CERPEN_FIKSI_FICTION
COMA
By : Febrina Rachmawati
Apakah aku hidup ?
Am I real ?
Where is it ?
It’s not my world, because I’m alone.
No body can see me.
Kenapa orang-orang tidak bisa melihatku
?
I always talk with people who stay near
me, but they can her my voice
Aku berusaha untuk memegang tangan
mereka, namun mati rasa
Bertahun-tahun aku
hidup dalam kondisi ini, tidak ada seorang pun yang bisa melihatku.
Bertahun-tahun aku hidup sendirian tanpa seorang pun yang mampu mendengar
perkataanku. Setiap aku membuka mataku, aku selalu berada di tempat yang
berbeda dari sebelumnya. Mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda setiap
harinya, anehnya aku memahami bahasa mereka, aku tahu apa yang mereka
bicarakan, aku tahu bahwa dia sedang menangis atau bahagia. Aku bahkan tidak
pernah tahu bahasa itu sebelumnya. Perkara macam apa yang berlaku padaku? Aku
ingin berteriak, aku ingin protes, aku butuh jawaban. Kenapa aku disini ?
Aku berjalan di
keramaian kota Neiji siang itu, aku berdiri diantara orang-orang yang berlalu
lalang. Terik matahari begitu menyengat tapi aku bahkan tidak bisa membedakan
panas dan dingin. Aku berjalan berlawanan dengan mereka tanpa semangat. Aku
terus berjalan, terus berjalan, dan terus berjalan. Hingga tanpa sadar aku
memasuki taman dari rumah seseorang. Rumah itu begitu besar, aku memandangi
sekeliling. Begitu terkagumnya hingga tanpa sadar ada seorang anak perempuan
yang berlari melewatiku.
“ Anna, Wait! ”,
teriak seorang pria yang berlari mengejar anak perempuan itu.
Aku melihatnya
berlari menuju ke arahku. Aku menatapnya, dia seperti tidak asing bagiku. Semua orang memang seperti tidak asing, bagiku. Ya, karena akulah yang
asing. Dia berhenti. Dia menatapku. Aku menatap matanya, dia juga
menatapku. Ini aneh.
“ Kamu? Kenapa kamu bisa disini ? ”, tanya pria
itu tiba-tiba. Kulihat matanya begitu berkaca-kaca seperti ada suatu kelegaan
yang terpancar dari matanya.
Aku begitu bingung
dengan reaksinya. Apakah dia bisa
melihatku? Apakah pertanyaan itu ditujukan kepadaku?
“ Kamu berbicara denganku ? ”, tanyaku tak
percaya.
“ Tentu saja! Tidak
ada orang lain selain dirimu disini ”, kata pria itu.
“ Really? Am I real ?
”, tanyaku lagi.
Pria itu berjalan
menghampiriku. Di berdiri tepat didepanku, mungkin kita hanya berjarak 1 – 2
meter. Dia terus memandangiku. Aku salah tingkah, entah aku harus bahagia atau
takut karena dia adalah orang pertama yang bisa melihatku.
“ Kamu itu aneh,
ditanya malah tanya balik. Sudah gitu gak jelas lagi ”,tanya pria itu.
“ Aku... Aku hanya
terkejut. Kau adalah orang pertama yang melihatku ”, kataku.
“ Hahahaha... Lucu
sekali. Kamu mungkin lagi terkena demam musim panas. Tidak heran dari tadi
bicaramu kacau ”, kata pria itu.
“ Aku tidak tahu mana
yang benar, tetapi aku bukanlah manusia sepertimu. Aku hidup dalam bayangan.
I’m shadow. I’m not be a real human ”, kataku.
“ Wuah! Mungkin kau
mungkin tersesat. Mungkin saja kau alien yang datang dari planet lain. Aku akan
membantumu, aku akan menelepon polisi untukmu. Mereka akan membantumu untuk
keluar dari kebingungan ini ”, kata pria itu yang kemudian mengeluarkan
smartphone nya dari saku celananya. Kemudian ia menekan layar smartphone nya
itu.
“ Itu tidak ada
gunanya, kamu hanya akan membuat dirimu menjadi bahan tertawaan orang-orang.
Sudah kubilang, aku tidak nyata. Aku hanya bayangan. Orang-orang takkan bisa
melihatku. Aku juga terkejut ketika kau menyapaku. Percayalah kepadaku ”,
kataku berusaha meyakinkannya.
“ Apa kau gila?
Jangan membodohiku, ”, kemudian pria itu memintaku ikut dengannya. Aku awalnya
menolak, tetapi ia bersikeras. Aku pun mengikutinya. Ia mengajakku ke jalanan
di dekat rumahnya itu.
“ Excuse me, I want
to ask you. Do you see a woman disebelahku ? ”, tanya pria itu kepada seorang
wanita paruh baya.
“ I see nothing ”,
kata wanita paruh baya itu.
“ Are you sure? Dia
berdiri tepat disebelahku ”, kata pria itu menunjukku.
“ Aku tidak melihat
apapun. Mungkin kau yang salah lihat, tuan. Tidak ada siapapun selain kita
disini ”, kata wanita paruh baya.
Dia masih saja tidak
memercayainya, kemudian ia berlari dan aku mengikutinya. Kami bertemu dengan
seorang remaja yang memakai headset,
“ Sorry for disturb
you? ”, kata pria itu.
“ What the hell is
that? Who are you? ”, kata remaja itu
marah. Ia melepas headset nya.
“ dapatkah kau melihat seorang wanita berdiri
di sebelahku ? ”, kata pria itu menunjukku lagi.
Remaja itu melihat ke
arahku tetapi ia seperti tidak menyadari keberadaanku, ia kemudian memakai lagi
headset nya dan tertawa,
“ Pergilah ke dokter,
tuan. Atau lebih baik ke psikiater, kau sedang tidak sehat rupanya ”, kata
remaja itu meninggalkan kami.
“ Hei! Jaga bicaramu.
Aku hanya bertanya tentang wanita disebelahku! ”, teriak pria ini tidak
percaya, remaja itu kembali mendekati kami.
“ Hei! Tidak ada
siapapun disini, jangan konyol! ”, kata remaja itu mengejeknya.
“ Aku tidak percaya
ini! Ini gila! Tidak masuk akal! ”, kata pria itu. Ia kemudian menghampiriku
dan mencoba memegang tanganku. Tetapi tangannya menembus tanganku. Ia tak
memercayai ini.
“ Sudah kubilang
bukan? Aku bukan manusia. Aku hanyalah bayangan ”, kataku sedih.
“ Tidak! Aku yakin,
kau manusia. Kau memiliki sepasang mata, hidung, rambutmu terurai cantik dan
kau memakai pakaian manusia ”, kata pria itu.
“ Tetapi inilah
kenyataannya, tidak ada siapapun yang bisa melihatku. Tentu saja kecuali
dirimu. Bertahun-tahun sendirian dalam kegelapan ini ”, kataku merinding.
Pria itu terdiam, ia
tidak merespon perkataanku barusan. Ia hanya memintaku untuk ikut dengannya ke
rumahnya, dia mempersilakanku masuk. Aku melihat langit-langit rumahnya begitu
tinggi dengan ornamen klasik abad pertengahan. Warna coklat kuning begitu
mendominasi. Aku mengikutinya, melewati sebuah lorong. Aku melihat ada sebuah
foto keluarga yang sangat besar. Aku menatap foto itu. Seorang wanita duduk
dengan memangku seorang anak perempuan berusia 4-5 tahun sedangkan suaminya
berdiri di sisi kanan wanita itu. Wanita itu mengenakan gaun putih selutut dan
rambutnya tergelung rapi. Sedangkan suaminya mengenakan baju berkerah bewarna
biru muda yang sama dengan pakaian yang dipakai anaknya. Mereka tampak begitu
bahagia.
“ Dia begitu cantik!
”, pujiku.
“ Dulu dia cantik,
sekarang tidak lagi. ”, kata pria itu dengan santainya.
“ Hei, Hei! Apa
maksudmu? Dia istrimu kan? ”, kataku kesal.
“ Benar! Dia istriku,
tetapi dia telah jahat, dia meninggalkanku bersama Anna. Setiap hari Anna
menanyakan keberadaannya, tetapi dia bahkan tidak akan kembali ”, kata pria itu
menatapku dengan sedih.
“ Apa maksudmu? ”,
tanyaku bingung.
“ Kamu bahkan tidak
bisa mengingatnya, kan? ”, kata pria itu.
Dia sungguh aneh,
menatapku dengan penuh emosi, kemarahan, kesedihan, namun aku bisa merasakan
kebahagiaan luar biasa darinya. Ingin ku bertanya tentang apa yang sedang ia
pikirkan. Ingin ku ringankan beban yang ia pegang selama ini. Tetapi siapakah
aku ini?
“ Mengingat apa? kita
bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu ”, kataku bingung.
Kemudian seorang anak
kecil berlari ke arah pria itu dan memeluknya. Aku mengelilingi ruangan yang
terletak setelah lorong panjang itu, aku melihat ada sebuah piano hitam dengan
berbagai foto yang dipajang di atasnya. Kulihat foto seorang wanita yang menggendong
putrinya di tepi pantai dan mereka tertawa. Aku memandangi wajah wanita itu,
entah mengapa aku merasa nostalgia seakan-akan aku pernah mengalami hal yang
sama seperti di foto itu.
Kupandangi wajah yang
ada di foto itu, Dia tampak seperti ku.
Bentuk rambutnya yang terurai panjang. Matanya yang biru, bahkan tahi lalat
yang ada di bawah bibir sebelah kanan yang persis sepertiku. Tunggu...
Mungkinkah...
“ Hei! Apakah kau
adalah James Scott dan dia adalah Annabett Scott ”, tanyaku tiba-tiba kepadanya
yang menggendong putrinya yang tertidur.
“ Kau benar! Itu nama
kami. Kau mengingat kami sekarang, syukurlah ”, katanya sedih.
“ Tidak! Ini tidak
mungkin! Aku bahkan baru bertemu dengan kalian hari ini, bagaimana mungkin kau
adalah suamiku dan dia adalah putriku. Aku bahkan tidak mengingat kalian selama
ini. Entah apa yang terjadi, setelah melihat foto itu, melihat dengan dekat
wajah wanita itu. Ingatan itu datang dan masuk ke kepalaku ”, kataku penuh
kebingungan.
“ Maafkan aku, Lucy!
”, kata James.
“ Ini tidak benar!
Aku berbeda dengan kalian! Aku bukan manusia seperti kalian! ”, kataku
berteriak.
“ Mommy! I miss you.
Mommy! “, gadis kecil itu mengigau dalam tangisan.
“ I’m here, my litle
angel. I’m here. I’m sorry ”, kataku tidak percaya. Aku merasa begitu sedih.
Aku merasa begitu kehilangan. Aku menyadari bahwa aku tidak akan bisa bersama
mereka lagi. Aku menyadari mungkin keberadaanku disini adalah untuk semua ini.
Setelah membaringkan
Anna di kasurnya, Aku dan James keluar. Kami duduk di sofa, kami tidak
berbicara sepatah kata pun hingga waktu berlalu begitu cepatnya. Kurang 30
menit lagi sebelum waktu menunjukkan pukul 00.00 dengan kata lain kurang dari 30 menit lagi
aku akan berpindah ke tempat yang berbeda dan meninggalkan mereka lagi.
“ Waktuku tidak lagi
banyak, James. Tepat saat hari berganti, saat itulah aku juga akan pergi dan
menghilang. Aku... aku minta maaf karena telah meninggalkanmu dan Anna
sendirian. Aku juga tidak tahu sampai kapan ini akan terus berlanjut ”, kataku
menangis.
“ Mommy? ”, Aku
melihat Anna yang keluar dari pintu kamarnya dan dia menatapku juga.
“ Mommy! ”,
teriaknya. Kemudian ia berlari menghampiriku dan memelukku. Dia bisa memelukku. Aku bisa merasakan
sentuhannya. Bagaimana mungkin? Apakah ini suatu pertanda? Dengan segera
James juga memelukku. Kudengar suara sesenggukan darinya. Aku merasa begitu
sedih. Aku tidak ingin pergi meninggalkan mereka. Aku... aku... aku masih ingin
terus bersama mereka.
“ I love you. Kau
akan selalu menjadi wanitaku, istriku, ibu dari anak-anakku. Sedetik pun tak
kulewatkan untuk mengkhawatirkanmu. Aku begitu merindukanmu. Please, Don’t go!
Please! ”, bisik James kepadaku.
“ I’m Sorry. I’m
Sorry. I’m Sorry ”, hanya itu yang terus kuucapkan.
“ Jangan pergi, Mom!
Jangan tinggalkan kami, Mom! Please! ”, rengek Ana. Aku memeluknya begitu erat,
begitu dekat.
Apa ini adalah skenario yang Engkau buatkan untukku, Tuhan?
Rasa sedih yang kurasa begitu singkat, rasa bahagia yang kurasa pun terlalu
singkat sehingga aku tidak bisa lagi merasakan perasaan itu hingga saat ini kau
guncangkan perasaanku. Aku hanya tidak ingin berpisah dari mereka, aku begitu
menyayangi mereka, aku tidak ingin meninggalkan mereka. Aku masih ingin
menjalani kehidupan bersama mereka.
Ya Tuhan! Apakah permintaanku ini terlalu egois? Apakah Aku
terlalu serakah atas nikmat yang selama ini telah kau berikan? Aku hanya ingin
bersama mereka.
“ Mommy? Mommy! ”, Teriak
kecil itu membangunkanku.
“ Anna! “, kataku
dengan tersenyum.
“ Mommy! ”, Anna
langsung memelukku.
“ Aku tahu kau akan bangun.
Thank you! ”, kata James yang sedari tadi memegang tanganku.
“ I love you, too
James ”, kataku bahagia.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~SELESAI~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Silakan Beri Komentar Anda :D

Komentar