Renungan
InSelf
Oleh : Febrina Rach
Aku tidak tahu bahwa selama ini
aku tahu. Aku tidak mengerti bahwa selama ini aku paham. Aku tidak menyadari
bahwa selama ini aku telah sadar. Aku tidak perhatian bahwa selama ini aku
memerhatikan. Aku tidak melihat apa yang kulihat. Aku tidak mendengar apa yang
kudengar. Aku tidak merasa apa yang kurasa.
Aku
telah mengkhianati diriku sendiri. Dusta! Ya, kuakui. Aku telah membohongi
diriku selama ini.
“ Aku
tidak ingin hidup bagai bangkai ikan di permukaan air yang mengalir ”, Tetapi kenyataannya
malah terseret ke dalam arus kehidupan, terombang-ambing dengan
statement-statement tak bertanggung jawab, tersulut emosi dengan kritik tidak
membangun, Terjebak dalam lingkaran kemaksiatan, hanya bisa berharap tidak
terjerumus dalam gelap dan dinginya kesesatan.
“ Aku hidup seperti burung di
dalam sangkar ”, tanpa disadari, akulah yang sebenarnya tidak mau membuka pintu
sangkar itu dan melangkah untuk keluar. Menyalahkan sana-sini, padahal hanya
bermodal keinginan dan keberanian untuk membuka pintu sangkar.
“ Aku
bukan pengemis cinta ”, tetapi kenyataannya setiap hari berdo’a mengharapkan
kasih sayang.
“ Apa
itu cinta? Cinta itu bisanya memperumit logika. Aku tidak butuh cinta yang
sulit ”, Aku baru saja sadar, ketika aku berkendara dalam perjalanan pulang ke
rumah. Aku tidak akan lahir tanpa adanya cinta. Ya, cinta dari Tuhanku. Aku
tidak akan lahir di dunia, kalau bukan karena kasih sayangNya yang berlimpah.
Berawal hidup dalam rahim ibuku, mewarisi separuh genetik ayahku, mendapatkan
amanah untuk menjadi khalifah bumi, dan bertugas untuk senantiasa beribadah
kepada Penciptaku. Cinta mungkin sulit, itu benar! Sulit untuk dilupakan, sulit
untuk dilepaskan, sulit untuk dikhianati, sulit untuk dihilangkan. Tapi cinta
itu mudah! Mudah merubah diri menjadi pribadi yang lebih taat kepada Tuhan.
Mudah mengikhlaskan sesuatu demi kebahagiaan yang membutuhkan. Mudah menerima
apa yang menjadi masukan demi pribadi yang lebih matang.
“ Yang kupikirkan tidak hanya
tentang materi ”, tetapi yang terus jadi pertimbangan adalah untung-rugi.
“ Aku ikhlas kok. Tenang saja! ”,
ikhlas itu bukan terucap dari bibir tetapi dari hati. Tak perlu ada satupun
yang tersua oleh saksi hidup. Cukup diri dan Tuhan Yang Maha Tahu yang tahu.
“ Kamu
tidak tersinggung kan? ”, “ Tidak. Aku hanya menganggapnya angin lalu ”,
jawabku. Apanya yang tidak! Jujur saja kalau selama ini terluka dijadikan bahan
ejekan. Bilang saja kalau tidak suka dengan caranya memperlakukan dan
membicarakanmu. Ungkapkan dengan apa adanya apa yang membuatmu enggan.
“
Berpikir itu cuma butuh logika ”, sekarang coba dipikirkan, lalu mengapa Tuhan
menciptakan hati jika hanya logika yang dibutuhkan.
“ Kamu itu apa-apa dipikir pakai
logika, makanya kamu orangnya gak peka ”, Logika bukan hal yang menghambat
seseorang menjadi peka atau tidak. Itu personalnya, Bukan salah logika.
Pengecut! Aku berlari menjauhi masalah,
berlindung dalam zona nyaman, bertameng alibi menyelamatkan diri. Menyerah akan
sebuah kegagalan. Gagal adalah keberhasilan yang tak terlaksana. Kegagalan
adalah imbas dari usaha yang tampak seakan sia-sia dan do’a yang tak didengar.
Kegagalan adalah bencana bagi mereka yang lupa bangkit. Kegagalan adalah
pembelajaran tentang arti keikhlasan.
“ Yah, gagal lagi. Tidak apa-apa
lah kan sudah berusaha ”,
“ Kenapa sih kok aku selalu kalah?
Ya sudah lah, toh memang mereka yang terlalu pintar ”
“ Jelas saja nilainya bagus. Bukan dia kok
yang mengerjakan ”
“ Kok hanya aku sih yang tidak
paham sama materi ini? ”
“ Sedih aku! Gagal terus. ”
...
Ketika gagal tampak begitu nyata,
senyum terus berkembang, tegar selalu diperlihatkan ke semua orang. Tapi itu
hanya tampak luarnya saja. Tanpa mereka tahu, hatinya sakit karena kesedihan.
Nuraninya meragu akan sebuah keajaiban. Matanya memerah, pipinya basah terkena
aliran air yang jatuh dari pelupuk mata.
Tanpa kusadari, aku telah
membodohi diriku selama ini. Sepuluh tahun awal kehidupanku, aku banyak
menghabiskan waktu untuk bermimpi. Bermimpi menaklukkan dunia. Bermimpi bahwa
aku bisa menggapai bintang. Dan aku percaya. Namun, di tahun-tahun selanjutnya
aku mulai membuang mimpiku satu persatu.
Sepertinya yang ini tidak mungkin; Kau tidak akan mendapatkannya; Itu Mustahil!; Mimpimu gila!; Papa tidak
setuju; Janganlah, Nak! Cari saja yang
lain; Mimpimu ketinggian; Sudahlah, terima apa adanya; Yakin bisa?;
Alasan demi alasan dibuat untuk
menggugurkan mimpi yang bahkan belum jadi kenyataan. Apapun alasannya, alasan tetap menjadi sebuah alasan. Suatu
kejadian sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diulang.
Berusaha mempercayai diri sendiri
merupakan tantangan besar yang wajib ditaklukan. Yakin akan kemampuan diri
dengan campur tangan Tuhan menjadi sebuah keteguhan hati bak karang ditengah
ombak. Ibarat burung yang terbang di tengah badai topan, dia terus berusaha
bertahan agar tidak jatuh, mencari celah diantara pepohonan yang kokoh untuk
dia berlindung. Tampak serapuh helaian tisu, namun begitu elastis ketika
ditarik. Yang terpenting adalah, selalu ingat bahwa pencipta kita senantiasa
bersama kita. Melihat, mendengar, mengawasi, dan membimbing dengan segala kebesaranNya.
Kita tidak akan pernah sendirian.
Semoga bermanfaat :)
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar