CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 8 Hari Besar
CHAPTER 8
HARI
BESAR
30 Januari – Pagi ini aku akan melakukan
operasi pengangkatan benjolan di kepalaku. Mulai kemarin malam, aku sudah
berpuasa. Keluargaku dan sahabatku mengiringiku ke ruang operasi. Mereka
menguatkan diriku dan menyuruhku untuk tegar. Mereka berharap aku kembali
kepada mereka dengan selamat.
Mama,
papa, eyang uti, dan Kak Dido bergantian mencium keningku. Ran memelukku dengan
sesekali sesenggukan. Aku tahu ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak
menangis. Aku membelai kepalanya dengan lembut. Kemudian Abi menggenggam
tanganku dan memelukku. Aku pun menepuk punggungnya dan membelai kepalanya.
Kemudian aku masuk ke dalam ruang operasi.
Aku
hanya melihat sebuah ruangan yang agak gelap. Penuh dengan warna hijau, mulai
dari pakaian suster dan dokter, higga pakaianku sendiri. Setelah itu, suster
memberiku obat bius. Dokter Hendra melihatku, ia memintaku untuk berhitung
sebanyak mungkin sampai aku tertidur. Dokter memintaku untuk terus berdoa dan
berdoa. Ia bilang akan melakukan yang terbaik demi kesembuhanku.
Aku sudah ikhlas tentang apapun yang terjadi hari
ini. Ya Allah, jika memang aku masih berkesempatan untuk hidup lebih lama.
Berikanlah kemudahan dan kelancaran dalam operasi ini. Jika memang ini adalah
hari terakhirku di duniamu, berikanlah kekuatan hati kepada mereka yang sedang
menungguku di depan ruang operasi. Bimbing mereka sehingga mereka tidak
menyesali apapun jika memang aku harus pergi lebih dulu dari mereka. Amin.
Pandanganku
mulai kabur, aku mengantuk sekali. Awalnya aku juga takut untuk memejamkan
mata. Tetapi rasa kantuk yang luar biasa kuat tidak mampu menahanku. Semua
pandanganku gelap seketika.
Di depan ruang operasi
Mama
dan papa Sofia begitu cemas, mama Sofia bahkan masih saja menangis, papa
berusaha tegar. Ia memeluk mama Sofia dan menenangkannya. Papa Sofia mengingat
betul pesan Sofia tepat sebelum masuk ke ruang operasi.
“ Pa,
Papa tidak boleh lagi menangis, ya. Papa harus bisa buat mereka tegar dan lebih
kuat, demi aku, mama, dan kak Dido. Aku yakin papa adalah papa yang kuat dan aku
benar-benar beruntung menjadi anak papa ”,
Abi
duduk termangu memandangi pintu operasi. Ia tak punya gairah untuk melakukan
apapun. Ia begitu khawatir dengan operasi ini. Abi senantiasa bertasbih untuk
kesembuhan Sofia. Ia begitu takut kehilangan wanita yang dia adalah sahabat dan
wanita yang begitu dicintainya. Abi pun meminta izin kepada semua orang disana
untuk pergi keluar sebentar. Sebenarnya ia ingin ke mushola rumah sakit.
Abi
ingin berdoa kepada Allah, meminta RidhoNya demi kelancaran operasi Sofia.
Dalam sujudnya, ia terus memanjatkan pujian kepada Allah dan Rasulullah. Ia
berdoa dan terus berdoa mengharapkan yang terbaik. Air matanya pun terus
berlinang membasahi pipinya.
Sebenarnya
ketika Abi pamit kepada semua orang, Rani pun melakukan hal yang sama. Ia ingin
mengetahui kemana Abi pergi. Ia begitu khawatir dengan Abi yang nampak begitu
lesu. Begitu mengetahui Abi sedang sholat Rani pun tak kuasa menahan tangisnya.
Ia bersyukur memiliki sahabat sepertinya dan Sofia. Ia juga bersyukur ketika tahu
bahwa Abi dan Sofia saling mencintai. Kemudian ia pun sholat dan mengaji selagi
menunggu operasi.
Ketika
mereka berdua selesai berdoa, Rani memanggil Abi di pintu depan musholla. Rani
menghampiprinya dan menjabat tangannya. Ia berusaha menenangkan hati Abi dan
mengucapkan banyak terima kasih padanya karena sudah menerima cinta Sofia. Abi
pun menjelaskan bahwa ia tidak melakukan itu dengan terpaksa. Ia tulus
mencintainya. Dan ia juga menjelaskan bahwa persahabatan mereka tidak akan
berubah walau terhubung dengan rasa cinta. Abi menjelaskan ia dan Sofia sangat
menyayangi Rani. Rani pun terharu mendengarnya. Ia kembali menitikkan air mata.
Abi menepuk pundaknya dan meminta Rani untuk lebih tegar demi Sofia.
Rani
dan Abi kembali menuju depan ruang operasi, mereka melihat orang tua Sofia
masih menunggu, tetapi eyang uti dan kak Dido sudah tidak ada. Abi bertanya
kepada papanya Sofia tentang keberadaan mereka. Ia menjelaskan bahwa kak Dido
mengantar eyang uti ke rumahnya untuk beristirahat. Abi pun meminta kedua orang
tua Rani untuk pulang dan beristirahat, namun mereka menolaknya. Mereka ingin
mendampingi Sofia.
Kata
dokter Hendra operasi ini termasuk operasi besar. Operasi seperti ini memang
meemakan waktu yang cukup lama. Dokter memperkirakan operasi akan berlangsung
selama 14 jam. Dokter Hendra juga berkata bahwa semua keluarga diminta siap
apapun yang terjadi nantinya. Ia juga bilang bahwa akan berusaha semaksimal
mungkin untuk menyelamatkannya.
@@@
“ Sofia! Sofia! ”, panggil
seseorang.
“ Bangunlah Sofia! ”,
katanya lagi.
Aku membuka mata. Hamparan
langit biru menyambutku, angin berhembus lembut menerpa kulitku. Kulihat kanan
dan kiriku, hanya ada ladang rumput yang begitu subur. Dimana ini? begitu menakjubkan.
Aku pun bangun, tepat dihadapanku ada sesosok
wanita cantik menggunakan gaun serba putih. Dia nampak memesona, walau aku
wanita, aku juga sangat mengagumi kecantikannya. Dia berjalan mendekatiku dan
mengulurkan tangannya. Wanita itu tersenyum kepadaku. Tanpa sadar, aku menerima
uluran tangannya dan kami pun berjalan bersama.
Aku menikmati pemandangan di tempat ini, langit
begitu cerah tetapi tidak terasa panas. Angin berhembus membuat bunga-bunga
berterbangan. Aku terus berjalan mengikuti wanita itu. Kulihat di depan sana
terdapat sebuah pintu.
“ kemana kita akan pergi? ”, tanyaku heran
Wanita itu hanya tersenyum dan terus berjalan
menuju pintu itu. Aku berhenti, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan yang aku
tidak ketahui tujuannya. Aku memintanya untuk berhenti dan menjelaskan. Namun
dia tetap tersenyum dan menarik tanganku. Mau tak mau aku mengikutinya.
“ Papa? Mama? ”, kataku terkejut. Aku begitu
bahagia melihat mereka sedang tertidur di kursi. Aku melihat ke arah kanan,
kulihat Rani pun tertidur pulas. Aku mendekatinya, melihat wajahnya yang polos
itu. Lalu disebelahnya aku melihat Abi yang hampir tertidur, aku duduk bersimpu
di depannya, aku begitu bahagia melihatnya. Tetapi dia nampak begitu letih dan
lelah. Aku memandanginya yang sedang menunduk.
Mengapa
dia tidak menyadari kehadiranku ?
“ Bi! Abi! Ini aku, Sofia ”, kataku
....tidak
ada respon
“ Abi! Ini aku Sofia ”, kuulangi
... tetap
tidak ada respon
Aku membelai kepalanya
tetapi tidak terasa apapun. Aku memegang tangannya tetapi seolah tertembus.
Kemudian kak Dido datang dari arah Barat. Dia berlari menghampiri kami. Aku
yang begitu senang melihatnya, ikut berlari dan berusaha memeluknya.
Aku begitu terkejut, Kak Dido menembus diriku. Aku
berbalik dan melihatnya menghampiri pintu operasi yang belum terbuka. Kemudian
mama bangun dan memeluk kak Dido. Kak Dido duduk di sebelah mama, mama
menanyakan bagaimana kondisi eyang uti. Kakak pun menjawab beliau sudah lebih
baik setelah istirahat, kakak menemaninya sampai eyang uti tertidur. Kakak pun
menanyakan kondisiku, namun mama berkata bahwa dokter belum keluar sama sekali.
Ini sudah lewat dari 14 jam yang dibicarakan oleh Dokter Hendra. Mama begitu
khawatir.
Aku melilhat wajah mereka begitu letih. Aku sedih,
mereka semua jadi kecapekan karena diriku. Aku selalu merepotkan mereka. Aku
menghampiri mama, kuusap air matanya itu namun sia-sia. Bahkan tanganku tak
mampu dirasakannya. Aku begitu bingung, aku bersama mereka tetapi tidak ada
satupun dari mereka yang menyadariku.
“ Mama jangan nangis lagi, Sofi ada disini. Di
sebelah mama. Mama jangan nangis lagi ”, kataku terisak. Aku terus berusaha
mengusap air mata yang jatuh dari matanya yang sayu itu namun tak berarti
apa-apa.
“ Ma! Kak! Aku disini, lihat aku! Aku disini ”,
kataku lagi.
Mendengar tangisan mama, Abi terbangun. Kulihat ia
langsung melihat jam dan menghampiri mereka.
“ Ini sudah jam sepuluh malam. Apakah dokter
Hendra sudah keluar? Mengapa lampu operasi itu masih menyala? ”, tanya Abi.
“ Aku juga baru datang, Bi. Aku tidak tahu mengapa
bisa lewat dari rencana. Kita harap semua akan baik-baik saja ”, kata Kak Dido
menenangkan Abi dan mama yang masih sesenggukan.
Melihat Abi yang cemas, aku mendekatinya. Ku tepuk
pundaknya dan melambaikan tangan di hadapannya, ia juga bahkan tidak menyadari
kehadiranku.
“ Bi! Aku ada disini! Kamu juga kenapa, Bi? Aku
ada disini ”, kataku kepadanya.
Abi tidak merasakan apapun. Aku pun melihat
sekeliling. Aku butuh penjelasan. Aku begitu kalut. Akku bahagia bisa bertemu
dengan orang-orang yang kucintai, tetapi kenapa mereka tidak bisa melihat
ataupun menyadari keberadaanku disini. Aku terus mencari wanita yang bersamaku
tadi, aku melihat sekeliling dengan teliti.
Itu dia. Kataku dalam hati, menunjuk wanita di pojok
ruangan itu. Aku berlari menghampirinya, memegang tangannya, dan memintanya
untuk menjelaskan apa yang terjadi. Mengapa
tidak ada yang menyadari keberadaanku ? mengapa aku disini ? bukankah
seharusnya aku ada di dalam ruang operasi ?
Wanita itu tersenyum, menyentuh pipiku lembut dan
mengusap kepalaku.
“ Kita memang sedang di rumah sakit dimana kau dioperasi,
Sofia. Tetapi kita sedang berada di dimensi yang berbeda dengan mereka ”,
tuturnya lembut.
“ Dimensi apa? apanya yang berbeda. Aku tidak
memahaminya sama sekali ”, kataku bingung.
“ Kamu memanglah Sofia yang sedang menjalani
operasi. Tetapi kamu yang sekarang adalah roh dari ragamu disana. Karena itulah
mereka tidak bisa melihatmu ”, lanjutnya.
“ Tetapi kenapa bisa begini ? lalu apa artinya ini
? ”, kataku bingung. Aku merasa begitu ketakutan.
Ku pandangi kedua jemariku. Kuraba wajahku.
Kulihat sekeliling sekali lagi. Tidak ada yang berubah. Aku benar-benar bingung
dan tidak percaya.
“ Kamu keluar dari ragamu. Tetapi kalian masih
terhubung, ragamu masihlah milik jiwammu ini. Namun, ragamu terlalu lemah ”,
lanjutnya.
“ Apa maksudmu ? kenapa ragaku bisa terlalu lemah
? ”, heranku.
Wanita itu menarikku dan mengajakku masuk ke dalam
ruang operasi. Wanita itu menjelaskan bahwa aku telah mendengar bahwa waktu
keberlangsungan operasi ini melebihi rencana yaitu 14 jam. Ia mengajakku untuk
mengetahui kebenarannya.
“ Lihatlah! ”, kata wanita itu.
Aku melihat dokter Hendra sedang menutup bekas
operasi. Suster berkata bahwa tekanan darahku tidak stabil. Mereka bergerak
cepat, suster mengambil serum untuk membuatku stabil. Dokter Hendra memberi
tubuhku efek kejut dengan listrik. Namun alat itu masih menunjukkan grafik yang
tidak stabil. Aku melihatnya dengan rasa takut. Bagaimana ini bisa terjadi ?
aku ada disini, kenapa ini semua bisa terjadi ? bagaimana caranya agar aku bisa
kembali ?
Aku menangis dan menangis. Aku berteriak menyuruh
diriku sendiri untuk tetap bertahan. Selama lima menit dokter dan suster terus
mengupayakan kestabilanku. Dokter Hendra terus-menerus memanggil namaku.
Sofia... Sofia.. Bertahanlah... Sofia...
Bulu kudukku bergetar, aku takut. Bagaimana
caranya agar aku bangun, padahal aku ada disini ?
Dokter meminta suster untuk mengabari keluargaku
di depan, dokter meminta semua berdoa dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Aku melihat suster berlari keluar ruang operasi. Aku mengikutinya.
“ Bagaimana suster? Kenapa operasi ini lebih lama
dari perkirakan ? ”, kata papa.
Mereka semua berdiri menghampiri suster itu.
“ Mohon bersabarlah, Pak. Saya diminta dokter
untuk menyampaikan bahwa sekarang ini kondisi Sofia sedang anfall ( kritis ), dokter mengusahakan kestabilan kondisinya.
Operasi telah dilakukan, tetapi sepertinya Sofia mengalami pasca trauma setelah
operasi itu sehingga tubuhnya kejang dan tidak stabil. Ibu dan bapak serta
semua keluarga diharap bersiap dan terus berdoa demi kebaikan Sofia ”, kata
suster.
“ Suster bercanda, kan? Putriku itu masih muda,
dia begitu kuat, kenapa suster keluar dengan membawa berita seperti ini. Kenapa
suster ?. Kenapa! ”, mama begitu histeris.
Mama menangis sejadi-jadinya. Papa memeluknya,
berusaha menenangkan hatinya. Kulihat kak Dido memegangi pundak papa dan
menangis tersedu-sedu. Rani pun terlihat sedih dan Abi memeluknya pula. Mereka
begitu sedih, apa yang bisa kuperbuat agar air mata mereka tidak lagi jatuh ?
“ Aku ada disini. Tidak bisakah kalian melihatku ?
”, keluhku.
“ Prahara macam apa ini ? apa yang sebenarnya
terjadi ? Aku... Aku... Aku takut disini. Aku takut disini sendirian. Mama!
Papa! Kak Dido! Rani! Abi! Tolong aku! ”, aku duduk bersimpuh di hadapan meeka
semua, aku tak kuasa menahan ini semua. Perkara apa yang telah berlaku ini, ya
Allah ?
“ Ma! Pa! Tolong aku ! Aku takut disini sendirian.
Aku takut, Ma. Aku takut ”, kataku sambil memegang tangan mama walaupun mungkin
beliar tak merasakannya.
“ Sofia! Sofia! Sofia! ”, panggil mama seraya
melihat kesana kemari.
“ Sofia sayang, Sofia anak mama ”, panggilnya
lagi.
“ Mama kenapa? Tenang, Ma! ”, kata papa
menenangkannya.
“ Mama tidak apa-apa, Pa. Mama mendengar suara
sofia menangis barusan. Mama tahu Sofia sedang berjuang disana. Mama tahu dia
juga sangat ketakutan. Mama ini mamanya Sofia, Pa. Mama ingin menemaninya. Mama
tahu, dia bersama kita, Pa. Sofia ada disini. Aku bisa merasakannya”, kata mama
yang masih sibuk mencariku, sesekali beliau sesenggukan.
Aku merasa begitu sedih melihat mereka khawatir akan
kondisinya.
Apa
maksud ini semua ?
Kenapa
takdir seperti mempermainkan kita
Aku ada
disini
Tetapi
mereka bahkan tidak menyadariku
Aku takut
Aku
sendirian
Tolong....
Tolong...
Papa menahan mama dan langsung memeluknya. Mama
meronta, memaksakan diri untuk menemuiku. Papa menolaknya, kak Dido pun
menghampiri mama dan memintanya untuk membesarkan hatinya. Abi berjalan menuju
pintu operasi, ia menangis tanpa bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya.
Aku merasa begitu lemas, untuk bangun pun aku
sudah tak sanggup. Ketika aku akan terjatuh, wanita yang menemaniku menahanku
dan membawaku duduk. Ia tetap tersenyum kepadaku. Aku sudah tidak kuat untuk
berdiri, aku merebahkan diri ke pundaknya setelah mendapat persetujuannya. Aku
menangis dan terus menangis. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali ke
dalam ragaku.
Sampai saat ini pun, aku tidak tahu siapa wanita
yang terus mendampingiku. Dia terus tersenyum dan sabar mendampingiku. Wanita
itu membelai kepalaku dengan lembut.
“ Aku adalah bagian darimu, Sofia. Aku ada untuk
membimbingmu kembali. Janganlah kau bersedih. Janganlah ada yang kau sesali ”,
kata wanita itu,
“ Aku takut, aku bingung. Jika aku boleh meminta
sekali lagi, aku ingin tetap bersama mereka. Aku ingin terus hidup bersama
mereka ”, pintaku.
“ Apapun yang terjadi nanti, tetaplah menjadi
Sofia yang ceria, bahagia, dan penuh syukur ”. nasihat wanita itu.
“ Apakah ini semua hanya mimpi ? Apakah ini tidak
nyata ? ”, tanyaku.
“ Itu terserah padamu, tetapi mungkin kau tidak
akan lagi mengingatku atau mungkin yang lainnya ”, kata wanita itu penuh
rahasia.
Aku menjadi begitu bingung, tapi kuhiraukan
pernyataan terakhirnya. Aku begitu cemas, apakah aku bisa kembali kepada
mereka. Tiba-tiba aku mengantuk. Tubuhku terlalu lelah, entah apa yang terjadi,
tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
SUDUT PANDANG ABI
Abi begitu cemas menunggu
kabar dari dokter, dia begitu kalut. Ia takut. Ia khawatir dengan keselamatan
Sofia. Rani yang melihat Abi gelisah, berusaha menyemangatinya. Mereka
berpegangan tangan dan berdoa.
Setelah itu Dokter Hendra keluar, mereka semua
menghampirinya. Dokter Hendra mengucapkan banyak syukur, karena Sofia telah
kembali bersama mereka. Semua orang disitu tampak bahagia, mereka mengucapkan
syukur kepada Allah dan menyalami dokter. Entah mengapa, Abi masih merasa
gelisah.
Kemudian dokter Hendra mengatakan bahwa memang
Sofia telah kembali, tetapi Sofia yang sekarang belum benar-benar kembali.
Sofia masih belum sadarkan diri, memang kondisinya sudah stabil tetapi belum
ada tanda kapan ia akan bangun. Dokter meminta mereka bersabar dan menunggu
kelanjutan pemeriksaan. Mereka yang awalnya bahagia mendadak sedih mendengar
apa yang dikatakan dokter barusan.
Mama Sofia meminta ijin untuk menengok putrinya,
namun dokter melarangnya. Dokter Hendra meminta mereka untuk bersabar dulu,
mereka akan diijinkan menengok ketika Sofia telah dipindahkan ke ruang
perawatan. Kemudian dokter mohon pamit. Papa Sofia menjabat tangan dokter itu,
dan memeluknya. Ia mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu Sofia
dan menyelamatkannya. Namun dokter itu hanya tersenyum pahit, ia bilang ia
tidak membantu apa-apa. Kondisi Sofia saat ini pun belum dikatakan aman. Ia
merasa sedih dengan dirinya sendiri. Lalu dokter itu meninggalkan mereka.
Sekitar lima belas menit setelahnya, Abi dan yang
lainnya melihat Sofia keluar bersama beberapa suster yang mendorong kasurnya.
Mereka melihat wajah Sofia yang begitu pucat, selang oksigen telah menghiasi
parasnya yang ayu itu. Mama Sofia tak tega melihat penderitaan anaknya, ia
berjalan di samping Sofia dan memegang erat tanganya. Suster meminta mereka
menunggu di luar karena mereka harus memindahkannya ke ruang ICU. Mereka akan
memantau perkembangan Sofia disini.
Mereka hanya bisa melihatnya dari jendela di
depan. Abi merasa begitu pilu. Ia merasa dirinya tidak berguna, ia bahkan tidak
bisa membantu Sofia. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Rani mendapat telepon dari
seseorang, tak lama setelahnya ia kembali dan berpamitan kepada semua orang
disana. Terrnyata yang meneleponnya adalah wali dosennya, ia harus segera ke
kampus karena ada keperluan. Papa dan mama Sofia mengucapkan banyak terima
kasih. Kak Dido menatapnya dan mengantarnya keluar. Rani pun berpamitan kepada
Abi, Rani berpesan kepadanya untuk terus mendampingi Sofia dan kedua
orangtuanya. Lalu Rani dan Kak Dido pun keluar.
Selama perjalanan, Rani maupun Kak Dido tidak
berbicara. Hati Rani terus berdebar. Ia merasa gugup berjalan di dekat kak
Dido. Ia bahkan malu untuk melihat wajahnya. Perasaannya campur aduk, dari Rani
SMA, memang ia sudah menyukai kak Dido. Sofia pun sudah mengetahui hal ini. Rani
meminta Sofia untuk tidak membicarakan hal ini pada kakaknya yang ganteng itu.
Sesampainya di parkiran motor,
“ Ehm.. Rani! ”, panggil kak Dido. Ia merasa
sedikit agak canggung berbicara dengan Rani apalagi dalam kondisi berdua,
biasanya Kak Dido mengobrol dengan Rani ditemani oleh Sofia. Perasaan Kak Dido
bercampur aduk. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
“ Iya, kak ? ”, kata Rani.
“ Hati-hati ya, ”, kata Kak Dido salah tingkah.
Rani tersipu malu. Ia merasa terkejut dengan
perkataan Kak Dido barusan. Baru pertama kali Kak Dido mempedulikan hal-hal
kecil di sekitarnya.
“ I.. Iya kak, kakak juga jangan lupa menjaga
kondisi. Kakak kan juga harus menjaga orang tua kakak disamping menjaga Sofia
”, kata Rani.
“ Okedeh ”, jawabnya dengan nada sedikit genit.
Kemudian Ia pun tersenyum, ketika ia akan kembali ke dalam, ia seperti teringat
sesuatu. Lalu ia menghampiri Rani lagi.
“ Rani! ”, teriaknya.
“ Kak Dido? Ada apa lagi ? ”, kata Rani yang sudah
bersiap-siap akan menaiki motornya.
“ Astaga! Aku hampir lupa, Sofia menitipkan
sesuatu padaku sebelum dioperasi kemarin ”, katanya seraya mengeluarkan kotak
kecil dari kantong.
Rani mengambil kotak kecil itu dan membukanya, ia
begitu terkejut dan merasa begitu senang. Ternyata itu adalah sebuat gelang
yang selama setahun ini diinginkannya. Ia begitu ingin memilikinya, gelang
bewarna perak dengan hiasan bola basket bewarna merah muda. Sederhana namun
tampak manis sekali, begitulah penggambaran gelang itu. Rani tak kuasa
menitikkan air matanya, ia terharu.
Melihat Rani yang menangis, kak Dido memeluknya.
Kak Dido merasa begitu nyaman ketika memeluk Rani. Ia merasa bersyukur, Sofia
dikelilingi sahabat-sahabat yang baik. Kak Dido tak ingin melepas pelukan itu,
ia merasa ingin sekali berbagi suka dan duka dengan gadis ini. Kemudian kak
Dido memakaikan gelang itu di tangan kanannya. Kemudian Rani berpamitan, dan
Kak Dido melambaikan tangannya.
Hari telah berganti hari lagi, waktu terus
berputar tanpa henti tanpa memedulikan apa yang terjadi di jam, menit, dan
detik itu. Sofia masih belum juga bangun dari tidur panjangnya. Hari ini adalah
hari Minggu di minggu kedua Bulan Februari. Sofia tertidur selama dua minggu.
Abi datang untuk mengunjunginya. Ketika ia masuk,
disana sudah ada Rani dan Kak Dido. Kemudian, mereka bersalaman. Abi menanyakan
kondisi Sofia, namun jawaban mereka tetap sama. Sofia masih tidur. Tak beberapa
lama, Kak Dido mengajak Rani untuk sarapan, mereka belum makan sama sekali sejak
kemarin malam. Abi pun mempersilakan mereka. Abi memandangi wajah pucat Sofia,
ia memegang tanganya yang lembut itu.
“ Sofia! Aku sedang menunggumu bangun. Tidakkah
kau ingin bangun dan melihat senyum kami semua ? ”, kata Abi.
“ Aku begitu takut, Sofia. Aku merindukanmu setiap
saat. Ketika aku akan tidur, aku selalu memikirkanmu. Apakah kamu sudah makan?
Apakah kamu sedang tersenyum melihatku? Ataukah kamu sedang kesakitan ? ”,
lanjutnya
“ Kamu tahu, ketika kamu bilang bahwa kau
mencintaiku, hari itu menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupku. Aku yang
tidak berguna ini telah kau jadikan peganganmu, sahabatmu, bahkan cintamu pun
kau beri padaku. Aku bahkan tidak sempat membalasnya. Oia, aku sudah membuat
rencana ketika kau sembuh, aku akan mengajakmu, Rani, dan kak Dido untuk
berlibur bersama. Kita pergi ke Yogyakarta. Aku ingat kau pernah bilang padaku
bahwa kau ingin sekali pergi ke Bantul. Ayo kita kesana setelah kau sembuh.
Oleh sebab itu, jangan menyerah ya, Sofia. Jangan menyerah, walau itu benar-benar
menyakitimu ”
“ Maafkan keegoisanku, Sofia. Maafkan keegoisanku
karena tak bisa merelakanmu ”, kata Abi. Air matanya mengalir deras membasahi
pipinya dan jatuh ke tangan Sofia. Abi merebahkan kepalanya di pinggir tangan
Sofia.
“ Aku ingin kita bisa bermain basket sekali lagi ”,
kata Abi penuh harap.
“ Aku ingin kita bisa bermain basket sekali lagi
”, ulangnya.
To be Continue ~~~~
Semoga menghibur dan bermanfaat.....
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar