihan
melihatnya di’bully’ terus, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak kuat melihat
tingkah mereka ini.
“ Sudah ah! Jadinya aku main sama siapa ini? ”,
tanyaku yang melerai pertengkaran mereka.
“ Aku ”, kata Kak Dido.
“ Aku ”, kata Abi tidak mau kalah,.
“ Aku, cantik ”, kata Kak Dido
“ Aku saja, aku kan sahabatmu ”, kata Abi
“ Aku ”
“ Aku ”
“ Aku ”
Mendengar pertengkaran mereka lagi membuatku
kesal, ini jadinya mereka mau ngajarin
aku apa nggak sih? Tiba-tiba Ran menarik lenganku dan membisikiku bahwa ia
yang akan mengajarinya. Aku tersenyum dan kami berlari ke arah ring basket. Ran
memintaku memegang bola, kemudian ia menyuruhku melemparnya, sayangnya masih
belum berhasil masuk. Lalu ia memintaku untuk mengulangnya, Ran bilang wajar
bila tidak masuk, tetapi jika aku sering latihan maka keakuratan bola akan
semakin meningkat.
Akhirnya pertengkaran aneh Abi dan Kak Dido
berakhir takkala mereka mendengar suara dentuman pantulan bolaku. Mereka berdua
pun tersenyum dan berjalan menepi ke pinggir lapangan.
“ Aku begitu bahagia melihatnya ceria seperti ini,
kak ”, kata Abi.
“ Tentu saja, melilhat senyumnya yang begitu
lepas, aku merasa bersyukur. Dia benar-benar kembali kepada kita ”, kata Kak
Dido menyahuti omongan Abi.
“ Kak! Bagaimana rasanya ? ”, tanya Abi tiba-tiba.
“ Rasanya apa? nanya kok gak jelas. Buat ambigu
tauk! ”, kata kak Dido kesal.
“ Rasanya terlupakan. Sampai saat ini, Sofia
bahkan belum mengingat diriku ”, kata Abi sedih. Ia terus memandangi Sofia yang
asyik bermain dengan Ran.
“ Hahahahaha ”, kak Dido tertawa, Abi menoleh
kearahnya dan melihat ada air mata yang keluar dan mengalir ke pipinya.
“ Rasanya seperti ini ”, kata Kak Dido seraya
menghela nafas panjang.
“ Apakah perasaanmu kepadanya sudah berubah karena
hal ini, Bi? ”, tanya kak Dido tiba-tiba.
“ Tentu saja tidak. Malah semakin kuat. Baik Sofia
yang dulu maupun Sofia yang sekarang. Aku mencintainya. Aku tak ingin
kehilangan dirinya. Sudah cukup aku khawatir karena kondisinya kemarin, kak.
Aku benar-benar tak ingin kehilangannya, lagi ”, Jawab Abi tegar.
“ Terima kasih, ya. Terima kasih sudah mau
menerima adikku. Terima kasih, ya ”, ucap kak Dido tiba-tiba. Abi terharu
mendengar kak Dido mengucapkan terima kasih padanya. Ia tak menyangka, kakakku
yang sangat senang menjahilinya ini memiliki sifat pria dewasa. Abi akhirnya
tau apa yang menyebabkan Aku begitu menyayangi kakaknya ini.
“ Kamu naksir aku, ya? ”, tanya kak Dido
tiba-tiba.
“ Enak aja, Nggak mungkin! Aku tu cintanya cuma
Sofia ”, jawab Abi sambil meledeknya.
“ Abisnya situ ngeliatin aku sampai nggak kedip lo
”, kata kak Dido. Mereka tertawa. Mereka tak menyangka bisa mengobrol seperti
ini. Kak Dido mulai bisa melepaskan Sofia kepada Abi.
Mendengar perkataan Abi barusan, Kak Dido merasa
begitu lega. Dalam pandangannya, Abi adalah lelaki yang baik dan sabar, ia
bahkan sengaja mengujinya untuk mengetahui watak aslinya. Ia benar-benar akan
mendukung hubungan mereka ini. Tentu saja ia merasa iri dengan Abi yang berani mengatakan
cintanya kepadaku.
Setelah itu Kak Dido memandangi Rani, melihatnya
bergerak kesana-kemari. Hatinya berdegup kencang. Ia tak begitu menyadari bahwa
Rani telah berhasil menarik perhatiannya. Tubuhnya yang tinggi semampai,
rambutnya yang hitam diikat satu dengan begitu manis. Kak Dido berpikir ia
benar-benar mencintai Rani.
TO BE CONTINUED~~~
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar