Poignant Memento chapter one
POIGNANT MEMENTO
--- KENANGAN TERPEDIH
---
CHAPTER 1 - PEMBERONTAKAN
“Apa salahku, Ma? Apa salahku? ”,
pekik Rani.
…
“ Dari dulu aku tahu kalau mama
lebih sayang Adi daripada diriku tetapi kenapa, Ma? Apa yang telah kulakukan
hingga kau begitu membenciku? Dosa apa yang telah kuperbuat hingga kau tak memerhatikan
diriku lagi? ”
…
“ Yang kau lakukan hanya
mengkhawatirkan Adi. Adi! Adi! Adi! Tak peduli apapun yang dia lakukan, mama
terus saja membelanya. Mama menutup mata atas apa yang telah diperbuatnya
hingga kita menjadi seperti ini, Ma! Kita seperti buronan yang mengemis
kebebasan. Dikejar rentenir bank, di terror, dan banyak gunjingan yang kita
dapatkan. Tetapi apa yang mama lakukan? Apa? Jawab aku, Ma! Mama selalu diam,
seolah semua baik-baik saja. Menceritakan hal baik tentangnya, dan terus mendongengiku
dengan kisah-kisahnya di masa lalu yang gak berguna sama sekali buatku, Ma ”
“ Cukup, Rani! Cukup! Dia itu
kakakmu ”, bentak mama.
“ Kenapa? Kenapa, Ma? Karena mama
tidak kuat mendengar aku membeberkan fakta tentang anak kesayangan mama itu?
Iya? ”
“ Mama bilang cukup, Ran ! ”,
teriak mama yang langsung menampar Rani.
“ Tampar lagi, Ma! Tampar ! kalau
perlu lebih keras. Mama bahkan tidak pernah memukul Adi walau dia melakukan
seribu dosa. Mama selalu melampiaskannya padaku. Kalau perlu bunuh saja aku,
Ma. Kalau memang mama tidak mengharapkan kehadiranku, dari aku masih berupa
janin. Kenapa mama tidak menggugurkan aku, Ma? Kenapa? Kenapa aku harus
mengalami kepedihan ini ? Kenapa aku harus merasakan dampak yang bukan
kuperbuat ”, tantang Rani, dia bergegas meninggalkan mamanya dan berlari keluar
rumah.
Rani terus berlari, ia tak kuasa
menahan kesedihannya. Sejak kecil, ia merasakan ketimpangan kasih sayang yang
luar biasa. Mamanya begitu memanjakan kakaknya, Adi. Apapun yang ia minta akan
selalu dikabulkan. Papa pun demikian, semarah-marahnya mereka tak pernah
terlihat mereka memukulnya. Padahal papa dan mama sering dipanggil guru ke
sekolah karena kenakalan kakak. Namun
mereka bersikap seolah tak terjadi apapun. Ketika Rani dan Adi bertengkar, mama
selalu memarahi Rani, dan menyuruhnya meminta maaf pada kakaknya. Papa pun
pernah memukul Rani karena dia membentak kakaknya dan mereka bertengkar hebat,
saat itu Rani masih SMA dan Adi kuliah di salah satu universitas swasta.
Rani ingat betul ketika mereka
bertengkar, Adi sampai memegang pisau dan mengarahkannya pada Rani. Rani yang
ketakutan berusaha terlihat tenang, ia berfikir apabila ia memang harus mati
ditangan kakaknya, ia rela. Toh, orang tua mereka tidak akan terlalu
mempermasalahkan hal itu. Mereka akan terus membela Adi sampai akhir. Rani
sudah ikhlas dengan takdirnya saat itu.
Tanpa sadar, Rani berlari menuju
taman bunga di daerah belakang perumahannya. Rani jatuh tersungkur di bawah
tiang basket. Ia sudah tak kuat berlari. Ia berteriak, bukan darah yang menetes
dari lututnya yang ia tangisi. Kepedihan dihatinya yang sudah tak bisa
dibendung, ia tak mampu menahannya lagi. Ia menjerit, menangis tersedu-sedu.
Rani memukul aspal lapangan tersebut, ia terus menangis. Kenapa ia harus lahir di keluarga ini? Kenapa harus ada kakaknya ?
kenapa dia tidak mati saja? Kenapa dia selalu menyusahkan orang tua mereka?
Kenapa?
Rani yang kelelahan pun
terjerembab dan pingsan.
“ Rani? ”, kata seorang pria di
sampingnya.
“ Ahmad? Kau… ”, tanya Rani
bingung, ia memerhatikan sekeliling. Ia menyadari bahwa ini adalah kamar inap
di rumah sakit.
“ Hei, mau kemana, Ran? ”, tanya
Ahmad yang menahan Rani yang tiba-tiba bangun.
“ Aku mau pergi dari sini,
tinggalkan aku! Biarin aku sendiri! Pergi! ”, kata Rani marah-marah
“ Pergi? Dengan kondisimu seperti
ini? Istirahatlah, Ran ”, Ahmad tertawa sinis memaksa Rani untuk beristirahat.
“ Cukup! Aku mau pergi! Kau tidak
bisa menghentikanku ”, paksa Rani.
“ Tenangkan diirimu, Ran! ”, kata
Ahmad menggenggam bahu Rani.
“ Lepaskan! Lepaskan! ”, teriak
Rani menolak.
Mendengar keributan ini, suster
pun masuk ke dalam kamar, Ahmad meminta suster untuk memberikan Rani obat
penenang. Ahmad menahan erangan Rani yang begitu kuat. Rani menjerit. Ia
menangis, menangis, dan terus menangis. Rani bahkan meronta-ronta. Namun, Ahmad
mampu menahannya hingga suster memberikan obat penenang. Setelah itu, ia duduk
di sebelah Rani dan menemaninya sepanjang malam.
Keesokan harinya, Ahmad yang
ketiduran terbangun dan terkejut melihat
Kasur dalam keadaan kosong. Ia pun segera berlari. Ia memanggil Rani,
menanyakan hal tersebut kepada suster penjaga, dan melihat sekeliling. Namun ia
belum menemukan Rani. Ahmad terus mencari di sekitar rumah sakit. Ia menuruni
setiap anak tangga seraya mengamati sekeliling.
Ahmad adalah teman masa kecil
Rani, ia tinggal tepat di sebelah rumah Rani. Mereka selalu bersekolah di
sekolah yang sama, sejak TK hingga SD. Ahmad memutuskan untuk masuk SMP swasta
terbaik. Namun, Rani ingin meringankan beban orang tuanya, hingga ia memutuskan
masuk SMP Negeri yang saat itu gratis karena subsidi pemerintah. Ahmad ingat
bahwa dulu ia pernah berjanji kepada Rani, ia akan menggapai mimpinya untuk
menjadi pengamat bintang dan menjadikannya istri dimasa yang akan datang. Ahmad
tidak mengetahui apakah Rani mengingat semua itu. Namun, ia selalu
mengingatnya. Ia tidak akan melupakan hal sepenting itu.
Setelah itu, Ahmad melihat Rani
di taman rumah sakit. Ia duduk termenung. Wajahnya pucat sekali, Nampak jelas
kesedihan di raut wajahnya. Ahmad segera berlari dan menghampiri Rani.
Setibanya di taman, Ia duduk disebelah Rani.
“ Hei! Kau tak apa? ”, tanya
Ahmad.
… Rani tidak menjawab pertanyaan
Ahmad.
“ Kamu tampak begitu pucat, masuk
yuk ke kamar, kamu kan masih sakit ”, ajak Ahmad. Namun Rani tetap tidak
meresponnya.
“ Astaga! Aku sampai lupa, Ran.
Aku belum mengabari orang tuamu. Sebentar ya, aku akan menelepon mereka ”, kata
Ahmad. Ketika ia akan mengambil handphone yang ia tinggalkan di kamar inap
Rani, Rani menarik lengan Ahmad. Ia menggenggam lengan tersebut begitu kuat.
“ Jangan! Jangan hubungi mereka,
aku mohon padamu. Aku akan nurut, tapi tolong jangan hubungi mereka. Tolong
pahamilah! Aku butuh waktu. Aku mohon padamu ”, pinta Rani. Ia begitu
bersikukuh akan hal ini.
Ahmad yang merasa ini bukanlah
keputusan yang tepat pun mengiyakan permintaan Rani. Ia akan memahami situasi
yang membingungkan ini. Melihat kondisi Rani yang masih belum stabil, ia merasa
harus menjaganya terlebih dahulu dan tidak memaksanya untuk bercerita. Ia akan
menunggu hingga Rani sendiri yang menceritakan apa yang menjadi penyebab
kesedihannya. Ahmad pun membopong Rani kembali ke kamarnya, dan membaringkan ia
ke tempat tidur. Dilihatnya, air mata mengalir dari mata Rani yang bening.
Ahmad begitu merasa resah.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada teman masa kecilku ini. Pikir Ahmad
Setelah itu, suster datang
membawa sarapan. Setelah mengucapkan terima kasih, Ahmad mengambil makanan
tersebut dan menyuapi Rani. Rani menolaknya namun Ahmad memaksa. Rani tetap
menolak.
“ Kamu ini kenapa sih, Ran! ”,
heran Ahmad.
“ Dari kemarin kamu gak mau
makan, kamu gak sayang sama tubuhmu? Tubuhmu gak salah apa-apa ”, lanjutnya.
“ Tahu apa kamu? Kamu yang
tiba-tiba menghilang dariku sejak SMP, kamu yang tiba-tiba menjauh dan tak
pernah memerhatikanku. Kenapa sekarang kau berpura-pura baik dihadapanku. Apa
maumu? ”, kata Rani datar dengan raut wajah tertekan.
“ Aku khawatir dengan kondisimu,
Rani! Tanpa kau sadari, aku selalu memperhatikan dirimu dan mengawasimu. Memang
aku tak pernah ada untukmu. Keputusanku untuk kuliah di luar kota pun tak
kusampaikan padamu. Tapi setiap aku pulang, aku selalu ingin melihatmu. Maafkan
keegoisanku, Ran ”, tutur Ahmad dengan nada sedih.
“ Kenapa tuhan tidak adil padaku?
Kenapa aku perlu dilahirkan kalau tak ada yang menyayangiku ? kenapa ? ”, tanya
Rani pada dirinya sendiri.
“ Kamu salah, Ran. Allah
menciptakan kita pasti ada tujuannya. Aku yakin di luar sana banyak yang
menyayangimu tanpa kau sadari. Kau hanya perlu merelakan dan memberanikan
dirimu untuk maju sekali lagi ”, nasihatnya.
“ Rela? Selama ini yang kulakukan
hanyalah menahan dan terus menahan kesakitan ini ”, balas Rani. Setelah itu, ia
memutuskan untuk tidur.
Ketika Rani bangun, ia tak
melihat siapapun dikamar itu. Ia merasa sudah tidak lagi sakit, ia tidak ingin
berlama-lama di rumah sakit ini. Ia merasa Ahmad pasti mengabari keluaganya. Ia
tak mau lagi melihat keluarganya itu. Ia pun bersiap dan bergegas meninggalkan
rumah sakit. Ketika ia keluar dari kamar,
“ Rani ? ”, panggil seorang
ibu-ibu dari arah Barat.
“ Tante Nina? ”, Rani begitu
terkejut melihatnya di rumah sakit. Terlebih lagi, ia terkejut karena ada yang
memergokinya yang akan kabur.
“ Kenapa tante bisa ada disini?
Kamu! ”, tanya Rani heran yang kemudian langsung menoleh ke arah Ahmad.
“ Maaf, Ran! Aku berjanji padamu
tidak menghubungi orangtuamu. Oleh sebab itu, aku menghubungi tante Nina,
lagipula yang kutahu dia dekat denganmu kan? ”, kata Ahmad menyesal.
“ Kamu bisa gak sih, peka sedikit
saja! Aku Cuma butuh waktu ”, kata Rani kesal.
“ Butuh waktu buat apa, Rani?
Sampai kapan? Ngomong-ngomong kenapa kamu keluar kamar, pakai baju rapi pula.
”,kata Ahmad yang ikut-ikutan kesal.
“ Kamu mau kabur lagi, Rania
Handoko? ”, tanya tante Nina yang memandangi Rani.
“ Bukan urusan tante ataupun dia
”,
Tante Nina yang geram dengan
tingkah Rani pun menarik lengan Rani kemudian masuk kembali ke dalam kamar
inapnya. Ahmad pun mengikutinya. Ia merasa khawatir jika mereka bertengkar.
“ Hentikan, Ran! Jangan seperti
anak kecil! ”, perintah tante Nina.
“ Anak kecil? Siapa yang anak
kecil, Tan? Aku atau dia, hah? ”, tanya Rani marah.
“ Apa yang kamu bicarakan, Rani ?
”, tanya tante Nina bingung.
“ Gak usah pura-pura lagi, Tan!
Kalian semua selalu menganggapku anak kecil, kalian bahkan tak bisa
mempercayaiku. Kalian terus saja mempercayainya yang kurang ajar itu ”, teriak
Rani.
“ Nak, Ahmad! Tante tidak
bermaksud mengusir, tante perlu bicara berdua dengan Rani. Mohon maaf sekali,
karena ini urusan keluarga. Tante harap kamu tidak tersinggung, ya. Oia, terima
kasih sudah merawat dan menjaga Rani selama disini ”, kata tante Nina kepada
Ahmad.
Setelah itu, Ahmad pun berpamitan
dan keluar. Sebelum ia keluar, ia berkata kepada Rani bahwa apapun yang
terjadi, kapanpun Rani membutuhkan dirinya, ia akan ada untuknya.
“ Kamu kenapa sih, Rani? Kenapa
jadi pemarah seperti ini? Kenapa pakai berantem segala sama mamamu? ”, tanya
tante Nina heran.
“ Aku benci sama keluarga ini,
Tan! Aku benci! ”, kata Rani.
“ Tante tahu kamu begitu marah,
tetapi kami tetap keluargamu dan kita menyayangimu, Ran ”, kata tante Nina
seraya memeluk Rani. Namun, Rani menolak pelukan tersebut.
“ Bohong! Tante bohong! Mama juga
selalu menutupinya, papa pura-pura tidak mengetahui apapun bahkan tante yang
selalu baik padaku pun tak pernah bercerita tentang keluarga kecilku ini.
Kalian semua memainkan topengnya masing-masing ”, tutur Rani.
“ Topeng? Topeng apa yang kamu
maksud ? ”
“ Hahaha… Bagus! Acting yang
bagus sekali, Tan! Baiklah, akan kuceritakan kalau tante memaksaku! Dari awal
tante sudah tahu bahwa aku selalu merasa sedih karena kasih sayang orang tuaku
yang tak adil padaku. Tante selalu menghiburku dan memberikan nasihat positif
bahwa orang tua tidak mungkin tidak sayang pada anaknya. Namun kelalaian adalah
sifat alami manusia, mungkin tanpa disadari mama dan papa lalai berlaku adil
padaku. Adi yang tak pernah mengajakku bermain pun selalu membuatku memiliki
pengalaman buruk dari masa kecilku. Aku tahu dia tak pernah sayang padaku”.
Paparku.
“ Mana mungkin kakakmu tak
menyayangimu ? ”, tanya tante Nina yang menyangsikan pernyataan Rani.
“ Aku bicara seperti itu bukan
tanpa alasan. Dua tahun yang lalu, aku baru menyadarinya. Itu pun karena mama
kelepasan bercerita kepadaku. Tetapi aku bersyukur akan hal tersebut ”, lanjut
Rani.
“ Cerita apa? Apa yang
dibicarakan mamamu, Ran ? ”, tanya tante Ani seraya duduk di kursi yang ada di
hadapannya.
“ Sejak aku masih di dalam
kandungan, kakak tidak menginginkan keberadaanku. Ketika mama menyampaikan
bahwa mama sedang mengandungku, kakak begitu marah. Ia tidak ingin memiliki
adik. Ia tidak ingin kasih sayang orang tuanya terbagi. Ia bahkan menyuruh mama
menggugurkanku ”,
“ Astaga! Mengapa Sita bisa
kelepasan begini? Ini bukanlah hal yang patut diceritakan apalagi kepada dirimu
”, kesal tante Nina pada mama Rani, kakaknya.
“ Memangnya kenapa, Tan? Kenapa
kalau sampai aku tahu? Kenapa tante bisa tahu masalah ini ? kenapa tante tidak
pernah bercerita kepadaku, kenapa ? aku begitu percaya padamu. Aku begitu
menghormatimu. Tetapi kenapa, Tan? Kenapa? ”, tanya Rani yang tidak percaya,
emosinya benar-benar bercampur aduk.
“ Karena ini memang tidak patut
diceritakan, Rani! Karena ini, kamu akan sakit hati dan akan selalu salah
paham! ”, suara tante Nina yang tiba-tiba memekik membuat Rani terkejut dan
diam seketika.
“ Baiklah, akan tante lanjutkan
cerita mamamu itu, saat kakakmu, Adi. Mengetahui kehamilan kedua mamamu, aku
ada disana. Aku juga kaget mendengar jawaban Adi. Tetapi bagi kami itu hanyalah
celotehan anak kecil. Kemudian, ketika kamu sudah bisa di USG, dokter
menyatakan kamu adalah seorang wanita, Adi semakin marah. Awalnya ia sudah bisa
menerima adanya dirimu, ia berharap adiknya laki-laki karena bisa diajak
bermain sepak bola. Dan ia begitu membenci wanita, karena mereka cengeng dan lemah.
Ia semakin menolak keberadaanmu. Namun orang tuamu menghiraukannya dan
melanjutkan keberadaan dirimu. ”, cerita tante Nina melanjutkan cerita yang
disampaikan Rani.
“ Iya! Karena itulah aku selalu
diperlakukan tidak adil olehnya, aku selalu dibully, dipukul, bahkan dia pernah
mengunciku di halaman rumah hanya karena urusan sepele. Aku ingat betul, saat
itu sedang ada badai. Saat itu aku bersumpah tidak akan melupakan kejadian itu
dan akan membalasnya. Dia setan! Setan! Pengecut! Sampah! ”, hardik Rani.
Plakk ( Tante Nina menampar Rani )
“ Ran.. Rani.. hh.. Tante.. ”,
Tante Nina merasa bersalah karena bertindak gegabah seperti itu.
“ Sudah? Puas mukulnya? Kalau
masih kurang, tampar lagi, Tan! Tampar! Ayo! ”, tantang Rani.
“ Dari awal tidak ada yang sayang
padaku, jangan datangi aku lagi, Tan. Bilang saja pada mereka semua kalau Rania
Handoko sudah mati. Aku takkan menjumpai mereka lagi, termasuk tante. Aku tak
menyangka tante juga membelanya. Seharusnya dari awal aku sadar kalau kau juga
memainkan perang yang sama di balik topengmu itu ”, Rani pun keluar dengan
membanting pintu. Ia sudah tak ingin kembali lagi ke rumah itu.
Rani terus berjalan, terus
berjalan, dan terus berjalan. Ia tak tahu harus kemana, namun ia memutuskan
untuk terus berjalan. Sudah tidak ada siapapun lagi yang ia percaya, ia sudah
tidak memiliki siapa-siapa lagi. Setelah berjam-jam berjalan, tanpa sadar ia
berhenti di suatu tempat.
“ Rumah social milik bersama
dikelola bekerja sama dengan pemerintah ”, kata Rani yang mengucapkan apa yang
ia baca di papan yang menggantung di teras.
“ Permisi, Mbak! Ada yang bisa
saya bantu? ”, tanya seorang ibu yang membawa belajaan.
“ Ah, maaf Bu! Saya ingin bertemu
dengan pemilik rumah social ini. Saya ingin memohon untuk tinggal dan bekerja
disini. Saya tahu kalau memang saya tidak layak dapat tumpangan disini. Tetapi
saya juga akan membantu orang-orang disini ”, papar Rani.
“ Ah! Iya, iya! Perkenalkan, Saya
Mutia Fatimah. Saya pemilik rumah ini, ini adalah impian mendiang suami saya,
silakan masuk ”, kata Mutia memperkenalkan diri dan memperkenalkan diri. Rani
pun membantu membawa belanjaan Ibu Mutia.
“ Mohon maaf sebelumnya, Bu.
Perkenalkan, Saya Rania. Panggil saja, Ran. Sampai tahun kemarin saya masih
terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu universitas negeri disini, Bu ”, kata
Rani memperkenalkan Rani.
“ Baiklah, Nak Rani. Tetapi kalau
boleh, apakah saya bisa melakukan wawancara sebentar denganmu? Saya rasa tidak
adil kepada yang lain jika saya tidak tahu tentang mu, dan kita akan sama-sama
terhindar dari kecurigaan jika kita sudah saling mengenal. Tak kenal maka tak
sayang, bukan ? ”, pinta Ibu Mutia.
“ Dengan senang hati, Bu. Terima
kasih atas kebaikan yang diberikan padaku, Bu ”, jawab Rani tersenyum.
“ Silakan duduk! ”, kata Ibu
Mutia seraya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“ Terima kasih ”, jawab Rani.
“ Baiklah, Nak Rani sekarang
tinggal dimana? Ngekos apa ada rumah? ”, tanya ibu Mutia memulai wawancara. Wawancara ini bukanlah wawancara formal
seperti melamar kerja
“ Hm… Saya tinggal di perumahan
Bumi Asri, Bu. Tetapi saya memutuskan untuk keluar, Bu. Saya luntang-lantung
dijalanan. Tanpa sadar saya sampai disini. Oleh sebab itu, saya memohon kepada
ibu untuk mengizinkan saya tinggal dan membantu disini. Saya sudah tidak punya
tempat tinggal. Saya juga sudah tidak memegang uang, Bu ”, papar Rani dengan suara rendah.
“ Kamu ada masalah di rumah ?
atau lagi berantem dengan keluarga? ”, tanya Ibu Mutia pelan.
… Rani diam, ia bingung bagaimana menjawabnya
“ Ah! Kalau memang tidak bisa
cerita, tidak apa-apa, Ran. Saya tau kamu bukanlah anak yang nakal, saya minta
maaf sudah menyinggung hal yang bukan wewenang saya ”, kata Ibu Mutia
menenangkan.
“ Maafkan saya, Bu. Tapi saya
janji, ketika saya siap, pasti ibu akan saya ceritakan apa yang telah terjadi.
Saya harap ibu mau memahami kondisi saya saat ini. Maafkan keegoisan saya, Bu.
Maaf! ”, kata Rani yang setelah itu sedikit terisak. Memori-memori menyakitkan
itu terus tayang dalam benaknya. Ia tak ingin mereka menghantui kehidupannya
lagi.
“ Tenang saja, Nak Rani ”, Ibu
Mutia menggenggam tangan Rani seperti menggenggam tangan anaknya sendiri. Ia
berusaha menghibur Rania.
“ Oia, Nak Rani pasti capai, ayo
kita lihat kamarmu. Maaf ya, kamarnya kecil. Tetapi ibu harap kamu betah. Tidak
usah sungkan sama ibu, anggap saja saya ini ibumu sendiri ”, kata Ibu Mutia
yang mengajak Rani ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya.
“ Ibu bahkan lebih baik dari
mama. Saya tidak akan menganggap ibu seperti mama karena ibu lebih baik, insya
Allah. Terima kasih atas kebaikanmu, maaf! ”, kata Rania yang tak kuasa menahan
tangisnya. Ibu Mutia langsung memeluk gadis yang muram itu. Ibu Mutia begitu
terkejut mendengar pernyataan Rania barusan. Ia tak tahu harus merespon seperti
apa, namun ia menduga bahwa Rania ada masalah dengan ibunya. Namun, ia
memutuskan untuk diam sampai Rania yang bercerita padanya.
“ Sekarang kamu istirahat, kalau
sudah baikan. Besok menjelang shubuh kamu bantu ibu membersihkan tempat ini,
Ya. Karena kita harus mempersiapkan anak-anak untuk sholat sekalian ibu akan
memperkenalkan dirimu sebagai kakak mereka ”, kata Ibu Mutia menjelaskan.
“ Saya merasa malu, Bu. Saya tak
pantas menjadi kakak mereka, Bu ”, kata Rania malu.
“ Bukan hak manusia menentukan
kepantasan seorang manusia. Kamu harus bisa memaafkan dirimu, dan keadanmu, Nak
Rani. Sekarang, beristirahatlah! ”, saran Ibu Mutia.
Rani mengucapkan terima kasih
sekali lagi, kemudian ia pamit masuk kamar. Setelah menutup pintu, Rani melihat
sekeliling kamar tersebut. Ia meletakkan tasnya di Kasur tepat di pinggir
bantal. Setelah itu ia langsung merebahkan diri dan menutup kedua matanya
dengan lengan kananya. Tanpa disadarinya, air mata mengalir ke pipinya.
Sejujurnya, Rani merasa lelah. Ia lelah bersedih, ia lelah merana. Ia ingin melepas
belenggu dihatinya. Namun itu terlalu melekat seperti jamur yang terus
menggerogoti hatinya.
Ia telah tertidur cukup lama, ia
benar-benar kelelahan. Tak terhitung berkilo-kilo ia tempuh dengan berjalan.
Ketika ia membuka matanya, Rani melihat jendela. Langit yang cerah sudah
berubah menjadi kegelapan yang bersama kedinginan berusaha membekukan hatinya
sekali lagi. Kemudian ia menutup jendela, dan bersiap. Ia melihat jam di
handphonenya.
Jam 2 malam, aku sudah tertidur lebih dari 7 jam, Katanya di dalam
hati.
Rani bersiap untuk mandi. Ketika
ia membuka pintu, di depan kamarnya terdapat sebuat tas kertas kecil, Rani
menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada siapapun. Ia mengambil ta situ dan
melihat isinya. Ia begitu bahagia, ternyata isi di tas tersebut adalah
baju-baju baru dan perlengkapan mandi. Ia pun meletakkan tas tersebut ke dalam
kamar dan mengambil seperlunya untuk mandi. Setelah ia sudah bersiap, tak
sengaja ia melewati kamar Ibu Mutia. Ia menghentikan langkahnya karena ia
mendengar suara tangisan yang begitu pelan.
“ Ya Allah, hamba berserah diri
kepadamu. Ampuni dosa suami hamba, anak-anak asuh hamba, gadis malang itu, dan
hamba, Ya Rabb. Hamba hanyalah seorang manusia yang penuh kelalaian, karena
itulah kau tidak memberi kami anak hingga Engkau panggil kembali suami hamba.
Berikanlah petunjuk, bagi kami yang buta ya Rabb sehingga kami tidak tersesat.
Hamba percaya, engkau membawa Rania kepadaku bukan sebagai kebetulan. Hamba
percaya, engkau memberi kesempatan kepada Hamba untuk menjadi seorang ibu
baginya dan bagi mereka yang membutuhkan. Hamba juga percaya, bahwa engkau
mengirimkan mereka ke rumah ini agar hamba tidak kesepian, agar kami bisa
saling menjaga dan senantiasa bersyukur padamu. Terima kasih ya Allah.
Bimbinglah hamba, sehingga hamba bisa membantu dan menjaga mereka semua, Rani
dan orang-orang yang ada di panti ini ”, doa Ibu Mutia dalam sujudnya.
Mendengar hal itu, Rani
benar-benar tak bisa menahan air matanya. Ia tak tahu apa yang dirasakan saat
ini. Hatinya begitu merasa lega, begitu berdebar-debar. Ia merasa bersyukur
telah dipertemukan dengan wanita mulia ini. Semoga
Allah memberi Ibu tempat yang lebih baik dan selalu dinaungi keberkahan. Doa
Rania.
“ Rania? ”, panggil Ibu Mutia.
“ Selamat pagi, Bu! Saya sudah
bersiap. Oia, apakah ibu yang meletakkan tas di depan kamar Rani? ”, salam Rani
yang sekaligus bertanya tentang ta situ.
“ Iya, memang ibu yang
meletakkannya disana. Ibu tidak ingin mengganggumu yang sedang istirahat. Jadi
ibu biarkan saja di depan. Bagaimana ? kamu suka? ”
“ Saya suka sekali, Bu. Terima
kasih banyak ”, kata Ran bahagia.
“ Alhamdulillah! Ya sudah,
sekarang Nak Rani bantu ibu mempersiapkan sarapan, sekalian ibu akan
menceritakan siapa-siapa saja yang tinggal disini dan kegiatan-kegiatan yang
ada disini. Semoga kamu tidak bosan mendengarkan cerita ibu, ya ”, kata Ibu
Mutia mengajak Rani ke dapur.
Rani diminta Ibu Mutia untuk
membersihkan sayuran yang akan dibuat sop dan memintanya untuk memotong wortel
menjadi berbentuk seperti dadu. Ibu Rani sedang membersihkan ayam yang akan
menjadi lauk pagi ini.

Komentar