Memoar Braile - Chapter 1
Kilas Balik di Masa Lalu
“
When the sun is reluctant
to shine, let it go moonlight replace “
Kisah ini tentang dua manusia yang
dipertemukan dalam benang takdir yang tak terduga. Ketika seorang wanita
mencari cinta ibunda tercintanya yang kemudian dipertemukan dengan pemuda
tampan yang rapuh. Pertemuan mereka membawa kisah yang berlanjut dalam
kehidupan mereka.
Senja kala itu terasa menyakitkan bagi wanita
berparas lembut ini, namanya Aini. Seorang wanita yang berhijrah menjadi
pribadi yang lebih baik, namun cobaan datang menimpa dirinya. Impiannya untuk
memiliki keluarga yang utuh dan bahagia di jalan Allah tidak dapat terwujud.
Matahari yang turun dari peraduan memancarkan
warna-warna kehidupan. Namun hal itu tak mampu menghalangi kelabu di hati Aini.
Ia tampak murung, matanya yang kosong menatap lurus ke depan tetapi tak ada air
mata yang jatuh, bibirnya yang mungil nampak pucat, begitu menyayat hati
siapapun yang melihatnya. Aini berdiri dengan menggenggam sebuah surat berwarna
merah hati yang mungkin tak dapat dilihatnya. Ia sedikit meremas surat yang
lusuh itu.
( Lima tahun
yang lalu ).
“ Selamat pagi semuanya, Nama Saya
Sashikirana Aini! ”. Kata Aini memperkenalkan diri dihadapan teman-teman barunya.
Aini saat ini tengah mengikuti sesi
perkenalan dalam serangkaian kegiatan Pra Pengenalan Kehidupan Kampus untuk
Mahasiswa Baru atau biasa dikenal dengan orientasi kampus di salah satu
Universitas di Surabaya.
“ Selamat pagi, ehmm.. Sashimi?
Aini? “. Kata seorang gadis berambut ikal yang cantik.
“ Aini “, kata Aini.
“ Asal dari mana Ai? “. Kata seorang
lelaki bertubuh jakung dan berpipi tirus, dia berdiri di sebelah kanan Aini.
“ Dari Jakarta “.
Semua tampak terkejut mendengar
jawaban Aini. Mata mereka saling memandang penuh keheranan. Mengapa gadis
Jakarta ini memutuskan kuliah di Surabaya, sedangkan disana banyak
universitas-universitas terbaik yang bisa ditempuh lebih dekat dari kota
asalnya. Namun rasa penasaran mereka hilang ketika lelaki disebelah Aini
memperkenalkan dirinya, kemudian diikuti yang lain.
Aini memiliki alasan yang kuat mengapa
ia harus kuliah di Kota Pahlawan ini. Dia ingin mencari seseorang yang berarti
dalam hidup ibunya, walau berat untuk Aini, tetapi ia tahu bahwa ibunya telah
menahan diri demi dirinya selama ini.
Aini hidup dalam keluarga yang tak sempurna, ia
sangat membenci ayahnya. Luka yang telah tergores tak mampu mengering dari hati
Aini walau waktu telah berlalu 4 tahun lamanya. Aini bahkan tidak tahu
keberadaannya saat ini. Keputusan Aini untuk pergi ke Surabaya membuat hati
Sinta, Ibu Aini, sedih. Ia tak rela anak semata wayangnya meninggalkannya
sendirian. Namun, Sinta juga masih memiliki tanggung jawab untuk menangani
proyek pembangunan jembatan layang di salah satu daerah di Jakarta. Aini
menjelaskan bahwa ia berniat untuk membuat ibunya bahagia, tidak ada maksud
untuk meninggalkannya. Aini juga meminta kepada ibunya, untuk segera menyusul
ketika urusan proyek selesai.
“ Aini? Serena Calista “. Tiba-tiba
seseorang mengagetkan Aini dengan menjulurkan tangannya.
“ Ah, Iya. “, kata Aini, senyum simpul
terpancar dari wajahnya. Ia membalas uluran tangan gadis itu.
“ Panggil saja Serena. Oia, aku
penasaran banget nih sama kamu, ikut yuk! “. Tiba-tiba Serena menarik lengan
Aini, mengajaknya menyusuri taman bunga yang ditengahnya terdapat danau. Aini
melihat di tengah danau terdapat rumah-rumahan tempat tinggal sekawanan
merpati. Aini tak bisa memalingkan matanya bahkan sedetik pun dari pemandangan
yang dilihatnya itu .
Kemudian Serena mengajak Aini menyusuri
jalan setapak. Aini merasa kebingungan, kemana
gadis ini membawaku pergi? Pikir Aini. Lalu mereka berhenti di sebuah
halaman yang cukup luas, Serena mempersilakan Aini duduk di atas rerumputan.
Aini melihat sekeliling, pohon berdiri tegak dimana-mana, dan bunga-bunga
tumbuh subur.
“ Aku kaget waktu tahu kalau kamu dari
Jakarta ”, kata Serena memulai pembicaraan.
“ Ehem... ”, kata Aini cuek.
“ Memangnya alasanmu apa memilih kampus
ini ? ”, tanya Serena penasaran.
“ Aku harus mencari seseorang ”, kata
Aini yang kemudian pergi meninggalkan Serena begitu saja.
“ Ai! Ai! Marah ya? Sorry deh. Ai! ”,
Serena berusaha memanggil Aini, namun ia menghiraukannya.
Setelah itu masa orientasi kampus untuk
mahasiswa barupun datang, Serena yang begitu bersemangat di hari pertama ini,
ia berusaha menemui Aini. Ia ingin meminta maaf kepada Aini, Serena merasa
tidak sopan kepada Aini. Serena hanya ingin berteman dengannya. Namun, Serena
tak menemukan tanda-tanda kalau Aini mengikuti kegiatan ini. Hingga masa
orientasi kampus berakhir, Serena tak juga berjumpa dengannya.
Kemudian ia pergi ke kantor
administrasi, menanyakan apakah ada mahasiswa bernama Sashikirana Aini di
jurusan sastra inggris di universitas tersebut. Serena mendapat informasi bahwa
Aini memang terdaftar sebagai mahasiswa baru di jurusan tersebut. Mendengar hal
itu Serena merasa lega, ia kira Aini yang itu adalah hantu yang tak sengaja ia
lihat dan temui.
Serena begitu mengkhawatirkan Aini, mengapa ia tidak mengikuti masa orientasi
kampus? Apa dia sakit? Pikir Serena. Kemudian Serena ingat tentang tujuan
Aini ke Surabaya. Serena memutuskan
untuk tidak ikut campur lagi selama Aini tidak bercerita kepadanya.
Hari pertama kuliah dimulai, Serena
begitu tegang menghadapi hari ini. Wajar saja, pagi ini dia sudah mencatat
rekor di buku dosen dengan absensi keterlambatannya yang mencapai batas akut,
“setengah jam”. Serena mendapat tugas tambahan untuk membuat esai tentang How to prepare the younger generation to face the Asean
Economic Community in the field of economy.
Dosen gila! Pikir Serena. Ia tak melihat bahwa Aini datang ke kampus, Serena
merasa Aini seperti hilang diterpa angin. Kemana
sih tu anak? Pikir Serena kesal. Dua hari berikutnyapun Aini tak kunjung
datang.
Hingga keesokan
harinya,
“ Aini? ”, panggil
Serena.
“ Hai, Serena ”, jawab
Aini tersenyum.
“ Kamu ya ! Aku cari
kamu seperti mencari anak kucing yang
hilang, loh ”, kata Serena.
“ Maaf, kemarin aku
masih sibuk. Aku juga sudah mengajukan izin ke pihak kampus kok ”,
“ Kamu masih marah sama
aku ya, Ai? ”, tanya Serena seraya duduk disebelahnya.
“ Nggak kok, kejadian
kemarin aku minta maaf ya, ninggalin kamu sendirian begitu saja ”.
“ Santai saja kalau
sama aku. hahaha... ”, Serena tertawa. Rambutnya yang panjang terurai begitu
lembutnya, hitam berkilauan dihiasi pita bewarna merah hati menambah keelokan
paras gadis ini.
Mereka menjalani
keseharian sebagai mahasiswi di jurusan sastra inggris dengan baik seperti
umumnya yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa lainnya. Setiap kegiatan
perkuliahan mereka lakukan bersama. Makan di kantin bersama, belajar bersama,
mengikuti kegiatan non akademik bersama, bahkan sesekali mereka jalan-jalan berdua.
Aini juga tak segan meminta Serena untuk menginap di rumahnya karena memang
Aini tinggal sendirian di rumah tipe 72 itu.
Tak terasa satu
semester telah berlalu begitu saja, Serena masih menyimpan rasa penasarannya
selama ini, Aini yang sudah dianggapnya sebagai saudara, masih menutup rapat
tentang dirinya. Serena hanya mengetahui bahwa Aini tinggal di sebuah rumah di
kawasan perumahan Bumi Citra di Surabaya seorang diri. Aini sering meminta
Serena untuk menginap di rumahnya, dan di suatu malam ketika Serena menginap,
ia tak sengaja mendengar Aini menangis di keheningan dua pertiga malam. Serena
merinding,ia berdiri tegap dalam diam.
Memandang sosok mungil yang bersimpuh dihadapan sang Illahi. Hati Serena
bergetar, mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” .
(Al-Baqarah:153)
Sumber
: http://fakhrulrasib.blogspot.co.id/2011/06/ayat-ayat-al-quran-tentang-sabar.html
MahaSuci Allah atas
segala kebesaranNya. Serena merasa bersyukur bisa dipertemukan dengan gadis
baik hati ini.
@@@
“ Serena? ”, kata Aini
membangunkan Serena yang saat ini sedang tidur pulas di kamar Aini.
“ Kenapa Ai ? “, tanya
Serena malas. Ia bahkan tak sanggup membuka kedua matanya.
“ Aku ingin kamu
membaca ini “, memberikan secarik kertas.
“ Apa ini ? ”, tanya
Serena seraya bangun.
“ Ini akan jadi salah
satu karyaku, aku ingin kamu menjadi pembaca pertamanya ”.
Serena membaca tulisan
itu,
“ When The Prince Make
a Wish ”
When the prince make a wish
Although it is another one
I try to accept it
Although it is make a hole in my heart
When he happy with another woman
I cannot angry about it
Just my tears that bring you to her
Just my word to say "you and her are the sweetness couple"
It is not about the sacrifice
It is about me who love you suddenly
Because I love you in silent night
Maybe you never see it
Maybe you never care about it
But, you must now.
In my midnight, I always pray that I can be a woman who you need
I can be your back
I can be your home
I can be a woman who special in your life, forever.
Although it is another one
I try to accept it
Although it is make a hole in my heart
When he happy with another woman
I cannot angry about it
Just my tears that bring you to her
Just my word to say "you and her are the sweetness couple"
It is not about the sacrifice
It is about me who love you suddenly
Because I love you in silent night
Maybe you never see it
Maybe you never care about it
But, you must now.
In my midnight, I always pray that I can be a woman who you need
I can be your back
I can be your home
I can be a woman who special in your life, forever.
Serena
diam, dan langsung memeluknya.
“
Gak tahu harus ngomong apa, jadi baper banget, Ai ”. Aini memeluknya hangat
sambil membelai Serena. Tiba-tiba Aini tertawa dan Serena pun ikut tertawa.
Dua
hari kemudian, Sinta, Ibu Aini, berkunjung ke Surabaya. Aini begitu bahagia,
Aini bahkan tak percaya ibunya ada di Surabaya. Aini membawa serta Serena, ia
memperkenalkan Serena kepada ibunya. Ibunya merasa lega bahwa Aini tidak
sendirian di kota beribu cerita ini. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung
lama, karena ibu Aini hanya berada di Surabaya selama dua hari, karena masih
ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta.
Aini merasa bersyukur bisa bertemu lagi dengan
ibunya. Aini bercerita kepada Serena bahwa ia adalah gadis yang beruntung
karena bisa lahir dari rahim Sinta, Ibunya. Ia menganggap Ibunya sebagai peri
pelindungnya. Aini ingin peri pelindungnya itu terus sehat dan hidup bahagia
bersama bintang-bintang di alam semesta.
Waktu
terus bergulir begitu cepatnya, tak memberikan kesempatan kepada manusia untuk
sejenak merenung ataupun beristirahat. But,
Everything must be go on.
Tak
terasa saat ini Aini sudah menjalani tiga semester perkuliahan di universitas itu. Perjuangannya
mencari seseorang yang berarti dalam hidup ibunya pun tak pernah sirna. Ia
mengelilingi tempat-tempat yang ia rasa menjadi petunjuk yang dapat
mengantarnya pada tujuaannya. Ia juga sudah berhasil mendapatkan petunjuk dari
sahabat ibunya, Asmi, Seorang desainer interior yang bekerja di daerah Darmo,
Surabaya. Aini mengenal Ibu Asmi ketika ia menemani ibunya ke pengadilan agama
Jakarta. Ibu Asmi inilah yang menjadi teman Aini ketika Aini merasa susah di
Surabaya.
“
Aini sayang, tante sudah mendapatkan sedikit informasi tentang seseorang yang
Aini cari ”, kata Asmi di ruang kantornya seraya memberikan secarik kertas pada
Aini.
“
Terima kasih banyak tante, terima kasih “. Kata Aini mengambil secarik kertas
tersebut dan mencium tangan Asmi.
“
Tante tidak membantu apa-apa, tante hanya menemukan tempat kerjanya saat ini.
Semoga Aini bisa bertemu dengan Bram ”. kata Asmi.
“ Aku sebenarnya tidak ingin melihatnya
lagi, Tante. Tetapi, Aku sedih setiap mendengar Ibu menyebut nama itu dalam
sujudnya dihadapan ALLAH, untaian harapan terus dipanjatkan beliau agar aku dan
lelaki itu selalu dalam lindunganNya. Aku masih tidak bisa menerima kesalahan
yang telah dilakukannya di masa lalu ”.
“ Tante percaya kamu bisa menyatukan
kembali Bram dan Sinta, yang dibutuhkan hanyalah keihklasanmu sayang. Dia masih
ayah kamu, tidak ada kata mantan ayah ”.
“ Baik tante, maafkan keegoisanku ini ”
“ Tante sangat memaklumi kalau kamu
sangat marah, namun tante harap kamu bisa segera menapaki masa selanjutnya
tanpa dendam ”
____To be Continue ____

Komentar