CERBER - AKU INGIN BERMAIN SEKALI LAGI ( one more chance ) - Chapter 8 Hari Besar


CHAPTER 8
HARI BESAR


     30 Januari – Pagi ini aku akan melakukan operasi pengangkatan benjolan di kepalaku. Mulai kemarin malam, aku sudah berpuasa. Keluargaku dan sahabatku mengiringiku ke ruang operasi. Mereka menguatkan diriku dan menyuruhku untuk tegar. Mereka berharap aku kembali kepada mereka dengan selamat.
Mama, papa, eyang uti, dan Kak Dido bergantian mencium keningku. Ran memelukku dengan sesekali sesenggukan. Aku tahu ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menangis. Aku membelai kepalanya dengan lembut. Kemudian Abi menggenggam tanganku dan memelukku. Aku pun menepuk punggungnya dan membelai kepalanya. Kemudian aku masuk ke dalam ruang operasi.
Aku hanya melihat sebuah ruangan yang agak gelap. Penuh dengan warna hijau, mulai dari pakaian suster dan dokter, higga pakaianku sendiri. Setelah itu, suster memberiku obat bius. Dokter Hendra melihatku, ia memintaku untuk berhitung sebanyak mungkin sampai aku tertidur. Dokter memintaku untuk terus berdoa dan berdoa. Ia bilang akan melakukan yang terbaik demi kesembuhanku.
Aku sudah ikhlas tentang apapun yang terjadi hari ini. Ya Allah, jika memang aku masih berkesempatan untuk hidup lebih lama. Berikanlah kemudahan dan kelancaran dalam operasi ini. Jika memang ini adalah hari terakhirku di duniamu, berikanlah kekuatan hati kepada mereka yang sedang menungguku di depan ruang operasi. Bimbing mereka sehingga mereka tidak menyesali apapun jika memang aku harus pergi lebih dulu dari mereka. Amin.
Pandanganku mulai kabur, aku mengantuk sekali. Awalnya aku juga takut untuk memejamkan mata. Tetapi rasa kantuk yang luar biasa kuat tidak mampu menahanku. Semua pandanganku gelap seketika.

Di depan ruang operasi
           
Mama dan papa Sofia begitu cemas, mama Sofia bahkan masih saja menangis, papa berusaha tegar. Ia memeluk mama Sofia dan menenangkannya. Papa Sofia mengingat betul pesan Sofia tepat sebelum masuk ke ruang operasi.

“ Pa, Papa tidak boleh lagi menangis, ya. Papa harus bisa buat mereka tegar dan lebih kuat, demi aku, mama, dan kak Dido. Aku yakin papa adalah papa yang kuat dan aku benar-benar beruntung menjadi anak papa ”,
Abi duduk termangu memandangi pintu operasi. Ia tak punya gairah untuk melakukan apapun. Ia begitu khawatir dengan operasi ini. Abi senantiasa bertasbih untuk kesembuhan Sofia. Ia begitu takut kehilangan wanita yang dia adalah sahabat dan wanita yang begitu dicintainya. Abi pun meminta izin kepada semua orang disana untuk pergi keluar sebentar. Sebenarnya ia ingin ke mushola rumah sakit.
Abi ingin berdoa kepada Allah, meminta RidhoNya demi kelancaran operasi Sofia. Dalam sujudnya, ia terus memanjatkan pujian kepada Allah dan Rasulullah. Ia berdoa dan terus berdoa mengharapkan yang terbaik. Air matanya pun terus berlinang membasahi pipinya.
Sebenarnya ketika Abi pamit kepada semua orang, Rani pun melakukan hal yang sama. Ia ingin mengetahui kemana Abi pergi. Ia begitu khawatir dengan Abi yang nampak begitu lesu. Begitu mengetahui Abi sedang sholat Rani pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia bersyukur memiliki sahabat sepertinya dan Sofia. Ia juga bersyukur ketika tahu bahwa Abi dan Sofia saling mencintai. Kemudian ia pun sholat dan mengaji selagi menunggu operasi.
Ketika mereka berdua selesai berdoa, Rani memanggil Abi di pintu depan musholla. Rani menghampiprinya dan menjabat tangannya. Ia berusaha menenangkan hati Abi dan mengucapkan banyak terima kasih padanya karena sudah menerima cinta Sofia. Abi pun menjelaskan bahwa ia tidak melakukan itu dengan terpaksa. Ia tulus mencintainya. Dan ia juga menjelaskan bahwa persahabatan mereka tidak akan berubah walau terhubung dengan rasa cinta. Abi menjelaskan ia dan Sofia sangat menyayangi Rani. Rani pun terharu mendengarnya. Ia kembali menitikkan air mata. Abi menepuk pundaknya dan meminta Rani untuk lebih tegar demi Sofia.
Rani dan Abi kembali menuju depan ruang operasi, mereka melihat orang tua Sofia masih menunggu, tetapi eyang uti dan kak Dido sudah tidak ada. Abi bertanya kepada papanya Sofia tentang keberadaan mereka. Ia menjelaskan bahwa kak Dido mengantar eyang uti ke rumahnya untuk beristirahat. Abi pun meminta kedua orang tua Rani untuk pulang dan beristirahat, namun mereka menolaknya. Mereka ingin mendampingi Sofia.
Kata dokter Hendra operasi ini termasuk operasi besar. Operasi seperti ini memang meemakan waktu yang cukup lama. Dokter memperkirakan operasi akan berlangsung selama 14 jam. Dokter Hendra juga berkata bahwa semua keluarga diminta siap apapun yang terjadi nantinya. Ia juga bilang bahwa akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya.
@@@
            “ Sofia! Sofia! ”, panggil seseorang.
            “ Bangunlah Sofia! ”, katanya lagi.
            Aku membuka mata. Hamparan langit biru menyambutku, angin berhembus lembut menerpa kulitku. Kulihat kanan dan kiriku, hanya ada ladang rumput yang begitu subur. Dimana ini? begitu menakjubkan.
Aku pun bangun, tepat dihadapanku ada sesosok wanita cantik menggunakan gaun serba putih. Dia nampak memesona, walau aku wanita, aku juga sangat mengagumi kecantikannya. Dia berjalan mendekatiku dan mengulurkan tangannya. Wanita itu tersenyum kepadaku. Tanpa sadar, aku menerima uluran tangannya dan kami pun berjalan bersama.
Aku menikmati pemandangan di tempat ini, langit begitu cerah tetapi tidak terasa panas. Angin berhembus membuat bunga-bunga berterbangan. Aku terus berjalan mengikuti wanita itu. Kulihat di depan sana terdapat sebuah pintu.
“ kemana kita akan pergi? ”, tanyaku heran
Wanita itu hanya tersenyum dan terus berjalan menuju pintu itu. Aku berhenti, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan yang aku tidak ketahui tujuannya. Aku memintanya untuk berhenti dan menjelaskan. Namun dia tetap tersenyum dan menarik tanganku. Mau tak mau aku mengikutinya.
“ Papa? Mama? ”, kataku terkejut. Aku begitu bahagia melihat mereka sedang tertidur di kursi. Aku melihat ke arah kanan, kulihat Rani pun tertidur pulas. Aku mendekatinya, melihat wajahnya yang polos itu. Lalu disebelahnya aku melihat Abi yang hampir tertidur, aku duduk bersimpu di depannya, aku begitu bahagia melihatnya. Tetapi dia nampak begitu letih dan lelah. Aku memandanginya yang sedang menunduk.
Mengapa dia tidak menyadari kehadiranku ?
“ Bi! Abi! Ini aku, Sofia ”, kataku
....tidak ada respon
“ Abi! Ini aku Sofia ”, kuulangi
... tetap tidak ada respon
            Aku membelai kepalanya tetapi tidak terasa apapun. Aku memegang tangannya tetapi seolah tertembus. Kemudian kak Dido datang dari arah Barat. Dia berlari menghampiri kami. Aku yang begitu senang melihatnya, ikut berlari dan berusaha memeluknya.
Aku begitu terkejut, Kak Dido menembus diriku. Aku berbalik dan melihatnya menghampiri pintu operasi yang belum terbuka. Kemudian mama bangun dan memeluk kak Dido. Kak Dido duduk di sebelah mama, mama menanyakan bagaimana kondisi eyang uti. Kakak pun menjawab beliau sudah lebih baik setelah istirahat, kakak menemaninya sampai eyang uti tertidur. Kakak pun menanyakan kondisiku, namun mama berkata bahwa dokter belum keluar sama sekali. Ini sudah lewat dari 14 jam yang dibicarakan oleh Dokter Hendra. Mama begitu khawatir.
Aku melilhat wajah mereka begitu letih. Aku sedih, mereka semua jadi kecapekan karena diriku. Aku selalu merepotkan mereka. Aku menghampiri mama, kuusap air matanya itu namun sia-sia. Bahkan tanganku tak mampu dirasakannya. Aku begitu bingung, aku bersama mereka tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menyadariku.
“ Mama jangan nangis lagi, Sofi ada disini. Di sebelah mama. Mama jangan nangis lagi ”, kataku terisak. Aku terus berusaha mengusap air mata yang jatuh dari matanya yang sayu itu namun tak berarti apa-apa.
“ Ma! Kak! Aku disini, lihat aku! Aku disini ”, kataku lagi.
Mendengar tangisan mama, Abi terbangun. Kulihat ia langsung melihat jam dan menghampiri mereka.
“ Ini sudah jam sepuluh malam. Apakah dokter Hendra sudah keluar? Mengapa lampu operasi itu masih menyala? ”, tanya Abi.
“ Aku juga baru datang, Bi. Aku tidak tahu mengapa bisa lewat dari rencana. Kita harap semua akan baik-baik saja ”, kata Kak Dido menenangkan Abi dan mama yang masih sesenggukan.
Melihat Abi yang cemas, aku mendekatinya. Ku tepuk pundaknya dan melambaikan tangan di hadapannya, ia juga bahkan tidak menyadari kehadiranku.
“ Bi! Aku ada disini! Kamu juga kenapa, Bi? Aku ada disini ”, kataku kepadanya.
Abi tidak merasakan apapun. Aku pun melihat sekeliling. Aku butuh penjelasan. Aku begitu kalut. Akku bahagia bisa bertemu dengan orang-orang yang kucintai, tetapi kenapa mereka tidak bisa melihat ataupun menyadari keberadaanku disini. Aku terus mencari wanita yang bersamaku tadi, aku melihat sekeliling dengan teliti.
Itu dia. Kataku dalam hati, menunjuk wanita di pojok ruangan itu. Aku berlari menghampirinya, memegang tangannya, dan memintanya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Mengapa tidak ada yang menyadari keberadaanku ? mengapa aku disini ? bukankah seharusnya aku ada di dalam ruang operasi ?
Wanita itu tersenyum, menyentuh pipiku lembut dan mengusap kepalaku.
“ Kita memang sedang di rumah sakit dimana kau dioperasi, Sofia. Tetapi kita sedang berada di dimensi yang berbeda dengan mereka ”, tuturnya lembut.
“ Dimensi apa? apanya yang berbeda. Aku tidak memahaminya sama sekali ”, kataku bingung.
“ Kamu memanglah Sofia yang sedang menjalani operasi. Tetapi kamu yang sekarang adalah roh dari ragamu disana. Karena itulah mereka tidak bisa melihatmu ”, lanjutnya.
“ Tetapi kenapa bisa begini ? lalu apa artinya ini ? ”, kataku bingung. Aku merasa begitu ketakutan.
Ku pandangi kedua jemariku. Kuraba wajahku. Kulihat sekeliling sekali lagi. Tidak ada yang berubah. Aku benar-benar bingung dan tidak percaya.
“ Kamu keluar dari ragamu. Tetapi kalian masih terhubung, ragamu masihlah milik jiwammu ini. Namun, ragamu terlalu lemah ”, lanjutnya.
“ Apa maksudmu ? kenapa ragaku bisa terlalu lemah ? ”, heranku.
Wanita itu menarikku dan mengajakku masuk ke dalam ruang operasi. Wanita itu menjelaskan bahwa aku telah mendengar bahwa waktu keberlangsungan operasi ini melebihi rencana yaitu 14 jam. Ia mengajakku untuk mengetahui kebenarannya.
“ Lihatlah! ”, kata wanita itu.
Aku melihat dokter Hendra sedang menutup bekas operasi. Suster berkata bahwa tekanan darahku tidak stabil. Mereka bergerak cepat, suster mengambil serum untuk membuatku stabil. Dokter Hendra memberi tubuhku efek kejut dengan listrik. Namun alat itu masih menunjukkan grafik yang tidak stabil. Aku melihatnya dengan rasa takut. Bagaimana ini bisa terjadi ? aku ada disini, kenapa ini semua bisa terjadi ? bagaimana caranya agar aku bisa kembali ?
Aku menangis dan menangis. Aku berteriak menyuruh diriku sendiri untuk tetap bertahan. Selama lima menit dokter dan suster terus mengupayakan kestabilanku. Dokter Hendra terus-menerus memanggil namaku. Sofia... Sofia.. Bertahanlah... Sofia...
Bulu kudukku bergetar, aku takut. Bagaimana caranya agar aku bangun, padahal aku ada disini ?
Dokter meminta suster untuk mengabari keluargaku di depan, dokter meminta semua berdoa dan bersiap dengan segala kemungkinan. Aku melihat suster berlari keluar ruang operasi. Aku mengikutinya.
“ Bagaimana suster? Kenapa operasi ini lebih lama dari perkirakan ? ”, kata papa.
Mereka semua berdiri menghampiri suster itu.
“ Mohon bersabarlah, Pak. Saya diminta dokter untuk menyampaikan bahwa sekarang ini kondisi Sofia sedang anfall ( kritis ), dokter mengusahakan kestabilan kondisinya. Operasi telah dilakukan, tetapi sepertinya Sofia mengalami pasca trauma setelah operasi itu sehingga tubuhnya kejang dan tidak stabil. Ibu dan bapak serta semua keluarga diharap bersiap dan terus berdoa demi kebaikan Sofia ”, kata suster.
“ Suster bercanda, kan? Putriku itu masih muda, dia begitu kuat, kenapa suster keluar dengan membawa berita seperti ini. Kenapa suster ?. Kenapa! ”, mama begitu histeris.
Mama menangis sejadi-jadinya. Papa memeluknya, berusaha menenangkan hatinya. Kulihat kak Dido memegangi pundak papa dan menangis tersedu-sedu. Rani pun terlihat sedih dan Abi memeluknya pula. Mereka begitu sedih, apa yang bisa kuperbuat agar air mata mereka tidak lagi jatuh ?
“ Aku ada disini. Tidak bisakah kalian melihatku ? ”, keluhku.
“ Prahara macam apa ini ? apa yang sebenarnya terjadi ? Aku... Aku... Aku takut disini. Aku takut disini sendirian. Mama! Papa! Kak Dido! Rani! Abi! Tolong aku! ”, aku duduk bersimpuh di hadapan meeka semua, aku tak kuasa menahan ini semua. Perkara apa yang telah berlaku ini, ya Allah ?
“ Ma! Pa! Tolong aku ! Aku takut disini sendirian. Aku takut, Ma. Aku takut ”, kataku sambil memegang tangan mama walaupun mungkin beliar tak merasakannya.
“ Sofia! Sofia! Sofia! ”, panggil mama seraya melihat kesana kemari.
“ Sofia sayang, Sofia anak mama ”, panggilnya lagi.
“ Mama kenapa? Tenang, Ma! ”, kata papa menenangkannya.
“ Mama tidak apa-apa, Pa. Mama mendengar suara sofia menangis barusan. Mama tahu Sofia sedang berjuang disana. Mama tahu dia juga sangat ketakutan. Mama ini mamanya Sofia, Pa. Mama ingin menemaninya. Mama tahu, dia bersama kita, Pa. Sofia ada disini. Aku bisa merasakannya”, kata mama yang masih sibuk mencariku, sesekali beliau sesenggukan.
Aku merasa begitu sedih melihat mereka khawatir akan kondisinya.

Apa maksud ini semua ?
Kenapa takdir seperti mempermainkan kita
Aku ada disini
Tetapi mereka bahkan tidak menyadariku
Aku takut
Aku sendirian
Tolong.... Tolong...

Papa menahan mama dan langsung memeluknya. Mama meronta, memaksakan diri untuk menemuiku. Papa menolaknya, kak Dido pun menghampiri mama dan memintanya untuk membesarkan hatinya. Abi berjalan menuju pintu operasi, ia menangis tanpa bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya.
Aku merasa begitu lemas, untuk bangun pun aku sudah tak sanggup. Ketika aku akan terjatuh, wanita yang menemaniku menahanku dan membawaku duduk. Ia tetap tersenyum kepadaku. Aku sudah tidak kuat untuk berdiri, aku merebahkan diri ke pundaknya setelah mendapat persetujuannya. Aku menangis dan terus menangis. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali ke dalam ragaku.
Sampai saat ini pun, aku tidak tahu siapa wanita yang terus mendampingiku. Dia terus tersenyum dan sabar mendampingiku. Wanita itu membelai kepalaku dengan lembut.
“ Aku adalah bagian darimu, Sofia. Aku ada untuk membimbingmu kembali. Janganlah kau bersedih. Janganlah ada yang kau sesali ”, kata wanita itu,
“ Aku takut, aku bingung. Jika aku boleh meminta sekali lagi, aku ingin tetap bersama mereka. Aku ingin terus hidup bersama mereka ”, pintaku.
“ Apapun yang terjadi nanti, tetaplah menjadi Sofia yang ceria, bahagia, dan penuh syukur ”. nasihat wanita itu.
“ Apakah ini semua hanya mimpi ? Apakah ini tidak nyata ? ”, tanyaku.
“ Itu terserah padamu, tetapi mungkin kau tidak akan lagi mengingatku atau mungkin yang lainnya ”, kata wanita itu penuh rahasia.
Aku menjadi begitu bingung, tapi kuhiraukan pernyataan terakhirnya. Aku begitu cemas, apakah aku bisa kembali kepada mereka. Tiba-tiba aku mengantuk. Tubuhku terlalu lelah, entah apa yang terjadi, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

SUDUT PANDANG ABI
            Abi begitu cemas menunggu kabar dari dokter, dia begitu kalut. Ia takut. Ia khawatir dengan keselamatan Sofia. Rani yang melihat Abi gelisah, berusaha menyemangatinya. Mereka berpegangan tangan dan berdoa.
Setelah itu Dokter Hendra keluar, mereka semua menghampirinya. Dokter Hendra mengucapkan banyak syukur, karena Sofia telah kembali bersama mereka. Semua orang disitu tampak bahagia, mereka mengucapkan syukur kepada Allah dan menyalami dokter. Entah mengapa, Abi masih merasa gelisah.
Kemudian dokter Hendra mengatakan bahwa memang Sofia telah kembali, tetapi Sofia yang sekarang belum benar-benar kembali. Sofia masih belum sadarkan diri, memang kondisinya sudah stabil tetapi belum ada tanda kapan ia akan bangun. Dokter meminta mereka bersabar dan menunggu kelanjutan pemeriksaan. Mereka yang awalnya bahagia mendadak sedih mendengar apa yang dikatakan dokter barusan.
Mama Sofia meminta ijin untuk menengok putrinya, namun dokter melarangnya. Dokter Hendra meminta mereka untuk bersabar dulu, mereka akan diijinkan menengok ketika Sofia telah dipindahkan ke ruang perawatan. Kemudian dokter mohon pamit. Papa Sofia menjabat tangan dokter itu, dan memeluknya. Ia mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu Sofia dan menyelamatkannya. Namun dokter itu hanya tersenyum pahit, ia bilang ia tidak membantu apa-apa. Kondisi Sofia saat ini pun belum dikatakan aman. Ia merasa sedih dengan dirinya sendiri. Lalu dokter itu meninggalkan mereka.
Sekitar lima belas menit setelahnya, Abi dan yang lainnya melihat Sofia keluar bersama beberapa suster yang mendorong kasurnya. Mereka melihat wajah Sofia yang begitu pucat, selang oksigen telah menghiasi parasnya yang ayu itu. Mama Sofia tak tega melihat penderitaan anaknya, ia berjalan di samping Sofia dan memegang erat tanganya. Suster meminta mereka menunggu di luar karena mereka harus memindahkannya ke ruang ICU. Mereka akan memantau perkembangan Sofia disini.
Mereka hanya bisa melihatnya dari jendela di depan. Abi merasa begitu pilu. Ia merasa dirinya tidak berguna, ia bahkan tidak bisa membantu Sofia. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Rani mendapat telepon dari seseorang, tak lama setelahnya ia kembali dan berpamitan kepada semua orang disana. Terrnyata yang meneleponnya adalah wali dosennya, ia harus segera ke kampus karena ada keperluan. Papa dan mama Sofia mengucapkan banyak terima kasih. Kak Dido menatapnya dan mengantarnya keluar. Rani pun berpamitan kepada Abi, Rani berpesan kepadanya untuk terus mendampingi Sofia dan kedua orangtuanya. Lalu Rani dan Kak Dido pun keluar.
Selama perjalanan, Rani maupun Kak Dido tidak berbicara. Hati Rani terus berdebar. Ia merasa gugup berjalan di dekat kak Dido. Ia bahkan malu untuk melihat wajahnya. Perasaannya campur aduk, dari Rani SMA, memang ia sudah menyukai kak Dido. Sofia pun sudah mengetahui hal ini. Rani meminta Sofia untuk tidak membicarakan hal ini pada kakaknya yang ganteng itu. Sesampainya di parkiran motor,
“ Ehm.. Rani! ”, panggil kak Dido. Ia merasa sedikit agak canggung berbicara dengan Rani apalagi dalam kondisi berdua, biasanya Kak Dido mengobrol dengan Rani ditemani oleh Sofia. Perasaan Kak Dido bercampur aduk. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
“ Iya, kak ? ”, kata Rani.
“ Hati-hati ya, ”, kata Kak Dido salah tingkah.
Rani tersipu malu. Ia merasa terkejut dengan perkataan Kak Dido barusan. Baru pertama kali Kak Dido mempedulikan hal-hal kecil di sekitarnya.
“ I.. Iya kak, kakak juga jangan lupa menjaga kondisi. Kakak kan juga harus menjaga orang tua kakak disamping menjaga Sofia ”, kata Rani.
“ Okedeh ”, jawabnya dengan nada sedikit genit. Kemudian Ia pun tersenyum, ketika ia akan kembali ke dalam, ia seperti teringat sesuatu. Lalu ia menghampiri Rani lagi.
“ Rani! ”, teriaknya.
“ Kak Dido? Ada apa lagi ? ”, kata Rani yang sudah bersiap-siap akan menaiki motornya.
“ Astaga! Aku hampir lupa, Sofia menitipkan sesuatu padaku sebelum dioperasi kemarin ”, katanya seraya mengeluarkan kotak kecil dari kantong.
Rani mengambil kotak kecil itu dan membukanya, ia begitu terkejut dan merasa begitu senang. Ternyata itu adalah sebuat gelang yang selama setahun ini diinginkannya. Ia begitu ingin memilikinya, gelang bewarna perak dengan hiasan bola basket bewarna merah muda. Sederhana namun tampak manis sekali, begitulah penggambaran gelang itu. Rani tak kuasa menitikkan air matanya, ia terharu.
Melihat Rani yang menangis, kak Dido memeluknya. Kak Dido merasa begitu nyaman ketika memeluk Rani. Ia merasa bersyukur, Sofia dikelilingi sahabat-sahabat yang baik. Kak Dido tak ingin melepas pelukan itu, ia merasa ingin sekali berbagi suka dan duka dengan gadis ini. Kemudian kak Dido memakaikan gelang itu di tangan kanannya. Kemudian Rani berpamitan, dan Kak Dido melambaikan tangannya.
Hari telah berganti hari lagi, waktu terus berputar tanpa henti tanpa memedulikan apa yang terjadi di jam, menit, dan detik itu. Sofia masih belum juga bangun dari tidur panjangnya. Hari ini adalah hari Minggu di minggu kedua Bulan Februari. Sofia tertidur selama dua minggu.
Abi datang untuk mengunjunginya. Ketika ia masuk, disana sudah ada Rani dan Kak Dido. Kemudian, mereka bersalaman. Abi menanyakan kondisi Sofia, namun jawaban mereka tetap sama. Sofia masih tidur. Tak beberapa lama, Kak Dido mengajak Rani untuk sarapan, mereka belum makan sama sekali sejak kemarin malam. Abi pun mempersilakan mereka. Abi memandangi wajah pucat Sofia, ia memegang tanganya yang lembut itu.
“ Sofia! Aku sedang menunggumu bangun. Tidakkah kau ingin bangun dan melihat senyum kami semua ? ”, kata Abi.
“ Aku begitu takut, Sofia. Aku merindukanmu setiap saat. Ketika aku akan tidur, aku selalu memikirkanmu. Apakah kamu sudah makan? Apakah kamu sedang tersenyum melihatku? Ataukah kamu sedang kesakitan ? ”, lanjutnya
“ Kamu tahu, ketika kamu bilang bahwa kau mencintaiku, hari itu menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupku. Aku yang tidak berguna ini telah kau jadikan peganganmu, sahabatmu, bahkan cintamu pun kau beri padaku. Aku bahkan tidak sempat membalasnya. Oia, aku sudah membuat rencana ketika kau sembuh, aku akan mengajakmu, Rani, dan kak Dido untuk berlibur bersama. Kita pergi ke Yogyakarta. Aku ingat kau pernah bilang padaku bahwa kau ingin sekali pergi ke Bantul. Ayo kita kesana setelah kau sembuh. Oleh sebab itu, jangan menyerah ya, Sofia. Jangan menyerah, walau itu benar-benar menyakitimu ”
“ Maafkan keegoisanku, Sofia. Maafkan keegoisanku karena tak bisa merelakanmu ”, kata Abi. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya dan jatuh ke tangan Sofia. Abi merebahkan kepalanya di pinggir tangan Sofia.
“ Aku ingin kita bisa bermain basket sekali lagi ”, kata Abi penuh harap.
“ Aku ingin kita bisa bermain basket sekali lagi ”, ulangnya.

To be Continue ~~~~
Semoga menghibur dan bermanfaat.....

Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CEPSI ( Cerita Pendek Puisi )

Aku dan anak-anak yang digusur - true story

Puisi - curahan hati