CERBER - Puzzle Kenangan
PUZZLE KENANGAN
Waktu….
Waktu
berputar tanpa peduli apa yang terjadi disekitarnya. Sempat terfikir, aku ingin
menggapainya, menggenggam erat hingga ia tak mampu berputar lagi. Setiap harinya,
aku hanya merenung, menjelajahi istana pikiranku, bagaimana caranya aku bisa
menghadang Sang penjaga waktu. Aku tak ingin waktu terus berjalan tanpa
mengetahui kehampaan hatiku, Kejam, hanya itu yang sanggup kugambarkan.
Tak
terasa sudah 9 tahun lamanya kita berpisah sejak pertemuan kita di bukit itu. Setiap
malam, aku bermimpi tentang hal yang sama.
"
ehm... anu... ehm... maafin aku ya, Fi. Aku sebetulnya tak ingin berpisah
darimu. Hanya saja... Hanya saja…", tak kuasa Bella menitikkan air mata.
"
aku tahu, Bel. ", Raffi mengerti apa yang terjadi.
Dia
tak mungkin menahan Bella yang akan pindah karena pekerjaan orangtuanya. Bella
dan Raffi telah melewatkan masa kecilnya bersama, hingga kelas 3 SD ini. Raffi
ingat betul ketika mereka bermain di taman sore itu, membangun rumah impian
mereka dari pasir. Berperan sebagai ayah ibu di dalamnya. Begitu banyak hal
yang dibicarakan, lebih banyak lagi keributan yang mereka ciptakan,
pertengkaran-pertengkaran tak lagi dihindarkan. Justru karena itulah, mereka
tak terpisahkan.
"
ehmm.. aa.. ehm... Fi, ini buat kamu. (Memberikan sebuah buku dongeng-berjudul
istana impian). Aku harap kita bisa bersama dalam istana itu. Jangan lupain aku
ya. Aku akan terus mengingatmu dan menunggumu hingga kita dipertemukan lagi
oleh sang penjaga waktu. Jadilah penulis yang kamu impikan, buatkanlah benteng
untuk kenangan kita ini, ya. ", kata Bella.
"
anu... Bel. Aku juga punya sesuatu untukmu. Boleh kupasang ini di lehermu? (
mengambil sebuah kalung mainan berbentuk kupu-kupu bewarna pink dengan gradasi
hitam. ). Aku harap kamu suka, dan akan terus memakainya hingga aku bisa
memberikanmu yang lebih bagus dari itu. Hehehehe ", kata Raffi seraya mengalungkan
kalung itu di leher Bella.
“
aku janji, Bel. Aku takkan melupakanmu, aku janji kita akan selamanya bersama,
tidak ada yang akan memisahkan kita. Aku janji, ketika kita berjumpa lagi, aku
akan menjadikanmu istriku “, lanjut Raffi.
@@@
Ehm…
hah? Kubuka mataku, ternyata itu hanyalah mimpiku saja. Hah…. Kenapa setiap
hari aku selalu mimpi tentang hal itu? Pikir Bella. Di satu sisi, Raffi juga
selalu memimpikan hal yang sama, namun entah mengapa ia tak mampu mengingat
nama dan wajah gadis kecil itu. Ketika menyantap sarapannya, Bella terus
membayangkan rupa dari anak cowok, teman masa kecilnya itu. Tiba-tiba Bella
tersipu, selama ini dia senantiasa menunggunya. Dia menghiraukan semua
kekhawatirannya, bagaimana jika dia lupa akan janjinya, bagaimana jika dia
telah menemukan sahabat sejatinya, yang akan senantiasa bersamanya dalam rumah
impian.
Sesampainya
di sekolah, Bella langsung meletakkan tasnya di bangkunya, kemudian pergi
menyapa teman-temannya. Tak terasa, bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Mereka
langsung duduk rapi, namun kondisi kelas masih saja riuh. Kemudian, Bu
Marcella, wali kelas IPA C masuk ke kelas bersama dengan lelaki tampan. Siapa dia?
“
anak-anak, perkenalkan, dia adalah murid baru, pindahan dari SMA 2 Negeri
Surabaya. Ibu harap, kalian bisa membantunya, silakan memperkenalkan diri “.
“
Halo, Aku Raffi Putradiyanto. Panggil saja Raffi, mohon bantuannya “, kata
Raffi.
“
Apa? Tidak mungkin! Diakah? Apakah dia Raffi yang itu? Benarkah ? “, tiba-tiba
dada Bella berdebar, dengan melihatnya saja Bella sudah merasa nostalgia,
benarkah dia Raffi sahabat masa kecilnya itu. Bella terus saja memandanginya,
Bella bahkan tak memperhatikan pelajaran yang diberikan Pak Yono. Hingga waktu
istirahat, Bella terus saja memandanginya, ingin sekali Bella memastikan, namun
muncul ketakukan yang membuatnya terpaku. Bella berjalan di sekitarnya untuk
menarik perhatiannya, berharap Raffi memperhatikan dirinya, That’s useless.
Hingga
pulang sekolah, mereka bahkan belum saling berbicara. Bella pulang dengan wajah
murung, selama perjalanan dia terus saja berpikir bahwa Raffi yang ini adalah
Raffi sahabatnya dulu. Dia yakin, walaupun tidak tahu pasti, tapi dia bisa tahu
dari senyumannya yang khas. Entahlah, mungkin ini hanya feelingku saja, pikir
Bella. Dia bertekad untuk berbicara dengannya besok.
Keesokan
harinya, ketika jam pelajaran olahraga, dia melihat Raffi terdiam di kelas, dia
tak mengikuti pelajaran olahraga, kira-kira kenapa ya? Bella merasa ini
kesempatan yang bagus, kemudian ia menghampiri Raffi.
“
Eh, kamu. Kenapa tidak ikut lari? “, Tanya Bella.
“
Wajar dong, aku kan belum punya baju olahraga sekolah ini, ya aku nunggu dapat
dulu lah “, jawab Raffi dengan santainya. Tiba-tiba Bella tertegun, kenapa
Raffi tak Nampak terkejut? Apakah dia bukan Raffi yang itu ?
“
Paling tidak, kamu bisa pakai baju olahragamu yang lain. Aku kira pak Imam
pasti mengerti “, saran Bella.
“
iya iya, oia, ngomong-ngomong nama kamu siapa? “, Tanya Raffi. Pertanyaan ini
justru mengagetkan Bella. Kenapa dia mempertanyakan namanya, bukankah dia tahu
namaku? Bukankah dulu kita sahabat?
“ A….
A… Aku Be… Bella “, kata Bella gugup. Bella tiba-tiba sedih, padahal dia yakin
bahwa Raffi ini adalah orang yang selama ini dia nantikan.
Kenapa Raffi tidak mengingatnya? Apakah benar dugaan Bella bahwa
dia adalah Raffi sahabatnya itu ? tunggu kelanjutannya……
***
Komentar