Poignant Memento chapter one


POIGNANT MEMENTO

--- KENANGAN TERPEDIH ---

oleh : Febrina Rachmawati



CHAPTER 1 - PEMBERONTAKAN

“Apa salahku, Ma? Apa salahku? ”, pekik Rani.
“ Dari dulu aku tahu kalau mama lebih sayang Adi daripada diriku tetapi kenapa, Ma? Apa yang telah kulakukan hingga kau begitu membenciku? Dosa apa yang telah kuperbuat hingga kau tak memerhatikan diriku lagi? ”
“ Yang kau lakukan hanya mengkhawatirkan Adi. Adi! Adi! Adi! Tak peduli apapun yang dia lakukan, mama terus saja membelanya. Mama menutup mata atas apa yang telah diperbuatnya hingga kita menjadi seperti ini, Ma! Kita seperti buronan yang mengemis kebebasan. Dikejar rentenir bank, di terror, dan banyak gunjingan yang kita dapatkan. Tetapi apa yang mama lakukan? Apa? Jawab aku, Ma! Mama selalu diam, seolah semua baik-baik saja. Menceritakan hal baik tentangnya, dan terus mendongengiku dengan kisah-kisahnya di masa lalu yang gak berguna sama sekali buatku, Ma ”
“ Cukup, Rani! Cukup! Dia itu kakakmu ”, bentak mama.
“ Kenapa? Kenapa, Ma? Karena mama tidak kuat mendengar aku membeberkan fakta tentang anak kesayangan mama itu? Iya? ”
“ Mama bilang cukup, Ran ! ”, teriak mama yang langsung menampar Rani.
“ Tampar lagi, Ma! Tampar ! kalau perlu lebih keras. Mama bahkan tidak pernah memukul Adi walau dia melakukan seribu dosa. Mama selalu melampiaskannya padaku. Kalau perlu bunuh saja aku, Ma. Kalau memang mama tidak mengharapkan kehadiranku, dari aku masih berupa janin. Kenapa mama tidak menggugurkan aku, Ma? Kenapa? Kenapa aku harus mengalami kepedihan ini ? Kenapa aku harus merasakan dampak yang bukan kuperbuat ”, tantang Rani, dia bergegas meninggalkan mamanya dan berlari keluar rumah.

Rani terus berlari, ia tak kuasa menahan kesedihannya. Sejak kecil, ia merasakan ketimpangan kasih sayang yang luar biasa. Mamanya begitu memanjakan kakaknya, Adi. Apapun yang ia minta akan selalu dikabulkan. Papa pun demikian, semarah-marahnya mereka tak pernah terlihat mereka memukulnya. Padahal papa dan mama sering dipanggil guru ke sekolah karena kenakalan kakak.  Namun mereka bersikap seolah tak terjadi apapun. Ketika Rani dan Adi bertengkar, mama selalu memarahi Rani, dan menyuruhnya meminta maaf pada kakaknya. Papa pun pernah memukul Rani karena dia membentak kakaknya dan mereka bertengkar hebat, saat itu Rani masih SMA dan Adi kuliah di salah satu universitas swasta.
Rani ingat betul ketika mereka bertengkar, Adi sampai memegang pisau dan mengarahkannya pada Rani. Rani yang ketakutan berusaha terlihat tenang, ia berfikir apabila ia memang harus mati ditangan kakaknya, ia rela. Toh, orang tua mereka tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu. Mereka akan terus membela Adi sampai akhir. Rani sudah ikhlas dengan takdirnya saat itu.
Tanpa sadar, Rani berlari menuju taman bunga di daerah belakang perumahannya. Rani jatuh tersungkur di bawah tiang basket. Ia sudah tak kuat berlari. Ia berteriak, bukan darah yang menetes dari lututnya yang ia tangisi. Kepedihan dihatinya yang sudah tak bisa dibendung, ia tak mampu menahannya lagi. Ia menjerit, menangis tersedu-sedu. Rani memukul aspal lapangan tersebut, ia terus menangis. Kenapa ia harus lahir di keluarga ini? Kenapa harus ada kakaknya ? kenapa dia tidak mati saja? Kenapa dia selalu menyusahkan orang tua mereka? Kenapa?
Rani yang kelelahan pun terjerembab dan pingsan.
“ Rani? ”, kata seorang pria di sampingnya.
“ Ahmad? Kau… ”, tanya Rani bingung, ia memerhatikan sekeliling. Ia menyadari bahwa ini adalah kamar inap di rumah sakit.
“ Hei, mau kemana, Ran? ”, tanya Ahmad yang menahan Rani yang tiba-tiba bangun.
“ Aku mau pergi dari sini, tinggalkan aku! Biarin aku sendiri! Pergi! ”, kata Rani marah-marah
“ Pergi? Dengan kondisimu seperti ini? Istirahatlah, Ran ”, Ahmad tertawa sinis memaksa Rani untuk beristirahat.
“ Cukup! Aku mau pergi! Kau tidak bisa menghentikanku ”, paksa Rani.
“ Tenangkan diirimu, Ran! ”, kata Ahmad menggenggam bahu Rani.
“ Lepaskan! Lepaskan! ”, teriak Rani menolak.
Mendengar keributan ini, suster pun masuk ke dalam kamar, Ahmad meminta suster untuk memberikan Rani obat penenang. Ahmad menahan erangan Rani yang begitu kuat. Rani menjerit. Ia menangis, menangis, dan terus menangis. Rani bahkan meronta-ronta. Namun, Ahmad mampu menahannya hingga suster memberikan obat penenang. Setelah itu, ia duduk di sebelah Rani dan menemaninya sepanjang malam.
Keesokan harinya, Ahmad yang ketiduran  terbangun dan terkejut melihat Kasur dalam keadaan kosong. Ia pun segera berlari. Ia memanggil Rani, menanyakan hal tersebut kepada suster penjaga, dan melihat sekeliling. Namun ia belum menemukan Rani. Ahmad terus mencari di sekitar rumah sakit. Ia menuruni setiap anak tangga seraya mengamati sekeliling.
Ahmad adalah teman masa kecil Rani, ia tinggal tepat di sebelah rumah Rani. Mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama, sejak TK hingga SD. Ahmad memutuskan untuk masuk SMP swasta terbaik. Namun, Rani ingin meringankan beban orang tuanya, hingga ia memutuskan masuk SMP Negeri yang saat itu gratis karena subsidi pemerintah. Ahmad ingat bahwa dulu ia pernah berjanji kepada Rani, ia akan menggapai mimpinya untuk menjadi pengamat bintang dan menjadikannya istri dimasa yang akan datang. Ahmad tidak mengetahui apakah Rani mengingat semua itu. Namun, ia selalu mengingatnya. Ia tidak akan melupakan hal sepenting itu.
Setelah itu, Ahmad melihat Rani di taman rumah sakit. Ia duduk termenung. Wajahnya pucat sekali, Nampak jelas kesedihan di raut wajahnya. Ahmad segera berlari dan menghampiri Rani. Setibanya di taman, Ia duduk disebelah Rani.
“ Hei! Kau tak apa? ”, tanya Ahmad.
… Rani tidak menjawab pertanyaan Ahmad.
“ Kamu tampak begitu pucat, masuk yuk ke kamar, kamu kan masih sakit ”, ajak Ahmad. Namun Rani tetap tidak meresponnya.
“ Astaga! Aku sampai lupa, Ran. Aku belum mengabari orang tuamu. Sebentar ya, aku akan menelepon mereka ”, kata Ahmad. Ketika ia akan mengambil handphone yang ia tinggalkan di kamar inap Rani, Rani menarik lengan Ahmad. Ia menggenggam lengan tersebut begitu kuat.
“ Jangan! Jangan hubungi mereka, aku mohon padamu. Aku akan nurut, tapi tolong jangan hubungi mereka. Tolong pahamilah! Aku butuh waktu. Aku mohon padamu ”, pinta Rani. Ia begitu bersikukuh akan hal ini.
Ahmad yang merasa ini bukanlah keputusan yang tepat pun mengiyakan permintaan Rani. Ia akan memahami situasi yang membingungkan ini. Melihat kondisi Rani yang masih belum stabil, ia merasa harus menjaganya terlebih dahulu dan tidak memaksanya untuk bercerita. Ia akan menunggu hingga Rani sendiri yang menceritakan apa yang menjadi penyebab kesedihannya. Ahmad pun membopong Rani kembali ke kamarnya, dan membaringkan ia ke tempat tidur. Dilihatnya, air mata mengalir dari mata Rani yang bening. Ahmad begitu merasa resah.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada teman masa kecilku ini. Pikir Ahmad
Setelah itu, suster datang membawa sarapan. Setelah mengucapkan terima kasih, Ahmad mengambil makanan tersebut dan menyuapi Rani. Rani menolaknya namun Ahmad memaksa. Rani tetap menolak.
“ Kamu ini kenapa sih, Ran! ”, heran Ahmad.
“ Dari kemarin kamu gak mau makan, kamu gak sayang sama tubuhmu? Tubuhmu gak salah apa-apa ”, lanjutnya.
“ Tahu apa kamu? Kamu yang tiba-tiba menghilang dariku sejak SMP, kamu yang tiba-tiba menjauh dan tak pernah memerhatikanku. Kenapa sekarang kau berpura-pura baik dihadapanku. Apa maumu? ”, kata Rani datar dengan raut wajah tertekan.
“ Aku khawatir dengan kondisimu, Rani! Tanpa kau sadari, aku selalu memperhatikan dirimu dan mengawasimu. Memang aku tak pernah ada untukmu. Keputusanku untuk kuliah di luar kota pun tak kusampaikan padamu. Tapi setiap aku pulang, aku selalu ingin melihatmu. Maafkan keegoisanku, Ran ”, tutur Ahmad dengan nada sedih.
“ Kenapa tuhan tidak adil padaku? Kenapa aku perlu dilahirkan kalau tak ada yang menyayangiku ? kenapa ? ”, tanya Rani pada dirinya sendiri.
“ Kamu salah, Ran. Allah menciptakan kita pasti ada tujuannya. Aku yakin di luar sana banyak yang menyayangimu tanpa kau sadari. Kau hanya perlu merelakan dan memberanikan dirimu untuk maju sekali lagi ”, nasihatnya.
“ Rela? Selama ini yang kulakukan hanyalah menahan dan terus menahan kesakitan ini ”, balas Rani. Setelah itu, ia memutuskan untuk tidur.
Ketika Rani bangun, ia tak melihat siapapun dikamar itu. Ia merasa sudah tidak lagi sakit, ia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit ini. Ia merasa Ahmad pasti mengabari keluaganya. Ia tak mau lagi melihat keluarganya itu. Ia pun bersiap dan bergegas meninggalkan rumah sakit. Ketika ia keluar dari kamar,
“ Rani ? ”, panggil seorang ibu-ibu dari arah Barat.
“ Tante Nina? ”, Rani begitu terkejut melihatnya di rumah sakit. Terlebih lagi, ia terkejut karena ada yang memergokinya yang akan kabur.
“ Kenapa tante bisa ada disini? Kamu! ”, tanya Rani heran yang kemudian langsung menoleh ke arah Ahmad.
“ Maaf, Ran! Aku berjanji padamu tidak menghubungi orangtuamu. Oleh sebab itu, aku menghubungi tante Nina, lagipula yang kutahu dia dekat denganmu kan? ”, kata Ahmad menyesal.
“ Kamu bisa gak sih, peka sedikit saja! Aku Cuma butuh waktu ”, kata Rani kesal.
“ Butuh waktu buat apa, Rani? Sampai kapan? Ngomong-ngomong kenapa kamu keluar kamar, pakai baju rapi pula. ”,kata Ahmad yang ikut-ikutan kesal.
“ Kamu mau kabur lagi, Rania Handoko? ”, tanya tante Nina yang memandangi Rani.
“ Bukan urusan tante ataupun dia ”,
Tante Nina yang geram dengan tingkah Rani pun menarik lengan Rani kemudian masuk kembali ke dalam kamar inapnya. Ahmad pun mengikutinya. Ia merasa khawatir jika mereka bertengkar.
“ Hentikan, Ran! Jangan seperti anak kecil! ”, perintah tante Nina.
“ Anak kecil? Siapa yang anak kecil, Tan? Aku atau dia, hah? ”, tanya Rani marah.
“ Apa yang kamu bicarakan, Rani ? ”, tanya tante Nina bingung.
“ Gak usah pura-pura lagi, Tan! Kalian semua selalu menganggapku anak kecil, kalian bahkan tak bisa mempercayaiku. Kalian terus saja mempercayainya yang kurang ajar itu ”, teriak Rani.
“ Nak, Ahmad! Tante tidak bermaksud mengusir, tante perlu bicara berdua dengan Rani. Mohon maaf sekali, karena ini urusan keluarga. Tante harap kamu tidak tersinggung, ya. Oia, terima kasih sudah merawat dan menjaga Rani selama disini ”, kata tante Nina kepada Ahmad.
Setelah itu, Ahmad pun berpamitan dan keluar. Sebelum ia keluar, ia berkata kepada Rani bahwa apapun yang terjadi, kapanpun Rani membutuhkan dirinya, ia akan ada untuknya.
“ Kamu kenapa sih, Rani? Kenapa jadi pemarah seperti ini? Kenapa pakai berantem segala sama mamamu? ”, tanya tante Nina heran.
“ Aku benci sama keluarga ini, Tan! Aku benci! ”, kata Rani.
“ Tante tahu kamu begitu marah, tetapi kami tetap keluargamu dan kita menyayangimu, Ran ”, kata tante Nina seraya memeluk Rani. Namun, Rani menolak pelukan tersebut.
“ Bohong! Tante bohong! Mama juga selalu menutupinya, papa pura-pura tidak mengetahui apapun bahkan tante yang selalu baik padaku pun tak pernah bercerita tentang keluarga kecilku ini. Kalian semua memainkan topengnya masing-masing ”, tutur Rani.
“ Topeng? Topeng apa yang kamu maksud ? 
“ Hahaha… Bagus! Acting yang bagus sekali, Tan! Baiklah, akan kuceritakan kalau tante memaksaku! Dari awal tante sudah tahu bahwa aku selalu merasa sedih karena kasih sayang orang tuaku yang tak adil padaku. Tante selalu menghiburku dan memberikan nasihat positif bahwa orang tua tidak mungkin tidak sayang pada anaknya. Namun kelalaian adalah sifat alami manusia, mungkin tanpa disadari mama dan papa lalai berlaku adil padaku. Adi yang tak pernah mengajakku bermain pun selalu membuatku memiliki pengalaman buruk dari masa kecilku. Aku tahu dia tak pernah sayang padaku”. Paparku.
“ Mana mungkin kakakmu tak menyayangimu ? ”, tanya tante Nina yang menyangsikan pernyataan Rani.
“ Aku bicara seperti itu bukan tanpa alasan. Dua tahun yang lalu, aku baru menyadarinya. Itu pun karena mama kelepasan bercerita kepadaku. Tetapi aku bersyukur akan hal tersebut ”, lanjut Rani.
“ Cerita apa? Apa yang dibicarakan mamamu, Ran ? ”, tanya tante Ani seraya duduk di kursi yang ada di hadapannya.
“ Sejak aku masih di dalam kandungan, kakak tidak menginginkan keberadaanku. Ketika mama menyampaikan bahwa mama sedang mengandungku, kakak begitu marah. Ia tidak ingin memiliki adik. Ia tidak ingin kasih sayang orang tuanya terbagi. Ia bahkan menyuruh mama menggugurkanku ”,
“ Astaga! Mengapa Sita bisa kelepasan begini? Ini bukanlah hal yang patut diceritakan apalagi kepada dirimu ”, kesal tante Nina pada mama Rani, kakaknya.
“ Memangnya kenapa, Tan? Kenapa kalau sampai aku tahu? Kenapa tante bisa tahu masalah ini ? kenapa tante tidak pernah bercerita kepadaku, kenapa ? aku begitu percaya padamu. Aku begitu menghormatimu. Tetapi kenapa, Tan? Kenapa? ”, tanya Rani yang tidak percaya, emosinya benar-benar bercampur aduk.
“ Karena ini memang tidak patut diceritakan, Rani! Karena ini, kamu akan sakit hati dan akan selalu salah paham! ”, suara tante Nina yang tiba-tiba memekik membuat Rani terkejut dan diam seketika.
“ Baiklah, akan tante lanjutkan cerita mamamu itu, saat kakakmu, Adi. Mengetahui kehamilan kedua mamamu, aku ada disana. Aku juga kaget mendengar jawaban Adi. Tetapi bagi kami itu hanyalah celotehan anak kecil. Kemudian, ketika kamu sudah bisa di USG, dokter menyatakan kamu adalah seorang wanita, Adi semakin marah. Awalnya ia sudah bisa menerima adanya dirimu, ia berharap adiknya laki-laki karena bisa diajak bermain sepak bola. Dan ia begitu membenci wanita, karena mereka cengeng dan lemah. Ia semakin menolak keberadaanmu. Namun orang tuamu menghiraukannya dan melanjutkan keberadaan dirimu. ”, cerita tante Nina melanjutkan cerita yang disampaikan Rani.
“ Iya! Karena itulah aku selalu diperlakukan tidak adil olehnya, aku selalu dibully, dipukul, bahkan dia pernah mengunciku di halaman rumah hanya karena urusan sepele. Aku ingat betul, saat itu sedang ada badai. Saat itu aku bersumpah tidak akan melupakan kejadian itu dan akan membalasnya. Dia setan! Setan! Pengecut! Sampah! ”, hardik Rani.
Plakk ( Tante Nina menampar Rani )
“ Ran.. Rani.. hh.. Tante.. ”, Tante Nina merasa bersalah karena bertindak gegabah seperti itu.
“ Sudah? Puas mukulnya? Kalau masih kurang, tampar lagi, Tan! Tampar! Ayo! ”, tantang Rani.
“ Dari awal tidak ada yang sayang padaku, jangan datangi aku lagi, Tan. Bilang saja pada mereka semua kalau Rania Handoko sudah mati. Aku takkan menjumpai mereka lagi, termasuk tante. Aku tak menyangka tante juga membelanya. Seharusnya dari awal aku sadar kalau kau juga memainkan perang yang sama di balik topengmu itu ”, Rani pun keluar dengan membanting pintu. Ia sudah tak ingin kembali lagi ke rumah itu.
Rani terus berjalan, terus berjalan, dan terus berjalan. Ia tak tahu harus kemana, namun ia memutuskan untuk terus berjalan. Sudah tidak ada siapapun lagi yang ia percaya, ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Setelah berjam-jam berjalan, tanpa sadar ia berhenti di suatu tempat.
“ Rumah social milik bersama dikelola bekerja sama dengan pemerintah ”, kata Rani yang mengucapkan apa yang ia baca di papan yang menggantung di teras.
“ Permisi, Mbak! Ada yang bisa saya bantu? ”, tanya seorang ibu yang membawa belajaan.
“ Ah, maaf Bu! Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah social ini. Saya ingin memohon untuk tinggal dan bekerja disini. Saya tahu kalau memang saya tidak layak dapat tumpangan disini. Tetapi saya juga akan membantu orang-orang disini ”, papar Rani.
“ Ah! Iya, iya! Perkenalkan, Saya Mutia Fatimah. Saya pemilik rumah ini, ini adalah impian mendiang suami saya, silakan masuk ”, kata Mutia memperkenalkan diri dan memperkenalkan diri. Rani pun membantu membawa belanjaan Ibu Mutia.
“ Mohon maaf sebelumnya, Bu. Perkenalkan, Saya Rania. Panggil saja, Ran. Sampai tahun kemarin saya masih terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu universitas negeri disini, Bu ”, kata Rani memperkenalkan Rani.
“ Baiklah, Nak Rani. Tetapi kalau boleh, apakah saya bisa melakukan wawancara sebentar denganmu? Saya rasa tidak adil kepada yang lain jika saya tidak tahu tentang mu, dan kita akan sama-sama terhindar dari kecurigaan jika kita sudah saling mengenal. Tak kenal maka tak sayang, bukan ? ”, pinta Ibu Mutia.
“ Dengan senang hati, Bu. Terima kasih atas kebaikan yang diberikan padaku, Bu ”, jawab Rani tersenyum.
“ Silakan duduk! ”, kata Ibu Mutia seraya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“ Terima kasih ”, jawab Rani.
“ Baiklah, Nak Rani sekarang tinggal dimana? Ngekos apa ada rumah? ”, tanya ibu Mutia memulai wawancara. Wawancara ini bukanlah wawancara formal seperti melamar kerja
“ Hm… Saya tinggal di perumahan Bumi Asri, Bu. Tetapi saya memutuskan untuk keluar, Bu. Saya luntang-lantung dijalanan. Tanpa sadar saya sampai disini. Oleh sebab itu, saya memohon kepada ibu untuk mengizinkan saya tinggal dan membantu disini. Saya sudah tidak punya tempat tinggal. Saya juga sudah tidak memegang uang, Bu  ”, papar Rani dengan suara rendah.
“ Kamu ada masalah di rumah ? atau lagi berantem dengan keluarga? ”, tanya Ibu Mutia pelan.
Rani diam, ia bingung bagaimana menjawabnya
“ Ah! Kalau memang tidak bisa cerita, tidak apa-apa, Ran. Saya tau kamu bukanlah anak yang nakal, saya minta maaf sudah menyinggung hal yang bukan wewenang saya ”, kata Ibu Mutia menenangkan.
“ Maafkan saya, Bu. Tapi saya janji, ketika saya siap, pasti ibu akan saya ceritakan apa yang telah terjadi. Saya harap ibu mau memahami kondisi saya saat ini. Maafkan keegoisan saya, Bu. Maaf! ”, kata Rani yang setelah itu sedikit terisak. Memori-memori menyakitkan itu terus tayang dalam benaknya. Ia tak ingin mereka menghantui kehidupannya lagi.
“ Tenang saja, Nak Rani ”, Ibu Mutia menggenggam tangan Rani seperti menggenggam tangan anaknya sendiri. Ia berusaha menghibur Rania.
“ Oia, Nak Rani pasti capai, ayo kita lihat kamarmu. Maaf ya, kamarnya kecil. Tetapi ibu harap kamu betah. Tidak usah sungkan sama ibu, anggap saja saya ini ibumu sendiri ”, kata Ibu Mutia yang mengajak Rani ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya.
“ Ibu bahkan lebih baik dari mama. Saya tidak akan menganggap ibu seperti mama karena ibu lebih baik, insya Allah. Terima kasih atas kebaikanmu, maaf! ”, kata Rania yang tak kuasa menahan tangisnya. Ibu Mutia langsung memeluk gadis yang muram itu. Ibu Mutia begitu terkejut mendengar pernyataan Rania barusan. Ia tak tahu harus merespon seperti apa, namun ia menduga bahwa Rania ada masalah dengan ibunya. Namun, ia memutuskan untuk diam sampai Rania yang bercerita padanya.
“ Sekarang kamu istirahat, kalau sudah baikan. Besok menjelang shubuh kamu bantu ibu membersihkan tempat ini, Ya. Karena kita harus mempersiapkan anak-anak untuk sholat sekalian ibu akan memperkenalkan dirimu sebagai kakak mereka ”, kata Ibu Mutia menjelaskan.
“ Saya merasa malu, Bu. Saya tak pantas menjadi kakak mereka, Bu ”, kata Rania malu.
“ Bukan hak manusia menentukan kepantasan seorang manusia. Kamu harus bisa memaafkan dirimu, dan keadanmu, Nak Rani. Sekarang, beristirahatlah! ”, saran Ibu Mutia.
Rani mengucapkan terima kasih sekali lagi, kemudian ia pamit masuk kamar. Setelah menutup pintu, Rani melihat sekeliling kamar tersebut. Ia meletakkan tasnya di Kasur tepat di pinggir bantal. Setelah itu ia langsung merebahkan diri dan menutup kedua matanya dengan lengan kananya. Tanpa disadarinya, air mata mengalir ke pipinya. Sejujurnya, Rani merasa lelah. Ia lelah bersedih, ia lelah merana. Ia ingin melepas belenggu dihatinya. Namun itu terlalu melekat seperti jamur yang terus menggerogoti hatinya.
Ia telah tertidur cukup lama, ia benar-benar kelelahan. Tak terhitung berkilo-kilo ia tempuh dengan berjalan. Ketika ia membuka matanya, Rani melihat jendela. Langit yang cerah sudah berubah menjadi kegelapan yang bersama kedinginan berusaha membekukan hatinya sekali lagi. Kemudian ia menutup jendela, dan bersiap. Ia melihat jam di handphonenya.
Jam 2 malam, aku sudah tertidur lebih dari 7 jam, Katanya di dalam hati.
Rani bersiap untuk mandi. Ketika ia membuka pintu, di depan kamarnya terdapat sebuat tas kertas kecil, Rani menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada siapapun. Ia mengambil ta situ dan melihat isinya. Ia begitu bahagia, ternyata isi di tas tersebut adalah baju-baju baru dan perlengkapan mandi. Ia pun meletakkan tas tersebut ke dalam kamar dan mengambil seperlunya untuk mandi. Setelah ia sudah bersiap, tak sengaja ia melewati kamar Ibu Mutia. Ia menghentikan langkahnya karena ia mendengar suara tangisan yang begitu pelan.
“ Ya Allah, hamba berserah diri kepadamu. Ampuni dosa suami hamba, anak-anak asuh hamba, gadis malang itu, dan hamba, Ya Rabb. Hamba hanyalah seorang manusia yang penuh kelalaian, karena itulah kau tidak memberi kami anak hingga Engkau panggil kembali suami hamba. Berikanlah petunjuk, bagi kami yang buta ya Rabb sehingga kami tidak tersesat. Hamba percaya, engkau membawa Rania kepadaku bukan sebagai kebetulan. Hamba percaya, engkau memberi kesempatan kepada Hamba untuk menjadi seorang ibu baginya dan bagi mereka yang membutuhkan. Hamba juga percaya, bahwa engkau mengirimkan mereka ke rumah ini agar hamba tidak kesepian, agar kami bisa saling menjaga dan senantiasa bersyukur padamu. Terima kasih ya Allah. Bimbinglah hamba, sehingga hamba bisa membantu dan menjaga mereka semua, Rani dan orang-orang yang ada di panti ini ”, doa Ibu Mutia dalam sujudnya.
Mendengar hal itu, Rani benar-benar tak bisa menahan air matanya. Ia tak tahu apa yang dirasakan saat ini. Hatinya begitu merasa lega, begitu berdebar-debar. Ia merasa bersyukur telah dipertemukan dengan wanita mulia ini. Semoga Allah memberi Ibu tempat yang lebih baik dan selalu dinaungi keberkahan. Doa Rania.
“ Rania? ”, panggil Ibu Mutia.
“ Selamat pagi, Bu! Saya sudah bersiap. Oia, apakah ibu yang meletakkan tas di depan kamar Rani? ”, salam Rani yang sekaligus bertanya tentang ta situ.
“ Iya, memang ibu yang meletakkannya disana. Ibu tidak ingin mengganggumu yang sedang istirahat. Jadi ibu biarkan saja di depan. Bagaimana ? kamu suka? ”
“ Saya suka sekali, Bu. Terima kasih banyak ”, kata Ran bahagia.
“ Alhamdulillah! Ya sudah, sekarang Nak Rani bantu ibu mempersiapkan sarapan, sekalian ibu akan menceritakan siapa-siapa saja yang tinggal disini dan kegiatan-kegiatan yang ada disini. Semoga kamu tidak bosan mendengarkan cerita ibu, ya ”, kata Ibu Mutia mengajak Rani ke dapur.
Rani diminta Ibu Mutia untuk membersihkan sayuran yang akan dibuat sop dan memintanya untuk memotong wortel menjadi berbentuk seperti dadu. Ibu Rani sedang membersihkan ayam yang akan menjadi lauk pagi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CEPSI ( Cerita Pendek Puisi )

Aku dan anak-anak yang digusur - true story

Puisi - curahan hati