Memoar Braile - Chapter 2
CHAPTER 2
DIA MEREBUT
HATIKU
Aini yang menggunakan pakaian berwarna
pink pastel duduk di depan kaca berusaha merapikan jilbabnya, ia bersiap menuju
ke Yayasan Pelita Harapan Surabaya, yayasan ini bernaung dalam penanganan
anak-anak difabel. Aini menjadi sukarelawan di yayasan ini sejak tahun lalu. Ia
tahu tentang Yayasan ini ketika ia sedang melakukan perjalanan ke arah Surabaya
Utara untuk mencari jejak Bram.
Waktu itu, Aini berhasil menyelamatkan
Ibu pemilik yayasan yang hampir saja kecopetan. Kemudian, ibu itu mengajak Aini
untuk main ke yayasannya. Disitulah pertama kalinya Aini mengenal dunia yang
lain dari dunianya. Ia yang sebelumnya merasa hanya dirinyalah yang mendapat banyak kesulitan menjadi sadar bahwa
masih banyak yang lebih sulit dari yang dialaminya. Namun anak-anak disini tak
pernah menampakkan wajah cemberut ataupun air mata. Dimana-mana hanya terdengar
tawa dan teriakan-teriakan khas anak-anak yang asyik bermain. Hal itulah yang
membuat Aini begitu menyayangi anak-anak di yayasan ini.
Hari ini sedang diadakan acara amal
dengan tema cerita seribu harapan di
yayasan. Ibu Mutia mengundang Aini untuk mengahadiri acara tersebut. Aini sudah
tidak sabar lagi, ia segera pergi kesana bersama Serena.
“ Selamat pagi, mbak Aini ”, kata Ibu
Mutia, pemililik yayasan.
“ Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya
bantu disini, Bu? ”, tanya Aini.
“ Semua persiapan sudah beres, Mbak.
Alhamdulillah. Mari, kita ke taman, sudah saatnya acara dimulai ”, ajak Ibu
Mutia, kami mengikutinya lalu duduk di kursi baris pertama.
Aini melihat banyak anak-anak yang sudah
tidak sabar ingin segera tampil,
ada yang membawa biola, ada yang bawa
terompet, ada juga segerombolan anak-anak yang memakai kostum yang sama. Acara
dibuka dengan doa, kemudian Ibu Mutia memberikan sambutan. Lalu, kulihat
seorang anak lelaki memakai kemeja bergesper berusaha menaiki tangga, kulihat
kakinyanya meraba-raba tangga. Satu persatu anak tangga berhasil ia naiki,
kemudian ia memainkan sebuah lagu dengan terompetnya, kuingat betul lagunya.
“Gavotte”, lagu pembuka yang memberikan semangat kepada anak-anak lainnya.
Setelah anak itu bermain, orang-orang bertepuk tangan, mereka kagum kepadanya,
begitu pun diriku.
Setelah itu dilanjut paduan suara yang
dibawakan oleh beberapa anak, kulihat disitu Isabella ikut serta. Anak berambut
ikal berkulit coklat sawo matang yang manis, dengan gaun bewarna merah, dia
tampak imut. Aku jadi ingat saat berbicara dengannya beberapa minggu yang lalu.
“ Namamu Isabella ? ”, tanya Aini sambil
memegang lembut tangan gadis itu.
“ Iya kak. Namaku Bella ”, katanya sambil meraba-raba tangan
Aini.
Kemudian gadis ini memegang wajah Aini,
menyentuh kelopak mata Aini, membelai lembut pipi dan bibir Aini. Dengan
perasaan senang, Aini bertanya kepada Isabella.
“ Kamu tadi habis ngapain kakak ? ”
“ Aku tadi cuma ingin tahu seberapa
cantiknya kakak, aku bisa tahu loh kalau kakak itu cantik ”, kata gadis itu
sambil tertawa genit.
“ Oia? Bagaimana caranya ? ”, kata Aini
penasaran.
“ Aku tahu ketika menyentuh mata kakak,
pipi dan bibir kakak. Entahlah, seperti ada yang bilang padaku bahwa kakak yang
ada di hadapanku ini adalah kakak yang cantik. Hahaha...”. Aini langsung
menggelitik gadis itu. Mereka pun larut dalam tawa.
“ Isabella merasa sedih gak dengan
kekurangan ini ? ”, tanya Aini tiba-tiba.
“ Untuk apa aku bersedih kak, Allah
telah memberiku banyak nikmat dan kesempatan dalam hidupku ini. Aku malah
merasa begitu bahagia dengan kekurangannku, karena hal itulah yang bisa
menolongku ketika Allah bertanya padaku. Aku bisa bilang kepadaNya bahwa dengan
kekurangannku ini aku juga bisa hidup dan beribadah kepadaNya, menjadi anak
yang baik dan sholehah. Mama juga pernah bilang padaku untuk tidak takut dan
sedih atas apa yang terjadi padaku, karena dengan satu kekurangan Allah
memberiku berjuta kelebihan ”.
Mendengar jawaban gadis manis ini, Aini
tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk anak itu sambil menangis, ia malu
dihadapan Allah dan di depan anak ini. Aini merasa menyesal tidak menyadari
kuasa Allah yang melebihi kuasa manusia. Aini sayang pada Isabella karena
ketegarannya.
Serena memegang pundak Aini, Aini
terkejut dan lamunannya buyar seketika. Serena menunjuk seorang pria yang duduk
di kursi pojok sebelah kiri Aini. Menggunakan kemeja bewarna biru muda,
benar-benar memancarkan aura yang berbeda, entah mengapa hati Aini berdebar.
Aini merasa malu pada pria tersebut, dilihatnya pria itu berdiri dan memberikan
salam pada semua orang yang datang di acara ini, dia berjalan ke arah piano
yang ada di sebelah kiri panggung. Kemudian pria itu duduk dan memainkan
melodi-melodi manis yang mungkin akan selalu diingat Aini. Aini melihat pria
ini dengan mata bercahaya dan senyum yang selalu terulas dari bibirnya yang
mungil itu, ketika pria itu menekan tuts-tuts piano. Tangannya yang lentik
terus menari diatas tuts-tuts hitam putih. Pria itu begitu menikmati musik yang
dimainkannya. Matanya terpejam seakan lagu yang dimainkannya merasuki relung
jiwanya yang rapuh itu.
Acara pun berlangsung begitu harunya,
ditutup dengan permainan biola seorang gadis kecil yang menggunakan gaun
bewarna putih. Dia berdiri layaknya seorang putri, dia kemudian memainkan
sebuah lagu penutup yang indah, “ Nocturne - Beethoven ”.
“ Judul lagu tadi, Canon in D karya
Pachebel kan ? ”, kata Aini pada pria itu. Aini menghampiri pria itu ketika
acara usai. Ia memang ingin menyapa pria yang berhasil membuatnya terkesima.
“ Kok kamu bisa tahu ? ”, kata pria itu
kaget.
“ Kebetulan saja tahu, Permainan pianomu tadi bagus ”, kata Aini
seraya meninggalkannya.
“ Eh, tunggu Aini! ”, kata pria itu yang
mengejar Aini. Aini seketika berhenti. Dia terkejut karena pria ini memanggil
namanya. Aini bahkan belum memperkenalkan dirinya dengan baik dihadapan pria
itu.
“ Kamu? Kamu kok tahu namaku ? Padahal
aku belum menyebutkan namaku ”, kata Aini yang menoleh ke belakang, dilihatnya
pria tegap berparas tirus, tubuh jakung dan tegap. Masya Allah, benar-benar
tipe idaman Aini.
“ Tahu dong, sesama sukarelawan harus
tahu nama masing-masing anggotanya, hahaha. Kenalin, aku Muhammad Fadhil Al
Arkhan, panggil saja Fadhil. Sekarang ini aku adalah mahasiswa UA jurusan Psikologi ”.
“ Ok, Fadhil ”, kata Aini gugup.
Kemudian Serena menghampiri mereka
berdua, Serena berbisik kepada Aini untuk mengajaknya pulang karena dia ada
urusan. Kemudian Aini berpamitan kepada Fadhil.
“ Hei kamu! Aku kan belum tahu apa-apa
”, pria tersebut berteriak berusaha mencegah Aini pergi namun Aini
menghiraukannya. Bisa berbicara dengannya saja sudah membuat Aini bahagia. Sepanjang
perjalanan Aini tersenyum. Mengetahui hal ini, Serena menggoda Aini. Serena
mengetahui bahwa sahabatnya ini sedang jatuh cinta. Aini tersipu malu mengingat kejadian yang baru
saja terjadi. Ia bahkan tak percaya hal itu benar-benar terjadi. Serena yang gemas
melihat tingkah Aini pun menggodanya.
“Haduh, daritadi kok ada yang senyam
senyum sendiri, pangerannya udah dateng tuh ”, Goda Serena.
“Apaan sih, Na. ”, kata Aini Malu.
“Daritadi tak liatin kok senyam senyum,
aku ya dibagi bahagianya itu. Dia Fadhil kan ?”, tebak Serena.
“Kok kamu tahu?”, tanya Aini kaget.
“Ya tahulah, Dia itu adiknya Rena. Aku
kenal Rena karena pernah datang ke acaranya,
fashion show nya dia sih. Gitu-gitu, Rena Fadhila adalah desainer
ternama di kota ini”. Kata Serena.
“Oh, gitu toh. Tapi untuk apa kamu
memberitahuku? ”,
“Memangnya tidak bolehkah, Ai? ”, Aini
hanya membalas ucapan Serena dengan ledekan. Ia menjulurkan lidahnya ke Serena.
Serena terkikik melihat tingkah sahabatnya itu.
Setibanya di rumah Aini, Serena langsung
pamit dan segera meninggalkan Aini. Kemudian dia masuk ke dalam rumah, tak lama
kemudian Handphone nya berdering. Dia mengambil handphone nya dari dalam tas dan
dilihatnya ada sebuah panggilan dari nomor, Aneh,
pikir Aini. Kemudian Ia, mereject
panggilan tersebut. Mungkin hanya telepon kaleng. Ia tak begitu memikirkan hal
tersebut. Kemudian, Handphone nya bergetar lagi, nomor itu lagi. Kata Aini di dalam hati. Namun, tetap saja Aini
tidak mengggubrisnya. Karena risih dengan kejadian iseng itu, Aini memutuskan
untuk mematikan handphonenya.
Keesokan harinya, Aini bersama Serena
bertemu dengan Rosi, teman sekelas mereka di pinggir danau US tempat mereka
menuntut ilmu. Mereka akan mengerjakan tugas tentang analisis novel karya W.Shakespeare.
Mereka duduk dibawah pepohonan yang rindang, ditemani hembusan angin
sepoi-sepoi, mereka fokus dalam menyelesaikan tugas tersebut. Mereka berdiskusi
tentang isi dari karya-karya yang dibuat maestro sastra tersebut. Karyanya
abadi walau jaman terus berganti. Mereka mengagumi sang pengarang kisah romeo
juliet itu.
Matahari
sudah mulai turun ke peraduannya, mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan
mereka dan berpisah. Aini masih ingin menikmati panorama yang maha Dahsyat,
yang Allah berikan padaNya saat itu. Ia melihat sepasang angsa di pinggir
danau, putih nan cantik, begitu dekat dan penuh perhatian. Sayup-sayup Aini
mendengar seseorang memanggil namanya, namun ia menghiraukannya. Lalu saat ia
berjalan pulang,
“Aini! Aini! Sashikara Aini! ”, kata
seseorang dari belakang.
Seketika, Aini langsung berbalik,
“Kamu? Fadhil? ”, kata Aini kaget.
“Tentu saja, kamu kira aku siapa? Sudah
lupa? ”, kata Fadhil sambil tertawa mengejek.
“ Kamu ngapain kesini? ”,
“ Memangnya tidak boleh aku kesini? ”
“Ah, kamu nggak menyelidiki tentang aku
kan? ”
“Apa? hahaha... kamu kayaknya terlalu
percaya diri, ”, ledek Fadhil.
“Ih, kamu itu ya! Ya sudah, aku pamit
pulang, Assalamualaikum ”, kata Aini kesal seraya meninggalkan Fadhil.
“ Hei, Hei, jangan marah dong, jauh-jauh
kesini aku cuma buat mencarimu ”, kata Fadhil menghentikan langkah Aini.
“ Ada urusan apa kamu denganku ? ”,
tanyaku ketus.
“ Karena kamu nggak mau mengangkat telepon
dariku, aku jadi khawatir, makanya aku bertanya pada Ibu Mutia, lokasi universitasmu.
Dan karena jalan dari Allah aku malah dengan mudahnya bertemu denganmu disini.
”
“ Kamu penguntit ya? Sampai segitunya, Ah, jangan-jangan
nomor tidak dikenal kemarin, ( kata
Aini di dalam hati ) ”, kata Aini.
“ Terserah kamu menganggapku seperti
apa, yang jelas, aku ingin mengenalmu lebih dekat ”, tegas Fadhil.
Hati Aini begitu berdebar, Aini tidak
pernah merasakan perasaan segundah ini, Aini begitu senang bisa bertemu lagi
dengan pria ini. Namun, Aini tidak bisa melupakan tujuan utamanya ke kota ini.
Ia tidak ingin ada hal-hal lain yang mengganggu tujuannya.
Setelah itu, Fadhil meminta Aini untuk
menyimpan nomor telepon genggamnya. Karena hari sudah mulai berubah agak gelap,
Fadhil memutuskan untuk pulang dan menawarkan tumpangan pada Aini. Namun,
dengan tegas Aini menolaknya. Ia menyuruh Fadhil untuk segera pulang.
Di tengah perjalanan Aini mengambil
secarik kertas yang berisikan alamat kantor dari orang yang dicarinya. Ia
memutuskan untuk mengunjungi kantor tersebut. Ia menyodorkan kertas tersebut
kepada supir taksi yang ditumpanginya.
Tanpa sadar, Aini kembali mengingat
masa-masa yang menjadi titik balik kehidupannya saat ini. Saat itu, Aini masih
kelas satu SMA. Ketika ia pulang, ia mendengar pertikaian antara kedua
orangtuanya. Ia mendengar bahwa mama tidak terima papa akan menikah lagi. Mama
bertanya apa alasan papa sehingga memutuskan untuk menikah dengan wanita itu.
Pertikaian tentang hal ini tidak terjadi hanya sekali, selama sebulan keluarga
kami benar-benar dalam masa krisis. Mama dan papa sudah tidak lagi sekamar,
papa tidak pernah makan di rumah, dan mama selalu menangis setiap malam. Ketika
Aini bertanya pada mama tentang masalah ini, mama selalu menangis dan
menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya.
Suatu malam, papa Aini pulang kerumah
dengan keadaan mabuk, dia begitu kotor dan bau. Papa Aini yang baru saja
pulang, langsung berteriak memanggil nama seseorang,
“ Tina! Tina! Tina! ”,
Siapa Tina? Ada hubungan apa papa
dengannya. Aini membopong papanya ke kamar, setelah itu merebahkannya dikasur, seketika
papa langsung menarik tangan Aini.
“ Kamu begitu cantik, Tina. Aku ingin
menikahimu ”, genggaman papa ditangan Aini begitu kuat.
“ Lepaskan, pa! Hentikan omong kosong
ini! ingat pa, papa punya mama, punya aku. aku bukan Tina, aku Aini! ”. Papa menarik lenganku begitu kuatnya. Aku
merintih dan memintanya untuk segera melepaskanku. Aku berbicara cukup keras,
hingga mama menghampiri.
“ Cukup, pa! Cukup! Mama kurang apa, pa?
Apa salah mama? ”, kata mama seraya membantuku.
“ Ah, kamu ya, Sin. Kamu tidak salah
apa-apa, tapi apalah daya. Aku sudah jatuh cinta padanya, aku sudah tidak
memiliki perasaan padamu. Tapi karena Aini, aku tak ingin menceraikanmu.
Karenamulah aku bisa punya anak secantik dia ”, kata papa sambil membelai Aini.
Secara refleks Aini menghempaskan tangan papanya. Aini merasa jijik dengan pria
yang dihadapannya ini. Begitu mudahnya ia, mengatakan cinta dihadapan istrinya
untuk orang lain. Memperlakukan kami hanya sebagai pelengkap.
“ Cukup, Bram! Kalau kamu mau menikah
lagi, silakan! Tapi aku sudah tidak bisa bersamamu. Kamu boleh menikah
dengannya, tetapi pergi dari rumah ini! aku akan mengganti bagianmu di rumah
ini, pergilah! ”
“ Mama ngomong apa sih? Semudah itukah,
ma ? ”, kataku melerai keduanya. Walaupun aku marah, aku tak ingin ada
perpisahan diantara mereka. Aku tak ingin memiliki keluarga yang pecah
berantakan.
“ Besok aku akan ke Surabaya untuk
melamarnya, kalau kamu mau menerimanya sebagai istriku yang kedua, tentu
masalah ini tidak akan terjadi. Apa sulitnya berbagi ? ”, kata papa dengan
santai.
Mendengar ucapan itu, Aini geram. Aini
sudah melayangkan tangannya dihadapan wajah papanya. Namun, mama menahannya. Begitu
mudahnya berkata untuk berbagi, tidakkah dia memahami perasaan wanita yang
tidak akan senang apabila suami yang dicintainya terbagi untuk wanita lainnya.
Aini bukannya menentang poligami, hanya saja, itu bukanlah perkara mudah bagi
setiap wanita yang akan dimadu. Wanita mana yang bahagia apabila diduakan?
Benarkah
dia papa? Papa yang kukenal baik dan bijaksana. Dia bukan lagi papa yang kukenal. Aku sudah kehilangan papa. Papa yang
kubanggakan kini telah tiada.
“ Aku gak habis pikir, kenapa papa bisa
bicara seperti itu dihadapan mama. Aku benci papa. Aku akan terus mengingat ini
dan tidak akan pernah memaafkanmu ”, Kata Aini keras sambil menunjuk wajah Bram.
Aini langsung berlari ke kamarnya dan
menguncinya. Aini menangis dan terus berteriak, kenapa semua ini harus terjadi
pada keluarganya. Kenapa drama ini menjadi kisah kehidupannya.
Selama dua hari, Aini tidak membuka
pintu kamarnya, Sinta terus meminta anaknya untuk keluar kamar dan makan. Sinta
menyesal atas apa yang terjadi dan terus menangis, Sinta begitu sayang pada
Aini dan tidak ingin terjadi hal-hal buruk padanya. Sinta berjanji akan terus
bersama Aini. Tak lama kemudian, Aini membuka pintu, dan terjatuh.
“Mbak! Permisi mbak! ”, kata supir taksi
yang sontak membuyarkan lamunan Aini.
“Ah, iya pak? ”, tanya Aini sambil
mengelap air mata di pipinya.
“Kita sudah sampai di alamat yang
tertera di kertas ini ”,
“Ah, iya pak. Terima kasih. ”, kata Aini
seraya membayar ongkos taksi dan keluar. Aini melihat tulisan nama perusahaan
di pintu masuk.
“ Hotel Cempaka Indah ”, kata Aini
seraya melihat kembali catatan dikertas tadi.
Aini membayar ongkos taksi dan
mengucapkan terima kasih kepada sopir taksi tersebut. Kemudian Aini
melangkahkan kakinya menuju lobby. Aini langsung menuju resepsionis dan
bertanya tentang keberadaan Bramantyo Syafi.
“ Selamat datang di hotel cempaka indah,
ada yang bisa dibantu, Mbak ? ”, kata seorang resepsionis.
“Ehm.. Permisi, benarkah disini tempat
kerja dari pak Bramantyo Syafi? ”, tanya Aini gugup.
“ Kalau boleh tahu, Anda ada keperluan
apa dengan pak Bram ? ”,
“ Saya kenalannya, saya ingin bertemu
dengannya ”,
“ Kalau boleh tahu, nama Anda siapa ? ”
“ Asmi, Asmi Hutama ”, kata Aini bohong,
dia menggunakan nama teman ibunya, tante Asmi. Ia tidak ingin, keberadaanya
diketahui.
“ Mohon maaf, mbak. Pak Bram memang
salah satu manajer di hotel ini, tetapi beliau berhalangan hadir karena ada
dinas di Yogyakarta, mungkin dua hari lagi baru bekerja, ada pesan yang ingin
dititipkan kepada beliau? ”, tutur resepsionis itu.
“ Tidak perlu, terima kasih ”, kata Aini
yang langsung meninggalkan kantor tersebut.
Aini merasa begitu agak sedih karena
tidak bisa segera bertemu dengan papanya. Namun, ia juga merasa kesal mengapa
ia harus bersedih.
Sesampainya di halaman kantor, mendadak
pandangan Aini kabur, seperti ada efek blur dimatanya yang tiba-tiba membuatnya
goyah hampir terjatuh. Dia tidak mampu melihat secara jelas dikegelapan itu.
Tiba-tiba handphone-nya berdering, ia langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum”, kata Aini.
“Waalaikumsalam, Alhamdulillah akhirnya
kamu menjawab teleponku ”, kata Fadhil.
“ Ada keperluan apa ? ”, kata Aini
dingin, dia masih berusaha memfokuskan penglihatannya.
“ Kamu dimana? Tiba-tiba aku mencemaskan
dirimu ”, kata Fadhil.
“ Aku ada di halaman depan Hotel Cempaka
Indah. ”, kata Aini yang berjalan gontai menepi. Ia merasa begitu pusing.
“ Kebetulan, aku ada di Rumah sakit Budi
Mulya tepat di seberang hotel, ”
Kemudian Aini merasa pusing,
pandangannya kabur, seperti terdapat banyak bercak hitam-putih layaknya TV lama
yang rusak. Aini begitu risau, keringatnya sudah mulai mengalir membasahi
sekujur tubuhnya. Kenapa ini ya Allah?
“ Tolong aku, Dhil ”, kata Aini lirih.
“ Kamu kenapa, Ai? Oke, aku akan kesana
kamu bertahan dulu ya. ”, kata Fadhil.
Aini langsung menutup handphonenya,
pandangannya sudah benar-benar kabur dan beremang-remang. Kepalanya semakin
terasa sakit, ada apa ini? kata Aini.
Ia menyandarkan dirinya pada tembok dan senantiasa beristighfar, ia berusaha
mencari tempat duduk, namun tak ada satupun.
Tak butuh waktu lama, Aini seperti
mendengar suara Fadhil memanggil dirinya, namun ia tak dapat melihat dengan
jelas. Ketika Aini akan melangkah, ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Fadhil yang melihat Aini jatuh
tersungkur, langsung berlari menghampirinya, dan berusaha membangunkannya,
namun tak ada respon. Ia mengangkat kepala Aini, menggoyangkan badannya untuk
membuatnya bangun namun belum berhasil. Lalu Fadhil langsung membawa Aini ke
rumah sakit. Fadhil yang saat itu panik, berusaha meminta pertolongan pertama
kepada suster dan dokter jaga di IGD rumah sakit Budi Mulya. Ia langsung
menghubungi Serena. Serena yang mendapat kabar tersebut sangat kaget dan langsung
pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Aini.
Saat dokter keluar, Fadhil menanyakan
kondisi Aini. Dokter bilang bahwa Aini sedang demam tinggi, dan butuh
pemeriksaan medis yang lengkap, tetapi butuh persetujuan keluarga, Fadhil yang
bukan siapa-siapa dari Sashikara Aini begitu bingung, ia benar-benar belum
mengenal tentang gadis ini.
Setelah itu, Serena datang bersama seseorang
wanita paruh baya. Jangan-jangan itu
ibunya. Pikir Fadhil. Kemudian wanita tersebut berbicara empat mata dengan dokter.
Dan Serena menghampiri Fadhil.
“ Apa yang sebenarnya terjadi ? kenapa
Aini bisa pingsan? Dan kenapa bisa sampai kesini? ”, tanya Serena panik.
“ Hei hei! Aku juga tidak mengerti apa
yang terjadi, awalnya aku memang sedang disini. Lalu aku menelepon Aini. Ketika
kutanya posisinya, dia sedang ada di hotel depan. Tiba-tiba dia langsung
meminta tolong padaku. Ketika kuhampiri, dia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Aku sendiri tidak tahu, semua terjadi begitu saja di depan mataku ”, kata
Fadhil.
Fadhil sendiri begitu khawatir dengan
Aini, mengapa ia bisa ketempat itu, malam-malam lagi? Ada keperluan apa dia
disana? Fadhil kemudian menuju mushola rumah sakit. Ia begitu gelisah, sehingga
memutuskan untuk sholat. Dalam sujudnya, Fadhil berdoa untuk kesehatan Aini. Ia
sudah mengamati Aini sejak kedatangannya untuk mendaftarkan diri menjadi salah
satu relawan di yayasan.
Fadhil sangat bersyukur atas
perbincangan pertamanya yang dinantikan Fadhil sejak dulu. Ia merasa Aini
adalah gadis yang begitu tertutup, ia menyadari dari raut wajahnya yang ceria,
tersembunyi sejuta kesedihan. Ia begitu penasaran dengan Aini hingga tanpa
sadar menjadi begitu tertarik dengannya.
Sekembalinya Fadhil dari sholat, ia
melihat wanita itu telah duduk disamping Serena. Kemudian Fadhil memperkenalkan
dirinya.
“ Maaf, anda ibunya Aini ? Saya Fadhil,
tante. Teman relawan di Yayasan ”, kata Fadhil seraya mengulurkan tangannya
pada beliau.
“ Saya bukan ibunya, saya kerabatnya.
Ibunya ada di Jakarta, tetapi ia dititipkan ke tante dan Serena oleh ibunya.
Saya Asmi Hutama, panggil saja tante Asmi ”,kata Asmi menjabat tangan Fadhil.
“ Alhamdulillah, Aini masih ada yang
mendampingi ”, kata Fadhil lega.
“ Terima kasih banyak, Nak Fadhil.
Serena sudah cerita pada tante, kita tinggal menunggu kabar dokter, karena Aini
masih harus diperiksa dokter. ”, papar Asmi.
Setelah itu, Fadhil duduk di sebelah
Serena. Tak beberapa lama, dokter keluar.
“ Bagaimana kondisinya ? ”, kata Asmi
seraya bangun diikuti Serena dan Fadhil.
“ Kita akan tahu hasilnya besok. Setelah
nanti sadar, akan dilakukan pemerikasaan sekali lagi. Kita tinggal menunggu
pasien benar-benar sadar. Alhamdulillah demamnya sudah turun ”, kata dokter.
“ Terima kasih, dokter. Apakah kami
sudah boleh melihat Aini? ”, kata Asmi.
“ Silakan, tetapi tolong untuk tetap
tenang, agar pasien dan pasien yang lain tidak terganggu ”, kata dokter yang
kemudian berjalan ke arah kantornya.
Kami pun segera masuk ruangan. Kami
melihat, tubuh seorang gadis yang sedang tidur, betapa cantiknya dia. Dalam
balutan pakaian rumah sakit, dia tampak tertidur pulas bak putri tidur, namun
Fadhil melihat begitu banyak guratan kesedihan di wajah Aini. Asmi memegang
tangannya, dan berbisik bahwa mereka sudah datang dan ibunya sudah dikabari.
Asmi juga bilang bahwa ibunya sedang dalam perjalanan ke Surabaya.
Mendengar hal itu, Fadhil nampak gugup.
Ia akan bertemu dengan ibu Aini. Serena yang sudah ada disisinya pun, mengusap
pipi dan kening Aini. Ia nampak begitu khawatir terhadap kondisi Aini.
Perlahan, Aini membuka kedua matanya. Mereka nampak begitu bahagia dan
bersyukur, Aini sadar.
“ Tante Asmi, Serena, Fa.. Fadhil ”,
kata Aini. Ia begitu bahagia bisa melihat lagi dengan normal. Mungkin tadi hanya kelelahan. Pikir
Aini.
“ Bagaimana ? Apakah masih ada yang
sakit? ”, tanya Serena.
“ Hanya sedikit pusing. Ehm.. Fadhil!
Terima kasih banyak, aku tadi sempat mendengar suaramu memanggil namaku, terima
kasih sudah menolongku. ”, kata Aini tersenyum. Wajahnya masih begitu pucat,
namun Aini pun melihat Fadhil dengan tatapan yang sama. Fadhil nampak begitu
pucat dan berkeringat.
“ Fadhil kenapa? Sakitkah? Serena tolong
panggilkan dokter untuk memeriksa Fadhil ”, kata Aini cemas.
“ Nggak apa-apa, Ai! Aku permisi dulu. Sekarang
aku tenang, karena kamu ada yang menjaga. ”, kata Fadhil yang buru-buru keluar.
Melihat tingkah Fadhil yang demikian, Aini menjadi lebih cemas.
Fadhil tergopoh-gopoh menuju kamar
Tulip. Ketika ia masuk, sudah ada mama dan suster yang panik dan langsung
menghampirinya dan membantunya untuk kembali ke kasur.
“ Kamu dari mana saja sih, Nak? Mama itu
cemas nyariin kamu. Kemoterapi mu belum selesai tapi tiba-tiba kamu pergi ”,
kata mamanya Fadhil.
“ Maaf, Ma! Ada sesuatu yang mendesak
tadi ”, kata Fadhil terengah-emgah.
“ Kamu kan juga dalam kondisi terdesak.
Terima kasih ya, Suster ”, kata mama Fadhil yang mengucapkan terima kasih
kepada suster yang membantunya mencari putra kesayangannya ini.
“ Sama-sama bu, ini sudah saya pasangkan
lagi, infus untuk kemoterapinya ”, kata Suster.
Saat ini Fadhil sedang menjalankan kemoterapinya
yang kesekian kalinya setelah dokter memvonis dirinya sebagai salah satu
penderita kanker hati ketika ia duduk di kelas tiga SMA. Setelah itu,
hari-harinya dihabiskan untuk kemoterapi dan pengobatan alternatif.
Alhamdulillah, akhir-akhir ini kondisinya membaik. Namun, Fadhil tetap harus
kemoterapi sesuai jadwal yang ditentukan.
“ Kamu darimana sih? Apakah kamu tidak
ingin berbagi cerita dengan mama? ”
“ Daripada menanyakan tentang diriku,
lebih baik mama tanya ke papa dimana sekarang? Bukannya kemarin kalian habis
berantem? Apa papa dan mama sedang mengurus perceraian ? ”, tanya Fadhil.
“ Kamu itu, bisanya ikut campur urusan
orang tua, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Muhammad Fadhil Al Arkhan.
”, tegas mama..
“ Tadi aku sedang membantu teman, ma,
dia juga masuk ke rumah sakit ini. ”
“ Siapa? Sakit apa? sudah ada yang
menjaga? ”, tanya mama.
“ Temen relawan di yayasan. Gadis yang
sempat aku ceritakan ke mama waktu itu. Dia tadi pingsan di depan hotel
seberang rumah sakit ini. Tadi sudah ada kerabatnya yang menjaga. ”
“ Syukurlah kalau begitu, kamu juga
harus banyak istirahat ya, Sayang ”, kata mama Fadhil sambil mengecup dahi pria
tampan dihadapannya itu.
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar