CERPEN_SERIES
MY
LITLE
ENEMY
PART 2
oleh : Febrina Rach
Ini adalah cerita lanjutan dari “ My Litle Enemy ” yang
sebelumnya sudah dishare oleh penulis di blog dan akun fb nya. Inspirasi
ceritanya sama seperti yang sebelumnya, pengalaman pahit, kecut kayak keleknya
Memei, manis kayak wajah penulis, dan separuh khayalan penulis. Jadi kalau
dibilang true story ya true but sometimes I manipulate it because I think , me
and another figures still need privacy.
“
Hoi cebol! Sudah paham belum ? ”, tanyaku tiba-tiba.
“
Cebal-cebol! ”, kata Mei tidak terima. Kemudian ia berdiri dan menghampiriku.
Setelah itu, ia menusuk lenganku dengan jari telunjuknya yang kayak tusuk gigi
itu.
“
Cesss ”, kata Mei lirih.
“
Hoi, hoi! Kamu ini gak lagi konslet kan? Apa yang kau lakukan, Heh? ”, tanyaku
bingung.
“
Lagi ngempesin kamu ”, kata Mei terkikik.
Kemudian ia berlari keluar. Awalnya
aku berniat mengejarnya, tetapi tubuhku menolaknya jadi aku akan memberinya
kejutan nanti.
“
Pep! Nanti ada rapat lo ya, jangan lupa! ”, kata EL mengingatkan.
“
Iya, aku ingat kok ”, kataku tersenyum kepadanya. Gila! Aku lupa kalau hari ini ada rapat, aku ada janji lagi sama
adekku. Ampun dah! Sorry ya EL, bukannya ane kagak mau rapat, tetapi adek gue
bakal nangis dan laporan ke mak. Aku gak mau kena bom molotov sebelum waktunya.
“
Pep! Jangan lupa, kita ada kerkel juga. Kita harus membuat rencana projek akhir
untuk mata kuliah bahasa alien, eh typo! Basprog untuk semester ini ”, kata Rini
mengingatkan. Mampus!
Keesokan harinya, aku kuliah dengan perasaan yang tak
karuan. Pagi tadi, aku sudah kena siraman rohani ala mamah Dedeh selama 1 jam
gara-gara adekku wadul. Aku memang
mengorbankan janjiku kepadanya, mau bagaimana lagi. Sepertinya aku butuh moodboster. Tetapi apa ya ?
“ Pagi, Pep! ”, kata Cissye, dia ini temanku yang
termasuk lucu. Wajahnya bulat dengan pipi tembem kaya bakpao anget, gemes
banget.
“
Pagi ”, kataku tidak semangat,
“
Galau ta, Pep? ”, tanya Cis. Aku tau niatnya bercanda, tetapi aku lagi tidak
mood untuk meladeni guyonannya.
“
Iya, Galau meratapi hidup ”,
“
Hihihihi ”, dia ketawa. Padahal aku tidak sedang melucu, entah apa yang sedang
ia tertawakan. Tetapi Cissye ini memang hobi tertawa, dikit-dikit ketawa,
karena hal sepele ketawa, bingung ketawa, nangis aja ketawa, hehehehe... ( yang
terakhir adalah imajinasiku saja
#imajinasiliar ).
“
Pep! Aku kok bingung ya ? ”, kata Cis.
“
Bingung kenapa? ”, tanyaku.
“
Halah! Aku bingung ngomongnya gimana, hihihihi ”
“
Yasudah, gausah nanya ”
“
Hihihi... Aku lo kok gak paham-paham ya, Pep? Haduh ya apa ini? ”, kata Cissye
yang mengambil catetan materi geometrinya.
“
Waduh! Kalau kamu tanya itu ya sis, sepuranya. Gak bisa ngayal aku kalau urusan
Geometri. Ampun! ”,
“
Aku lak yo sama, Pep. Aku la terus piye? Aku mau nanya tentang pembuktian
persamaan garis singgung di bola dengan menggunakan gradiennya ini. Hihihi...
Haduh! Hihihi ”, kata Cissye.
“
Duh! Berisik ini! Lagi gak mood rame. Ssstt! ”, kataku kesal.
Cissye
masih aja ketawa, mungkin malah volumenya sedikit naik. Entah apa yang terjadi,
“
Rek! Rek! Setelah ini, dosennya gak bisa masuk, tetapi kita dikasih tugas.
Merangkum tentang Inner Product Space *Inner
Product Space adalah salah satu materi dalam perkuliahan ALE (Aljabar Linear
Elementer) ”, kata Adi, salah seorang temanku yang pada semesteri ini
menjadi pemimpin kelas.
“
Cis! Kembalikan penghapusku! ”, pintaku.
“
Lo! Mana tadi ya, Pep. Haduh! Kemana ya? Bentar! Lupa! ”, kata Cisye yang sibuk
mengacak-ngacak mejanya demi menemukan sebatang kecil hitam nan gembuk a.k.a
penghapus kesayangan sejak SMA kelas 3.
“
Hayo kon Cis! Hayo kon! Hilang kon! Ganti wes! Ganti! ”, kataku menggodanya.
“
Haduh! Sek ya, tak carie dulu. Sek ya ”, kata Siska yang gupuh tapi masih
sempet ketawa.
Kami
mengerjakan tugas ini dengan akomodasi otak maksimum dan tenaga tulis yang
ekstra karena yang dirangkum sebanyak 78 Halaman. WOW!
...
Setelah
3 sks berlalu tanpa bekas, aku masih melongo di depan kelas. Kemudian seseorang
mentowel lenganku. Apaan tuh towel?
Hehehe... itu seperti dicolek atau di pegang, tapi jangan berkonotasi negatif
ya, teman. Lebih tepat seperti menyapa aja.
“
Gak pulang? ”, kata ikun teman kecilku yang unyuw banget. Iya, Unyuw banget.
Dia mungil kayak Memei, tapi Memei memegang rekor termungil di generasi angkatan
15 ini. Tenang saja, mei. Gak bakal ada yang menyaingi rekor mu itu. Mereka
tergabung dalam aliansi kutu mini berambut sefamili dengan kutu air dan
bertetangga dengan spora hijau di batu dekat kali belakang kampus.
“
Ikun!! Aku lagi bete ”, curcolku padanya.
“
Wes to, ojo cemberut ae. Ayo mulih! ”, kata Ikun yang menarikku berjalan ke
arah parkiran. Hebat juga nih, anak. Bisa
menarikku! Wkwkwkw...
“
Pepi! ”, sapa Cisye.
“
Yo’i! Hati-hati kalau pulang ”, teriakku.
“
Oke ”, kemudian dia pergi begitu saja dari hadapanku.
Keesokan
harinya, aku datang dengan perasaan gembira. Hingga si kutil datang. Tumben banget dia datang pagi. Biasanya dosen
sudah datang, dia datang minimal 10 menit kemudian. Sufer dah! Selama 1
semester ini, aku mengamati kebiasaan kutil yang selalu membuat taringku
keluar. Secara dia gesit kayak kecoa, datang selalu telat, masuk kelas dengan
tampang nyengir innocent tanpa dosa, salim kepada dosen. Kadang kalau telatnya
kebangetan langsung nyosor kayak mencit kegencet lagi main petak umpet.
“
Cess ”, dia mulai menjahiliku.
“
Ingat, le! Hari ini bukannya kamu presentasi PPM, siapa itu nama tokohnya?
Toni? Dike? *PPM bukan singkatan dari
Perempuan-Perempuan Menstruasi ya, ingat lo. Tetapi Psikologi Pembelajaran
matematika*. Inget le, inget! ”, kataku melototinya.
“
Apa itu presentasi? Lupa aku ”, kata Memei ketawa. Aku hanya tersenyum nyinyir
dan meninggalkannya. Kemudian aku duduk, entah kebetulan atau sudah ditarik
magnet sama Cisye, aku duduk di sebelahnya Cisye. Congratulations!
Baru
aja naruh tas, si Memei nyamperin ane dengan wajah nyinyir kecut-kecut gimana
gitu,
“
Thorndike, BTW tokohnya. Itu tokoh psikologi pendidikan keren, BTW ”, terus dia
ngacir tanpa jejak. Untung ane gak lupa buat tarik napas dan berkedip. Tuh
anak, engsel otaknya lagi konslet butuh oli buat ngelicinin.
“
Pepi! Anyoung... ”, sapa Cisye.
“
Monyong ... ”, balasku cuek.
“
Haduh! Kok monyong sih. Hihihihi... ”, sahut Cisye.
“
Kamu lo bawel kayak Memei. Lama-lama aku ngebully kamu lo ”, kataku dengan
santai. Huehehehe...
“
Haduh! Ya apa ya, pepi. Jangan dong! Haduh! Hihihi ”,
Selama
kuliah ini, aku benar-benar bosan. Kemudian aku menuliskan sebuah moratorium di
note kesayangannku.
|
Kebetulan saat ini, kami sedang mendengarkan dengan
khidmat presentasi yang disampaikan Memei. Ikun, dan Memet yang sedang
memaparkan tentang implementasi matematika dalam kehidupan sehari-hari menurut
salah satu tokoh pendidikan dunia. Well, singkatnya mereka menggunakan sudoku
sebagai contohnya. Memet mempersilakan salah satu dari kami untuk maju dan
mencoba menyelesaikan sudoku itu. Memet melempar tali layar projektor yang
menggantung gak jelas kayak cintamu yang digantung di pohon beringin
berangin-angin, Mei *ojokbaperloMei. Tali itu tersangkut di paku penahan papan
tulis di pojok kanan atas.
Sekitar 15 menit, mereka memaparkan manfaat permainan itu
untuk pembelajaran matematika di kalangan murid. Kemudian, mereka akan
melanjutkan presentasi, mereka berniat menggunakan layar projektor. Sayang
seribu sayang, tali layar itu telah tersangkut di peraduannya. Dan kebetulan,
mereka bertiga adalah trio mini di kelas kami yang imut-imut. Memet dengan
loncatan 1 meter andalannya berusaha meraih tali itu, naas tali itu enggan
disentuh olehnya. Lelah karena penolakan yang tak berujung, dengan napas
ngos-ngosan ia memohon kepada kami, para penonton yang sedari tadi asyik
melihat kebingungan mereka tanpa rasa penyesalan sedikitpun. Entah kelewat gak
peka, atau lagi pada teler gegara lelah dengan semua cobaan ini.
“
Rek! Tolongin po’o! Yang merasa tinggi, Po’o! Bantuin! ”, kata Memet melas.
Tampak sekali dia sangat kelelahan. But, Sorry, Met! P*ntatku udah ke lem sama bangku,
jadi gak bisa lepas.
Di
luar dugaanku, dengan bangga Mei berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah
tali itu. Dia mungkin sedang bermimpi menjadi gadis ideal bin cantik dengan
tinggi semampai sekitar 165-170 cm. Dia berusaha meraih tali itu, namun
kenyataan memang lebih pahit dari ekspektasimu, Mei. Gilakk! Aku ketawa ngakak!
Suwerr!
Memei
berjinjit-jinjit ria. Menggerakkan seluruh badannya, berusaha meraih tali itu.
Rasanya kayak ngeliat anak ikut lomba makan krupuk, tapi krupuknya digantung 1
meter lebih pendek dari ukuran seharusnya. Tuh anak loncat-loncat kayak kucing
yang lagi digoda tuannya.
“
Aku kalau jadi Loe, ngelontok muka gue! Gilak! Lu makan apa, Mei? ”, teriakku
memberikan semangat kepada Memei yang masih berjuang mermengintaiaih tali itu.
Aku mengkode temenku. EL, yang sedari tadi masih menahan tawanya *Tidak apa EL, kita harus ketawain Memei
dulu, prihatin kemudian. Baru setelah itu, muncullah superman dengan baju
kotak-kotak dan celana kain cingkrang membantu mereka.
Saat
itu, aku sedang asyik ngupil, terus si Memei datang dengan wajah melas ke
arahku. Intinya seperti yang sudah di paparkan pada cerpen “ My Gigan Enemy “ (
alittle11.blogspot.co.id ), Memei minta aku nemenin dia nyetak foto sebagai
syarat administrasi pelatihan, gue uda sadar kalau permintaannya beresiko
tinggi, nyawa kuliah gue dipertaruhkan. But, melihat sikon dan insting alami
gue yang menyatu dengan alam jadi gue ngeiyain permintaannya si marmut ini.
Baik kan? Musuh macam apa yang mau nganter anak marmut nyari maknya?
Yah,
begitulah hari-hari biasa ane dikelilingi sekawanan ngengat-ngenat berantai
yang berisikkk banget, kalau ada promosi penyemprot anti nyamuk, ane bakal beli
selusin buat ngasih ke dia. Lumayan buat cemilan.
-------------- SELESAI ? --------------
P.S. Jangan bosen ya baca kisah gak jelas ini, untuk
spoiler aja, penulis ingin menceritakan sebuah perjalanan panjaaannnggg banget
antara semut dan gajah menyusuri kota pahlawan selama 7-9 jam yang memacu
adrenalin dan herannya si gajah gak kurus-kurus juga walaupun puluhan kilo
telah dilaluinya, ckckck...
Silakan Beri Komentar Anda :D
Komentar