CERPEN


ORIGINALITAS
Oleh : Febrina rach

Ketika originalitas suatu karya tidak memiliki arti, lalu untuk apa originalitas dijunjung tinggi ? – Renata.
Apa yang kau Lakukan, Rena? ”, tanya Nia bingung. Renata membuang semua berkas yang ada di mejanya ke tempat sampah. Renata bahkan hampir memecahkan papan namanya di meja itu.
“ Hentikan! ”, teriak Nia.
Nia berusaha menghentikan Renata yang histeris di ruang kerjanya. Nia dan Renata adalah tim kerja divisi media publication. Tugas mereka adalah membuat inovasi program-program baru yang khas dan original. Namun sudah 6 bulan terakhir ini, ide dan proposal mereka selalu ditolak oleh atasan dengan alasan terlalu sederhana dan sudah umum. Padahal prinsip mereka adalah kesederhanaan, originalitas, dan pesan moral. Seperti program belajar edukatif untuk anak-anak. Program Seni yang menampilkan karya-karya anak bangsa, mulai dari tari, lagu, prakarya, dsb. Mereka juga mengusulkan program edukatif untuk mengajarkan anak-anak serta orang dewasa memanfaatkan limbah melalui prakarya-prakarya inovatif.
            “ Aku mohon hentikan, Rena ”, pinta Nia dengan mata yang berkaca-kaca.
“ Usaha kita 6 bulan ini, sia-sia, Nia. Sia-sia! GM tidak menyetujui ide kita sama sekali. Mereka bahkan tidak memerhatikan presentasi kita. Tidak ada respon, tidak ada komentar ”, kata Renata.
“ Aku tahu, aku tahu. Aku juga sedih. Aku juga merasakan kekesalan yang kau rasakan. Kita bekerja hingga larut malam, mencari banyak referensi demi sebuah karya tapi inilah kenyataannya ”, kata Nia.
“ Aku tidak percaya kita kalah dari tim Boni. Mereka hanya menawarkan program-program yang sudah ada di tv mancanegara. Mereka hanya sedikit mengubahnya sesuai dengan selera pasar masyarakat Indonesia sekarang ”, kata Renata marah. Ia berdiri menghadap keluar jendela ruang kantornya. Ia dapat melihat bangunan-bangunan tinggi dihadapannya.
“ Aku tahu itu, Rena. Aku tahu. Memang program kita ini sederhana. Aku menyadari itu. Tetapi aku selalu bangga akan karya kita, Rena. Karena ini adalah hasil kerja keras kita ”, kata Nia yang kemudian mengambil lagi berkas itu.
“ Ini, katamu? Ini hanyalah sampah! Tidak ada yang mau membeli ini, Rena. Tidak ada yang mau hal sesederhana seperti ini! ”, kata Rena seraya mengambil berkas dari Nia dan membantingnya.
“ Kau salah, Rena. Aku mohon tenanglah, aku juga sedih. Aku juga kecewa. Tetapi mau bagaimana lagi? Apanya originalitas dijunjung tinggi. Apanya moral dipegang teguh. Idealisme hanyalah idealisme. Aku tidak bisa melakukan apa-apa ”, kata Nia kecewa. Kemudian ia duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
“ Aku akan berhenti dari jabatan ini. Aku menyerah, Nia. Sudah cukup! ”, kata Rena membuat keputusan. Kemudian ia berjalan keluar kantornya, namun sebelum Rena memegang gagang pintu, Nia menghentikan niatannya.
“ Kenapa kau seperti ini, Rena? Aku tahu kau mungkin yang akan paling sakit, kecewa, dan sedih diantara kita. Tetapi apakah lari akan menjadi jawabannya Rena? Jawab aku! Aku juga sedih, aku juga marah sama sepertimu. Tetapi aku tidak ingin lari, Rena. Walaupun aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Hati kecilkupun menjerit, tetapi logikaku berhasil menahan emosi yang bergejolak ini ”, Nia menangis tersedu-sedu.
Renata dan Nia pun saling berpelukan. Usaha yang mereka lakukan selama 6 bulan ini, hanya terbayar oleh air mata. Tim Boni selalu mengalahkan proposal mereka, Tim Boni selalu mendapat tender 6 bulan ini. Renata dan Nia telah mengerahkan segala usaha selama 6 bulan ini. kejujuran, originalitas, dan nilai moral adalah 3 aspek yang dijunjung tinggi selama mereka melakukan riset dan perencanaan untuk penayangan suatu program televisi, namun apalah daya. Hukum alamlah yang berlaku!

Special Thanks for Rochma isme who inspire me to write this story :)

Terima Kasih sudah membaca karya ini, Semoga bermanfaat :)
Silakan tinggalkan komentar demi karya-karya yang lebih baik untuk selanjutnya :) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata-kata_Puisi_OPINI

Puisi - Kegelapan Hati