CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 10 Pengakuan
CHAPTER 10
PENGAKUAN
Kak Dido
benar-benar tidak bisa menghilangkan bayangan Rani dalam benaknya, ia menjadi
tidak fokus kuliah dan belajar. Apapun yang dilihatnya selalu
dihubung-hubungkan dengan Rani. Ia merasa seperti anak SMA yang baru bertemu
dengan cinta pertama. Tiba-tiba tersenyum, terkadang merasa galau. Jika Rani
berkunjung ke rumahnya untuk menjeengukku, Kak Dido merasa begitu bahagia. Jika
ada kesempatan, ia bahkan menguntit kegiatanku bersama Rani.
Kak Dido menyadari bahwa apa yang dilakukannya
telah keliru. Tidak sepatutnya ia menguping dan mengintip kegiatan adiknya
dengan Rani. Kak Dido berusaha memantapkan hati. Berhari-hari ia terus berpikir
tentang semua ini. Ia tidak ingin perasaannya mengganggu hidupnya. Ketika Kak Dido
sudah memiliki timing yang tepat untuk menyatakan cintanya, ia selalu
mengurungkan niatnya. Ia takut, takut untuk mendengar jawaban Rani. Ia takut
belum siap jika hasilnya tidak sesuai harapannya.
Di suatu Minggu di bulan Mei, Rani berkunjung ke
rumah Sofia bersama seorang pria yang tak dikenal Dido. Ketika ia membuka
pintu, Kak Dido terkejut Rani diantar oleh seorang pria muda yang begitu
mengusik hatinya. Siapa pria necis ini ?
Ada hubungan apa dia dengan Rani ? Aku, aku tiidak suka Rani dekat dengannya.
Kemudian Rani melambaikan tangan kepada pria itu
dan mengucapkan terima kasih karena telah diantar. Hari ini Rani berencana
pergi dengan Sofia. Sofia memintanya untuk menemani dirinya ke mall. Ia ingin
membeli es krim dan sekadar berjalan-jalan. Dido menyambut Rani dengan senyum
kecut. Ia merasa kesal dengan Rani. Kenapa
dia itu tidak peka? Pake acara bawa-bawa cowok lain lagi. Kesal Kak Dido.
Rani yang melihat ekspresi Kak Dido merasa heran. Ada apa dengan Kak Dido ya? Kayaknya dia
lagi kesel. Biarin deh! Kata Rani dalam hati.
Sudah beberapa bulan setelah aku bangun dari tidur
panjangnya. Ingatanku tentang orang tuaku perlahan mulai kembali, namun aku
masih belum sepenuhnya mengingat semua hal. Ketika aku memaksakan diri,
mendadak kepalaku pusing. Karenanya aku kesal, tetapi mau bagaimana lagi. Aku
kesal karena sampai saat ini aku bahkan belum mengingat tentang kakakku, Rani,
Abi, bahkan dirirku sendiri. Aku hanya mengingat potongan-potongan memori ketika
aku dan keluarga berlibur dan berkumpul. Ada beberapa wajah yang apabila
berusaha kuingat tidak muncul gambar wajahnya, seperti orang tanpa muka. Tetapi
aku berusaha tetap menjalani hari-hariku dengan baik dan penuh keceriaan.
Rani menarik lenganku untuk segera menuju mall.
Ketika kami menuruni tangga, Kak Dido menghadang kami. Ia mengatakan akan
mengantar dan menemani kami. Aku terkejut, karena kemarin ketika kuajak dia
menolak. Dia lagi dalam kondisi unmood
untuk ngemall. Kenapa sekarang dia
berubah pikiran, ya? Tanyaku dalam hati. Aku dan Rani saling melempar
pandang, aku menyerahkan semua keputusan di Rani. Lalu Rani pun mengangguk
tanda persetujuan. Kak Dido tersenyum senang dan berkata bahwa akan menyiapkan
mobil dulu. Lalu kami berpamitan kepada mama dan papa.
Ini adalah pengalaman pertamaku di mall setelah
aku bangun. Aku tidak sempat untuk sekadar berjalan-jalan. Waktuku banyak
terisi oleh terapi-terapi dan rehabilitasi. Untung saja, dokter mengijinkanku
untuk mengambil libur terapi selama sepekan ini, karena itu aku tidak ingin menyia-nyiakannya
walau sedetik pun. Kami berjalan mengelilingi mall dengan begitu riangnya. Rani
terus menggandeng tanganku, ketika aku mau melepaskannya ia menolak dengan
alasan takut aku kesasar karena masih belum sepenuhnya mengingat tempat ini.
Jadi dia memintaku untuk mengahapalkannya sekali lagi.
Aku melihat di depan toko musik ada seseorang yang
mirip seperti Abi. Aku berasalan ingin ke toilet di arah barat mall dan
berjanji untuk segera kembali. Awalnya Rani menawarkan diri untuk menemani,
namun kutolak. Aku beralasan sudah mengingat tempat ini. Kemudian aku berjalan
ke arah toko musik itu, Rani kutinggal berdua dengan Kak Dido.
@@@
Rani dan Kak Dido
Rani begitu khawatir
dengan Sofia, namun ia mencoba percaya kepadaku. Tiba-tiba atmosfer diantara
mereka berdua berubah. Mereka menjadi sangat canggung. Akhirnya mereka hanya
berdiam diri. Tak lama setelah itu, hape Rani berbunyi, ia melihatnya dan benar
ternyata ada telepon masuk, ia pun mengangkatnya.
“ Halo! Ada apa, Refan ? ”
“ Maaf Ran kalau mengganggu, aku minta maaf
kayaknya nanti aku nggak bisa jemput kamu pulang. Mama memintaku menemaninya ke
rumah nenek ”,sahutnya.
“ Oh, tentang itu! Iya, santai aja. Gampanglah
kalau urusan itu. Aku titip salam ya buat mamamu dan nenek. Aku juga minta maaf
karena belum sempat berkunjung ke rumahmu. Nanti kalau ada waktu aku akan
kesana bareng mama, Fan ”,kata Ran.
“ Oke, thanks ya Ran! Sorry banget ”, katanya
“ Okay, Bye ”, Kata Ran yang kemudian menutup
telepon.
...
Di sisi lain Kak Dido begitu ingin tahu siapa yang
menelepon Rani. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ia bahkan
mendengar orang tua mereka disebut-sebut. Apakah
yang menelepon Rani itu cowok yang mengantarnya ke rumah ya? Jangan-jangan dia
itu pacar Rani ? Ah! Kenapa aku harus marah sih? Dia kan bukan siapa-siapanya
aku. Terseerah Rani lah, mau pacar kek, mau temen kek, aku gak peduli!
Raut wajah Kak Dido benar-benar suram saat itu.
Memang sih, ia bilangnya tidak peduli tapi ekspresi wajahnya tidak bisa
dibohongi. Rani yang ikut kesel melihatnya pun kemudian menegur Kak Dido.
“ Kak! Kenapa sih, wajahnya suram banget. Kebawa
sampai sini, loh! ”, Kata Rani yang meliriknya.
“ Ih! Suka-suka aku, lah! Dasar! ”, sahut Kak Dido
dengan nada kesal.
“ Yeee... ditanyain malah sewot. Lagi PMS kayaknya
nih orang ”, kata Rani menggerutu.
“ Sejak kapan kau peduli denganku? Kau bahkan
hanya peduli dengan Sofia ”, kata Kak Dido tiba-tiba.
“ Kakak ini kenapa sih? Aneh banget deh! Jelas
dong aku peduli dengan Sofia, dia itu sahaabat aku ”, jawab Rani kesal dengan
Kak Dido.
“ Aku.... Aku.. Aku gak suka kamu pergi dengan
cowok lain! ”
“ Ha? Memang aku siapanya kakak? Pacar juga bukan
”, Kata Rani kesal.
“ Bukan! Memang bukan! Tapi akan! ”, kata Kak Dido
menatap Rani dan tiba-tiba memegangi tangan Rani. Rani begitu terkejut, ia
berusaha melepaskan diri namun Kak Dido menahannya begitu kuat.
“ Dengarkan aku, Rani! Entah kau membenciku atau
menganggapku gila. Ya! Aku benci melihatmu dengan pria lain karena aku gila
telah mencintaimu. Aku telah tergila-gila oleh Rani Kartika sahabat dari Ananda
Sofia. Aku ingin dia terus bersamaku, menjadi sahabat adikku dan kekasih
hatiku. Maukah kau menerimanya, Rani ? ”, Kata Kak Dido yang menyatakan
perasaannya kepada Rani.
Rani begitu terkejut mendengar Kak Dido menembak dirinya. Ia merasa sangat
bahagia, saking bahagianya ia merasa itu adalah sebuah mimpi. Kemudian ia
mencubit pipi Kak Dido.
“ Auw! Aduduh! Sakit tauk, Ran! ”, keluh Kak Dido
yang meringis kesakitan.
“ Jadi ini bukan mimpi? Jadi yang diucapin kakak
tadi itu beneran ? ”, Tanya Rani memastikan.
“ Ten.. Tentu saja. Enak saja bilang ini cuma
mimpi. Kamu pikir aku nggak gugup buat bilang kayak begituan ke kamu, dasar! ”,
kata Kak Dido memukul pelan dahi Rani.
“ Lalu ? ”, lanjut kak Dido.
“ Hm.. Enaknya gimana ya, Kak? Hehehe ”, kata Rani
menggoda Kak Dido.
“ Terserah elu deh, Rani. Yang penting hatiku
sudah lega ”, kata Kak Dido yang memalingkan muka dari Rani.
Melihat tingkah kak Dido seperti ini, Rani
akhirnya menyadari bahwa ia benar-benar mencintai kakak dari Ananda Sofia ini.
Kemudian Rani tersenyum dan menarik wajahnya lagi agar menatap dirinya.
“ Tentu saja! Mana bisa aku menolak cinta dari
lelaki yang sudah aku cintai sejak dulu, lelaki yang selalu aku kagumi, lelaki
yang selalu membuatku khawatir ketika aku berkunjung ke rumahnya ia tidak ada
ditempat. Lelaki yang dia adalah kakak dari sahabatku ”, kata Rani tegas.
“ Wuah! Benarkah itu ? Aku... aku benar-benar
senang. Aku... Aku.. Aku bahagia banget. Yeay! Yeay! Dia sekarang kekasihku!
Yeay! ”, kata Kak Dido girang. Rani benar-benar tidak menyangka, kak Dido yang
charming dan cool ini bisa juga histeris seperti ini. Ran benar-benar
dikejutkan dengan sikapnya ini, dia semakin mencintainya.
Mereka terlalu asyik berdua sampai lupa kalau
Sofia belum juga kembali dari toilet. Rani melihat jam tangannya, sudah sekitar
30 menit lebih, Sofia bahkan belum kembali. Kak Dido menelepon hape Sofia namun
jaringan sibuk. Mereka memutuskan menunggu sebentar lagi, baru akan mencarinya.
@@@
Aku seperti melihat Abi di
toko musik itu, aku berusaha mendekatinya. Aku ingin memastikan apakah itu
benar Abi. Setibanya di depan toko, lelaki yang kulihat itu memang Abi. Dia
nampak asyik melihat kaset-kaset dari band-band luar negeri dan dia mengambil
kaset album dari One Direction – Night
Memories. Aku terus memperhatikannya, dadaku berdegup kencang, aku begitu
gugup. Melihatnya saja sudah membuatku bahagia, melihatnya tersenyum dan ceria
seperti itu sudah cukup bagiku.
Ketika aku akan kembali kepada Rani dan Kak Dido,
aku terkejut melihat seorang wanita mendekati Abi dan memegang kaset yang ada
di tangan Abi. Wanita dengan rambut hitam panjang terurai dan badan tinggi
semampai menggunakan blus warna biru muda dengan motif garis hitam di ujung
lengannya. Siapa wanita itu ? Apakah dia kekasih Abi ?
Aku begitu penasaran dengannya. Setelah membeli
kaset yang tadi dipegangnya itu. Aku melihat mereka keluar bersama, aku
mengikuti mereka diam-diam. Mereka asyik bersenda gurau, mereka nampak akrab
sekali. Kemudian, wanita itu menarik lengan Abi mengajaknya masuk ke toko
pakaian wanita. Ia mengambil beberapa model sweater rajut dan syal yang saat
ini sedang menjadi tren. Abi menunjuk
ke salah satu syal bewarna biru muda yang sesuai dengan baju yang dikenakan
wanita itu. Entah mengapa aku merasa sedih, aku begitu sedih melihat kedekatan
mereka.
Tidak sampai situ saja, aku terus mengikuti
mereka. Sekarang ini Abi yang mengajaknya masuk ke sebuah toko jam. Ia memilih
beberapa jam tangan wanita, mulai dari yang bewarna merah muda hingga hitam.
Aku menduga ia akan membeli sebuah jam. Tapi
untuk siapa ? Apakah untuk dirinya sendiri ? Ataukah untuk wanita itu ?.
Hatiku berkecamuk, aku merasa tidak asing dengan
wanita itu. Jika memang benar mereka pacaran, lalu mengapa Abi tidak pernah
cerita kepadaku tentang hal ini. Aku... Aku... aku sudah tidak mau mengikuti
mereka lagi. Hatiku terasa perih melihat keakraban mereka. Aku begitu sedih,
aku ingin menjerit dan memanggil namanya tetapi siapakah aku ? Siapakah aku
sehingga aku harus memintanya untuk menemaniku.
Tiba-tiba banyak kepingan-kepingan memori muncul
di benakku. Aku berusaha mengingat memori itu. Aku merasa memori ini tentang
wanita itu dan Abi. Aku berusaha mengingat dan terus mengingatnya.
“ Dia cinta pertamaku, Sofia ”, Aku mendengarnya
dengan jelas. Ya, itu suara Abi. Itu suara Abi.
“ Dia adalah cinta pertamaku ”, kata-kata itu
terus-menerus terulang.
“ Cukup! Hentikan! ”, kataku sambil memegangi
kepalaku yang mulai berputar.
“ Hai! Aku Mira ”, sekarang aku mendengar suara
seorang wanita. Mira ? Cinta pertama Abi
? Apa maksud semua ini ?
“ Mira adalah cinta pertamaku ”, Iya, aku
mendengarnya Bi. Sangat jelas.
“ Cukup! Cukup! ”, teriakku tiba-tiba.
Kepalaku terasa sakit sekali, rasanya seperti
tertusuk ribuan jarum dan hampir meledak. Aku tidak kuat menahannya. Aku
berlari dan terus berlari sambil memegangi kepalaku. Terlalu sakit untuk
kutahan. Suara-suara itu tidak mau pergi. Kepingan-kepingan memori itu terus
mengahantuiku. Aku tidak bisa mengingat mereka seutuhnya. Kepalaku seperti
dihantam hujan kaca. Begitu sakit, sakit sekali. Pandanganku semakin kabur. Aku...
Aku... Aku.. Aku lelah.
“ Sofia! ”, teriak seorang lelaki yang begitu ku
kenal. Aku berhenti dan melihatnya, kemudian aku terjatuh dan gelap.
@@@
Ketika aku berteriak ternyata Abi mendengarnya. Ia
melihatku yang kesakitan dan menghampiriku, namun aku berlari dan terus
berlari. Abi berusaha mengejarku, ia nampak khawatir. Ia berusaha keras
mengejarku, namun kerumunan orang yang berkunjung ke mall ini sedikit
menghambatnya. Abi melihatku berlari ke arah koridor bawah, ia terus
mengikutiku.
“ Sofia! ”, panggil Abi. Namun aku tak
mendengarnya.
“ Sofia! ”, aku masih terus saja berlari.
“ Sofia! ”, aku berhenti dan menoleh ke arah suara
itu namun setelah itu aku tak sadarkan diri.
Sudut
Pandang Abi
Melihat Sofia terjatuh, Abi berlari
dan mengangkat tubuhnya. Dia berusaha menyadarkannya dan memanggil namanya.
Orang-orang yang berada di sekitar pun mengerumuni Abi yang sedang menopang
tubuh Sofia. Kemudian mereka menyarankan Abi untuk membawanya ke klinik
terdekat, Abi mengucapkan terima kasih dan segera mengangkatnya. Ia akan segera
membawa Sofia ke rumah sakit tempatnya biasa dirawat karena disanalah dokter
yang menangani Sofia berada.
Abi menyetir mobilnya dengan kecepatan
tinggi, ia bahkan menerobos beberapa lampu lalu lintas. Ia begitu khawatir, Abi
memegang tangan Sofia dan memanggil namanya. Namun Sofia masih saja belum
sadarkan diri.
“ Sofia! Sofia! Bertahanlah! Tetaplah
bersama kami ”, panggilnya.
Untung saja jarak mall dan rumah sakit
Pelita Hati tidak begitu jauh. Sesampainya di depan UGD, Abi langsung membopong
Sofia ke dalam dan meminta suster untuk segera menanganinya. Abi juga bilang
bahwa ia salah satu pasien dokter Hendra dan meminta dokter Hendra untuk segera
merawatnya. Ia begitu khawatir. Lalu seorang suster menyuruh Abi untuk
menyelesaikan administrasi terlebih dahulu. Ia segera ke ruang administrasi dan
mengisi beberapa berkas, hampir saja lupa untuk mengabari keluarganya. Kemudian
ia menghubungi kak Dido,
Tlirtt,, tlirtt,,
Kak Dido dan Ran mencari Sofia ke
seluruh sudut mall. Namun mereka masih belum menemukannya.
Tlirrt,, Tlirrt,,
Kak Dido menghentikan langkahnya. Ran
pun mengikutnya. Mereka berpikir itu adalah telepon dari Sofia. Ketika melihat
nama yang menelepon ternyata Abi, kemudian Kak Dido mengangkatnya.
“ Ya, Halo! Aku lagi sibuk, Bi. Maaf
ya, Sofia hilang ”, kata Kak Dido tergesa-gesa. Ketika akan mematikan telepon
itu Abi berteriak,
“ Tunggu kak! Sofia ada bersamaku ”,
kata Abi
“ Apa? Benarkah? Lalu kalian dimana?
“, tanya Kak Dido kaget.
“ Aku tadi melihatnya berlari kemudian
pingsan kak. Sekarang aku sudah ada di rumah sakit Pelita Hati ”
“ Bagaimana ini bisa terjadi ? ”,
tanya Kak dido panik.
“ Akan kuceritakan setelah kakak
sampai disini! Aku harus menemani Sofia dulu, kak. Aku harus memastikan dia
baik-baik saja ”, kata Abi.
“ Oke, aku akan kesana. Terima kasih
kamu sudah membawa Sofia kesana ”, Kata Kak Dido yang langsung berlari, Rani
yang masih belum tahu itu mengikuti Kak Dido. Ia tidak bertanya-tanya tentang
pembicaraan mereka, namun ia yakin ini ada hubungannya dengan Sofia.
Selama diperjalanan, Kak Dido terlihat
begitu panik. Rani menepuk pundak kak Dido dan menenangkan dirinya. Mereka
begitu khawatir, Rani juga sudah mengabari kedua orang tua Sofia. Mereka hanya
berharap tidak akan terjadi suatu yang buruk pada Sofia.
Setibanya disana mereka langsung menuju UGD
rumah sakit, mereka melihat ada Abi yang sedang berbicara dengan dokter jaga.
Mereka menananyakan kondisi Sofia, Abi bilang saat ini Sofia sedang melakukan
pemeriksaan menggunakan X-Ray, ia juga akan melakukan beberapa pemeriksaan
seperti MRI dan pengambilan sampel darah.
Suster meminta mereka menunggu di
lobby karena setelah pemeriksaan Sofia akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Kata Abi sampai akan pemeriksaan tadi Sofia masih belum sadarkan diri. Kedua
orang tua Sofia sudah datang, kak Dido menenangkan mereka dan menjelaskan
kondisi Sofia seperti yang telah dijelaskan oleh Abi.
Mama memarahi Kak Dido yang lalai
menjaga Sofia. Mama bahkan hampir menamparnya. Kak Dido menangis dan meminta
maaf atas kelalaiannya menjaga Sofia. Setelah itu, mama memeluknya dan meminta
maaf. Mama Sofia bilang kepada Kak Dido bahwa ini bukan salahnya, mamanya
benar-benar minta maaf. Lalu Kak Dido menangis, ia menangis begitu kencang.
Tubuhnya bergetar bahkan sempat terjatuh. Mamanya terus memeluknya, membelai
kepalanya, dan mencium keningnya.
Papa juga menguatkan hatinya. Mereka
bilang itu bukan kesalahannya. Ini semua kecelakaan. Lalu mereka menanyakan
kepada Abi kronologisnya. Abi menjelaskan apa yang ia tahu mulai ia mendengar
teriakan Sofia, mengejarnya, hingga melihat Sofia jatuh dan tak sadarkan diri.
“ Mengapa Sofia bisa berada jauh dari
tempat kami berpisah ? ”, pikir Rani.
Ia tak bisa memprediksi
kemungkinan-kemungkinan Sofia pergi sejauh itu dari mereka. Apa ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak
ia lihat ? Apakah ia mengingat sesuatu yang mengejutkan dirinya hingga ia
memaksakan diri untuk terus berpikir dan mengingatnya ?
Kemudian mereka melihat Sofia
dipindahkan ke ruang perawatan bersama dengan dokter Hendra. Dokter Hendra
meminta orang tua Sofia untuk ke ruangannya untuk membicarakan hal ini. Namun,
Kak Dido, Abi, dan Rani memohon untuk diijinkan masuk dan mendengar pembicaraan
mereka. Orang tua Sofia pun tidak keberatan, karena mereka juga orang-orang
terdekat Sofia. Kemudian dokter mempersilakan mereka untuk ikut serta.
Dokter menjelaskan dari hasil
pemeriksaan Sofia, hal yang mereka takutkan tidak terjadi. Benjolan di kepala
Sofia memang sudah tidak ada. Namun dokter menjelaskan kemungkinan benjolan itu
muncul lagi riskan terjadi. Namun dokter menjelaskan kemungkinan yang lain,
dokter menanyakan apakah Sofia akhir-akhir ini terlalu strees dan banyak
tekanan atau tidak. Karena hal ini akan sangat memengaruhi mental Sofia. Dokter
juga mengatakan bahwa Sofia belum boleh mengingat dan berpikir terlalu keras
karena fungsi otaknya yang belum pulih benar.
“ Saya juga tidak tahu pasti, dok!
Tadi waktu kami keluar bersama, Sofia begitu ceria dan bahkan dia mengajak saya
dan Rani berkeliling, dokter ”, tutur Kak Dido.
“ Saya mengerti, mungkin ada suatu hal
disana yang menyebabkan ini terjadi. Namun, saya tidak sarankan kalian
mengungkitnya lagi ketika Sofia sadar kecuali ia yang bertanya sendiri atau
ketika kalian melihat ada perubahan dari tingkah lakunya. Tetapi selama ia
sadar kita harus membuatnya terus dalam kondisi nyaman dan aman ”, nasihat
dokter Hendra.
“ Terima kasih banyak, dokter. Terima
kasih ”, kata papa dan mama Sofia. Kami pun bergegas ke kamar inap Sofia.
To Be Continued~~
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar